Entropion [3A]
Definisi
Entropion adalah kelainan posisi palpebra berupa rotasi margo kelopak mata ke arah dalam sehingga bulu mata dan kulit kelopak bergesekan dengan kornea atau konjungtiva.¹,³,⁷,⁸

Epidemiologi
Entropion paling sering ditemukan pada usia lanjut, terutama tipe involusional atau senilis akibat kelemahan jaringan penopang kelopak mata.¹,³,⁷,⁸.
Entropion lebih sering mengenai palpebra inferior dibandingkan palpebra superior.³,⁷.
Faktor risiko penting meliputi penuaan, riwayat trauma atau operasi palpebra, inflamasi kronis, trakoma, pemfigoid okular, dan sindrom Stevens-Johnson.¹,³,⁷,⁸.
Komplikasi kornea lebih mudah terjadi bila rotasi kelopak menyebabkan gesekan silia berulang terhadap kornea.¹,³,⁷,⁸.
Klasifikasi
Berdasarakan etiologi
Anamnesis
Keluhan sensasi benda asing atau mengganjal akibat gesekan bulu mata dan kulit kelopak terhadap kornea atau konjungtiva.¹,³,⁷
Mata merah, berair, dan perih terjadi akibat iritasi mekanik berulang pada permukaan okular.¹,³,⁷
Fotofobia dapat muncul bila sudah terdapat keratitis punctata atau abrasi kornea.¹,³,⁷
Penglihatan buram perlu digali karena dapat menandakan keterlibatan kornea, seperti abrasi, ulkus, atau jaringan parut.¹,³,⁷,⁸
Riwayat usia lanjut, trauma, operasi palpebra, luka bakar kimia, trakoma, pemfigoid okular, atau sindrom Stevens–Johnson perlu ditanyakan untuk menentukan tipe dan penyebab entropion.¹,³,⁷,⁸
Pemeriksaan Fisik
Tampak margo palpebra berputar ke arah dalam sehingga silia atau kulit kelopak menyentuh kornea atau konjungtiva.¹,³,⁷
Ditemukan epifora, hiperemia konjungtiva, blefarospasme, dan iritasi permukaan okular akibat gesekan mekanik.¹,³,⁷
Pada entropion involusional, dapat ditemukan laxitas horizontal kelopak bawah dan kelemahan retraktor palpebra.¹,³,⁷
Uji laxitas kelopak bawah
Pemeriksaan slit-lamp dan fluorescein staining dilakukan untuk menilai komplikasi kornea seperti keratitis punctata, abrasi, atau ulkus kornea.¹,³,⁷,⁸
Eversi kelopak dilakukan bila dicurigai entropion sikatrik, untuk menilai fibrosis konjungtiva tarsal, simblefaron, atau pemendekan forniks.¹,³,⁷,⁸
Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan penunjang umumnya tidak rutin diperlukan, karena diagnosis entropion ditegakkan secara klinis melalui inspeksi posisi margo palpebra.¹,³,⁷
Slit-lamp biomicroscopy digunakan untuk menilai kontak silia dengan permukaan okular serta komplikasi seperti keratitis punctata, abrasi kornea, atau ulkus kornea.¹,³,⁷,⁸
Fluorescein staining dilakukan bila dicurigai defek epitel kornea akibat gesekan bulu mata atau kulit kelopak.¹,³,⁷
Biopsi konjungtiva atau palpebra dipertimbangkan pada kasus atipikal, rekuren, atau dicurigai pemfigoid okular, keganasan, atau penyakit sikatrik lain.¹,³,⁷,⁸
Diagnosis Banding
| Diagnosis Banding | Perbedaan Utama dengan Entropion |
|---|---|
| Trikiasis | Posisi margo palpebra normal, sedangkan pada entropion terjadi rotasi margo kelopak ke arah dalam; hanya arah tumbuh silia yang abnormal.¹,³,⁷ |
| Distikiasis | Terdapat baris bulu mata tambahan yang berasal dari orifisium kelenjar Meibom, sementara posisi margo palpebra tetap normal.¹,³,⁷ |
| Blefarospasme | Ditandai spasme involunter otot orbikularis tanpa rotasi menetap margo palpebra ke arah bola mata.³,⁴ |
| Ektropion | Merupakan kebalikan dari entropion, yaitu margo palpebra berputar ke arah luar sehingga konjungtiva tarsal terekspos.¹,³,⁷ |
| Epiblefaron | Lipatan kulit dan otot pretarsal mendorong silia ke arah kornea, tetapi margo palpebra tetap berada pada posisi normal.¹,³,⁷ |
| Dermatochalasis | Terdapat kelebihan kulit kelopak mata tanpa rotasi margo palpebra; keluhan lebih sering berupa gangguan lapang pandang superior atau kosmetik.³,⁷ |
Penatalaksanaan
Non-Farmakologis
Lubrikan mata berupa tetes atau salep diberikan untuk melindungi permukaan kornea dari gesekan silia dan kulit kelopak.¹,³,⁴
Eyelid taping dapat dilakukan sebagai tindakan sementara dengan menarik kelopak ke arah bawah dan lateral untuk mengurangi rotasi margo palpebra ke dalam.¹,⁴,⁷
Lensa kontak terapeutik (bandage contact lens) dapat dipertimbangkan pada kasus tertentu untuk melindungi kornea dari trauma mekanik berulang.¹,³
Botulinum toxin A dapat digunakan pada entropion spastik sebagai terapi sementara untuk mengurangi spasme otot orbikularis.³,⁴,⁷
Prinsip Terapi Farmakologis
Lensa kontak terapeutik (bandage contact lens) dapat dipertimbangkan dalam kasus tertentu untuk melindungi kornea dari trauma mekanik berulang.¹,³
Antibiotik topikal diberikan bila terdapat abrasi kornea atau risiko infeksi sekunder.¹,⁴
Operatif
Tujuan : mengembalikan posisi normal margo palpebra, melindungi kornea dari trauma berulang, dan mencegah penurunan visus akibat komplikasi kornea.¹,³,⁴,⁷
Entropion mekanik: terapi ditujukan pada penyebab dasarnya, seperti eksisi massa atau koreksi deformitas palpebra.¹,³,⁷
Entropion sikatrik: dapat dilakukan tarsal rotation atau mucous membrane graft untuk mengoreksi deformitas akibat jaringan parut.¹,³,⁷,¹²
Entropion spastik: koreksi penyebab iritasi dilakukan terlebih dahulu. Operasi dipertimbangkan bila kelainan menetap.¹,³,⁷
Entropion kongenital: tindakan pembedahan disesuaikan dengan kelainan anatomi yang mendasari, seperti eksisi kulit atau koreksi retraktor.³,⁵
Entropion mekanik: terapi ditujukan pada penyebab dasar, seperti eksisi massa atau koreksi deformitas palpebra.¹,³,⁷
Komplikasi
Keratitis punctata superfisial dapat terjadi akibat gesekan kronis silia atau kulit kelopak terhadap epitel kornea.¹,³,⁷
Abrasi kornea dapat timbul akibat trauma mekanik berulang pada permukaan kornea, yang menimbulkan nyeri, epifora, dan fotofobia.¹,³,⁷
Ulkus kornea dapat berkembang dari abrasi yang persisten atau infeksi, sehingga meningkatkan risiko perforasi kornea.¹,³,⁷,⁸
Jaringan parut kornea dapat terjadi setelah proses inflamasi atau ulkus kornea, sehingga menyebabkan penurunan transparansi kornea dan gangguan visus permanen.¹,³,⁷
Penurunan visus dapat terjadi akibat kerusakan kornea yang berat atau keterlambatan dalam tata laksana.¹,³,⁷,⁸
Rekurensi pascaoperasi dapat terjadi, terutama pada entropion sikatrik atau bila faktor penyebab dasarnya belum teratasi sepenuhnya.¹,³,¹¹,¹²
Prognosis
Ad vitam (terhadap kehidupan): bonam, karena entropion tidak mengancam jiwa dan jarang menimbulkan komplikasi sistemik.¹,³
Ad functionam (terhadap fungsi): dubia ad bonam, karena fungsi penglihatan umumnya dapat dipertahankan bila tata laksana dilakukan sebelum terjadi komplikasi kornea yang bermakna.¹,³,⁷,⁸
Ad sanationam (terhadap kesembuhan): dubia ad bonam, karena sebagian besar kasus dapat diperbaiki dengan terapi yang sesuai, namun terdapat risiko kekambuhan, terutama pada entropion sikatrik atau bila etiologi dasar tidak teratasi.¹,³,¹¹,¹²
Edukasi
Jelaskan bahwa entropion menyebabkan gesekan bulu mata atau kulit kelopak terhadap kornea sehingga memerlukan penanganan untuk mencegah komplikasi.¹,³,⁷
Anjurkan penggunaan lubrikan mata sesuai anjuran untuk mengurangi iritasi dan melindungi permukaan kornea.¹,³,⁴
Hindari menggosok mata karena dapat memperberat iritasi dan menyebabkan trauma kornea.¹,³
Segera kembali berobat jika muncul nyeri mata hebat, penurunan visus, mata merah berat, atau fotofobia karena dapat menandakan komplikasi kornea.¹,³,⁷
Tekankan pentingnya kontrol berkala dan kepatuhan terhadap terapi terutama pada pasien yang memerlukan tindakan operatif.¹,³,⁴
Kriteria Rujukan
Entropion dengan abrasi kornea, ulkus kornea, atau penurunan visus.¹,³,⁷
Kegagalan terapi konservatif atau keluhan yang menetap meskipun telah diberikan tata laksana awal.¹,³,⁴
Entropion yang memerlukan koreksi bedah, termasuk entropion involusional yang simptomatik.¹,³,⁷
Entropion sikatrik, terutama yang berkaitan dengan pemfigoid okular, sindrom Stevens–Johnson, atau trakoma.¹,³,⁷,⁸
Entropion kongenital yang menyebabkan iritasi kornea atau berisiko mengganggu perkembangan penglihatan.³,⁵
Adanya kecurigaan massa palpebra atau keganasan sebagai penyebab entropion mekanik.¹,³,⁷
