Mata Kering (Dry Eye Disease) [4]

Mata Kering (Dry Eye Disease) [4]


Definisi

Dry Eye Disease adalah penyakit multifaktorial pada permukaan okular yang ditandai oleh hilangnya homeostasis lapisan air mata, disertai gejala okular, dengan kontribusi ketidakstabilan dan hiperosmolaritas air mata, inflamasi permukaan okular, kerusakan epitel, serta gangguan neurosensorik


Epidemiologi

Dry Eye Disease (DED) merupakan salah satu penyakit permukaan okular tersering di dunia.¹

Prevalensi global diperkirakan berkisar antara 5–50%, bergantung pada populasi yang diteliti dan kriteria diagnosis yang digunakan

Kejadian DED meningkat seiring bertambahnya usia dan lebih sering ditemukan pada perempuan, terutama pada masa pascamenopause.¹˒⁵

Faktor yang berhubungan dengan peningkatan risiko meliputi penggunaan perangkat digital secara berkepanjangan, pemakaian lensa kontak, penyakit autoimun, penggunaan obat-obatan tertentu, serta paparan lingkungan yang kering atau ber-AC.¹˒³˒⁵


Etiologi

Aqueous Deficient Dry Eye (ADDE), yaitu penurunan produksi air mata akibat gangguan kelenjar lakrimal, misalnya pada penuaan, sindrom Sjögren, penyakit autoimun, radioterapi, atau efek obat-obatan sistemik.¹˒²˒⁵

Evaporative Dry Eye (EDE), yaitu peningkatan penguapan air mata akibat gangguan lapisan lipid, terutama karena disfungsi kelenjar Meibom, blefaritis, gangguan berkedip, paparan AC, angin, atau penggunaan layar digital secara berlebihan.¹˒³˒⁵

Faktor iatrogenik, seperti penggunaan obat tetes mata berpengawet, lensa kontak, operasi refraktif, operasi katarak, atau tindakan okular lainnya.¹˒³˒⁵

Faktor lingkungan dan perilaku, seperti udara kering, polusi, paparan asap, membaca dalam waktu lama, serta menatap layar tanpa cukup berkedip.¹˒³˒⁵


Klasifikasi

Mixed Dry Eye: kombinasi penurunan produksi air mata dan peningkatan evaporasi, yang sering ditemukan pada praktik klinis.¹˒³˒⁵



Anamnesis

Keluhan mata kering, terasa berpasir, mengganjal, perih, terbakar, atau gatal, akibat berkurangnya lubrikasi permukaan okular.¹˒⁴˒⁵

Fluktuasi visus, terutama saat membaca, menatap layar, atau melakukan aktivitas visual yang berkepanjangan, membaik setelah berkedip atau menggunakan pelumas mata.⁴˒⁵

Epifora paradoksikal (mata berair) dapat terjadi sebagai respons refleks terhadap iritasi pada permukaan okular.⁴˒⁵

Gejala sering memburuk pada lingkungan ber-AC, berangin, berdebu, berkelembapan rendah, atau saat penggunaan perangkat digital dalam waktu lama akibat berkurangnya frekuensi berkedip.¹˒⁵

Riwayat pemakaian lensa kontak, operasi mata (misalnya LASIK atau katarak), penggunaan obat topikal yang mengandung pengawet, serta penggunaan obat sistemik seperti antihistamin, antidepresan, dan diuretik perlu dievaluasi sebagai faktor risiko.⁴˒⁵

Adanya gejala sistemik, seperti mulut kering, nyeri sendi, atau penyakit autoimun, untuk menyingkirkan Sindroma Sjögren atau penyebab sistemik lainnya.⁴˒⁵


Pemeriksaan Fisik

Visus dapat normal atau fluktuatif, terutama setelah aktivitas visual yang lama akibat ketidakstabilan lapisan air mata.¹˒⁴˒⁵

Tampak hiperemia konjungtiva ringan, permukaan okular tampak kusam, atau terdapat debris pada tear film.⁴˒⁵

Tear meniscus dapat tampak menipis, menunjukkan volume air mata yang berkurang.⁴˒⁵

Pada disfungsi kelenjar Meibom, dapat ditemukan sumbatan orifisium meibom, telangiektasis tepi kelopak, meibum keruh/kental, dan blefaritis posterior.³˒⁴˒⁵


Pemeriksaan Penunjang

Pemeriksaan autoimun (anti-SSA/Ro dan anti-SSB/La) 🟨: dipertimbangkan bila dicurigai Sindrom Sjögren berdasarkan gejala sistemik yang menyertai.⁴˒⁵


Diagnosis Banding

Diagnosis BandingPerbedaan dengan Dry Eye Disease
Konjungtivitis alergiGatal merupakan keluhan utama, sering disertai papil konjungtiva, sekret mukoid, dan riwayat atopi.¹˒⁵
Blefaritis / Disfungsi kelenjar MeibomDapat menjadi penyebab DED, namun ditandai oleh krusta pada bulu mata, hiperemia tepi kelopak, dan sumbatan orifisium Meibom yang lebih dominan.⁴˒⁵
Keratitis neurotropikTerdapat penurunan sensasi kornea, dengan temuan epitel kornea yang tidak sesuai dengan derajat keluhan subjektif.⁵
Nyeri neuropatik okularKeluhan nyeri atau rasa terbakar berat tidak sebanding dengan temuan klinis pada permukaan okular.⁵
Konjungtivitis medikamentosaBerhubungan dengan riwayat penggunaan obat tetes mata jangka panjang, terutama yang mengandung pengawet, dengan perbaikan setelah penghentian obat pencetus.⁴˒⁵

Penatalaksanaan

Nonfarmakologis

Edukasi bahwa Dry Eye Disease merupakan kondisi kronis yang memerlukan terapi jangka panjang serta kepatuhan pasien.³˒⁴

Modifikasi lingkungan, seperti menghindari paparan AC, kipas angin, asap rokok, dan lingkungan berdebu, serta menggunakan humidifier bila diperlukan.³˒⁴˒⁵

Menerapkan aturan 20-20-20 dan meningkatkan frekuensi berkedip saat menggunakan perangkat digital.³˒⁵

Kompres hangat dan kebersihan tepi kelopak mata pada pasien dengan disfungsi kelenjar Meibom atau blefaritis.⁴˒⁵

Menghentikan atau mengevaluasi faktor pencetus, seperti penggunaan obat topikal berpengawet, lensa kontak, atau obat sistemik tertentu bila memungkinkan.⁴˒⁵


Farmakologis

Prinsip Terapi Farmakologis

Artificial tears merupakan terapi lini pertama pada DED ringan hingga sedang untuk meningkatkan lubrikasi permukaan okular.³˒⁴

Antiinflamasi topikal (misalnya siklosporin atau kortikosteroid jangka pendek) dipertimbangkan pada DED sedang hingga berat dengan komponen inflamasi.³˒⁴

Sekretagog oral dapat digunakan pada pasien dengan aqueous-deficient dry eye, terutama yang berhubungan dengan Sindrom Sjögren.⁴˒⁵

Pelumas Mata (Artificial Tears)

Obat dan SediaanDosis dan FrekuensiFarmakodinamik
Carboxymethylcellulose (CMC) 0,5–1%1–2 tetes, 4–6×/hari atau sesuai kebutuhanPolimer viskoelastik yang meningkatkan retensi air mata, memperbaiki lubrikasi permukaan okular, dan mengurangi gesekan epitel.³˒⁴
Hypromellose (Hydroxypropyl methylcellulose/HPMC) 0,3–0,5%1–2 tetes, 4–6×/hari atau sesuai kebutuhanBertindak sebagai agen demulsen yang membentuk lapisan pelindung pada permukaan mata dan meningkatkan stabilitas tear film.³˒⁴
Sodium hyaluronate 0,1–0,3%1 tetes, 4–6×/hari atau sesuai kebutuhanMemiliki sifat viskoadaptif dan retensi air tinggi, sehingga meningkatkan hidrasi, mempercepat penyembuhan epitel, dan menstabilkan lapisan air mata.³˒⁴
Polyethylene glycol 0,4% + Propylene glycol 0,3%1–2 tetes, 4×/hari atau sesuai kebutuhanMembentuk lapisan pelumas pada permukaan okular dan mengurangi evaporasi air mata.³
Carbomer 0,2–0,3% (gel oftalmik)1 tetes, 3–4×/hariMeningkatkan waktu kontak obat pada permukaan mata sehingga memberikan efek lubrikasi yang lebih lama.⁴
Salep pelumas mata (paraffin liquid + white soft paraffin)Dioleskan 1× sebelum tidurMembentuk lapisan oklusif yang mengurangi evaporasi air mata selama tidur.⁴˒⁵

Catatan:

Artificial tears merupakan terapi lini pertama pada Dry Eye Disease ringan hingga sedang.³˒⁴

Pada penggunaan >4 kali/hari, dianjurkan memilih sediaan bebas pengawet (preservative-free) untuk mengurangi toksisitas pada permukaan okular.³˒⁴

Pemilihan sediaan disesuaikan dengan derajat keparahan, frekuensi gejala, dan dominasi tipe dry eye.⁴˒⁵



🟨 Prosedur / Tindakan Lanjutan

Punctal plug dapat dipertimbangkan pada pasien dengan aqueous-deficient dry eye yang tidak membaik dengan terapi pelumas mata, dengan tujuan mengurangi drainase air mata dan meningkatkan retensi film air mata pada permukaan okular.⁴˒⁵

Autologous serum eye drops digunakan pada Dry Eye Disease berat dengan kerusakan epitel kornea persisten, karena mengandung faktor pertumbuhan, vitamin, dan komponen biologis yang membantu regenerasi epitel permukaan okular.⁴˒⁵

Scleral lens dapat diberikan pada pasien dengan DED berat atau penyakit permukaan okular berat, untuk membentuk reservoir cairan di atas kornea, mempertahankan hidrasi, dan melindungi epitel kornea.⁴˒⁵

Intense Pulsed Light (IPL) dapat dipertimbangkan pada disfungsi kelenjar Meibom refrakter, dengan tujuan mengurangi inflamasi periokular dan memperbaiki kualitas sekresi lipid kelenjar Meibom.⁴˒¹³


Komplikasi

Lesi epitel kornea rekuren dapat terjadi akibat gangguan lubrikasi dan kerusakan permukaan okular yang berlangsung kronis.⁵˒⁶

Keratitis punctata superfisial timbul akibat defek epitel kornea multipel, yang dapat menyebabkan fotofobia dan penurunan kualitas penglihatan.⁵˒⁶

Ulkus kornea steril maupun infeksius dapat berkembang pada kasus Dry Eye Disease berat, terutama bila disertai penyakit autoimun atau penggunaan lensa kontak.⁵˒⁶

Jaringan parut dan neovaskularisasi kornea dapat terjadi akibat inflamasi kronis yang tidak terkontrol, sehingga berpotensi menurunkan tajam penglihatan.⁵˒⁶

Penurunan visus dan kualitas hidup dapat terjadi akibat fluktuasi penglihatan, ketidaknyamanan kronis, serta keterbatasan aktivitas sehari-hari, terutama pada kasus sedang hingga berat.⁴˒⁵

Pada Sindrom Sjögren, komplikasi cenderung lebih berat dan progresif karena defisiensi air mata yang persisten dan inflamasi kronis pada permukaan okular.⁵˒⁶


Prognosis

Ad vitam (terhadap kehidupan): bonam, karena Dry Eye Disease tidak mengancam jiwa dan jarang menimbulkan komplikasi sistemik secara langsung.⁴˒⁵˒⁶

Ad functionam (terhadap fungsi): dubia ad bonam, karena fungsi penglihatan umumnya dapat dipertahankan bila diagnosis dan terapi diberikan secara adekuat, namun dapat memburuk pada kasus dengan kerusakan permukaan okular berat atau komplikasi kornea.⁴˒⁵˒⁶

Ad sanationam (terhadap kesembuhan): dubia, karena Dry Eye Disease bersifat kronis dan cenderung memerlukan terapi jangka panjang; gejala dapat terkontrol dengan baik apabila faktor pencetus ditangani, tetapi kekambuhan sering terjadi, terutama pada kasus yang berkaitan dengan disfungsi kelenjar Meibom atau penyakit autoimun seperti Sindrom Sjögren.⁴˒⁵˒⁶


Edukasi

Jelaskan bahwa Dry Eye Disease merupakan kondisi kronis yang memerlukan terapi jangka panjang dan kontrol berkala.⁴˒⁵

Anjurkan penggunaan pelumas mata secara teratur sesuai anjuran, meskipun gejala telah membaik.⁴

Hindari paparan langsung terhadap AC, kipas angin, asap rokok, dan lingkungan berdebu, serta pertimbangkan penggunaan humidifier di ruangan kering.⁴˒⁵

Terapkan aturan 20-20-20 dan tingkatkan frekuensi berkedip saat menggunakan komputer atau perangkat digital dalam waktu lama.⁵˒⁶

Lakukan kompres hangat dan kebersihan kelopak mata secara rutin pada pasien dengan disfungsi kelenjar Meibom atau blefaritis.⁵˒¹³

Anjurkan pasien untuk kembali kontrol bila gejala memburuk, tidak membaik setelah 4–6 minggu terapi, atau muncul nyeri hebat, mata merah berat, maupun penurunan visus.⁴˒⁵

Edukasi mengenai kemungkinan penyakit sistemik yang mendasari, terutama jika disertai mulut kering, nyeri sendi, atau gejala autoimun lainnya.⁵˒⁶


Kriteria Rujukan

Gejala tidak membaik setelah 4–6 minggu terapi yang adekuat atau memerlukan eskalasi terapi di luar kewenangan layanan primer.⁵˒¹¹

Ditemukan komplikasi kornea, seperti keratitis, ulkus kornea, erosi epitel yang persisten, atau penurunan visus.⁵˒⁶

Dry Eye Disease derajat sedang–berat yang memerlukan terapi khusus, seperti siklosporin topikal, punctal plug, autologous serum eye drops, atau scleral lens.⁴˒⁵

Terdapat kecurigaan penyakit autoimun, terutama bila disertai mulut kering, nyeri sendi, pembesaran kelenjar saliva, atau gejala sistemik lainnya yang mengarah ke Sindrom Sjögren.⁵˒⁶

Ditemukan nyeri mata berat, fotofobia, mata merah berat, atau gejala yang tidak sesuai dengan temuan klinis, untuk menyingkirkan diagnosis banding lain seperti keratitis neurotropik atau nyeri neuropatik okular.⁵˒⁶

Terdapat keraguan diagnosis atau diperlukan pemeriksaan penunjang lanjutan yang tidak tersedia di fasilitas pelayanan kesehatan tingkat pertama.⁵˒¹¹


Daftar Pustaka

1.

Craig JP, Nichols KK, Akpek EK, Caffery B, Dua HS, Joo CK, et al. TFOS DEWS II Definition and Classification Report. Ocul Surf. 2017;15(3):276–283.

2.

Konsil Kedokteran Indonesia. Standar Kompetensi Dokter Indonesia. Jakarta: Konsil Kedokteran Indonesia; 2012.

3.

Bron AJ, de Paiva CS, Chauhan SK, Bonini S, Gabison EE, Jain S, et al. TFOS DEWS II Pathophysiology Report. Ocul Surf. 2017;15(3):438–510.

4.

Jones L, Downie LE, Korb D, Benítez-del-Castillo JM, Dana R, Deng SX, et al. TFOS DEWS II Management and Therapy Report. Ocul Surf. 2017;15(3):575–628.

5.

Feder RS, Azar DT, Rapuano CJ, editors. External Disease and Cornea. 2025–2026 ed. San Francisco: American Academy of Ophthalmology; 2025. (Basic and Clinical Science Course; Section 8).

6.

Salmon JF. Kanski's Clinical Ophthalmology: A Systematic Approach. 10th ed. London: Elsevier; 2024.

7.

Denniston AKO, Murray PI. Oxford Handbook of Ophthalmology. 4th ed. Oxford: Oxford University Press; 2018.

8.

Blomquist PH, editor. Practical Ophthalmology: A Manual for Beginning Residents. 8th ed. San Francisco: American Academy of Ophthalmology; 2021.

9.

Budijono, Trisnowati I, Taib Saleh M, et al., editors. Buku Ajar Ilmu Kesehatan Mata. Surabaya: Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga; 2020.

10.

Sitorus RS, Sitompul R, Widyawati S, Bani AP, editors. Buku Ajar Oftalmologi. Jakarta: Badan Penerbit Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia; 2017.

11.

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Panduan Praktik Klinis bagi Dokter di Fasilitas Pelayanan Kesehatan Tingkat Pertama. Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor HK.01.07/MENKES/1186/2022. Jakarta: Kementerian Kesehatan RI; 2022.

12.

Tsubota K, Pflugfelder SC, Liu Z, Baudouin C, Kim HM, Messmer EM, et al. Defining Dry Eye from a Clinical Perspective. Int J Mol Sci. 2020;21(23):9271.

13.

Geerling G, Tauber J, Baudouin C, Goto E, Matsumoto Y, O'Brien T, et al. The International Workshop on Meibomian Gland Dysfunction: Report of the Subcommittee on Management and Treatment of Meibomian Gland Dysfunction. Invest Ophthalmol Vis Sci. 2011;52(4):2050–2064.

✏️ Kasih pendapatmu mengenai artikel ini! Yuk, klik disini