
Inkompeten Serviks (Cervical Insufficiency) [2].
Definisi
Inkompeten serviks adalah ketidakmampuan serviks mempertahankan kehamilan pada trimester kedua akibat kelemahan struktural serviks yang menyebabkan pemendekan dan dilatasi serviks secara progresif tanpa kontraksi uterus, sehingga meningkatkan risiko keguguran trimester kedua atau persalinan prematur.¹,²

Epidemiologi
Insidensi inkompetensi serviks sekitar 0,1–1% dari seluruh kehamilan, namun angka ini lebih tinggi pada populasi berisiko.
Kondisi ini menyebabkan 8–15% kasus keguguran trimester kedua, terutama yang terjadi tanpa nyeri dan tanpa kontraksi uterus.
Pada pasien dengan riwayat persalinan prematur spontan atau abortus trimester II berulang, prevalensinya meningkat signifikan dibanding populasi umum.
Di Indonesia, data spesifik nasional terbatas. Namun, persalinan prematur tetap menjadi salah satu penyebab utama morbiditas dan mortalitas neonatal, dengan inkompetensi serviks sebagai salah satu faktor risiko penting yang mendasarinya.¹,²,³,⁶,⁷
Faktor Risiko
Riwayat keguguran trimester II berulang tanpa nyeri dan tanpa kontraksi.
Riwayat persalinan prematur spontan, terutama sebelum usia kehamilan 34 minggu.
Riwayat prosedur bedah serviks, seperti konisasi, LEEP (Loop Electrosurgical Excision Procedure), biopsi serviks luas, atau dilatasi dan kuretase berulang.
Trauma serviks saat persalinan sebelumnya, termasuk dilatasi cepat atau penggunaan instrumen obstetri.
Panjang serviks <25 mm sebelum 24 minggu pada USG transvaginal, terutama pada pasien dengan riwayat obstetri buruk.
Kelainan jaringan ikat atau anomali kongenital uterus/serviks.
Kehamilan multipel yang meningkatkan tekanan intrauterin pada serviks yang sudah lemah.¹,²,³
Etiologi
Kongenital
Kelainan jaringan ikat (gangguan kolagen dan elastin) yang mengurangi kekuatan dan elastisitas serviks.
Anomali kongenital uterus atau serviks, termasuk serviks hipoplastik.
Paparan dietilstilbestrol (DES) in utero yang memengaruhi perkembangan anatomi serviks.
Didapat (lebih sering)
Trauma obstetri akibat persalinan dengan dilatasi cepat atau tindakan operatif¹.
Prosedur bedah serviks seperti konisasi, LEEP, atau dilatasi dan kuretase berulang yang menyebabkan hilangnya jaringan penopang serviks.
Tindakan ablasi atau kauterisasi serviks yang merusak integritas kolagen serviks.
Secara patogenetik, seluruh penyebab ini bermuara pada penurunan integritas kolagen dan struktur penunjang serviks, sehingga serviks mengalami pemendekan dan dilatasi pasif tanpa kontraksi uterus pada trimester kedua.¹,²,³
Klasifikasi
Klasifikasi inkompetensi serviks didasarkan pada dasar diagnosis, etiologi, dan manifestasi klinis untuk menentukan strategi pemantauan dan intervensi seperti progesteron atau cerclage.
Berdasarkan dasar diagnosis
Klinis: ditegakkan berdasarkan riwayat keguguran trimester II atau persalinan prematur tanpa nyeri dan tanpa kontraksi, disertai dilatasi serviks progresif.
Sonografik: ditegakkan melalui USG transvaginal dengan temuan panjang serviks <25 mm sebelum 24 minggu dan/atau funneling serviks.
Berdasarkan etiologi
Primer: akibat kelainan kongenital atau kelemahan struktural bawaan serviks.
Sekunder: akibat trauma atau prosedur iatrogenik serviks seperti konisasi atau LEEP.
Berdasarkan manifestasi klinis
Asimtomatik: pemendekan serviks terdeteksi pada USG tanpa keluhan.
Simtomatik: terdapat tekanan panggul, keputihan meningkat, atau sensasi benda asing di vagina akibat dilatasi progresif.¹,²,³


Patofisiologi
Kelemahan struktur kolagen dan matriks ekstraseluler serviks menurunkan kekuatan mekanik serviks.
Terjadi remodeling serviks prematur berupa pelunakan dan pemendekan sebelum waktunya.
Tekanan intrauterin meningkat seiring pertumbuhan janin dan cairan ketuban.
Os internum terdorong membuka, menyebabkan pemendekan dan dilatasi serviks pasif tanpa kontraksi uterus.
Terbentuk funneling dan penonjolan ketuban (bulging membranes) ke dalam kanalis servikalis.
Tanpa intervensi, proses berlanjut menjadi keguguran trimester II atau persalinan prematur.¹,²
Anamnesis
Riwayat keguguran trimester II berulang tanpa nyeri dan tanpa kontraksi uterus, biasanya pada usia kehamilan 14–24 minggu—ini merupakan temuan paling khas.
Riwayat persalinan prematur spontan tanpa fase persalinan aktif yang jelas, akibat pembukaan serviks secara pasif.
Rasa tekanan atau penuh di panggul, disebabkan dorongan tekanan intrauterin pada serviks yang melemah.
Keputihan meningkat atau lendir bercampur darah ringan, akibat dilatasi serviks progresif tanpa aktivitas miometrium.
Sensasi benda asing di vagina, terutama bila ketuban sudah menonjol ke kanalis servikalis.
Riwayat prosedur pada serviks, seperti konisasi, LEEP, atau dilatasi dan kuretase berulang yang merusak integritas jaringan serviks.
Tidak ada kontraksi uterus teratur—ini yang membedakan inkompetensi serviks dari persalinan prematur spontan¹,²,³,⁴,⁵,⁷,⁹,¹¹
Pemeriksaan Fisik
Keadaan umum dan tanda vital umumnya dalam batas normal karena kondisi ini tidak disertai kontraksi aktif atau proses inflamasi sistemik.
Pemeriksaan abdomen: ukuran uterus sesuai usia kehamilan dan tidak ditemukan kontraksi uterus teratur—ini membedakan dari persalinan prematur spontan.
Pemeriksaan spekulum dapat menunjukkan os serviks terbuka tanpa nyeri, peningkatan sekret serviks, atau ketuban menonjol (bulging membranes) pada stadium lanjut.
Pemeriksaan vaginal toucher dilakukan hati-hati dan terbatas. Temuan dapat berupa serviks lunak, memendek, dan dilatasi ≥1–2 cm tanpa nyeri, serta kemungkinan membran ketuban teraba pada kanalis servikalis.
Tidak ditemukan nyeri uterus atau peningkatan tonus uterus, sehingga membantu menyingkirkan solusio plasenta atau persalinan prematur.
Bila terdapat demam, nyeri tekan uterus, atau cairan vagina berbau, curigai infeksi intrauterin sebagai diagnosis banding dan kontraindikasi cerclage.¹,²,⁴,⁵,⁷,⁸,¹¹
Pemeriksaan Penunjang
USG transabdominal memiliki sensitivitas lebih rendah dan digunakan sebagai skrining awal; temuan serviks pendek perlu dikonfirmasi dengan USG transvaginal.
Pemeriksaan laboratorium bukan alat diagnostik utama, tetapi penting untuk menyingkirkan kondisi penyerta.
Hitung darah lengkap untuk mendeteksi tanda infeksi atau inflamasi.
Evaluasi tanda infeksi intrauterin bila terdapat gejala klinis, karena infeksi merupakan kontraindikasi cerclage.
Amniosentesis selektif dapat dipertimbangkan pada kasus dengan kecurigaan infeksi subklinis sebelum cerclage emergensi.
CTG bukan pemeriksaan diagnostik inkompetensi serviks, karena kondisi ini terjadi tanpa kontraksi uterus.¹,²,⁴,⁵,⁷,⁸
Diagnosis Banding
| Diagnosis Banding | Perbedaan Utama dengan Inkompetensi Serviks |
|---|---|
| Persalinan prematur spontan | Disertai kontraksi uterus teratur dan nyeri, sedangkan inkompetensi serviks terjadi tanpa kontraksi. |
| Abortus insipiens | Biasanya terdapat perdarahan aktif dan nyeri abdomen, bukan hanya dilatasi serviks pasif. |
| Infeksi intrauterin (korioamnionitis) | Disertai demam, nyeri tekan uterus, leukositosis, dan tanda inflamasi sistemik. |
| Plasenta previa | Perdarahan tanpa nyeri, tetapi serviks tidak memendek atau membuka dini. |
| Solusio plasenta | Perdarahan disertai nyeri uterus dan peningkatan tonus uterus, bukan dilatasi pasif. |
| Kelainan uterus (misalnya uterus septus) | Kehilangan kehamilan disebabkan faktor anatomi uterus, bukan kelemahan struktural serviks. ¹,²,⁴,⁷ |
Penatalaksanaan
Non-Farmakologis
Penatalaksanaan non-farmakologis pada inkompetensi serviks bertujuan memperlambat pemendekan serviks dan mencegah persalinan prematur melalui pemantauan dan modifikasi risiko.
Observasi dan pemantauan serial USG transvaginal untuk menilai perubahan panjang serviks, terutama pada pasien dengan serviks pendek tanpa dilatasi.
Modifikasi aktivitas fisik, termasuk menghindari aktivitas berat dan peningkatan tekanan intraabdomen. Tirah baring total tidak direkomendasikan rutin karena kurang bukti manfaat.
Edukasi tanda bahaya, seperti nyeri perut bawah, perdarahan pervaginam, keluar cairan, atau sensasi tekanan vagina yang meningkat.
Abstinensia hubungan seksual sementara pada kasus dengan serviks sangat pendek atau terdapat funneling, untuk mengurangi stimulasi serviks dan risiko infeksi.
Pemantauan infeksi genital dan menjaga kebersihan area genital, karena infeksi dapat memperburuk remodeling serviks dan menjadi kontraindikasi cerclage.
Konseling psikologis dan dukungan emosional, mengingat riwayat kehilangan kehamilan berulang dapat menimbulkan stres signifikan.¹,²,⁴,⁷,⁸
Farmakologis
Progesteron
| Obat & Sediaan | Dosis & Frekuensi | Farmakodinamik |
|---|---|---|
| Progesteron vaginal | 200 mg per hari | Menurunkan inflamasi dan kontraktilitas uterus |
| 17-OH Progesteron IM | 250 mg/minggu | Menstabilkan miometrium |
Keterangan:
Progesteron paling bermanfaat pada pasien dengan serviks pendek tanpa riwayat klasik inkompetensi serviks.⁹,¹⁰
Antibiotika tidak diberikan rutin, tetapi dipertimbangkan bila terdapat kecurigaan infeksi genital atau intrauterin, karena infeksi merupakan kontraindikasi cerclage dan dapat mempercepat persalinan prematur.⁴,⁷
Tokolitik tidak rutin diberikan karena inkompetensi serviks tidak disertai kontraksi uterus, namun dapat dipertimbangkan bila terdapat aktivitas uterus setelah tindakan cerclage.⁴
Operatif
Cerclage Serviks
Cerclage merupakan terapi utama pada inkompetensi serviks dengan indikasi yang tepat.
Komplikasi
Keguguran trimester II akibat kegagalan serviks mempertahankan kehamilan hingga usia viabel.
Persalinan prematur akibat pemendekan dan pembukaan serviks progresif sebelum aterm.
Ruptur ketuban dini, terutama bila terjadi bulging membranes atau manipulasi serviks.
Infeksi intrauterin (korioamnionitis) akibat paparan mikroorganisme melalui serviks yang terbuka atau pascatindakan cerclage.
Perdarahan serviks akibat dilatasi progresif atau komplikasi tindakan cerclage.
Komplikasi prosedur cerclage, seperti cedera serviks, infeksi, atau kontraksi uterus pascatindakan.
Morbiditas dan mortalitas neonatal akibat prematuritas ekstrem.¹,⁴,⁵,⁷,⁹,¹⁰,¹¹
Prognosis
Ad vitam (ibu): bonam—kondisi ini jarang mengancam jiwa ibu bila komplikasi seperti infeksi atau perdarahan ditangani dengan baik.
Ad functionam (fungsi reproduksi): dubia ad bonam—bergantung pada tingkat kerusakan serviks dan respons terhadap terapi. Dengan cerclage profilaksis pada kehamilan berikutnya, hasil dapat membaik.
Ad sanationam: dubia—inkompetensi serviks adalah kelainan struktural yang cenderung menetap dan berisiko berulang pada kehamilan berikutnya.¹,⁴,⁷,⁸
Edukasi
Menjelaskan bahwa kondisi ini merupakan kelemahan struktural serviks, bukan akibat aktivitas biasa pasien, sehingga mengurangi rasa bersalah dan kecemasan.
Memberikan pemahaman bahwa terdapat risiko keguguran trimester II dan persalinan prematur, namun risiko dapat ditekan dengan pemantauan dan intervensi yang tepat.
Menekankan pentingnya kontrol antenatal rutin dan USG transvaginal serial, terutama sebelum usia kehamilan 24 minggu.
Menganjurkan menghindari aktivitas fisik berat dan meningkatkan kewaspadaan terhadap peningkatan tekanan intraabdomen.
Mengedukasi tanda bahaya yang memerlukan evaluasi segera, yaitu nyeri perut bawah, perdarahan pervaginam, keluar cairan, atau sensasi tekanan/benda keluar dari vagina.
Memberikan konseling pra-kehamilan pada pasien dengan riwayat inkompetensi serviks mengenai kemungkinan cerclage profilaksis pada kehamilan berikutnya¹,⁴,⁷,⁸
Kriteria Rujukan
Dilatasi serviks pada trimester II tanpa kontraksi uterus, dengan atau tanpa keluhan tekanan panggul.
Panjang serviks <25 mm sebelum 24 minggu pada USG transvaginal, terutama pada pasien dengan riwayat obstetri buruk.
Funneling atau bulging membranes pada pemeriksaan spekulum atau USG.
Riwayat keguguran trimester II berulang tanpa nyeri yang memerlukan evaluasi kemungkinan cerclage profilaksis.
Perdarahan pervaginam, keluarnya cairan, atau kecurigaan infeksi intrauterin, karena memerlukan penanganan segera dan penilaian kontraindikasi cerclage.
Riwayat tindakan bedah serviks luas yang memerlukan pemantauan ketat dan pertimbangan intervensi dini.¹,²,⁴,⁷