Trikiasis [4]

Trikiasis [4]


Definisi

Trikiasis adalah kelainan arah tumbuh bulu mata yang mengarah ke bola mata sehingga menyentuh kornea atau konjungtiva, dengan posisi margo palpebra tetap normal tanpa entropion.¹,²,⁴,⁸

(Salmon, 2025)
(Salmon, 2025)

Epidemiologi

Trikiasis dapat terjadi pada semua usia, tetapi lebih sering dijumpai pada pasien dengan inflamasi kronis, trauma, atau jaringan parut pada kelopak mata. ¹²⁴

Secara global, trakoma sikatrik merupakan penyebab trikiasis tersering di daerah endemik. ¹⁸¹⁰

Gesekan silia dapat menimbulkan komplikasi pada kornea, seperti keratitis, ulkus kornea, hingga penurunan visus permanen, jika tidak ditangani dengan tepat. ¹²⁴⁸


Etiologi

Inflamasi kronis atau sikatrik pada palpebra dan konjungtiva, seperti trakoma, pemfigoid okular, Stevens-Johnson syndrome, blefaritis kronis, dan herpes zoster oftalmikus, dapat mengubah arah folikel bulu mata.¹,²,⁴

Trauma atau luka bakar pada kelopak mata dapat menyebabkan jaringan parut yang menarik folikel silia ke arah bola mata.¹,²,⁴

Iatrogenik pascaoperasi palpebra dapat mengubah anatomi margo palpebra dan orientasi pertumbuhan bulu mata.²,⁴

Perubahan degeneratif atau idiopatik dapat menyebabkan malposisi silia tanpa kelainan posisi kelopak mata yang jelas.¹,⁴

Kelainan kongenital jarang terjadi, tetapi dapat berupa malposisi folikel bulu mata sejak lahir.²,⁴


Patofisiologi

Inflamasi kronis, trauma, luka bakar, atau operasi palpebra dapat menyebabkan fibrosis pada margo palpebra atau konjungtiva tarsal.¹,²,⁴

Fibrosis mengubah orientasi folikel silia, sehingga bulu mata tumbuh ke arah kornea atau konjungtiva, meskipun posisi kelopak tetap normal.¹,²,⁸

Gesekan silia pada permukaan okular menimbulkan iritasi mekanik berulang yang menyebabkan hiperemia, epifora, fotofobia, dan sensasi benda asing.¹,³,⁸

Pada kondisi kronis, trauma mekanik dapat menyebabkan abrasi kornea, keratitis, ulkus kornea, jaringan parut kornea, serta penurunan visus.¹,²,⁴,⁸


Anamnesis

Keluhan sensasi benda asing atau mengganjal akibat gesekan bulu mata terhadap kornea atau konjungtiva.¹,³,⁸

Mata merah, berair, dan perih dapat terjadi akibat iritasi mekanik yang berulang pada permukaan okular.¹,³,⁸

Fotofobia muncul bila gesekan silia menyebabkan abrasi atau inflamasi pada kornea.¹,²,⁴

Penglihatan buram perlu digali karena dapat menandakan keratitis, ulkus, atau jaringan parut kornea.¹,²,⁴,⁸

Riwayat trakoma, blefaritis kronis, trauma, luka bakar, operasi palpebra, atau penyakit sikatrik perlu ditanyakan sebagai penyebab dasar trikiasis.¹,²,⁴


Pemeriksaan Fisik

Tampak satu atau lebih bulu mata yang tumbuh ke arah bola mata dan menyentuh kornea atau konjungtiva, dengan posisi margo palpebra tetap normal. ¹,²,⁸

Distribusi silia abnormal dapat bersifat fokal, multipel atau difus. ¹,²

Pada pemeriksaan slit-lamp, dapat ditemukan hiperemia konjungtiva, epifora, serta tanda iritasi pada permukaan okular. ¹,³,⁸

Pewarnaan fluorescein dapat menunjukkan defek epitel kornea atau abrasi kornea akibat gesekan silia yang berulang. ¹,²,³

Perlu dievaluasi adanya jaringan parut palpebra atau konjungtiva, blefaritis, serta kelainan penyerta seperti entropion atau distikiasis sebagai penyebab atau diagnosis banding. ¹,²,⁴,⁸


Pemeriksaan Penunjang

Fluorescein staining dilakukan bila dicurigai abrasi kornea, defek epitel, atau keratitis akibat gesekan silia.¹,²,³

Pemeriksaan etiologi dasar dipertimbangkan bila trikiasis rekuren atau bilateral, misalnya evaluasi trakoma, pemfigoid okular, Stevens–Johnson syndrome, blefaritis kronis, atau riwayat trauma atau operasi palpebra.¹,²,⁴


Diagnosis Banding

Diagnosis BandingPerbedaan utama dengan Trikiasis
EntropionBulu mata menyentuh kornea akibat margo palpebra berputar ke dalam, sedangkan pada trikiasis posisi kelopak tetap normal.¹,²,⁴
DistikiasisTerdapat baris bulu mata tambahan yang berasal dari orifisium kelenjar Meibom, bukan perubahan arah silia normal.¹,²,⁸
EpiblefaronLipatan kulit dan otot pretarsal mendorong silia ke arah bola mata, terutama pada anak, dengan folikel bulu mata yang normal.¹,²,⁴
MadarosisDitandai dengan hilangnya bulu mata, tanpa adanya pertumbuhan silia ke arah bola mata.¹,⁴
DermatochalasisKeluhan iritasi disebabkan oleh kelebihan kulit kelopak mata, tanpa perubahan arah tumbuh bulu mata.²,⁴
Distikiasis (https://www.aao.org/)
Distikiasis (https://www.aao.org/)

Penatalaksanaan

Nonfarmakologis

Epilasi manual merupakan terapi awal pada kasus trikiasis sederhana dengan jumlah silia sedikit, tetapi bulu mata umumnya akan tumbuh kembali dalam 4–6 minggu.¹,²,³

Lubrikan mata dapat diberikan untuk mengurangi gesekan silia terhadap permukaan okular serta mengurangi gejala iritasi.¹,³

Tata laksana penyakit dasar seperti blefaritis, trakoma, atau pemfigoid okular perlu dilakukan untuk mencegah kekambuhan.¹,²,⁴.


Farmakologis

Prinsip Terapi Farmakologis

Tidak ada terapi farmakologis yang dapat secara langsung memperbaiki arah pertumbuhan bulu mata. ¹,².

Obat diberikan untuk mengatasi inflamasi, mencegah infeksi sekunder, atau menangani komplikasi kornea sesuai dengan indikasi klinis. ¹,²,⁴.


Tindakan atau Pembedahan 🟨

Krioterapi dilakukan dengan membekukan folikel bulu mata dan dipertimbangkan untuk trikiasis multipel atau difus.¹,²

Laser ablasi (argon atau diode) dapat digunakan untuk menghancurkan folikel bulu mata secara presisi tinggi.¹,²

Tindakan rekonstruksi palpebra dipertimbangkan pada kasus yang berkaitan dengan sikatrik berat atau deformitas kelopak mata.²,⁴


Komplikasi

Abrasi kornea dapat terjadi akibat gesekan berulang bulu mata terhadap epitel kornea, menyebabkan nyeri, fotofobia, dan epifora.¹,²,⁴

Keratitis dapat timbul akibat iritasi mekanik kronis pada permukaan kornea dan dapat diperberat oleh infeksi sekunder.¹,²,⁴

Ulkus kornea dapat berkembang dari abrasi yang persisten atau terinfeksi, sehingga meningkatkan risiko perforasi dan kehilangan penglihatan.¹,²,⁴,⁸

Jaringan parut kornea dapat terjadi setelah proses inflamasi atau ulkus kornea, yang menyebabkan penurunan transparansi kornea dan gangguan visus permanen.¹,²,⁴

Penurunan visus permanen dapat terjadi akibat kerusakan kornea yang berat atau keterlambatan tata laksana definitif.¹,²,⁴,⁸


Prognosis

Ad vitam (terhadap kehidupan): bonam, karena trikiasis jarang mengancam jiwa dan mortalitas sangat rendah bila ditangani dengan tepat.¹,²,⁴

Ad functionam (terhadap fungsi): dubia ad bonam, karena fungsi penglihatan umumnya dapat dipertahankan, namun gesekan silia yang berlangsung kronis dapat menyebabkan kerusakan kornea dan penurunan visus permanen bila terlambat ditangani.¹,²,⁴,⁸

Ad sanationam (terhadap kesembuhan): dubia ad bonam, karena trikiasis dapat teratasi dengan terapi yang adekuat, tetapi terdapat risiko kekambuhan, terutama pada kasus yang berhubungan dengan penyakit sikatrik atau inflamasi kronis.¹,²,⁴


Edukasi

Trikiasis terjadi akibat pertumbuhan bulu mata yang mengarah ke bola mata, sehingga dapat menyebabkan iritasi dan kerusakan kornea bila tidak ditangani.¹,²,⁴

Epilasi hanya bersifat sementara, sehingga bulu mata dapat tumbuh kembali dan memerlukan evaluasi ulang.¹,²

Hindari menggosok mata karena dapat memperberat iritasi dan trauma pada permukaan kornea.¹,⁴

Segera kontrol kembali bila muncul nyeri hebat, mata merah berat, fotofobia, penurunan penglihatan, atau epifora yang memberat, karena dapat menandakan komplikasi kornea.¹,²,⁸

Kepatuhan terhadap kontrol rutin dan tata laksana penyakit dasar seperti blefaritis, trakoma, atau pemfigoid okular penting untuk mencegah kekambuhan.¹,²,⁴


Kriteria Rujukan

Trikiasis rekuren atau tidak membaik setelah epilasi berulang.¹,²,¹²

Terdapat banyak silia (multipel/difus) yang memerlukan tata laksana definitif seperti elektrolisis, krioterapi, atau tindakan operatif.¹,²

Ditemukan komplikasi kornea, seperti abrasi kornea, keratitis, ulkus kornea, atau jaringan parut kornea.¹,²,⁴

Trikiasis yang disertai penurunan visus, fotofobia berat, atau nyeri mata yang hebat.¹,²,⁴

Terdapat kecurigaan penyakit dasar seperti trakoma sikatrik, pemfigoid okular, Stevens–Johnson syndrome, atau deformitas palpebra pascatrauma/pascaoperasi yang memerlukan evaluasi dan tata laksana spesialis.¹,²,⁴

Diagnosis meragukan atau sulit dibedakan dari entropion, distikiasis, atau kelainan palpebra lainnya.¹,²,⁴


✏️ Kasih pendapatmu mengenai artikel ini! Yuk, klik disini