Perdarahan Subkonjungtiva [4]
Moh. Nurdin Zuhri, Merlyna Savitri, Daya Banyu Bening
Diperbarui : 8 Juli 2026 / V2
Definisi
Perdarahan subkonjungtiva adalah akumulasi darah di ruang subkonjungtiva akibat pecahnya pembuluh darah konjungtiva superfisial, yang tampak sebagai bercak merah terang pada sklera tanpa gangguan visus. ¹˒⁵˒⁷˒⁸

Epidemiologi
Perdarahan subkonjungtiva sering ditemukan dalam praktik klinis sehari-hari dan umumnya bersifat jinak serta self-limited.¹˒⁵˒⁷˒⁸
Kondisi ini lebih sering terjadi pada usia dewasa hingga lanjut, terutama pada pasien dengan hipertensi, diabetes melitus, penggunaan antikoagulan, atau memiliki pembuluh darah yang rapuh.¹˒⁵˒⁷˒⁸
Pada usia yang lebih muda, kondisi ini lebih sering berkaitan dengan trauma ringan, penggunaan lensa kontak, atau manuver Valsalva, seperti batuk, muntah, atau mengejan.¹˒⁵˒⁷˒⁸
Perdarahan yang berulang, bilateral, luas, atau menetap perlu dievaluasi untuk menyingkirkan gangguan koagulasi, kelainan hematologis, atau penyakit sistemik.¹˒⁷˒⁸
Etiologi
Trauma okular ringan atau tumpul, termasuk mengucek mata, benda asing, atau penggunaan lensa kontak. ¹˒⁵˒⁷˒⁸
Manuver Valsalva, seperti batuk berat, bersin, muntah, mengejan, atau mengangkat beban berat, meningkatkan tekanan vena konjungtiva secara mendadak. ¹˒⁵˒⁷˒⁸
Hipertensi sistemik dan diabetes melitus berhubungan dengan kerapuhan pembuluh darah. ¹˒⁷˒⁸
Penggunaan antikoagulan atau antiplatelet, seperti warfarin, aspirin, dan obat sejenisnya. ¹˒⁷˒⁸
Gangguan koagulasi atau hematologis, seperti trombositopenia, hemofilia, leukemia, atau kelainan pembekuan darah lainnya. ⁷˒⁸
Pascaoperasi atau prosedur okular, serta kasus idiopatik tanpa penyebab yang jelas. ¹˒⁵˒⁷˒⁸
Anamnesis
Keluhan utama berupa bercak merah terang pada bagian putih mata yang muncul secara mendadak.¹˒⁵˒⁷˒⁸
Umumnya tidak disertai nyeri, fotofobia, sekret, atau penurunan visus.¹˒⁵˒⁷
Perlu ditanyakan riwayat trauma mata, mengucek mata, batuk berat, muntah, mengejan, atau mengangkat beban berat.¹˒⁵˒⁷˒⁸
Gali riwayat hipertensi, diabetes melitus, gangguan pembekuan darah, perdarahan mudah, atau penggunaan antikoagulan/antiplatelet.⁷˒⁸
Tanyakan apakah perdarahan berulang, bilateral, luas, atau menetap dalam waktu lama, karena hal ini dapat mengarah pada penyakit sistemik.¹˒⁷˒⁸
Pemeriksaan Fisik
Tampak bercak merah terang berbatas tegas pada konjungtiva bulbi, dengan ukuran yang bervariasi dari fokal hingga difus.¹˒⁵˒⁷˒⁸
Visus umumnya normal. Penurunan tajam penglihatan yang tajam harus mendorong evaluasi diagnosis alternatif atau cedera okular yang lebih berat.¹˒²˒⁵
Tidak ditemukan injeksi silier, sekret, edema kornea, maupun tanda inflamasi intraokular.¹˒⁵˒⁷
Tekanan intraokular biasanya dalam batas normal, kecuali bila terdapat trauma okular penyerta.¹˒⁵
Pada kasus dengan riwayat trauma, lakukan evaluasi menyeluruh untuk menyingkirkan abrasi kornea, hifema, ruptur bola mata, atau benda asing intraokular.¹˒²˒⁵˒⁷
Pengukuran tekanan darah perlu dipertimbangkan, terutama pada pasien usia lanjut atau pasien dengan perdarahan subkonjungtiva yang berulang.⁷˒⁸
Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan penunjang umumnya tidak diperlukan karena diagnosis perdarahan subkonjungtiva ditegakkan secara klinis berdasarkan anamnesis dan pemeriksaan fisik.¹˒⁵˒⁷˒⁸
Pengukuran tekanan darah dianjurkan, terutama pada pasien usia lanjut, dengan perdarahan rekuren, atau tanpa faktor pencetus yang jelas, untuk mendeteksi hipertensi sistemik.⁷˒⁸
Hitung darah lengkap dapat dipertimbangkan pada kasus perdarahan berulang, bilateral, luas, atau disertai manifestasi perdarahan lain, untuk menyingkirkan kelainan hematologis.⁷˒⁸
Pemeriksaan koagulasi (PT, aPTT, INR) dilakukan bila terdapat riwayat gangguan pembekuan darah, penggunaan antikoagulan, atau kecurigaan koagulopati.⁷˒⁸
Pemeriksaan oftalmologis lanjutan, seperti slit-lamp biomicroscopy atau funduskopi, dipertimbangkan pada kasus dengan riwayat trauma, penurunan visus, nyeri, atau kecurigaan cedera intraokular.¹˒⁵˒⁷
Diagnosis Banding
| Diagnosis Banding | Perbedaan dengan Perdarahan Subkonjungtiva |
|---|---|
| Konjungtivitis | Disertai sekret, rasa gatal atau perih, serta hiperemia konjungtiva difus, sedangkan perdarahan subkonjungtiva tampak sebagai bercak merah berbatas tegas tanpa sekret.¹˒⁵˒⁷ |
| Episkleritis | Menimbulkan kemerahan sektoral disertai rasa tidak nyaman atau nyeri ringan, dan pembuluh darah tampak radial; pada perdarahan subkonjungtiva umumnya tidak nyeri.¹˒⁵ |
| Skleritis | Ditandai dengan nyeri berat, injeksi berwarna merah kebiruan, dan dapat disertai penurunan visus, berbeda dengan perdarahan subkonjungtiva yang biasanya asimtomatik.¹˒⁵˒⁷ |
| Hifema | Merupakan perdarahan di bilik mata depan yang tampak sebagai level darah di belakang kornea, sering disertai riwayat trauma dan gangguan visus.¹˒⁵ |
| Hemangioma konjungtiva | Berupa lesi vaskular yang menetap dan tidak muncul mendadak, sedangkan perdarahan subkonjungtiva terjadi akut dan akan mengalami resolusi spontan.⁵˒⁷ |
| Melanosis konjungtiva | Tampak sebagai pigmentasi cokelat atau kehitaman pada konjungtiva yang bersifat kronis, bukan bercak merah akibat perdarahan akut.⁵˒⁷ |
Penatalaksanaan
Nonfarmakologis
Observasi merupakan tata laksana utama karena sebagian besar perdarahan subkonjungtiva bersifat jinak dan self-limited, serta membaik secara spontan dalam 1–2 minggu.¹˒⁵˒⁷˒⁸
Berikan edukasi dan yakinkan pasien bahwa kondisi ini umumnya tidak menyebabkan gangguan penglihatan yang permanen.¹˒⁵
Kompres dingin dapat dipertimbangkan dalam 24–48 jam pertama, terutama pada kasus traumatik yang disertai rasa tidak nyaman atau edema ringan.⁵˒⁷
Lakukan identifikasi dan koreksi faktor risiko, seperti pengendalian hipertensi, evaluasi penggunaan antikoagulan, serta anjurkan pasien untuk menghindari mengucek mata dan manuver Valsalva berlebihan.⁷˒⁸
Farmakologis
Prinsip Terapi Farmakologis
Terapi farmakologis pada perdarahan subkonjungtiva bersifat suportif, dengan tujuan mengurangi keluhan iritasi atau rasa mengganjal, bukan untuk mempercepat penyerapan perdarahan. ¹˒⁵˒⁷˒⁸
Air mata buatan dapat diberikan bila pasien mengeluhkan ketidaknyamanan pada permukaan okular. ¹˒⁵
Antibiotik topikal tidak direkomendasikan secara rutin, kecuali bila terdapat infeksi okular yang menyertainya. ¹˒⁵˒⁷
Kortikosteroid topikal tidak diindikasikan, karena perdarahan subkonjungtiva umumnya tidak disertai proses inflamasi. ¹˒⁵
Evaluasi penggunaan antikoagulan atau antiplatelet perlu dilakukan pada kasus perdarahan rekuren atau perdarahan luas, dengan mempertimbangkan indikasi medis dan risiko perdarahan secara keseluruhan. ⁷˒⁸
Pengobatan penyakit sistemik yang mendasari, seperti hipertensi atau gangguan koagulasi, merupakan bagian penting untuk mencegah kekambuhan. ⁷˒⁸
| Obat dan Sediaan | Dosis dan Frekuensi | Farmakodinamik |
|---|---|---|
| Air mata buatan (carboxymethylcellulose 0,5%; hypromellose 0,3%; sodium hyaluronate 0,1–0,15%) | 1 tetes, 4–6×/hari bila diperlukan | Berfungsi sebagai pelumas permukaan okular dengan meningkatkan stabilitas lapisan air mata, mengurangi gesekan antara konjungtiva dan kelopak mata, serta meredakan rasa mengganjal atau iritasi ringan. |
Komplikasi
Komplikasi jarang terjadi, karena perdarahan subkonjungtiva umumnya bersifat jinak dan self-limited.¹˒⁵˒⁷˒⁸
Perdarahan subkonjungtiva rekuren dapat mengindikasikan hipertensi sistemik, diabetes melitus, penggunaan antikoagulan, atau gangguan hematologis yang belum terdiagnosis.⁷˒⁸
Perdarahan yang menetap lebih dari 2–3 minggu memerlukan evaluasi lebih lanjut untuk menyingkirkan kelainan koagulasi, lesi konjungtiva, atau penyakit sistemik yang mendasari.⁷˒⁸
Pada kasus yang berhubungan dengan trauma okular, dapat ditemukan cedera penyerta, seperti abrasi kornea, hifema, ruptur bola mata, atau cedera intraokular lainnya, yang dapat memengaruhi prognosis visual.¹˒⁵
Kecemasan atau gangguan psikologis sementara dapat terjadi akibat tampilan mata yang merah mencolok, meskipun kondisi ini umumnya membaik spontan tanpa sekuela jangka panjang.⁵˒⁷
Prognosis
Ad vitam (terhadap kehidupan): bonam, karena perdarahan subkonjungtiva merupakan kondisi jinak yang tidak berhubungan dengan peningkatan mortalitas maupun komplikasi yang mengancam jiwa. ¹˒⁵˒⁷˒⁸
Ad functionam (terhadap fungsi): bonam, karena fungsi penglihatan umumnya tetap baik dan perdarahan subkonjungtiva tidak menyebabkan gangguan visus permanen, kecuali bila terdapat cedera okular penyerta pada kasus traumatik. ¹˒⁵˒⁷
Ad sanationam (terhadap kesembuhan): bonam, karena sebagian besar kasus mengalami resolusi spontan dalam 1–2 minggu tanpa terapi khusus, meskipun prognosis dapat bergantung pada pengendalian faktor risiko atau penyakit sistemik yang mendasari pada kasus yang rekuren. ¹˒⁵˒⁷˒⁸
Edukasi
Jelaskan bahwa perdarahan subkonjungtiva umumnya jinak, tidak menular, dan akan membaik secara spontan dalam 1–2 minggu. ¹˒⁵˒⁷˒⁸
Anjurkan pasien untuk menghindari mengucek mata dan trauma pada mata selama masa penyembuhan. ¹˒⁵
Air mata buatan dapat digunakan bila terdapat rasa mengganjal atau iritasi ringan. ¹˒⁵
Tekankan pentingnya mengontrol faktor risiko sistemik, seperti hipertensi dan penggunaan antikoagulan. ⁷˒⁸
Anjurkan pasien untuk segera kembali berobat bila perdarahan berulang, menetap lebih dari 2–3 minggu, atau disertai nyeri maupun penurunan visus. ¹˒⁵˒⁷˒⁸
Kriteria Rujukan
Penurunan visus, nyeri mata berat, fotofobia, atau tanda inflamasi intraokular dapat mengarah pada diagnosis lain yang lebih serius. ¹˒⁵˒⁷
Riwayat trauma okular bermakna, terutama bila dicurigai adanya abrasi kornea, hifema, ruptur bola mata, atau cedera intraokular lainnya. ¹˒⁵
Perdarahan subkonjungtiva rekuren, bilateral, atau menetap lebih dari 2–3 minggu, untuk evaluasi lebih lanjut terhadap kemungkinan kelainan sistemik atau hematologis. ⁷˒⁸
Ditemukan kelainan koagulasi, hipertensi tidak terkontrol, atau penggunaan antikoagulan dengan perdarahan berulang yang memerlukan tata laksana lebih lanjut. ⁷˒⁸
Terdapat keraguan diagnosis atau kecurigaan terhadap kelainan okular lain yang memerlukan evaluasi oleh dokter spesialis mata. ¹˒⁵˒⁷
