Kalazion [3A]

Kalazion [3A]


Definisi

Kalazion adalah inflamasi lipogranulomatosa kronis steril pada palpebra akibat obstruksi kelenjar Meibom atau kelenjar Zeis. Kondisi ini menyebabkan retensi sekret lipid serta pembentukan nodul pada kelopak mata yang tumbuh perlahan dan umumnya tidak nyeri.¹,²,⁷,⁸

(Salmon, 2024)
(Salmon, 2024)

Epidemiologi

Kalazion merupakan salah satu lesi inflamasi kelopak mata yang paling sering dijumpai dalam praktik oftalmologi primer maupun sekunder.²,³

Kalazion dapat terjadi pada semua kelompok usia, tetapi lebih sering ditemukan pada dewasa muda hingga usia pertengahan.³,⁷

Tidak terdapat predileksi jenis kelamin yang konsisten. Namun, beberapa studi menunjukkan insidensi sedikit lebih tinggi pada wanita dewasa.⁷,¹²

Kalazion lebih sering terjadi pada individu dengan disfungsi kelenjar Meibom, blefaritis kronis, rosasea okular, dan dermatitis seboroik.¹,⁶,⁷

Kalazion rekuren memerlukan evaluasi lebih lanjut untuk menyingkirkan karsinoma sebasea, terutama pada pasien usia lanjut atau pada lesi yang muncul berulang di lokasi yang sama.¹,³,⁷,⁸


Etiologi

Obstruksi duktus kelenjar Meibom menyebabkan retensi sekret lipid di dalam tarsus palpebra.¹,⁷

Obstruksi kelenjar Zeis dapat menimbulkan kalazion yang lebih superfisial pada tepi palpebra.²,⁷

Disfungsi kelenjar Meibom menyebabkan perubahan kualitas meibum menjadi lebih kental sehingga mudah menyumbat saluran kelenjar.¹,⁶,⁷

Blefaritis kronis, rosasea okular, dan dermatitis seboroik meningkatkan inflamasi kronis tepi palpebra sehingga memudahkan terbentuknya kalazion.¹,⁶,⁷,⁸

Higiene palpebra yang buruk dapat memperberat sumbatan kelenjar dan meningkatkan risiko kekambuhan.²,⁷


Klasifikasi

Klasifikasi ini disebutkan dalam referensi, namun jarang digunakan

Kalazion dalam (deep chalazion): berasal dari inflamasi kelenjar Meibom di dalam tarsus palpebra.⁷

Kalazion superfisial (superficial chalazion): berasal dari inflamasi kelenjar Zeis di tepi palpebra.⁷



Anamnesis

Benjolan pada kelopak mata yang muncul perlahan dan semakin membesar, akibat akumulasi sekret lipid di dalam kelenjar yang tersumbat.¹,²,⁷

Umumnya tidak nyeri, karena proses yang terjadi berupa inflamasi lipogranulomatosa steril tanpa infeksi akut.¹,⁷

Dapat disertai rasa mengganjal atau tidak nyaman pada kelopak mata, terutama bila ukuran lesi membesar.²,³

Penglihatan kabur atau silinder dapat terjadi pada kalazion berukuran besar akibat penekanan terhadap permukaan kornea.²,³,⁷

Riwayat blefaritis kronis, rosasea okular, atau kalazion berulang perlu digali karena merupakan faktor predisposisi penting.¹,⁶,⁷

Pada kalazion rekuren atau menetap, terutama pada usia lanjut, perlu dicurigai kemungkinan karsinoma sebasea.¹,³,⁷,⁸


Pemeriksaan Fisik

Tampak nodul berbatas tegas pada kelopak mata, berbentuk bulat atau oval, berukuran bervariasi, dan dapat membesar secara perlahan.¹,²,⁷

Konsistensi kenyal hingga keras, tidak nyeri tekan, dan tanpa tanda radang akut seperti hiperemia atau edema yang nyata.¹,²,⁷

Kulit di atas lesi umumnya dapat digerakkan, karena proses inflamasi terbatas pada kelenjar palpebra.²,³

Pada eversi palpebra, dapat ditemukan massa kekuningan atau keabu-abuan pada konjungtiva tarsal akibat akumulasi sekret kelenjar yang tertahan. Pada beberapa kasus, dapat disertai granuloma konjungtiva.²,⁷,⁸

Kalazion berukuran besar, terutama pada palpebra superior, dapat menyebabkan ptosis mekanik dan astigmatisme akibat penekanan terhadap kornea.²,³,⁷

Bila terjadi infeksi sekunder, lesi dapat disertai nyeri, eritema, edema, dan berkembang menjadi hordeolum.²,⁶,⁷

Madarosis, ulserasi, distorsi tepi palpebra, atau lesi rekuren pada lokasi yang sama merupakan tanda bahaya yang memerlukan evaluasi lebih lanjut untuk menyingkirkan karsinoma sebasea.¹,³,⁷,⁸


Pemeriksaan Penunjang

Pemeriksaan penunjang tidak rutin diperlukan, karena diagnosis kalazion umumnya ditegakkan secara klinis dari anamnesis dan pemeriksaan fisik.¹,²,⁷,⁸

Eversi palpebra membantu menilai lesi pada konjungtiva tarsal dan memastikan lokasi nodul sesuai dengan kelenjar Meibom.²,⁷

Pemeriksaan refraksi atau keratometri dapat dipertimbangkan bila kalazion besar menyebabkan keluhan penglihatan kabur akibat astigmatisme mekanik.²,³,⁷

Biopsi atau pemeriksaan histopatologi dilakukan bila lesi menetap, rekuren pada lokasi yang sama, atipikal, atau disertai tanda curiga keganasan seperti madarosis, ulserasi, dan distorsi tepi palpebra.¹,³,⁷,⁸


Diagnosis Banding

DiagnosisPerbedaan utama
Hordeolum internumOnset akut, disertai nyeri tekan, eritema, dan edema akibat infeksi kelenjar Meibom.²,³
Abses palpebraTerdapat inflamasi difus pada kelopak mata, nyeri, fluktuasi, dan dapat disertai gejala sistemik.³
MeibomianitisMerupakan inflamasi kronis kelenjar Meibom dengan sumbatan multipel, tanpa pembentukan nodul granulomatosa yang terlokalisasi.¹,⁷
Kista retensi kelenjar MollBerupa kista translusen berisi cairan di tepi palpebra, bukan nodul padat pada tarsus.³
Hemangioma palpebraLesi kemerahan atau kebiruan, bersifat vaskular, dan umumnya muncul sejak masa kanak-kanak.³
Neurofibroma palpebraMassa lunak dengan konsistensi khas "bag of worms", sering disertai manifestasi neurofibromatosis tipe 1

Penatalaksanaan

Nonfarmakologis

Kompres hangat pada kelopak mata selama 10–15 menit, 3–4 kali sehari selama 2–4 minggu, untuk melunakkan sekret lipid dan membantu membuka duktus kelenjar yang tersumbat.¹,²,⁷,¹²

Pijat kelopak mata secara lembut setelah kompres hangat untuk membantu drainase sekret kelenjar Meibom.²,⁷

Higiene kelopak mata dilakukan dengan membersihkan tepi kelopak mata secara rutin, terutama pada pasien dengan blefaritis atau disfungsi kelenjar Meibom.¹,²,⁷


Farmakologis

Prinsip Terapi Farmakologis

Antibiotik topikal tidak diberikan secara rutin karena kalazion merupakan inflamasi steril.¹,⁷,⁸

Antibiotik topikal dipertimbangkan bila terdapat blefaritis atau infeksi sekunder.¹,⁷

Doxycycline oral dapat diberikan pada disfungsi kelenjar Meibom, rosasea okular, atau kalazion rekuren.¹,⁷ Doxycycline karena memiliki efek antiinflamasi dan dapat memperbaiki kualitas sekresi meibum, sehingga membantu mencegah kekambuhan.¹,⁷

Terapi farmakologis bersifat adjuvan dan dikombinasikan dengan kompres hangat serta higiene palpebra.¹,²,⁷


Topikal

Obat & SediaanDosis / FrekuensiFarmakodinamik
Eritromisin salep mata 0,5%Dioleskan 2–4×/hari selama 7–10 hariAntibiotik makrolida yang menghambat sintesis protein bakteri melalui ikatan dengan subunit 50S ribosom
Tobramisin tetes mata 0,3%1–2 tetes tiap 4–6 jam selama 7–10 hariAntibiotik aminoglikosida yang menghambat sintesis protein bakteri melalui subunit 30S ribosom

Sistemik

Obat & SediaanDosis / FrekuensiFarmakodinamik
Doxycycline tablet 100 mg100 mg 1× sehari selama 2–4 minggu, dapat dilanjutkan 50 mg 1× sehari bila diperlukanGolongan tetrasiklin dengan efek antiinflamasi, menghambat aktivitas lipase bakteri dan memperbaiki kualitas sekresi kelenjar Meibom
Azithromycin tablet 500 mg*500 mg 1× sehari selama 3 hari atau sesuai pertimbangan klinisMakrolida dengan efek antiinflamasi dan modulasi fungsi kelenjar Meibom

Azithromycin sistemik dapat dipertimbangkan sebagai alternatif pada pasien dengan kontraindikasi atau intoleransi terhadap doxycycline.

Terapi sistemik dipertimbangkan pada pasien dengan rosasea okular, disfungsi kelenjar Meibom, blefaritis posterior kronis, atau kalazion rekuren, dan tidak diberikan secara rutin pada kalazion tanpa faktor predisposisi tersebut.¹,⁷,⁸


Terapi Pembedahan dan Tindakan Lain 🟨


Komplikasi

Astigmatisme dapat terjadi pada kalazion berukuran besar akibat penekanan mekanik pada permukaan kornea.²,³,⁷

Ptosis mekanik dapat timbul akibat beban massa pada kelopak mata, terutama pada lesi berukuran besar.²,⁷

Infeksi sekunder dapat terjadi akibat manipulasi lesi yang tidak tepat atau higiene palpebra yang buruk.²,⁷

Rekurensi sering dijumpai pada pasien dengan disfungsi kelenjar Meibom, blefaritis kronis, atau rosasea okular yang tidak terkontrol.¹,⁶,⁷

Keterlambatan diagnosis karsinoma sebasea dapat terjadi pada lesi yang menetap atau rekuren karena gambaran klinisnya menyerupai kalazion.¹,³,⁷,⁸


Prognosis

Ad vitam: bonam, karena kalazion merupakan kondisi jinak dan tidak mengancam jiwa.¹,⁷

Ad functionam: bonam, meskipun kalazion berukuran besar dapat menyebabkan astigmatisme atau ptosis mekanik yang bersifat sementara.²,³,⁷

Ad sanationam: bonam, karena sebagian besar kasus membaik dengan terapi konservatif atau tindakan yang adekuat, namun rekurensi dapat terjadi bila faktor predisposisi tidak dikendalikan.¹,⁶,⁷


Edukasi

Kalazion bukan merupakan infeksi aktif, melainkan peradangan akibat sumbatan pada kelenjar di kelopak mata. ¹,⁷

Lakukan kompres hangat selama 10–15 menit, 3–4 kali sehari, disertai pijatan lembut, dan jaga kebersihan kelopak mata sesuai dengan anjuran dokter. ¹,²,⁷

Hindari memencet atau menusuk benjolan sendiri karena dapat meningkatkan risiko infeksi dan terbentuknya jaringan parut. ²,⁷

Segera kontrol kembali bila benjolan tidak membaik dalam 2–4 minggu, bertambah besar, sering kambuh, atau disertai perubahan pada bulu mata maupun bentuk kelopak mata. ¹,⁷,⁸

Kendalikan faktor predisposisi seperti blefaritis, rosasea okular, dan disfungsi kelenjar Meibom untuk mencegah kekambuhan. ¹,⁶,⁷


Kriteria Rujukan

Kalazion tidak membaik setelah 2–4 minggu terapi konservatif yang adekuat.⁹

Kalazion berukuran besar yang menyebabkan ptosis mekanik, astigmatisme, atau gangguan penglihatan.²,⁷

Kalazion rekuren, terutama bila muncul berulang pada lokasi yang sama.¹,⁷,⁸

Diperlukan tindakan lanjutan, seperti injeksi kortikosteroid intralesi atau insisi dan kuretase.²,⁷

Terdapat kecurigaan keganasan, ditandai dengan madarosis, ulserasi, distorsi tepi palpebra, pertumbuhan progresif, atau lesi yang menetap meskipun telah diterapi, sehingga memerlukan biopsi dan pemeriksaan histopatologi.¹,⁷,⁸

Diagnosis meragukan atau tidak sesuai dengan gambaran klinis kalazion tipikal.²,⁷


✏️ Kasih pendapatmu mengenai artikel ini! Yuk, klik disini