Trikiasis [4]
Definisi
Trikiasis adalah kelainan arah tumbuh bulu mata yang mengarah ke bola mata sehingga menyentuh kornea atau konjungtiva, dengan posisi margo palpebra tetap normal tanpa entropion.¹,²,⁴,⁸

Epidemiologi
Trikiasis dapat terjadi pada semua usia, tetapi lebih sering dijumpai pada pasien dengan inflamasi kronis, trauma, atau jaringan parut pada kelopak mata. ¹²⁴
Secara global, trakoma sikatrik merupakan penyebab trikiasis tersering di daerah endemik. ¹⁸¹⁰
Gesekan silia dapat menimbulkan komplikasi pada kornea, seperti keratitis, ulkus kornea, hingga penurunan visus permanen, jika tidak ditangani dengan tepat. ¹²⁴⁸
Etiologi
Inflamasi kronis atau sikatrik pada palpebra dan konjungtiva, seperti trakoma, pemfigoid okular, Stevens-Johnson syndrome, blefaritis kronis, dan herpes zoster oftalmikus, dapat mengubah arah folikel bulu mata.¹,²,⁴
Trauma atau luka bakar pada kelopak mata dapat menyebabkan jaringan parut yang menarik folikel silia ke arah bola mata.¹,²,⁴
Iatrogenik pascaoperasi palpebra dapat mengubah anatomi margo palpebra dan orientasi pertumbuhan bulu mata.²,⁴
Perubahan degeneratif atau idiopatik dapat menyebabkan malposisi silia tanpa kelainan posisi kelopak mata yang jelas.¹,⁴
Kelainan kongenital jarang terjadi, tetapi dapat berupa malposisi folikel bulu mata sejak lahir.²,⁴
Patofisiologi
Inflamasi kronis, trauma, luka bakar, atau operasi palpebra dapat menyebabkan fibrosis pada margo palpebra atau konjungtiva tarsal.¹,²,⁴
Fibrosis mengubah orientasi folikel silia, sehingga bulu mata tumbuh ke arah kornea atau konjungtiva, meskipun posisi kelopak tetap normal.¹,²,⁸
Gesekan silia pada permukaan okular menimbulkan iritasi mekanik berulang yang menyebabkan hiperemia, epifora, fotofobia, dan sensasi benda asing.¹,³,⁸
Pada kondisi kronis, trauma mekanik dapat menyebabkan abrasi kornea, keratitis, ulkus kornea, jaringan parut kornea, serta penurunan visus.¹,²,⁴,⁸
Anamnesis
Keluhan sensasi benda asing atau mengganjal akibat gesekan bulu mata terhadap kornea atau konjungtiva.¹,³,⁸
Mata merah, berair, dan perih dapat terjadi akibat iritasi mekanik yang berulang pada permukaan okular.¹,³,⁸
Fotofobia muncul bila gesekan silia menyebabkan abrasi atau inflamasi pada kornea.¹,²,⁴
Penglihatan buram perlu digali karena dapat menandakan keratitis, ulkus, atau jaringan parut kornea.¹,²,⁴,⁸
Riwayat trakoma, blefaritis kronis, trauma, luka bakar, operasi palpebra, atau penyakit sikatrik perlu ditanyakan sebagai penyebab dasar trikiasis.¹,²,⁴
Pemeriksaan Fisik
Tampak satu atau lebih bulu mata yang tumbuh ke arah bola mata dan menyentuh kornea atau konjungtiva, dengan posisi margo palpebra tetap normal. ¹,²,⁸
Distribusi silia abnormal dapat bersifat fokal, multipel atau difus. ¹,²
Pada pemeriksaan slit-lamp, dapat ditemukan hiperemia konjungtiva, epifora, serta tanda iritasi pada permukaan okular. ¹,³,⁸
Pewarnaan fluorescein dapat menunjukkan defek epitel kornea atau abrasi kornea akibat gesekan silia yang berulang. ¹,²,³
Perlu dievaluasi adanya jaringan parut palpebra atau konjungtiva, blefaritis, serta kelainan penyerta seperti entropion atau distikiasis sebagai penyebab atau diagnosis banding. ¹,²,⁴,⁸
Pemeriksaan Penunjang
Fluorescein staining dilakukan bila dicurigai abrasi kornea, defek epitel, atau keratitis akibat gesekan silia.¹,²,³
Pemeriksaan etiologi dasar dipertimbangkan bila trikiasis rekuren atau bilateral, misalnya evaluasi trakoma, pemfigoid okular, Stevens–Johnson syndrome, blefaritis kronis, atau riwayat trauma atau operasi palpebra.¹,²,⁴
Diagnosis Banding
| Diagnosis Banding | Perbedaan utama dengan Trikiasis |
|---|---|
| Entropion | Bulu mata menyentuh kornea akibat margo palpebra berputar ke dalam, sedangkan pada trikiasis posisi kelopak tetap normal.¹,²,⁴ |
| Distikiasis | Terdapat baris bulu mata tambahan yang berasal dari orifisium kelenjar Meibom, bukan perubahan arah silia normal.¹,²,⁸ |
| Epiblefaron | Lipatan kulit dan otot pretarsal mendorong silia ke arah bola mata, terutama pada anak, dengan folikel bulu mata yang normal.¹,²,⁴ |
| Madarosis | Ditandai dengan hilangnya bulu mata, tanpa adanya pertumbuhan silia ke arah bola mata.¹,⁴ |
| Dermatochalasis | Keluhan iritasi disebabkan oleh kelebihan kulit kelopak mata, tanpa perubahan arah tumbuh bulu mata.²,⁴ |

Penatalaksanaan
Nonfarmakologis
Epilasi manual merupakan terapi awal pada kasus trikiasis sederhana dengan jumlah silia sedikit, tetapi bulu mata umumnya akan tumbuh kembali dalam 4–6 minggu.¹,²,³
Lubrikan mata dapat diberikan untuk mengurangi gesekan silia terhadap permukaan okular serta mengurangi gejala iritasi.¹,³
Tata laksana penyakit dasar seperti blefaritis, trakoma, atau pemfigoid okular perlu dilakukan untuk mencegah kekambuhan.¹,²,⁴.
Farmakologis
Prinsip Terapi Farmakologis
Tidak ada terapi farmakologis yang dapat secara langsung memperbaiki arah pertumbuhan bulu mata. ¹,².
Obat diberikan untuk mengatasi inflamasi, mencegah infeksi sekunder, atau menangani komplikasi kornea sesuai dengan indikasi klinis. ¹,²,⁴.
Tindakan atau Pembedahan 🟨
Krioterapi dilakukan dengan membekukan folikel bulu mata dan dipertimbangkan untuk trikiasis multipel atau difus.¹,²
Laser ablasi (argon atau diode) dapat digunakan untuk menghancurkan folikel bulu mata secara presisi tinggi.¹,²
Tindakan rekonstruksi palpebra dipertimbangkan pada kasus yang berkaitan dengan sikatrik berat atau deformitas kelopak mata.²,⁴
Komplikasi
Abrasi kornea dapat terjadi akibat gesekan berulang bulu mata terhadap epitel kornea, menyebabkan nyeri, fotofobia, dan epifora.¹,²,⁴
Keratitis dapat timbul akibat iritasi mekanik kronis pada permukaan kornea dan dapat diperberat oleh infeksi sekunder.¹,²,⁴
Ulkus kornea dapat berkembang dari abrasi yang persisten atau terinfeksi, sehingga meningkatkan risiko perforasi dan kehilangan penglihatan.¹,²,⁴,⁸
Jaringan parut kornea dapat terjadi setelah proses inflamasi atau ulkus kornea, yang menyebabkan penurunan transparansi kornea dan gangguan visus permanen.¹,²,⁴
Penurunan visus permanen dapat terjadi akibat kerusakan kornea yang berat atau keterlambatan tata laksana definitif.¹,²,⁴,⁸
Prognosis
Ad vitam (terhadap kehidupan): bonam, karena trikiasis jarang mengancam jiwa dan mortalitas sangat rendah bila ditangani dengan tepat.¹,²,⁴
Ad functionam (terhadap fungsi): dubia ad bonam, karena fungsi penglihatan umumnya dapat dipertahankan, namun gesekan silia yang berlangsung kronis dapat menyebabkan kerusakan kornea dan penurunan visus permanen bila terlambat ditangani.¹,²,⁴,⁸
Ad sanationam (terhadap kesembuhan): dubia ad bonam, karena trikiasis dapat teratasi dengan terapi yang adekuat, tetapi terdapat risiko kekambuhan, terutama pada kasus yang berhubungan dengan penyakit sikatrik atau inflamasi kronis.¹,²,⁴
Edukasi
Trikiasis terjadi akibat pertumbuhan bulu mata yang mengarah ke bola mata, sehingga dapat menyebabkan iritasi dan kerusakan kornea bila tidak ditangani.¹,²,⁴
Epilasi hanya bersifat sementara, sehingga bulu mata dapat tumbuh kembali dan memerlukan evaluasi ulang.¹,²
Hindari menggosok mata karena dapat memperberat iritasi dan trauma pada permukaan kornea.¹,⁴
Segera kontrol kembali bila muncul nyeri hebat, mata merah berat, fotofobia, penurunan penglihatan, atau epifora yang memberat, karena dapat menandakan komplikasi kornea.¹,²,⁸
Kepatuhan terhadap kontrol rutin dan tata laksana penyakit dasar seperti blefaritis, trakoma, atau pemfigoid okular penting untuk mencegah kekambuhan.¹,²,⁴
Kriteria Rujukan
Trikiasis rekuren atau tidak membaik setelah epilasi berulang.¹,²,¹²
Terdapat banyak silia (multipel/difus) yang memerlukan tata laksana definitif seperti elektrolisis, krioterapi, atau tindakan operatif.¹,²
Ditemukan komplikasi kornea, seperti abrasi kornea, keratitis, ulkus kornea, atau jaringan parut kornea.¹,²,⁴
Trikiasis yang disertai penurunan visus, fotofobia berat, atau nyeri mata yang hebat.¹,²,⁴
Terdapat kecurigaan penyakit dasar seperti trakoma sikatrik, pemfigoid okular, Stevens–Johnson syndrome, atau deformitas palpebra pascatrauma/pascaoperasi yang memerlukan evaluasi dan tata laksana spesialis.¹,²,⁴
Diagnosis meragukan atau sulit dibedakan dari entropion, distikiasis, atau kelainan palpebra lainnya.¹,²,⁴
