Tuberkulosis Paru [3A-4].

Tuberkulosis Paru [3A-4].


Definisi

Tuberkulosis paru adalah penyakit infeksi menular kronik akibat Mycobacterium tuberculosis yang terutama menyerang parenkim paru, serta ditandai oleh pembentukan granuloma tuberkel dengan atau tanpa nekrosis kaseosa.¹,⁶,¹²


Epidemiologi

Tuberkulosis masih menjadi penyebab utama kematian akibat penyakit infeksi, dengan sekitar 10–11 juta kasus baru dan lebih dari 1 juta kematian secara global setiap tahun.⁴

Indonesia termasuk negara dengan beban TB tertinggi di dunia, dengan estimasi lebih dari 1 juta kasus baru per tahun.⁴

TB paling sering mengenai usia produktif, terutama 15–54 tahun, sehingga berdampak besar pada morbiditas dan produktivitas.²,³

Risiko meningkat pada kontak erat TB aktif, HIV/AIDS, diabetes melitus, malnutrisi, perokok, alkoholisme, Penyakit Ginjal Kronik dan penggunaan obat imunosupresif.¹,²,⁶

TB laten mengenai sekitar ¼ populasi dunia dan dapat mengalami reaktivasi, terutama pada kondisi imunosupresi.⁵,⁷

TB-RO/MDR-TB tetap menjadi masalah penting. Indonesia termasuk negara dengan beban tinggi TB resistan rifampisin dan MDR-TB.⁴

TB ekstra paru, TB milier, dan bentuk diseminata lebih sering terjadi pada pasien dengan HIV, anak, dan individu imunokompromais.¹,⁸,⁹


Etiologi

Basil bersifat tahan asam, aerob obligat, tumbuh lambat, dan memiliki dinding sel kaya asam mikolat.⁶

Termasuk dalam Mycobacterium tuberculosis complex.⁶

Spesies lain yang dapat menyebabkan TB meliputi M. bovis, M. africanum, M. microti, M. canettii, M. caprae, dan M. pinnipedii.⁶

Penularan terutama melalui droplet nuclei airborne dari pasien TB paru aktif saat batuk, bersin, berbicara, atau bernyanyi.¹,²,⁶


Faktor Risiko

Kontak erat dengan pasien TB paru aktif, terutama serumah atau tinggal di lingkungan padat.¹,²

HIV/AIDS atau kondisi imunodefisiensi lain yang menurunkan imunitas seluler.¹,⁶

Diabetes melitus, terutama bila kontrol glikemik buruk.²

Malnutrisi atau berat badan rendah.¹,²

Merokok dan pajanan asap rokok.¹,²

Konsumsi alkohol berlebihan.²,⁶

Penggunaan obat imunosupresif, misalnya kortikosteroid jangka panjang, kemoterapi, atau anti-TNF.⁶

Penyakit ginjal kronik atau pasien dialisis.²

Kepadatan hunian, ventilasi buruk, dan status sosial ekonomi rendah.²,³

Riwayat TB sebelumnya atau pengobatan TB yang tidak lengkap.¹,²

Usia ekstrem, terutama anak kecil dan lansia.⁶

Petugas kesehatan atau individu dengan pajanan kerja terhadap pasien TB.²


Klasifikasi



Anamnesis

Batuk ≥2 minggu merupakan gejala utama TB paru. Keluhan ini terjadi akibat iritasi dan inflamasi kronik pada saluran napas serta keterlibatan parenkim paru.¹,²

Batuk berdahak terjadi akibat peningkatan produksi sekret dan respons inflamasi pada bronkus atau jaringan paru yang terinfeksi.¹,²

Hemoptisis dapat terjadi akibat erosi pembuluh darah pada lesi kavitas atau jaringan paru yang mengalami nekrosis.¹,⁶

Demam lama dan keringat malam muncul akibat pelepasan sitokin inflamasi selama respons imun terhadap infeksi kronik.⁶,¹²

Penurunan berat badan, anoreksia, dan malaise terjadi akibat inflamasi sistemik kronik dan peningkatan kebutuhan metabolik.¹,⁶

Nyeri dada dapat muncul bila terdapat keterlibatan pleura, inflamasi lokal, atau komplikasi seperti efusi pleura.¹,²

Sesak napas umumnya muncul pada penyakit yang luas, efusi pleura, TB milier, kerusakan paru berat, atau komplikasi berupa gagal napas.¹,²

Tanyakan riwayat kontak erat TB, riwayat pengobatan TB sebelumnya, HIV, diabetes, malnutrisi, merokok, serta penggunaan imunosupresan. Faktor-faktor ini meningkatkan risiko TB aktif atau TB resisten obat.¹,²,⁶


Pemeriksaan Fisik

Keadaan umum dapat tampak kurus, lemah, atau kakeksia akibat inflamasi kronik, anoreksia, dan peningkatan metabolisme.¹,⁶

Demam subfebris dapat ditemukan akibat respons inflamasi sistemik terhadap infeksi Mycobacterium tuberculosis.¹,⁶

Takipnea atau tanda peningkatan kerja napas dapat muncul pada TB paru luas, TB milier, efusi pleura, atau gagal napas.¹,²

Ronkhi basah halus, terutama di lapang atas paru, dapat terjadi akibat sekret dan inflamasi pada bronkus atau parenkim paru yang terinfeksi.¹,²

Suara napas menurun dapat ditemukan pada efusi pleura, kavitas besar, atelektasis, atau kerusakan parenkim paru yang luas.¹,²

Perkusi redup mengarah pada konsolidasi paru atau efusi pleura, sedangkan hipersonor dapat muncul pada pneumotoraks.¹,²

Tanda efusi pleura meliputi fremitus menurun, perkusi redup, dan suara napas menurun pada area yang terdampak.¹,²

Limfadenopati perifer dapat ditemukan pada TB kelenjar atau TB diseminata, terutama di regio servikal.¹,²

Tanda komplikasi, seperti sianosis, penggunaan otot bantu napas, hipotensi, atau hemoptisis aktif, menunjukkan kondisi berat dan memerlukan rujukan segera.¹,²


Pemeriksaan Penunjang

CT scan toraks: digunakan pada lesi kompleks, komplikasi, atau diagnosis banding. Pemeriksaan ini dapat menunjukkan tree-in-bud, kavitas, nodul, limfadenopati, atau penyebaran milier.¹¹,¹²

Histopatologi: membantu diagnosis TB ekstra paru melalui temuan granuloma epitelioid, sel raksasa Langhans, dan nekrosis kaseosa.¹,²,¹²

Pemeriksaan HIV: dianjurkan pada semua pasien TB untuk identifikasi TB-HIV dan perencanaan tata laksana.¹,²

Pemeriksaan komorbid dan keamanan OAT: meliputi gula darah/HbA1c, fungsi hati, fungsi ginjal, darah lengkap, dan tes kehamilan sesuai indikasi.²


Diagnosis Banding

Diagnosis BandingPerbedaan dengan Tuberkulosis
PneumoniaOnset lebih akut, demam tinggi, respons cepat terhadap antibiotik non-OAT.¹,²
Kanker paruLebih sering ditemukan massa/nodul solid, limfadenopati, atau gejala keganasan dominan.¹,²
BronkiektasisDitandai batuk kronik dengan sputum banyak, purulen, dan infeksi berulang.¹,²
Abses paruKavitas dengan air–fluid level, sputum purulen berbau, sering terkait aspirasi.¹,²
PPOKGejala dominan berupa obstruksi jalan napas kronik, riwayat merokok lama, spirometri obstruktif persisten.¹,²
Infeksi jamur paruDapat menyerupai TB secara radiologis, tetapi memerlukan konfirmasi mikologi/histopatologi.¹,¹²
SarkoidosisGranulomatosa non-infeksi dengan limfadenopati hilus bilateral dan tanpa identifikasi MTB.¹²

Penatalaksanaan

Nonfarmakologis

Etika batuk, penggunaan masker, serta perbaikan ventilasi lingkungan untuk mengurangi transmisi.¹,²

Nutrisi yang adekuat serta koreksi malnutrisi untuk mendukung respons imun dan keberhasilan terapi.¹,²

Berhenti merokok serta menghindari alkohol karena dapat meningkatkan risiko progresivitas penyakit dan kegagalan terapi.¹,²

Investigasi kontak serta skrining kelompok berisiko tinggi sesuai program TB.²,³


Farmakologis

Prinsip Terapi Farmakologis

Terapi utama TB menggunakan kombinasi OAT untuk eradikasi kuman, serta mencegah relaps dan resistensi obat.¹,²

Regimen standar TB sensitif obat adalah 2RHZE/4RH (2 bulan Rifampisin–Isoniazid–Pirazinamid–Etambutol / 4 bulan Rifampisin–Isoniazid), dengan penggunaan KDT/FDC (Kombinasi Dosis Tetap / Fixed-Dose Combination) bila tersedia.¹,²

KDT/FDC (Kombinasi Dosis Tetap / Fixed-Dose Combination) adalah sediaan yang menggabungkan beberapa obat anti-tuberkulosis (OAT) dalam satu tablet dengan dosis tetap untuk mempermudah terapi dan meningkatkan kepatuhan pasien.¹,²

Pemilihan regimen mempertimbangkan hasil bakteriologis/uji resistensi, riwayat terapi, komorbid, fungsi hati, fungsi ginjal, serta interaksi obat.¹,²

TB-RO/MDR-TB, TB berat, dan kasus kompleks memerlukan terapi sesuai pusat rujukan.²,⁵

Pemantauan meliputi respons klinis, kepatuhan, efek samping OAT, dan evaluasi dahak sesuai program TB.¹,²


2. Farmakologis

a. OAT Lini Pertama

GolonganObat dan SediaanDosis DewasaFarmakodinamik
BakterisidalIsoniazid (H) tablet 100 mg, 300 mg5 mg/kgBB/hari; dosis lazim 300 mg/hariMenghambat sintesis asam mikolat dinding sel mikobakteri.¹,²
BakterisidalRifampisin (R) kapsul/tablet 300 mg, 450 mg, 600 mg10 mg/kgBB/hari; dosis lazim 450–600 mg/hariMenghambat RNA polymerase DNA-dependent bakteri.¹,²
Sterilisasi intraselulerPirazinamid (Z) tablet 500 mg25 mg/kgBB/hariAktif pada lingkungan asam; bekerja terhadap basil intraseluler.¹,²
BakteriostatikEtambutol (E) tablet 250 mg, 500 mg15–20 mg/kgBB/hariMenghambat sintesis arabinosil transferase dinding sel mikobakteri.¹,²
Kombinasi dosis tetapKDT/FDC RHZE tablet kombinasi Rifampisin + Isoniazid + Pirazinamid + EtambutolSesuai berat badan dan pedoman program TBMenggabungkan efek bakterisidal, sterilisasi, dan pencegahan resistensi dalam satu sediaan.¹,²
Kombinasi dosis tetapKDT/FDC RH tablet kombinasi Rifampisin + IsoniazidSesuai berat badan dan pedoman program TBDigunakan pada fase lanjutan untuk eradikasi basil persisten dan mencegah relaps.¹,²

Keadaan-keadaan khusus


Komplikasi

Hemoptisis masif terjadi akibat erosi pembuluh darah pada kavitas TB atau bronkiektasis pasca-TB, sehingga dapat menyebabkan obstruksi jalan napas dan syok.¹,²

Kerusakan paru pasca-TB dapat berupa fibrosis, kavitas residual, bronkiektasis, dan restriksi paru yang menimbulkan sesak kronik.¹,²

Efusi pleura TB terjadi akibat reaksi hipersensitivitas atau penyebaran infeksi ke pleura, ditandai nyeri dada pleuritik dan sesak.¹,²

Pneumotoraks dapat terjadi bila kavitas subpleura ruptur ke rongga pleura.¹,²

Gagal napas dapat muncul pada TB paru luas, TB milier, kerusakan paru berat, atau komplikasi pleura.¹,²

TB milier terjadi akibat penyebaran hematogen luas dan berisiko menyebabkan keterlibatan multisistem.¹,⁸

Meningitis TB merupakan komplikasi berat akibat penyebaran ke sistem saraf pusat dan dapat menyebabkan defisit neurologis permanen.¹,⁹

TB resisten obat dapat timbul akibat pengobatan yang tidak adekuat, putus obat, atau transmisi dari kasus resisten, sehingga memerlukan regimen khusus.²,⁵


Prognosis

Ad vitam (terhadap kehidupan): dubia ad bonam. Sebagian besar pasien memiliki prognosis baik bila mendapatkan OAT yang adekuat, didiagnosis lebih dini, dan patuh menjalani terapi. Mortalitas meningkat pada TB-RO, TB-HIV, TB milier, meningitis TB, gagal napas, atau komplikasi berat lainnya.¹,²,⁵

Ad functionam (terhadap fungsi): dubia. Fungsi paru dapat menurun akibat fibrosis paru, bronkiektasis pasca-TB, kavitas residual, restriksi, atau obstruksi jalan napas setelah infeksi sembuh.¹,²

Ad sanationam (terhadap kesembuhan): bonam pada TB sensitif obat bila kepatuhan terapi baik dan tidak ada resistensi. Prognosis menjadi dubia pada kasus putus obat, komorbid tidak terkontrol, atau TB resisten obat yang memerlukan terapi lebih panjang dan kompleks.¹,²,⁵


Edukasi

Patuh minum OAT sesuai dosis, jadwal, dan durasi terapi. Jangan menghentikan obat sendiri, meskipun gejala membaik.¹,²

Terapkan etika batuk, gunakan masker, dan jaga ventilasi rumah untuk mengurangi penularan.¹,²

Lakukan kontrol rutin serta pemeriksaan dahak dan evaluasi sesuai jadwal program TB.¹,²

Segera laporkan bila muncul efek samping OAT, seperti ikterus, gangguan penglihatan, ruam berat, neuropati, atau gangguan pendengaran.¹,²

Konsumsi nutrisi yang adekuat, istirahat cukup, berhenti merokok, dan hindari alkohol.¹,²

Anjurkan skrining kontak erat dan pemeriksaan pada anggota keluarga yang berisiko.²,³

Pasien dengan komorbid, seperti HIV, diabetes, penyakit hati, atau penyakit ginjal, perlu mengontrol penyakit dasar secara optimal selama terapi TB.¹,²


Kriteria Rujukan

TB resisten obat (TB-RO/TB-RR/MDR/XDR) untuk konfirmasi diagnosis, penentuan regimen, dan tata laksana lanjutan.¹,²

TB dengan komplikasi, seperti hemoptisis masif, gagal napas, efusi pleura luas, pneumotoraks, TB milier, atau meningitis TB.¹,²

TB ekstra paru, terutama keterlibatan SSP, tulang belakang, perikardium, abdomen, atau organ yang memerlukan tindakan diagnostik invasif.¹,²

TB dengan komorbid berat, seperti HIV/AIDS, diabetes tidak terkontrol, penyakit hati, penyakit ginjal kronik, atau penggunaan imunosupresan.¹,²

Efek samping OAT berat, misalnya hepatotoksisitas, gangguan penglihatan, reaksi alergi berat, neuropati berat, atau ototoksisitas.¹,²

Gagal pengobatan, putus obat, atau kecurigaan resistensi obat berdasarkan riwayat terapi dan hasil pemeriksaan.¹,²

Rujuk balik TB-RO/MDR-TB dapat dilakukan bila pasien stabil, regimen telah ditetapkan oleh fasilitas rujukan, efek samping terkendali, dan terdapat instruksi tertulis untuk monitoring lanjutan di layanan primer.²,⁵