Epikantus [3A]
Definisi
Epikantus adalah lipatan kulit semilunar vertikal pada kanthus medialis yang menutupi sebagian atau seluruh karunkula lakrimalis, dan dapat merupakan variasi anatomi normal maupun bagian dari kelainan kongenital tertentu.¹˒²˒⁶˒⁸

Epidemiologi
Perkembangan kraniofasial anak: nasal bridge yang belum berkembang sempurna membuat lipatan epikantus tampak lebih jelas.¹˒²˒⁶
Epikantus sering ditemukan sebagai variasi anatomi normal pada populasi Asia Timur, Inuit, dan beberapa populasi Afrika.¹˒⁶˒⁸
Pada bayi dan anak kecil, lipatan epikantus dapat tampak lebih nyata karena jembatan hidung (nasal bridge) belum berkembang sempurna. Kondisi ini umumnya berkurang seiring pertumbuhan wajah.¹˒²˒⁶
Epikantus juga dapat dijumpai sebagai bagian dari kelainan sindromik, seperti sindrom Down, sindrom Turner, sindrom Noonan, dan Blepharophimosis-Ptosis-Epicanthus Inversus Syndrome (BPES).¹˒²˒⁶˒⁸
Etiologi
Variasi anatomi fisiologis, terutama pada populasi tertentu, berhubungan dengan jembatan hidung rendah dan distribusi jaringan kulit medial palpebra.¹˒⁶˒⁸
Perkembangan kraniofasial anak, karena nasal bridge yang belum berkembang sempurna membuat lipatan epikantus tampak lebih nyata.¹˒²˒⁶
Kelainan kongenital atau sindromik, seperti sindrom Down, sindrom Turner, sindrom Noonan, dan BPES Syndrome, dapat disertai epikantus.¹˒²˒⁶˒⁸
Faktor genetik dan etnis berperan dalam menentukan bentuk, derajat, dan persistensi lipatan epikantus.¹˒⁶˒⁸
Klasifikasi
Epikantus tarsalis: lipatan berasal dari kelopak atas dan merupakan tipe yang paling sering ditemukan pada populasi Asia.¹˒⁶˒⁸
Epikantus inversus: lipatan berasal dari kelopak bawah dan berjalan ke arah canthus medialis; khas pada Blepharophimosis-Ptosis-Epicanthus Inversus Syndrome.¹˒²˒⁶
Epikantus palpebralis: lipatan melibatkan kelopak atas dan bawah di sekitar canthus medialis.¹˒⁶
Epikantus superciliaris: lipatan berasal dari daerah alis menuju canthus medialis dan merupakan tipe yang jarang.¹˒⁶
Patofisiologi
Epikantus terjadi akibat variasi perkembangan anatomi kelopak mata dan wajah, terutama pada area canthus medialis.¹˒²˒⁶
Jembatan hidung yang rendah menyebabkan kulit medial palpebra tampak lebih menonjol, sehingga membentuk lipatan semilunar yang menutupi caruncula.¹˒⁶˒⁸
Pada anak, lipatan dapat berkurang seiring pertumbuhan karena nasal bridge berkembang dan tarikan kulit medial berkurang.¹˒²˒⁶
Pada kelainan sindromik, gangguan perkembangan jaringan periorbital, tulang hidung, dan palpebra dapat menyebabkan epikantus menetap atau lebih nyata.¹˒²˒⁶˒⁸
Anamnesis
Keluhan utama biasanya berupa adanya lipatan kulit pada sudut dalam mata (kanthus medialis) yang telah ada sejak lahir atau disadari sejak masa kanak-kanak.¹˒²˒⁶
Orang tua sering mengeluhkan mata tampak juling ke dalam (pseudostrabismus) akibat lipatan epikantus yang menutupi sklera medial.¹˒²˒⁶˒⁸
Umumnya tidak terdapat gangguan penglihatan, nyeri, mata merah, atau keluhan okular lain yang berhubungan langsung dengan epikantus.¹˒²˒⁶
Perlu digali riwayat kelainan kongenital, keterlambatan perkembangan, atau riwayat keluarga dengan kelainan serupa, terutama bila dicurigai sindrom penyerta.¹˒²˒⁶˒⁸
Pada anak yang lebih besar atau orang dewasa, dapat ditemukan keluhan kosmetik atau gangguan psikososial terkait penampilan wajah.¹˒⁶˒⁸
Pemeriksaan fisik
Evaluasi adanya kelainan penyerta, seperti ptosis, blefarofimosis, telekantus, hipertelorisme, atau fitur dismorfik pada wajah.¹˒²˒⁶˒⁸
Tampak lipatan kulit semilunar vertikal pada kanthus medialis yang menutupi sebagian atau seluruh caruncula lakrimalis.¹˒²˒⁶
Nilai apakah lipatan bersifat unilateral atau bilateral, serta simetris atau asimetris.¹˒⁶
Lakukan uji Hirschberg untuk membedakan pseudostrabismus dari strabismus sejati.¹˒²˒⁶
Evaluasi adanya kelainan penyerta, seperti ptosis, blepharophimosis, telekantus, hipertelorisme, atau fitur dismorfik wajah.¹˒²˒⁶˒⁸
Periksa tajam penglihatan dan refleks merah pada anak untuk menyingkirkan kelainan okular lain.¹˒²
Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan penunjang umumnya tidak diperlukan, karena diagnosis epikantus ditegakkan secara klinis berdasarkan anamnesis dan pemeriksaan fisik.¹˒²˒⁶
Dokumentasi foto serial dapat dilakukan pada bayi dan anak untuk memantau perubahan lipatan epikantus seiring pertumbuhan wajah.¹˒⁶
Pemeriksaan genetik atau konsultasi genetika dipertimbangkan bila ditemukan kelainan dismorfik atau dicurigai sindrom kongenital yang menyertai.²˒⁶˒⁸
Pemeriksaan oftalmologis lanjutan, seperti uji motilitas okular, dapat dilakukan bila terdapat kecurigaan strabismus sejati atau kelainan mata lainnya.¹˒²˒⁶
Diagnosis Banding
| Diagnosis Banding | Perbedaan dengan Epikantus |
|---|---|
| Esotropia | Terdapat deviasi bola mata ke arah medial pada uji Hirschberg atau cover test, sedangkan pada epikantus posisi bola mata normal.¹˒²˒⁶ |
| Pseudostrabismus akibat telekantus | Tampak mata juling karena jarak canthus medialis yang melebar, tanpa adanya lipatan epikantus yang nyata.¹˒² |
| Telekantus | Ditandai oleh peningkatan jarak interkantal (intercanthal distance) dengan jarak interpupil normal, sedangkan epikantus merupakan lipatan kulit medial tanpa pelebaran canthus.¹˒²˒⁶ |
| Hipertelorisme | Terdapat peningkatan jarak interpupil dan interorbital, berbeda dengan epikantus yang hanya melibatkan jaringan lunak canthus medialis.¹˒² |
| Blepharophimosis-Ptosis-Epicanthus Inversus Syndrome | Disertai blefarofimosis, ptosis bilateral, dan epikantus inversus, sedangkan epikantus sederhana tidak memiliki kelainan palpebra kompleks tersebut.¹˒²˒⁶˒⁸ |
Penatalaksanaan
Nonfarmakologis
Observasi merupakan tatalaksana utama pada epikantus fisiologis, karena lipatan umumnya berkurang seiring pertumbuhan wajah dan perkembangan pangkal hidung (nasal bridge), terutama pada usia 3–5 tahun.¹˒²˒⁶
Edukasi kepada orang tua atau pasien mengenai sifat epikantus yang umumnya jinak, serta penjelasan mengenai pseudostrabismus agar tidak disalahartikan sebagai juling sejati.¹˒²˒⁶˒⁸
Pemantauan berkala dilakukan untuk menilai perubahan lipatan epikantus dan mendeteksi kemungkinan kelainan okular atau sindromik yang menyertai.¹˒²
Operatif
Gangguan kosmetik yang bermakna, terutama pada anak usia lebih dari 6 tahun atau pada dewasa.¹˒⁶˒⁸
Gangguan psikososial akibat penampilan wajah.¹˒⁶
Epikantus yang merupakan bagian dari Blepharophimosis-Ptosis-Epicanthus Inversus Syndrome.¹˒²˒⁶
Koreksi dapat dilakukan bersamaan dengan tindakan rekonstruksi palpebra lainnya sesuai indikasi.¹˒²
Jenis Operatif
Z-plasty (modifikasi Mustardé), bertujuan mengurangi lipatan epikantus dan memperbaiki kontur kanthus medialis.¹˒²˒⁶
Y-V advancement flap, digunakan untuk merekonstruksi area canthus medialis dengan memperbaiki tarikan kulit lokal.¹˒²
Pemilihan teknik operasi disesuaikan dengan jenis epikantus, derajat kelainan, elastisitas kulit, serta tujuan kosmetik.¹˒²˒⁶
Pada Blepharophimosis-Ptosis-Epicanthus Inversus Syndrome, koreksi epikantus sering dikombinasikan dengan tindakan koreksi ptosis.¹˒²˒⁶
Komplikasi
Parut kulit (scar formation) pada daerah canthus medialis dapat terjadi sebagai komplikasi pascaoperasi.¹˒²˒⁶
Asimetri kelopak mata dapat timbul akibat perbedaan hasil koreksi antara kedua sisi.¹˒²
Hipopigmentasi atau depigmentasi pada area insisi dapat terjadi, terutama pada individu dengan kulit berpigmen.¹˒²˒⁶
Undercorrection, yaitu lipatan epikantus masih tampak setelah operasi sehingga hasil kosmetik kurang memuaskan.¹˒²˒⁶
Overcorrection, berupa terbukanya canthus medialis secara berlebihan yang dapat mengganggu estetika wajah.¹˒²˒⁶
Hasil kosmetik yang suboptimal dapat terjadi apabila pemilihan teknik bedah tidak sesuai dengan jenis epikantus atau karakteristik kulit pasien.¹˒²˒⁶
Prognosis
Ad vitam (terhadap kehidupan): bonam, karena epikantus merupakan kelainan anatomi jinak yang tidak berhubungan dengan peningkatan mortalitas maupun komplikasi sistemik yang mengancam jiwa. ¹˒²
Ad functionam (terhadap fungsi): bonam, karena epikantus umumnya tidak menyebabkan gangguan fungsi penglihatan secara langsung, meskipun tetap diperlukan evaluasi untuk menyingkirkan strabismus sejati atau kelainan okular penyerta. ¹˒²˒⁶˒⁸
Ad sanationam (terhadap kesembuhan): dubia ad bonam, karena epikantus fisiologis dapat berkurang seiring pertumbuhan wajah, sedangkan kasus yang menetap atau menimbulkan masalah kosmetik dapat memerlukan tindakan bedah elektif dengan luaran yang umumnya baik. ¹˒²˒⁶˒⁸
Edukasi
Jelaskan bahwa epikantus umumnya merupakan variasi anatomi normal dan tidak mengganggu penglihatan secara langsung.¹˒²˒⁶
Berikan edukasi mengenai pseudostrabismus, yaitu kondisi mata yang tampak juling akibat lipatan epikantus, meskipun posisi bola mata sebenarnya normal.¹˒²˒⁶˒⁸
Anjurkan observasi berkala pada anak, karena lipatan epikantus dapat berkurang seiring pertumbuhan wajah dan perkembangan nasal bridge.¹˒²˒⁶
Edukasikan orang tua untuk segera memeriksakan anak jika tampak deviasi bola mata yang menetap, gangguan penglihatan, atau kelainan perkembangan lainnya.¹˒²
Jika pasien mempertimbangkan tindakan operatif, jelaskan indikasi, manfaat, keterbatasan hasil kosmetik, serta risiko komplikasi pascaoperasi, agar harapan pasien tetap realistis.¹˒²˒⁶
Kriteria Rujukan
Terdapat kecurigaan strabismus, ditandai dengan hasil uji Hirschberg atau cover test yang abnormal, sehingga memerlukan evaluasi lebih lanjut oleh dokter spesialis mata. .¹˒²
Ditemukan kelainan palpebra atau okular penyerta, seperti ptosis, blefarofimosis, telekantus, atau gangguan penglihatan. .¹˒²˒⁶
Terdapat dugaan kelainan sindromik, seperti sindrom Down, sindrom Turner, sindrom Noonan, atau Blepharophimosis-Ptosis-Epicanthus Inversus Syndrome (BPES). .¹˒²˒⁶˒⁸
Epikantus menetap dan menyebabkan gangguan kosmetik atau psikososial yang bermakna, sehingga memerlukan pertimbangan tindakan korektif bedah. .¹˒²˒⁶
Pasien atau keluarga menginginkan konsultasi lebih lanjut mengenai pilihan terapi operatif dan luaran yang diharapkan. .¹˒²˒⁶
