Fraktur Klavikula [3A].
Definisi
Fraktur klavikula adalah terputusnya kontinuitas tulang klavikula akibat trauma langsung maupun tidak langsung pada gelang bahu (shoulder girdle).²,³

Epidemiologi
Fraktur klavikula mencakup sekitar 2–10% dari seluruh fraktur dan diperkirakan terjadi pada sekitar 1 per 1.000 orang per tahun.⁸
Fraktur ini merupakan salah satu fraktur tersering pada anak dan dewasa muda. Sekitar dua pertiga kasus terjadi pada laki-laki.⁸
Lokasi tersering adalah sepertiga tengah klavikula karena area ini relatif lebih tipis dan menjadi titik transisi gaya pada tulang klavikula.²,³,⁸
Di Indonesia, data spesifik nasional untuk fraktur klavikula masih terbatas. Namun, pada studi trauma klavikula yang menjalani operasi, kecelakaan lalu lintas menjadi penyebab tersering (91,98%), terutama kecelakaan sepeda motor (94,48% dari kasus kecelakaan lalu lintas).⁹
Secara klinis, kelompok risiko utama adalah laki-laki usia produktif, pengguna kendaraan roda dua, atlet olahraga kontak, dan pasien dengan trauma jatuh pada bahu.²,⁸,⁹
Etiologi dan mekanisme cedera (mode of injury)
Trauma langsung pada klavikula atau bahu, misalnya benturan saat kecelakaan lalu lintas atau olahraga kontak.²,³
Jatuh pada bahu lateral dapat menimbulkan gaya kompresi melalui shoulder girdle dan merupakan mekanisme tersering pada fraktur klavikula.²,³
Jatuh dengan tangan menumpu atau fall on outstretched hand dapat menghantarkan gaya aksial dari ekstremitas atas ke klavikula.²,³
Trauma energi tinggi, terutama kecelakaan sepeda motor, perlu dicurigai disertai cedera toraks, cedera neurovaskular, atau fraktur multipel.⁴,⁸
Klasifikasi
Berdasarkan lokasi anatomis.

Sepertiga medial: fraktur terjadi pada bagian klavikula yang dekat dengan sternum. Kondisi ini relatif jarang, tetapi perlu evaluasi kemungkinan cedera mediastinum pada trauma energi tinggi.²,⁸
Sepertiga tengah: lokasi fraktur tersering karena bagian ini relatif lebih tipis dan menjadi titik transisi gaya pada klavikula.²,³,⁸
Sepertiga lateral atau distal: fraktur terjadi dekat sendi akromioklavikular. Perlu penilaian stabilitas ligamentum coracoclavicular karena instabilitas meningkatkan risiko nonunion.²,⁸
Klasifikasi Allman
Klasifikasi Allman digunakan untuk mengelompokkan fraktur klavikula berdasarkan lokasi anatomis fraktur.²
Kelompok I (Allman): fraktur terjadi pada sepertiga tengah klavikula. Ini merupakan kelompok tersering dan umumnya berkaitan dengan gaya trauma pada bahu lateral.²
Kelompok II (Allman): fraktur terjadi pada sepertiga distal klavikula. Perlu evaluasi stabilitas ligamentum coracoclavicular karena sebagian kasus bersifat tidak stabil.²
Kelompok III (Allman): fraktur terjadi pada sepertiga medial klavikula. Ini merupakan kelompok yang paling jarang dan perlu perhatian terhadap kemungkinan cedera struktur intratorakal pada trauma energi tinggi.²
Klasifikasi Neer
Klasifikasi Neer digunakan untuk menilai stabilitas fraktur distal klavikula berdasarkan keterlibatan ligamentum coracoclavicular.²

Tipe I: ligamentum coracoclavicular (CC) utuh; fraktur stabil.²
Tipe IIA: fraktur medial terhadap ligamentum CC; ligamentum tetap melekat pada fragmen distal.²
Tipe IIB: terdapat robekan ligamentum conoid; fraktur lebih tidak stabil dan risiko nonunion lebih tinggi.²
Tipe III: fraktur melibatkan sendi acromioclavicular (AC).²
Tipe IV: fraktur distal pada anak dengan displacement periosteal.²
Tipe V: fraktur kominutif distal dengan ligamentum CC tetap melekat pada fragmen inferior; bersifat tidak stabil.²
Tipe VI: fragmen distal bergeser ke inferior, di bawah processus coracoideus; sangat jarang dan biasanya akibat trauma energi tinggi.²
Anamnesis
Nyeri lokal pada klavikula umumnya muncul segera setelah trauma. Kondisi ini terjadi karena diskontinuitas tulang menimbulkan iritasi pada periosteum dan jaringan lunak di sekitarnya.²,³
Riwayat jatuh pada bahu lateral, benturan langsung, kecelakaan lalu lintas, atau jatuh dengan tangan menumpu perlu ditanyakan untuk menilai mekanisme dan energi trauma.²,³
Sulit mengangkat atau menggerakkan lengan dapat terjadi akibat nyeri dan terganggunya stabilitas shoulder girdle.²,³
Benjolan, deformitas, atau bahu tampak turun dapat dikeluhkan akibat pergeseran fragmen dan pemendekan klavikula.²,³
Rasa kebas, kesemutan, atau kelemahan lengan perlu digali untuk menilai kemungkinan cedera plexus brachialis.⁸
Sesak napas atau nyeri dada perlu ditanyakan pada trauma energi tinggi karena dapat mengarah pada cedera toraks, seperti pneumotoraks.⁴,⁸
Pemeriksaan Fisik
Feel (Palpasi): ditemukan nyeri tekan lokal, deformitas, dan kadang krepitasi pada klavikula akibat pergerakan fragmen fraktur. Pemeriksaan neurovaskular distal perlu dilakukan dengan menilai pulsasi radial, pengisian kapiler, sensibilitas, dan kekuatan motorik untuk menyingkirkan cedera pleksus brakialis atau pembuluh subklavia.²,⁴,⁸
Move (Pergerakan): gerakan aktif bahu biasanya terbatas, dan pasien sering tidak mampu mengangkat bahu akibat nyeri serta gangguan stabilitas shoulder girdle.²,³
Pemeriksaan toraks: pada trauma energi tinggi, perlu dinilai ekspansi dada, suara napas, nyeri dada, dan tanda distres respirasi karena fraktur klavikula dapat berkaitan dengan pneumotoraks atau cedera toraks lain.⁴,⁸
Pemeriksaan Penunjang
Foto polos klavikula merupakan pemeriksaan utama untuk menegakkan diagnosis fraktur klavikula. Pemeriksaan ini dilakukan dengan proyeksi anteroposterior (AP) dan dapat ditambahkan cephalic tilt view untuk menilai lokasi, arah pergeseran, pemendekan, serta tingkat kominutif fragmen.²,³
Foto toraks dapat dipertimbangkan pada trauma energi tinggi untuk menilai komplikasi intratorakal, seperti pneumotoraks, hemotoraks, atau cedera iga penyerta.⁴,⁸
CT scan digunakan pada fraktur klavikula medial, fraktur intraartikular, atau kasus kompleks karena memberikan visualisasi tulang dan hubungan anatomis yang lebih rinci dibandingkan radiografi konvensional.²,⁸
CT angiografi atau USG Doppler vaskular dilakukan bila dicurigai terdapat cedera pembuluh subklavia, misalnya bila ditemukan penurunan pulsasi, hematom progresif, atau tanda iskemia ekstremitas.⁸
Pemeriksaan laboratorium tidak bersifat spesifik untuk fraktur klavikula, tetapi dapat dilakukan pada trauma multipel atau sebagai persiapan operasi, seperti pemeriksaan darah lengkap, hemostasis, dan golongan darah.⁴,⁷
Diagnosis Banding
| Diagnosis banding | Perbedaan dengan fraktur klavikula |
|---|---|
| Dislokasi acromioclavicular | Nyeri dan deformitas dominan pada sendi acromioclavicular, tanpa diskontinuitas tulang klavikula pada radiografi.² |
| Dislokasi sternoclavicular | Deformitas terletak pada ujung medial klavikula dekat sternum, bukan pada batang klavikula.² |
| Fraktur skapula | Nyeri lebih dominan pada regio skapula posterior dan sering berkaitan dengan trauma energi tinggi.² |
| Fraktur iga atas | Nyeri terutama pada dinding dada dan bertambah saat inspirasi, batuk, atau kompresi toraks.⁴ |
| Cedera rotator cuff | Kelemahan abduksi atau rotasi bahu lebih menonjol, tanpa deformitas tulang dan tanpa garis fraktur klavikula pada radiografi.² |
| Kontusio bahu | Nyeri jaringan lunak pascatrauma tanpa krepitasi, deformitas tulang, atau diskontinuitas klavikula pada radiografi. |
Penatalaksanaan
Konservatif
Indikasi Konservatif
Sebagian besar fraktur klavikula tanpa pergeseran bermakna, atau dengan fragmen yang masih stabil, dapat diterapi secara konservatif dengan arm sling dan rehabilitasi bertahap.²,³
Fraktur midshaft sederhana tanpa pemendekan bermakna umumnya memiliki angka penyatuan (union) yang baik dengan terapi nonoperatif.²,³
Fraktur distal yang stabil dengan ligamentum coracoclavicular yang masih utuh juga dapat diterapi secara konservatif.²
Prinsip penatalaksanaan fraktur klavikula adalah mengurangi nyeri, mempertahankan aligment dan stabilitas fragmen, mencegah komplikasi, serta mengembalikan fungsi shoulder girdle secara optimal.²,³
Macam tindakan konservatif
Imobilisasi menggunakan arm sling merupakan terapi utama pada sebagian besar fraktur klavikula tanpa komplikasi untuk mengurangi nyeri dan mempertahankan posisi fragmen selama proses penyembuhan.²,³

Kompres dingin pada fase akut membantu mengurangi edema dan nyeri akibat inflamasi jaringan lunak di sekitar fraktur.⁴
Mobilisasi bertahap dan latihan rentang gerak bahu dilakukan setelah nyeri berkurang untuk mencegah kekakuan sendi bahu.²,³
Edukasi pasien mencakup pembatasan aktivitas berat, menghindari mengangkat beban, serta pentingnya kontrol berkala untuk menilai penyatuan tulang.²,³
Operatif

Indikasi Operatif
Terapi operatif dipertimbangkan pada fraktur dengan pergeseran (displacement) berat, pemendekan bermakna, fraktur kominutif, fraktur distal tidak stabil, floating shoulder, atau kebutuhan fungsional tinggi.²,⁸,⁹
Operasi menjadi indikasi kuat pada fraktur terbuka, skin tenting, cedera neurovaskular, nonunion, atau malunion simptomatik.²,⁸
Prinsip Umum Operatif
Terapi operatif bertujuan mengembalikan panjang klavikula, memperbaiki alignment dan rotasi fragmen, mempertahankan stabilitas tulang, serta menurunkan risiko nonunion dan malunion.²,⁸,⁹
Stabilisasi yang adekuat memungkinkan mobilisasi bahu lebih dini sehingga membantu mempertahankan fungsi shoulder girdle dan mempercepat rehabilitasi.²,⁸
Indikasi Absolut Operatif
Fraktur terbuka memerlukan operasi untuk debridement, stabilisasi fraktur, dan menurunkan risiko infeksi.²,⁸
Cedera neurovaskular merupakan indikasi operasi karena fragmen tulang dapat mencederai atau menekan struktur pleksus brakialis maupun pembuluh subklavia.²,⁸
Skin tenting atau ancaman perforasi kulit terjadi bila fragmen menekan jaringan lunak secara signifikan, sehingga berisiko berkembang menjadi fraktur terbuka.²,⁸
Fraktur dengan gangguan jaringan lunak berat atau trauma energi tinggi memerlukan eksplorasi dan stabilisasi untuk melindungi struktur sekitar serta memperbaiki alignment tulang.²,⁸
Indikasi Relatif Operatif
Fraktur *midshaft yang displaced, kominutif, atau dengan pemendekan bermakna berisiko menyebabkan malunion* dan gangguan fungsi bahu.²,⁸
Floating shoulder serta fraktur distal klavikula yang tidak stabil memiliki risiko instabilitas dan nonunion yang lebih tinggi.²,⁸
Nonunion, malunion simptomatik, atau kebutuhan fungsional tinggi pada pasien aktif dapat menjadi pertimbangan terapi operatif.²,⁸,⁹
Macam-Macam Operasi
Open Reduction and Internal Fixation (ORIF) dengan plate and screw merupakan teknik yang paling sering digunakan, terutama pada fraktur midshaft displaced atau kominutif, untuk mempertahankan panjang dan alignment klavikula.²,⁸
Fiksasi intramedular menggunakan pin atau nail intramedular pada fraktur midshaft tertentu dengan pola sederhana serta diseksi jaringan lunak minimal.²,⁸
*Hook plate fixation digunakan pada fraktur distal klavikula tidak stabil, terutama bila fragmen distal kecil atau terdapat gangguan ligamentum coracoclavicular*.²,⁸
Rekonstruksi ligamentum coracoclavicular dilakukan pada fraktur distal dengan instabilitas kompleks suspensori bahu untuk mengembalikan stabilitas vertikal klavikula.²,⁸
Farmakologis
Analgesik non-opioid seperti parasetamol digunakan untuk mengurangi nyeri ringan hingga sedang.⁴
NSAID seperti ibuprofen dapat diberikan untuk mengurangi nyeri dan inflamasi jaringan lunak sekitar fraktur.⁴
Opioid ringan dapat dipertimbangkan pada nyeri berat jangka pendek, terutama pada fase akut pascatrauma.⁴
Komplikasi
Malunion menyebabkan deformitas, nyeri kronis, dan gangguan biomekanik bahu akibat penyatuan fragmen yang tidak anatomis.²,³
Nonunion lebih sering terjadi pada fraktur displaced atau fraktur distal yang tidak stabil akibat gangguan stabilitas dan kontak antarfragmen.²,⁸
Kekakuan bahu dapat terjadi akibat imobilisasi yang terlalu lama atau nyeri berkepanjangan.²,³
Cedera pleksus brakialis menimbulkan baal, parestesia, atau kelemahan ekstremitas atas akibat trauma atau penekanan fragmen tulang.²,⁸
Cedera pembuluh subklavia dapat menyebabkan hematom progresif, penurunan pulsasi, atau iskemia ekstremitas.⁴,⁸
Pneumotoraks dapat terjadi akibat cedera apeks paru pada trauma energi tinggi atau fragmen yang bergeser.⁴,⁸
Infeksi dan iritasi implan dapat muncul pascaoperasi, terutama pada fraktur terbuka atau implan yang menonjol.²,⁵,⁷
Prognosis
Ad vitam (bonam) prognosis kehidupan umumnya baik karena fraktur klavikula jarang mengancam nyawa bila tidak disertai cedera toraks atau neurovaskular berat.²,⁴
Ad functionam (dubia ad bonam) fungsi bahu umumnya kembali baik setelah penyatuan tulang yang adekuat, tetapi fraktur displaced, malunion, atau nonunion dapat menyebabkan keterbatasan gerak dan penurunan kekuatan bahu.²,³
Ad sanationam (bonam) sebagian besar fraktur klavikula mengalami penyatuan tulang yang baik dalam beberapa minggu dengan terapi konservatif maupun operatif yang adekuat.²,³,⁸
Edukasi
Sebagian besar fraktur klavikula dapat sembuh dengan baik melalui terapi konservatif dan kontrol berkala.²,³
Gunakan arm sling sesuai anjuran, dan hindari aktivitas berat atau olahraga kontak hingga union tercapai.²
Latihan gerak bahu dilakukan secara bertahap setelah nyeri membaik untuk mencegah kekakuan.²
Segera kontrol bila muncul nyeri yang memberat, sesak napas, baal atau kelemahan lengan, pembengkakan yang progresif, atau tanda infeksi pada luka operasi.⁴,⁸
Kriteria Rujukan
Fraktur terbuka, ancaman perforasi kulit, atau skin tenting.²,⁸
Cedera neurovaskular, seperti penurunan pulsasi, baal, atau kelemahan ekstremitas atas.²,⁸
Fraktur dengan displacement berat, pemendekan signifikan, atau fraktur distal yang tidak stabil.²,⁸
Kecurigaan cedera toraks, seperti sesak napas atau pneumotoraks pada trauma energi tinggi.⁴,⁸
Nonunion, malunion simptomatik, nyeri persisten, atau gangguan fungsi bahu setelah terapi awal.²,³
Daftar Pustaka
Thompson JC. Netter’s Concise Orthopaedic Anatomy. 2nd ed. Philadelphia: Elsevier; 2010.
Blom AW, Warwick D, Whitehouse MR. Apley and Solomon’s System of Orthopaedics and Trauma. Edisi ke-10. Boca Raton: CRC Press; 2018.
Salter RB. Textbook of Disorders and Injuries of the Musculoskeletal System. Edisi ke-3. Baltimore: Williams & Wilkins; 1999.
Sjamsuhidajat R, de Jong W. Buku Ajar Ilmu Bedah. Edisi ke-4. Jakarta: EGC; 2017.
Yagnik VD. Fundamentals of Operative Surgery. Edisi ke-2. New Delhi: Wolters Kluwer; 2018.
Mandal N. Illustrated Surgery: A Road Map. Edisi ke-1. New Delhi: Jaypee Brothers Medical Publishers; 2016.
Mulholland MW, Lillemoe KD, Doherty GM, Upchurch GR Jr, Alam HB, Pawlik TM. Greenfield’s Surgery: Scientific Principles and Practice. Edisi ke-6. Philadelphia: Wolters Kluwer; 2017.
Bentley TP, Hosseinzadeh S. Clavicle Fractures. Treasure Island: StatPearls Publishing; 2024. Tersedia di: NCBI Bookshelf.
American Academy of Orthopaedic Surgeons. Treatment of Clavicle Fractures: Evidence-Based Clinical Practice Guideline. Rosemont: American Academy of Orthopaedic Surgeons; 2022.
Wright M, dkk. American Academy of Orthopaedic Surgeons Clinical Practice Guideline Summary: Treatment of Clavicle Fractures. J Am Acad Orthop Surg. 2023.
Song HS, dkk. Current concepts in the treatment of midshaft clavicle fractures in adults. Clin Shoulder Elb. 2021.
Kumar AV, dkk. Operative stabilisation versus non-operative management of displaced mid-shaft clavicle fractures. SICOT J. 2022.
