Lagoftalmos [3A]

Lagoftalmos [3A]


Definisi

Lagoftalmus adalah kondisi ketika kelopak mata tidak dapat menutup secara sempurna, sehingga menyebabkan paparan permukaan okular, terutama kornea.¹,³,⁷,⁸

(https://eyewiki.org/)
(https://eyewiki.org/)

Epidemiologi

Lagoftalmus dapat terjadi pada semua kelompok usia, bergantung pada etiologi yang mendasarinya.³,⁷

Penyebab tersering pada dewasa adalah kelumpuhan nervus fasialis, terutama akibat Bell’s palsy, trauma, tumor, atau pascaoperasi.¹,³,⁷,⁸

Faktor risiko lain meliputi proptosis, retraksi palpebra, trauma wajah, pembedahan kelopak, penyakit neuromuskular, dan kelainan kongenital palpebra.¹,³,⁷

Morbiditas utama lagoftalmus berkaitan dengan paparan kornea kronis yang dapat menyebabkan keratitis eksposur, ulkus kornea, dan penurunan visus.¹,³,⁷,⁸


Klasifikasi

Lagoftalmus dapat diklasifikasikan berdasarkan etiologinya menjadi:



Anamnesis

Mata merah, epifora, fotofobia, atau penglihatan buram dapat muncul bila terjadi keratitis akibat paparan atau keterlibatan kornea.¹,³,⁷,⁸

Keluhan utama berupa kelopak mata yang tidak dapat menutup sempurna, terutama saat tidur atau berkedip.¹,³,⁷

Pasien dapat mengeluhkan mata kering, perih, rasa terbakar, atau sensasi benda asing akibat paparan permukaan okular.¹,³,⁷,⁸

Mata merah, epifora, fotofobia, atau penglihatan buram dapat muncul bila telah terjadi keratitis eksposur atau keterlibatan kornea.¹,³,⁷,⁸

Riwayat Bell palsy, stroke, trauma wajah, proptosis, penyakit neuromuskular, atau pembedahan palpebra perlu digali untuk membantu menentukan etiologi lagoftalmus.¹,³,⁷,⁸

Pada anak, perlu ditanyakan onset sejak lahir serta riwayat kelainan kraniofasial atau sindrom kongenital yang menyertai.³,⁷


Pemeriksaan Fisik

Tampak ketidakmampuan menutup kelopak mata secara sempurna saat pasien diminta menutup mata atau saat berkedip.¹,³,⁷

Derajat lagoftalmus dinilai berdasarkan jarak celah palpebra yang masih terbuka (lagophthalmos gap) saat penutupan maksimal.¹,³,⁷

Dapat ditemukan paparan konjungtiva dan kornea, disertai hiperemia, mata kering, atau sekret mukoid akibat iritasi kronis.¹,³,⁷,⁸

Pemeriksaan fungsi nervus fasialis perlu dilakukan untuk menilai adanya kelemahan otot orbikularis okuli, terutama pada lagoftalmus neurogenik.¹,³,⁷

Slit-lamp biomicroscopy digunakan untuk mengevaluasi keratitis eksposur, filamen mukus, abrasi kornea, atau ulkus kornea.¹,³,⁷,⁸

Fluorescein staining dapat menunjukkan defek epitel kornea, terutama pada area inferior atau interpalpebral yang mengalami pajanan kronis.¹,³,⁷,⁸


Pemeriksaan Penunjang

Pemeriksaan penunjang umumnya tidak diperlukan secara rutin karena diagnosis lagoftalmus ditegakkan secara klinis melalui penilaian penutupan kelopak mata.¹,³,⁷

Slit-lamp biomicroscopy digunakan untuk menilai keratitis eksposur, defek epitel, abrasi, atau ulkus kornea.¹,³,⁷,⁸

Fluorescein staining dilakukan untuk mendeteksi kerusakan epitel kornea, terutama pada area inferior atau interpalpebral.¹,³,⁷,⁸

Tes Schirmer atau tear break-up time dapat dipertimbangkan bila terdapat keluhan mata kering atau gangguan film air mata.¹,³,⁷

ENoG/EMG dipertimbangkan pada lagoftalmus akibat kelumpuhan nervus fasialis yang menetap atau progresif untuk menilai fungsi saraf dan prognosis pemulihan.³,⁷


Diagnosis Banding

Diagnosis BandingPerbedaan Utama dengan Lagoftalmus
EktropionTerdapat eversi margo palpebra ke arah luar; pada lagoftalmus, masalah utama adalah ketidakmampuan menutup kelopak mata secara sempurna.¹,³,⁷
Kelumpuhan nervus fasialis tanpa lagoftalmusDapat ditemukan kelemahan otot wajah, tetapi penutupan kelopak masih adekuat dan tidak terdapat paparan kornea.¹,³,⁷
ProptosisTerdapat penonjolan bola mata ke anterior; lagoftalmus dapat terjadi sekunder, tetapi proptosis merupakan kelainan primer.¹,³,⁷
Retraksi palpebraDitandai dengan posisi kelopak yang lebih tinggi atau lebih rendah dari normal, terutama pada penyakit Graves, tanpa gangguan primer pada mekanisme penutupan kelopak.¹,³,⁷
Keratitis neurotropikSama-sama dapat menyebabkan defek epitel kornea, tetapi terjadi akibat penurunan sensasi kornea, bukan karena paparan akibat penutupan kelopak yang tidak sempurna.¹,³,⁷,⁸
EntropionMenimbulkan iritasi dan kerusakan kornea akibat gesekan silia, sedangkan pada lagoftalmus kerusakan kornea terjadi karena paparan permukaan okular.¹,

Penatalaksanaan

Air mata buatan (artificial tears) diberikan pada siang hari untuk menjaga kelembapan permukaan okular.¹,³,⁴

Salep lubrikan mata dianjurkan terutama sebelum tidur untuk mengurangi evaporasi air mata selama malam hari.¹,³,⁴

Eyelid taping atau penutupan kelopak mata sementara dapat dilakukan saat tidur untuk mengurangi paparan kornea.¹,³,⁴,⁷

Moisture chamber atau pelindung mata dapat digunakan untuk mempertahankan kelembapan permukaan okular, terutama pada kasus sedang–berat.¹,³,⁷

Perlindungan mata dari debu, angin, dan lingkungan kering dianjurkan untuk mencegah iritasi lebih lanjut.¹,³

Prinsip Terapi Farmakologis

Terapi farmakologis bertujuan untuk menjaga kelembapan permukaan okular dan mencegah komplikasi kornea, bukan untuk memperbaiki kemampuan menutup kelopak mata.¹,³

Antibiotik topikal dapat diberikan bila terdapat defek epitel kornea atau infeksi sekunder.¹,³,⁴

Steroid topikal hanya dipertimbangkan pada kondisi inflamasi tertentu dan harus digunakan di bawah pengawasan dokter spesialis mata.¹,³


Operatif

Tujuan : melindungi kornea dari paparan kronis, mempertahankan integritas permukaan okular, serta mengatasi penyebab yang mendasari.¹,³,⁴,⁷

Koreksi retraksi palpebra dilakukan pada lagoftalmus akibat retraksi kelopak mata, seperti pada oftalmopati Graves.¹,³,⁷

Rekonstruksi palpebra dapat diperlukan pada kasus sikatrik, pascatrauma, atau pascaeksisi tumor yang menyebabkan gangguan penutupan kelopak.¹,³,⁷

Tata laksana definitif juga harus ditujukan pada penyebab yang mendasari, seperti terapi tumor orbita atau penanganan kelumpuhan nervus fasialis.¹,³,⁷


Komplikasi

Keratitis eksposur merupakan komplikasi tersering akibat paparan kornea kronis karena kelopak mata tidak dapat menutup sempurna.¹,³,⁷,⁸

Defek epitel atau abrasi kornea dapat terjadi akibat kekeringan permukaan okular dan hilangnya proteksi mekanis kelopak mata.¹,³,⁷

Ulkus kornea dapat berkembang dari defek epitel yang persisten atau terinfeksi, sehingga meningkatkan risiko perforasi kornea.¹,³,⁷,⁸

Infeksi sekunder pada kornea dapat terjadi akibat gangguan integritas epitel kornea.¹,³,⁷

Jaringan parut kornea dapat terbentuk setelah proses inflamasi atau ulkus kornea, yang berpotensi menyebabkan penurunan visus permanen.¹,³,⁷,⁸

Penurunan visus dapat terjadi bila komplikasi kornea tidak dikenali dan ditangani secara dini.¹,³,⁷,⁸


Prognosis

Ad vitam (terhadap kehidupan): bonam, karena lagoftalmus tidak mengancam jiwa dan jarang menyebabkan komplikasi sistemik secara langsung.¹,³

Ad functionam (terhadap fungsi): dubia ad bonam, karena fungsi penglihatan umumnya dapat dipertahankan bila paparan kornea dikenali dan ditangani secara dini, tetapi dapat memburuk bila terjadi ulkus atau jaringan parut pada kornea.¹,³,⁷,⁸

Ad sanationam (terhadap kesembuhan): dubia ad bonam, karena luaran sangat bergantung pada etiologi yang mendasari. Kasus sementara dapat membaik secara spontan, sedangkan kasus menetap dapat memerlukan terapi jangka panjang atau tindakan operatif.¹,³,⁷,⁸


Edukasi

Jelaskan bahwa lagoftalmus menyebabkan kornea terpapar karena kelopak mata tidak dapat menutup sempurna, sehingga memerlukan perlindungan yang adekuat.¹,³,⁷

Anjurkan penggunaan air mata buatan pada siang hari dan salep lubrikan sebelum tidur sesuai anjuran.¹,³,⁴

Lakukan penutupan kelopak saat tidur menggunakan eyelid taping atau pelindung mata bila dianjurkan oleh dokter.¹,³,⁴,⁷

Hindari paparan debu, angin, dan lingkungan kering yang dapat memperberat keluhan mata kering dan iritasi.¹,³

Segera kembali berobat bila muncul nyeri mata, mata merah berat, fotofobia, atau penurunan visus, karena dapat menandakan keterlibatan kornea.¹,³,⁷,⁸


Kriteria Rujukan

Keratitis eksposur dengan defek epitel kornea, ulkus kornea, atau penurunan visus.¹,³,⁷,⁸

Lagoftalmus akibat kelumpuhan nervus fasialis yang menetap atau progresif.¹,³,⁷

Proptosis, tumor orbita, atau retraksi palpebra yang memerlukan evaluasi dan tata laksana lebih lanjut.¹,³,⁷

Kegagalan terapi konservatif meskipun telah diberikan lubrikasi dan proteksi kornea yang adekuat.¹,³,⁴

Kasus yang memerlukan tarsorafi, implan pemberat kelopak, atau rekonstruksi palpebra sebagai terapi definitif.¹,³,⁷,⁸


✏️ Kasih pendapatmu mengenai artikel ini! Yuk, klik disini