Epikantus [3A]

Epikantus [3A]


Definisi

Epikantus adalah lipatan kulit semilunar vertikal pada kanthus medialis yang menutupi sebagian atau seluruh karunkula lakrimalis, dan dapat merupakan variasi anatomi normal maupun bagian dari kelainan kongenital tertentu.¹˒²˒⁶˒⁸

https://eyewiki.org/
https://eyewiki.org/

Epidemiologi

Perkembangan kraniofasial anak: nasal bridge yang belum berkembang sempurna membuat lipatan epikantus tampak lebih jelas.¹˒²˒⁶

Epikantus sering ditemukan sebagai variasi anatomi normal pada populasi Asia Timur, Inuit, dan beberapa populasi Afrika.¹˒⁶˒⁸

Pada bayi dan anak kecil, lipatan epikantus dapat tampak lebih nyata karena jembatan hidung (nasal bridge) belum berkembang sempurna. Kondisi ini umumnya berkurang seiring pertumbuhan wajah.¹˒²˒⁶

Epikantus juga dapat dijumpai sebagai bagian dari kelainan sindromik, seperti sindrom Down, sindrom Turner, sindrom Noonan, dan Blepharophimosis-Ptosis-Epicanthus Inversus Syndrome (BPES).¹˒²˒⁶˒⁸


Etiologi

Variasi anatomi fisiologis, terutama pada populasi tertentu, berhubungan dengan jembatan hidung rendah dan distribusi jaringan kulit medial palpebra.¹˒⁶˒⁸

Perkembangan kraniofasial anak, karena nasal bridge yang belum berkembang sempurna membuat lipatan epikantus tampak lebih nyata.¹˒²˒⁶

Kelainan kongenital atau sindromik, seperti sindrom Down, sindrom Turner, sindrom Noonan, dan BPES Syndrome, dapat disertai epikantus.¹˒²˒⁶˒⁸

Faktor genetik dan etnis berperan dalam menentukan bentuk, derajat, dan persistensi lipatan epikantus.¹˒⁶˒⁸


Klasifikasi

Epikantus tarsalis: lipatan berasal dari kelopak atas dan merupakan tipe yang paling sering ditemukan pada populasi Asia.¹˒⁶˒⁸

Epikantus inversus: lipatan berasal dari kelopak bawah dan berjalan ke arah canthus medialis; khas pada Blepharophimosis-Ptosis-Epicanthus Inversus Syndrome.¹˒²˒⁶

Epikantus palpebralis: lipatan melibatkan kelopak atas dan bawah di sekitar canthus medialis.¹˒⁶

Epikantus superciliaris: lipatan berasal dari daerah alis menuju canthus medialis dan merupakan tipe yang jarang.¹˒⁶


Patofisiologi

Epikantus terjadi akibat variasi perkembangan anatomi kelopak mata dan wajah, terutama pada area canthus medialis.¹˒²˒⁶

Jembatan hidung yang rendah menyebabkan kulit medial palpebra tampak lebih menonjol, sehingga membentuk lipatan semilunar yang menutupi caruncula.¹˒⁶˒⁸

Pada anak, lipatan dapat berkurang seiring pertumbuhan karena nasal bridge berkembang dan tarikan kulit medial berkurang.¹˒²˒⁶

Pada kelainan sindromik, gangguan perkembangan jaringan periorbital, tulang hidung, dan palpebra dapat menyebabkan epikantus menetap atau lebih nyata.¹˒²˒⁶˒⁸


Anamnesis

Keluhan utama biasanya berupa adanya lipatan kulit pada sudut dalam mata (kanthus medialis) yang telah ada sejak lahir atau disadari sejak masa kanak-kanak.¹˒²˒⁶

Orang tua sering mengeluhkan mata tampak juling ke dalam (pseudostrabismus) akibat lipatan epikantus yang menutupi sklera medial.¹˒²˒⁶˒⁸

Umumnya tidak terdapat gangguan penglihatan, nyeri, mata merah, atau keluhan okular lain yang berhubungan langsung dengan epikantus.¹˒²˒⁶

Perlu digali riwayat kelainan kongenital, keterlambatan perkembangan, atau riwayat keluarga dengan kelainan serupa, terutama bila dicurigai sindrom penyerta.¹˒²˒⁶˒⁸

Pada anak yang lebih besar atau orang dewasa, dapat ditemukan keluhan kosmetik atau gangguan psikososial terkait penampilan wajah.¹˒⁶˒⁸


Pemeriksaan fisik

Evaluasi adanya kelainan penyerta, seperti ptosis, blefarofimosis, telekantus, hipertelorisme, atau fitur dismorfik pada wajah.¹˒²˒⁶˒⁸

Tampak lipatan kulit semilunar vertikal pada kanthus medialis yang menutupi sebagian atau seluruh caruncula lakrimalis.¹˒²˒⁶

Nilai apakah lipatan bersifat unilateral atau bilateral, serta simetris atau asimetris.¹˒⁶

Lakukan uji Hirschberg untuk membedakan pseudostrabismus dari strabismus sejati.¹˒²˒⁶

Evaluasi adanya kelainan penyerta, seperti ptosis, blepharophimosis, telekantus, hipertelorisme, atau fitur dismorfik wajah.¹˒²˒⁶˒⁸

Periksa tajam penglihatan dan refleks merah pada anak untuk menyingkirkan kelainan okular lain.¹˒²


Pemeriksaan Penunjang

Pemeriksaan penunjang umumnya tidak diperlukan, karena diagnosis epikantus ditegakkan secara klinis berdasarkan anamnesis dan pemeriksaan fisik.¹˒²˒⁶

Dokumentasi foto serial dapat dilakukan pada bayi dan anak untuk memantau perubahan lipatan epikantus seiring pertumbuhan wajah.¹˒⁶

Pemeriksaan genetik atau konsultasi genetika dipertimbangkan bila ditemukan kelainan dismorfik atau dicurigai sindrom kongenital yang menyertai.²˒⁶˒⁸

Pemeriksaan oftalmologis lanjutan, seperti uji motilitas okular, dapat dilakukan bila terdapat kecurigaan strabismus sejati atau kelainan mata lainnya.¹˒²˒⁶


Diagnosis Banding

Diagnosis BandingPerbedaan dengan Epikantus
EsotropiaTerdapat deviasi bola mata ke arah medial pada uji Hirschberg atau cover test, sedangkan pada epikantus posisi bola mata normal.¹˒²˒⁶
Pseudostrabismus akibat telekantusTampak mata juling karena jarak canthus medialis yang melebar, tanpa adanya lipatan epikantus yang nyata.¹˒²
TelekantusDitandai oleh peningkatan jarak interkantal (intercanthal distance) dengan jarak interpupil normal, sedangkan epikantus merupakan lipatan kulit medial tanpa pelebaran canthus.¹˒²˒⁶
HipertelorismeTerdapat peningkatan jarak interpupil dan interorbital, berbeda dengan epikantus yang hanya melibatkan jaringan lunak canthus medialis.¹˒²
Blepharophimosis-Ptosis-Epicanthus Inversus SyndromeDisertai blefarofimosis, ptosis bilateral, dan epikantus inversus, sedangkan epikantus sederhana tidak memiliki kelainan palpebra kompleks tersebut.¹˒²˒⁶˒⁸

Penatalaksanaan

Nonfarmakologis

Observasi merupakan tatalaksana utama pada epikantus fisiologis, karena lipatan umumnya berkurang seiring pertumbuhan wajah dan perkembangan pangkal hidung (nasal bridge), terutama pada usia 3–5 tahun.¹˒²˒⁶

Edukasi kepada orang tua atau pasien mengenai sifat epikantus yang umumnya jinak, serta penjelasan mengenai pseudostrabismus agar tidak disalahartikan sebagai juling sejati.¹˒²˒⁶˒⁸

Pemantauan berkala dilakukan untuk menilai perubahan lipatan epikantus dan mendeteksi kemungkinan kelainan okular atau sindromik yang menyertai.¹˒²


Operatif

Gangguan kosmetik yang bermakna, terutama pada anak usia lebih dari 6 tahun atau pada dewasa.¹˒⁶˒⁸

Gangguan psikososial akibat penampilan wajah.¹˒⁶

Epikantus yang merupakan bagian dari Blepharophimosis-Ptosis-Epicanthus Inversus Syndrome.¹˒²˒⁶

Koreksi dapat dilakukan bersamaan dengan tindakan rekonstruksi palpebra lainnya sesuai indikasi.¹˒²


Jenis Operatif

Z-plasty (modifikasi Mustardé), bertujuan mengurangi lipatan epikantus dan memperbaiki kontur kanthus medialis.¹˒²˒⁶

Y-V advancement flap, digunakan untuk merekonstruksi area canthus medialis dengan memperbaiki tarikan kulit lokal.¹˒²

Pemilihan teknik operasi disesuaikan dengan jenis epikantus, derajat kelainan, elastisitas kulit, serta tujuan kosmetik.¹˒²˒⁶

Pada Blepharophimosis-Ptosis-Epicanthus Inversus Syndrome, koreksi epikantus sering dikombinasikan dengan tindakan koreksi ptosis.¹˒²˒⁶


Komplikasi

Parut kulit (scar formation) pada daerah canthus medialis dapat terjadi sebagai komplikasi pascaoperasi.¹˒²˒⁶

Asimetri kelopak mata dapat timbul akibat perbedaan hasil koreksi antara kedua sisi.¹˒²

Hipopigmentasi atau depigmentasi pada area insisi dapat terjadi, terutama pada individu dengan kulit berpigmen.¹˒²˒⁶

Undercorrection, yaitu lipatan epikantus masih tampak setelah operasi sehingga hasil kosmetik kurang memuaskan.¹˒²˒⁶

Overcorrection, berupa terbukanya canthus medialis secara berlebihan yang dapat mengganggu estetika wajah.¹˒²˒⁶

Hasil kosmetik yang suboptimal dapat terjadi apabila pemilihan teknik bedah tidak sesuai dengan jenis epikantus atau karakteristik kulit pasien.¹˒²˒⁶


Prognosis

Ad vitam (terhadap kehidupan): bonam, karena epikantus merupakan kelainan anatomi jinak yang tidak berhubungan dengan peningkatan mortalitas maupun komplikasi sistemik yang mengancam jiwa. ¹˒²

Ad functionam (terhadap fungsi): bonam, karena epikantus umumnya tidak menyebabkan gangguan fungsi penglihatan secara langsung, meskipun tetap diperlukan evaluasi untuk menyingkirkan strabismus sejati atau kelainan okular penyerta. ¹˒²˒⁶˒⁸

Ad sanationam (terhadap kesembuhan): dubia ad bonam, karena epikantus fisiologis dapat berkurang seiring pertumbuhan wajah, sedangkan kasus yang menetap atau menimbulkan masalah kosmetik dapat memerlukan tindakan bedah elektif dengan luaran yang umumnya baik. ¹˒²˒⁶˒⁸


Edukasi

Jelaskan bahwa epikantus umumnya merupakan variasi anatomi normal dan tidak mengganggu penglihatan secara langsung.¹˒²˒⁶

Berikan edukasi mengenai pseudostrabismus, yaitu kondisi mata yang tampak juling akibat lipatan epikantus, meskipun posisi bola mata sebenarnya normal.¹˒²˒⁶˒⁸

Anjurkan observasi berkala pada anak, karena lipatan epikantus dapat berkurang seiring pertumbuhan wajah dan perkembangan nasal bridge.¹˒²˒⁶

Edukasikan orang tua untuk segera memeriksakan anak jika tampak deviasi bola mata yang menetap, gangguan penglihatan, atau kelainan perkembangan lainnya.¹˒²

Jika pasien mempertimbangkan tindakan operatif, jelaskan indikasi, manfaat, keterbatasan hasil kosmetik, serta risiko komplikasi pascaoperasi, agar harapan pasien tetap realistis.¹˒²˒⁶


Kriteria Rujukan

Terdapat kecurigaan strabismus, ditandai dengan hasil uji Hirschberg atau cover test yang abnormal, sehingga memerlukan evaluasi lebih lanjut oleh dokter spesialis mata. .¹˒²

Ditemukan kelainan palpebra atau okular penyerta, seperti ptosis, blefarofimosis, telekantus, atau gangguan penglihatan. .¹˒²˒⁶

Terdapat dugaan kelainan sindromik, seperti sindrom Down, sindrom Turner, sindrom Noonan, atau Blepharophimosis-Ptosis-Epicanthus Inversus Syndrome (BPES). .¹˒²˒⁶˒⁸

Epikantus menetap dan menyebabkan gangguan kosmetik atau psikososial yang bermakna, sehingga memerlukan pertimbangan tindakan korektif bedah. .¹˒²˒⁶

Pasien atau keluarga menginginkan konsultasi lebih lanjut mengenai pilihan terapi operatif dan luaran yang diharapkan. .¹˒²˒⁶


✏️ Kasih pendapatmu mengenai artikel ini! Yuk, klik disini