Konjungtivitis Trakoma [4]
Definisi
Trakoma adalah keratokonjungtivitis kronis yang disebabkan oleh Chlamydia trachomatis serotipe A, B, Ba, dan C, ditandai oleh inflamasi folikular berulang pada konjungtiva tarsal superior yang dapat berkembang menjadi jaringan parut dan trikiasis.⁶
Epidemiologi
Trakoma merupakan penyebab utama kebutaan infeksius yang dapat dicegah di dunia, terutama di negara berkembang dengan keterbatasan sanitasi dan akses terhadap air bersih.⁶˒⁷˒¹¹
Penyakit ini endemis di beberapa wilayah Afrika, Timur Tengah, Asia, Amerika Latin, dan Pasifik Barat, dengan beban tertinggi ditemukan di Afrika Sub-Sahara.¹¹˒¹²
Anak-anak usia 1–9 tahun merupakan kelompok yang paling sering mengalami infeksi aktif, sedangkan komplikasi sikatrik seperti trichiasis dan opasitas kornea lebih banyak ditemukan pada orang dewasa, terutama perempuan.⁶˒⁷˒¹¹
Penularan terjadi melalui kontak langsung dengan sekret mata atau hidung penderita, benda yang terkontaminasi (handuk, pakaian), serta peran lalat sebagai vektor mekanis.⁶˒⁷˒¹¹
Etiologi
Penyebab utama trakoma adalah Chlamydia trachomatis serotipe A, B, Ba, dan C, yang menginfeksi epitel konjungtiva secara kronis dan berulang.⁶˒⁷˒¹¹
Penularan terjadi melalui kontak langsung dengan sekret mata atau hidung, penggunaan handuk/kain yang terkontaminasi, serta lalat sebagai vektor mekanis.⁶˒⁷˒¹¹
Faktor yang mempertahankan transmisi meliputi sanitasi buruk, akses air bersih terbatas, kebersihan wajah yang buruk, kepadatan hunian tinggi, dan status sosial ekonomi rendah.⁶˒⁷˒¹¹
Klasifikasi / Stadium
klasifikasi yang digunakan adalah WHO Simplified Grading System.⁶˒⁷˒¹¹

Anamnesis
Mata merah kronis atau berulang, sering kali bilateral.⁶˒⁷˒¹¹
Keluhan rasa mengganjal atau seperti berpasir, disertai epifora dan sekret mukopurulen ringan.⁶˒⁷˒¹¹
Pada stadium lanjut dapat timbul fotofobia, nyeri saat berkedip, sensasi bulu mata menusuk mata (trichiasis), dan penurunan visus akibat keterlibatan kornea.⁶˒⁷˒¹¹
Tanyakan riwayat tinggal di daerah endemis, sanitasi buruk, kebersihan wajah yang kurang, kepadatan hunian tinggi, serta anggota keluarga dengan keluhan serupa.⁶˒⁷˒¹¹
Pemeriksaan Fisik
Folikel multipel pada konjungtiva tarsal superior, terutama pada stadium TF.⁶˒⁷˒¹¹
Inflamasi tarsal difus dan penebalan konjungtiva, hingga menutupi pembuluh darah tarsal pada stadium TI.⁶˒⁷˒¹¹
Jaringan parut konjungtiva tarsal berupa garis atau pita putih keabu-abuan pada stadium TS.⁶˒⁷˒¹¹
Entropion dan trichiasis, ditandai bulu mata yang menyentuh permukaan bola mata pada stadium TT.⁶˒⁷˒¹¹
Pannus superior, opasitas kornea, atau ulkus kornea pada kasus lanjut dengan keterlibatan kornea (CO).⁶˒⁷˒¹¹
Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan penunjang tidak rutin diperlukan, karena diagnosis trakoma pada daerah endemis umumnya ditegakkan secara klinis menggunakan klasifikasi WHO.⁶˒⁷˒¹¹
PCR/NAAT dapat digunakan untuk mendeteksi DNA Chlamydia trachomatis, terutama pada kasus atipikal, surveilans, atau penelitian.⁶˒¹¹
Pewarnaan Giemsa dapat menunjukkan badan inklusi intrasitoplasmik, tetapi sensitivitasnya rendah.⁶˒¹¹
Kultur sel jarang dilakukan karena membutuhkan laboratorium khusus.⁶˒¹¹
Diagnosis Banding
| Diagnosis Banding | Perbedaandengan Trakoma |
|---|---|
| Konjungtivitis inklusi dewasa (adult inclusion conjunctivitis) | Disertai riwayat penyakit menular seksual, sekret mukopurulen lebih menonjol, dan tidak menyebabkan jaringan parut tarsal berat seperti trakoma.⁶˒⁷ |
| Konjungtivitis viral kronis | Dapat ditemukan folikel konjungtiva, tetapi umumnya tidak menimbulkan fibrosis, trichiasis, atau opasitas kornea progresif.⁶˒⁷ |
| Konjungtivitis alergi kronis | Gatal merupakan keluhan utama, sering disertai papil konjungtiva, tanpa jaringan parut tarsal khas trakoma.⁶˒⁷ |
| Konjungtivitis bakterial kronis | Didominasi sekret purulen, tanpa folikel khas dan jaringan parut konjungtiva.⁶˒⁷ |
| Sikatriks konjungtiva non-trakoma | Terdapat jaringan parut konjungtiva akibat trauma, operasi, atau penyakit autoimun, tanpa riwayat infeksi berulang oleh Chlamydia trachomatis.⁶˒⁷ |
Penatalaksanaan
Nonfarmakologis (Strategi SAFE)
Strategi WHO SAFE (Surgery, Antibiotics, Facial cleanliness, Environmental improvement) merupakan pendekatan utama untuk mengeliminasi trakoma sebagai masalah kesehatan masyarakat.⁶˒⁷˒¹¹
Facial cleanliness (F): menjaga kebersihan wajah dan mata, membersihkan sekret secara rutin, serta mengedukasi anak agar mencuci wajah setiap hari.⁶˒⁷˒¹¹
Environmental improvement (E): meningkatkan akses air bersih, memperbaiki sanitasi lingkungan, mengurangi kepadatan hunian, serta melakukan pengendalian lalat sebagai vektor mekanis.⁶˒⁷˒¹¹
Farmakologis
Prinsip Terapi Farmakologis
Terapi farmakologis bertujuan untuk eradikasi infeksi aktif Chlamydia trachomatis serta menurunkan transmisi di komunitas.⁶˒⁷˒¹¹
Azitromisin oral dosis tunggal merupakan terapi pilihan karena efektif, mudah diberikan, dan sesuai untuk program pengobatan massal di daerah endemis.⁶˒⁷˒¹¹
Tetrasiklin salep mata 1% digunakan sebagai alternatif bila azitromisin tidak tersedia atau terdapat kontraindikasi, tetapi memerlukan kepatuhan penggunaan selama 6 minggu.⁶˒⁷˒¹¹
Antibiotik tidak memperbaiki jaringan parut, entropion, trichiasis, maupun opasitas kornea yang sudah terbentuk. Kondisi tersebut memerlukan evaluasi dan tindakan lanjutan.⁶˒⁷
Pada daerah endemis, terapi individu perlu diintegrasikan dengan strategi SAFE, terutama kebersihan wajah dan perbaikan lingkungan, untuk mencegah reinfeksi.⁶˒⁷˒¹¹
Antibiotik Sistemik
| Obat & Sediaan | Dosis & Frekuensi | Farmakodinamik |
|---|---|---|
| Azitromisin tablet 250 mg, 500 mg; suspensi oral 100 mg/5 mL atau 200 mg/5 mL | 20 mg/kgBB per oral dosis tunggal (maksimal 1 g); terapi pilihan pertama | Antibiotik makrolida yang berikatan dengan subunit ribosom 50S, menghambat sintesis protein sehingga efektif mengeradikasi Chlamydia trachomatis.⁶˒⁷˒¹¹ |
| Doksisiklin kapsul/tablet 100 mg | 100 mg per oral 2×/hari selama 14 hari | Antibiotik tetrasiklin yang menghambat sintesis protein melalui ikatan pada subunit ribosom 30S; kontraindikasi pada ibu hamil, menyusui, dan anak <12 tahun.⁶˒⁷ |
| Tetrasiklin kapsul/tablet 250 mg | 250 mg per oral 4×/hari selama 14 hari | Antibiotik tetrasiklin yang menghambat sintesis protein melalui ikatan pada subunit ribosom 30S; kontraindikasi pada ibu hamil, menyusui, dan anak <12 tahun.⁶˒⁷ |
| Eritromisin tablet 250 mg atau 500 mg; sirup 125 mg/5 mL atau 250 mg/5 mL | 500 mg per oral 4×/hari selama 14 hari | Antibiotik makrolida yang menghambat sintesis protein melalui ikatan pada subunit ribosom 50S; digunakan sebagai alternatif bila tetrasiklin tidak dapat diberikan atau pada kasus tertentu.⁶˒⁷ |
Antibiotik Topikal
| Obat & Sediaan | Dosis & Frekuensi | Farmakodinamik |
|---|---|---|
| Salep mata tetrasiklin 1% | Dioleskan 2–4×/hari selama 4–8 minggu | Antibiotik tetrasiklin yang menghambat sintesis protein melalui ikatan pada subunit ribosom 30S; efektif untuk eradikasi infeksi lokal, tetapi kurang efektif dibandingkan terapi oral.⁶˒⁷ |
| Salep mata eritromisin 0,5% | Dioleskan 2–4×/hari selama 4–8 minggu | Antibiotik makrolida yang menghambat sintesis protein melalui ikatan pada subunit ribosom 50S; digunakan sebagai alternatif topikal.⁶˒⁷ |
| Salep mata sulfasetamid 10% | Dioleskan 2–4×/hari selama 4–8 minggu | Antibiotik golongan sulfonamida yang menghambat sintesis asam folat bakteri melalui inhibisi kompetitif enzim dihidropteroat sintetase.⁶ |
Terapi Pembedahan 🟨
Bilamellar tarsal rotation (BLTR) merupakan terapi pilihan untuk trachomatous trichiasis (TT). Tindakan ini bertujuan memutar tepi kelopak mata sehingga bulu mata tidak lagi menggesek kornea.⁶˒⁷˒¹¹
Posterior lamellar tarsal rotation (PLTR) merupakan alternatif dengan efektivitas yang sebanding.⁶˒⁷
Epilasi dapat dilakukan sebagai tindakan sementara pada trichiasis ringan atau bila operasi belum dapat segera dilakukan.⁶˒⁷
Komplikasi
Jaringan parut konjungtiva (TS): inflamasi kronis yang berulang menyebabkan fibrosis pada konjungtiva tarsal, yang menjadi dasar terjadinya deformitas kelopak mata.⁶˒⁷
Entropion dan trichiasis (TT): jaringan parut menarik kelopak mata ke arah dalam sehingga bulu mata terus menggesek permukaan kornea.⁶˒⁷˒¹¹
Pannus kornea: inflamasi kronis yang memicu neovaskularisasi superfisial pada kornea dan mengganggu kejernihan kornea.⁶˒⁷
Ulkus kornea: gesekan bulu mata yang persisten menyebabkan abrasi berulang hingga terbentuk ulkus, serta meningkatkan risiko infeksi sekunder.⁶˒⁷˒¹¹
Opasitas kornea (CO): proses penyembuhan ulkus dan pannus meninggalkan jaringan parut kornea yang menutupi aksis visual, sehingga menyebabkan penurunan visus yang permanen.⁶˒⁷˒¹¹
Kebutaan: komplikasi akhir akibat opasitas kornea sentral yang tidak ditangani secara adekuat.⁶˒⁷˒¹¹
Prognosis
Ad vitam (kelangsungan hidup): bonam, karena trakoma merupakan infeksi kronis pada permukaan okular yang tidak mengancam jiwa dan jarang menimbulkan komplikasi sistemik.⁶˒⁷
Ad functionam (fungsi penglihatan): bonam hingga dubia ad malam, karena terapi pada fase awal umumnya dapat mempertahankan visus. Namun, trichiasis, ulkus, dan opasitas kornea dapat menyebabkan penurunan visus permanen hingga kebutaan.⁶˒⁷˒¹¹
Ad sanationam (kesembuhan penyakit): bonam hingga dubia, karena infeksi aktif dapat dieradikasi dengan antibiotik. Akan tetapi, jaringan parut konjungtiva, entropion, trichiasis, dan opasitas kornea bersifat ireversibel, serta reinfeksi dapat terjadi jika faktor risiko lingkungan tidak diatasi.⁶˒⁷˒¹¹
Edukasi
Minum antibiotik sesuai dosis hingga selesai untuk mengeradikasi infeksi dan mencegah penularan.⁶˒⁷
Jaga kebersihan wajah dan tangan, bersihkan sekret mata secara rutin, serta hindari berbagi handuk atau alat pribadi dengan anggota keluarga lainnya.⁶˒⁷˒¹¹
Perbaiki sanitasi lingkungan, tingkatkan akses air bersih, dan kurangi paparan lalat untuk membantu memutus rantai penularan.⁶˒⁷
Anjurkan pemeriksaan dan pengobatan bagi anggota keluarga atau kontak serumah, terutama di daerah endemis.⁶˒⁷˒¹¹
Segera kontrol bila muncul nyeri hebat, penurunan visus, bulu mata menggesek kornea (trichiasis), atau mata semakin merah, karena hal ini dapat menandakan komplikasi yang memerlukan tindakan lebih lanjut.⁶˒⁷˒¹¹
Kriteria Rujukan
Trichiasis atau entropion sikatrik (TT) yang memerlukan koreksi pembedahan untuk mencegah kerusakan kornea. ⁶˒⁷
Ulkus kornea, pannus progresif, atau opasitas kornea (CO) yang mengancam atau telah menurunkan tajam penglihatan. ⁶˒⁷˒¹¹
Penurunan visus, nyeri berat, atau dugaan komplikasi intraokular yang memerlukan evaluasi spesialis mata. ⁶˒⁷
Kasus rekuren, gagal terapi, atau diagnosis meragukan setelah tata laksana awal di fasilitas pelayanan kesehatan primer. ⁶˒¹⁰
Pasien yang memerlukan tindakan operatif atau rehabilitasi visual akibat komplikasi trakoma. ⁶˒⁷˒¹¹
Daftar Pustaka
World Health Organization. ICD-10 Version: 2019. Geneva: World Health Organization; 2019.
Konsil Kedokteran Indonesia. Standar Kompetensi Dokter Indonesia. Jakarta: Konsil Kedokteran Indonesia; 2012.
Budijono, Trisnowati I, Taib Saleh M, et al., editors. Buku Ajar Ilmu Kesehatan Mata. Surabaya: Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga; 2020.
Sitorus RS, Sitompul R, Widyawati S, Bani AP, editors. Buku Ajar Oftalmologi. Jakarta: Badan Penerbit Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia; 2017.
Denniston AKO, Murray PI. Oxford Handbook of Ophthalmology. 4th ed. Oxford: Oxford University Press; 2018.
Feder RS, Azar DT, Rapuano CJ, editors. External Disease and Cornea. 2025–2026 ed. San Francisco: American Academy of Ophthalmology; 2025. (Basic and Clinical Science Course; Section 8).
Salmon JF. Kanski's Clinical Ophthalmology: A Systematic Approach. 10th ed. London: Elsevier; 2024.
Blomquist PH, editor. Practical Ophthalmology: A Manual for Beginning Residents. 8th ed. San Francisco: American Academy of Ophthalmology; 2021.
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Panduan Praktik Klinis bagi Dokter di Fasilitas Pelayanan Kesehatan Tingkat Pertama. Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor HK.01.07/MENKES/1186/2022. Jakarta: Kementerian Kesehatan RI; 2022.
EyeWiki. Trachoma [Internet]. San Francisco: American Academy of Ophthalmology; [cited 2026 Jan 29]. Available from: https://eyewiki.org/Trachoma
Taylor HR. Trachoma. In: StatPearls [Internet]. Treasure Island (FL): StatPearls Publishing; 2024. Available from: https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/
World Health Organization. WHO Alliance for the Global Elimination of Trachoma: progress report. Geneva: World Health Organization; 2024.
