Ptosis [3A]
Definisi
Ptosis (blefaroptosis) adalah penurunan abnormal margin kelopak mata atas dari posisi normal.¹,²

Epidemiologi
Ptosis dapat terjadi pada semua kelompok usia, baik sebagai kelainan kongenital maupun didapat.
Ptosis kongenital merupakan bentuk tersering pada anak, dengan estimasi insidensi sekitar 7–13 per 100.000 populasi. Sebagian besar kasus bersifat unilateral.
Pada orang dewasa, bentuk tersering adalah ptosis aponeurotik (involusional), terutama pada usia lanjut akibat penuaan dan perubahan pada aponeurosis levator.
Faktor risiko ptosis didapat meliputi usia lanjut, operasi okular, trauma, dan penggunaan lensa kontak jangka panjang.
Pada miastenia gravis, ptosis merupakan manifestasi okular yang sering ditemukan dan dapat menjadi gejala awal penyakit.¹-⁴
Klasifikasi / Stadium
Berdasarkan onset, ptosis dibagi menjadi dua kelompok utama : Ptosis kongenital dan didapat
Anamnesis
Onset keluhan: onset sejak lahir mengarah ke ptosis kongenital, sedangkan onset pada dewasa lebih sering mengarah ke ptosis didapat.
Perjalanan keluhan: tanyakan apakah keluhan bersifat mendadak, progresif, menetap, atau fluktuatif. Onset akut mengarah ke penyebab neurologis, sedangkan progresif lebih sering aponeurotik atau mekanik.
Lateralisasi: tentukan apakah keluhan unilateral atau bilateral. Keterlibatan bilateral lebih sering terjadi pada kelainan miogenik atau sistemik.
Keluhan visual: apakah pandangan terasa tertutup, lapang pandang superior menyempit, atau ada kompensasi dengan mengangkat dagu dan menaikkan alis.
Fatigabilitas: kelopak makin turun setelah aktivitas dan membaik dengan istirahat, khas pada miastenia gravis.
Gejala penyerta: diplopia, anisokoria, nyeri kepala, kelemahan otot, disfagia, atau disartria dapat mengarah pada penyebab neurologis atau neuromuskular.
Riwayat trauma atau operasi okular: dapat menyebabkan ptosis aponeurotik atau traumatik.
Riwayat penggunaan lensa kontak jangka panjang: terutama lensa kontak keras yang berhubungan dengan peregangan aponeurosis levator.
Riwayat penyakit sistemik dan keluarga: termasuk miastenia gravis, diabetes, penyakit neurologis, penyakit otot, atau riwayat keluarga dengan ptosis kongenital.¹-⁴
Pemeriksaan Fisik
Inspeksi umum kelopak: nilai derajat penurunan kelopak, simetri kedua mata, posisi kelopak pada pandangan primer, kompensasi berupa elevasi alis atau chin-up posture, serta adanya massa, edema, atau jaringan parut.
MRD2 (Margin Reflex Distance 2): ukur jarak antara refleks cahaya kornea sentral dan margin kelopak bawah; membantu menilai posisi kelopak bawah dan simetri celah palpebra.
Lipatan kelopak atas (eyelid crease): lipatan kelopak yang tinggi atau tidak jelas dapat mengarah ke ptosis aponeurotik, sedangkan lipatan buruk sering ditemukan pada ptosis kongenital.
Pemeriksaan pupil: nilai anisokoria, miosis, midriasis, dan refleks pupil; miosis ipsilateral mengarah ke sindrom Horner, sedangkan midriasis disertai ptosis dapat mengarah ke palsi nervus III.
Pemeriksaan gerakan bola mata: menilai keterbatasan gerak bola mata, diplopia, atau oftalmoplegia untuk mendeteksi penyebab neurogenik atau miogenik.
Uji fatigabilitas: pasien diminta mempertahankan pandangan ke atas; penurunan progresif kelopak mata mendukung kemungkinan miastenia gravis.
Bell’s phenomenon: nilai rotasi bola mata ke atas saat pasien mencoba menutup mata dengan kuat; penting untuk menilai risiko keratopati paparan sebelum tindakan bedah.
Pemeriksaan permukaan okular dan orbita: evaluasi kornea, konjungtiva, lagoftalmos, massa kelopak atau orbita, inflamasi, edema, atau jaringan parut untuk menilai penyebab mekanik dan komplikasi pada permukaan mata.¹-⁴
Pemeriksaan Penunjang
Single-fiber EMG atau stimulasi repetitif: menilai gangguan transmisi neuromuskular. Hasil positif berupa jitter meningkat atau respons dekremental.
Antibodi miastenia gravis: mendeteksi anti-AChR, anti-MuSK, atau antibodi terkait untuk konfirmasi etiologi autoimun.
Tensilon test (edrofonium test): menilai kemungkinan miastenia gravis. Hasil positif ditandai dengan perbaikan cepat pada elevasi kelopak setelah pemberian edrofonium.
CT/MRI orbita dan otak: dilakukan bila dicurigai penyebab neurogenik, mekanik, massa orbita, atau lesi kompresif.
Pemeriksaan lapang pandang: menilai gangguan lapang pandang superior, terutama untuk indikasi koreksi fungsional.
Fotografi klinis kelopak: dokumentasi posisi kelopak, simetri, serta perbandingan sebelum dan sesudah terapi.¹-³
Diagnosis Banding¹,²
| Diagnosis Banding | Perbedaan dengan Ptosis |
|---|---|
| Pseudoptosis | Kelopak tampak turun akibat enoftalmus, hipotropia, atau bola mata kecil, tetapi fungsi levator normal. |
| Dermatochalasis | Tampak seperti ptosis karena kelebihan kulit kelopak atas, tanpa gangguan utama pada mekanisme elevasi kelopak. |
| Blefarospasme | Penutupan kelopak disebabkan kontraksi involunter otot orbicularis, bukan penurunan posisi istirahat kelopak. |
| Hipotropia | Kelopak tampak lebih rendah akibat posisi bola mata turun, sedangkan posisi kelopak relatif normal terhadap bola mata. |
| Anophthalmia / Mikroftalmia | Celah palpebra tampak sempit karena bola mata tidak ada atau berukuran kecil, bukan akibat gangguan levator. |
Perbedaan Ptosis Miogenik Kongenital dan Aponeurotik didapat
| Ptosis Miogenik Kongenital | Ptosis Aponeurotik Didapat | |
|---|---|---|
| Lipatan kelopak atas (lid crease) | Kurang terbentuk atau tidak jelas | Lebih tinggi dari normal atau menghilang |
| Fungsi otot levator | Menurun | Baik atau hampir normal |
| Posisi kelopak saat melihat ke bawah (downgaze) | Terjadi lid lag (kelopak tetap lebih tinggi sehingga fisura palpebra tampak lebih lebar) | Terjadi eyelid drop (kelopak turun mengikuti bola mata sehingga fisura palpebra tampak lebih sempit) |
Penatalaksanaan
Nonfarmakologis
Observasi: pada ptosis ringan tanpa gangguan aksis visual atau lapang pandang, dengan pemantauan berkala posisi kelopak dan fungsi visual.
Pencegahan ambliopia: pada anak dengan ptosis kongenital yang menutupi aksis visual melalui koreksi refraksi dan terapi ambliopia sesuai indikasi.
Perlindungan permukaan okular: penggunaan air mata buatan, salep pelumas, atau pelindung mata pada kasus dengan lagoftalmos atau risiko keratopati paparan.
Penatalaksanaan penyebab dasar nonbedah: koreksi faktor pencetus atau kondisi yang mendasari, seperti penghentian pemakaian lensa kontak atau tata laksana penyakit sistemik terkait sesuai etiologi.¹-³
Farmakologis
Prinsip Terapi Farmakologis
Terapi farmakologis pada ptosis ditujukan untuk mengatasi penyebab yang mendasari, bukan untuk menaikkan kelopak secara permanen.
Obat terutama dipertimbangkan pada ptosis miogenik atau neurogenik, misalnya pada miastenia gravis atau sindrom Horner.
Ptosis aponeurotik, kongenital, mekanik, dan traumatik umumnya tidak membaik secara definitif dengan obat dan sering memerlukan koreksi sesuai etiologi.
Terapi farmakologis dapat bersifat sementara, diagnostik, atau suportif, bergantung pada penyebab ptosis.¹-³
Terapi farmakologis terbatas sesuai etiologi karena sebagian besar ptosis tidak punya terapi obat definitif.¹-³
| Obat dan Sediaan | Dosis dan Frekuensi | Mekanisme Kerja Sederhana |
|---|---|---|
| Pyridostigmine tablet 60 mg | 30–60 mg oral setiap 4–6 jam, disesuaikan respons klinis | Menghambat asetilkolinesterase sehingga meningkatkan transmisi neuromuskular pada miastenia gravis. |
| Prednison tablet 5 mg, 20 mg | Umumnya 0,5–1 mg/kgBB/hari, kemudian diturunkan bertahap sesuai respons | Menekan proses autoimun pada miastenia gravis dan penyakit inflamasi terkait. |
| Apraclonidine tetes mata 0,5% atau 1% | 1 tetes pada mata yang terkena; sesuai indikasi klinis | Merangsang otot Müller melalui efek adrenergik sehingga elevasi kelopak bersifat sementara. |
| Phenylephrine tetes mata 2,5% | 1 tetes sebagai uji diagnostik praoperatif | Merangsang otot Müller dan digunakan untuk menilai kandidat Müller Muscle-Conjunctival Resection (MMCR). |
Terapi Pembedahan
Levator advancement/levator resection: prosedur utama pada ptosis dengan fungsi levator yang masih adekuat. Tindakan ini dilakukan dengan memperkuat, memajukan, atau memperpendek kompleks levator untuk meningkatkan elevasi kelopak.
Frontalis sling: diindikasikan pada ptosis dengan fungsi levator buruk (≤4 mm). Kelopak dihubungkan ke otot frontalis menggunakan fascia lata autolog atau bahan sintetis, sehingga elevasi kelopak dibantu oleh gerakan dahi.
Müller muscle-conjunctival resection (MMCR): digunakan pada ptosis ringan dengan fungsi levator baik dan respons positif terhadap uji phenylephrine. Prosedur dilakukan melalui reseksi otot Müller dan konjungtiva posterior.
Fasanella-Servat procedure: dapat dipertimbangkan pada ptosis ringan hingga sedang dengan fungsi levator baik, melalui reseksi sebagian tarsus, konjungtiva, dan otot Müller.
Rekonstruksi traumatik/koreksi penyebab mekanik: dilakukan pada ptosis akibat trauma, massa kelopak, jaringan parut, atau kelainan anatomi lain. Teknik disesuaikan dengan penyebab dasar dan derajat kerusakan jaringan.¹-³
Komplikasi
Ambliopia: terutama pada ptosis kongenital yang menutupi aksis visual atau menyebabkan astigmatisme, sehingga mengganggu perkembangan penglihatan anak.
Gangguan lapang pandang superior: kelopak yang turun dapat membatasi lapang pandang atas, mengganggu aktivitas sehari-hari dan kualitas hidup pasien.
Astigmatisme akibat tekanan kelopak: tekanan kronik kelopak pada kornea dapat mengubah kurvatura kornea dan menyebabkan kelainan refraksi, terutama pada anak.
Keratopati paparan (exposure): dapat terjadi akibat lagoftalmos atau penutupan mata yang tidak adekuat, terutama setelah koreksi bedah.
Komplikasi pascaoperasi: meliputi overcorrection, undercorrection, asimetri kelopak, infeksi, granuloma jahitan, dan rekurensi ptosis.¹-³
Prognosis
Ad vitam (terhadap kehidupan): bonam, karena ptosis umumnya tidak mengancam jiwa, kecuali bila disebabkan oleh kelainan neurologis serius, seperti palsi nervus III kompresif atau penyakit sistemik berat.
Ad functionam (terhadap fungsi): dubia ad bonam, karena fungsi visual biasanya tetap baik bila aksis visual tidak tertutup dan terapi dilakukan dengan tepat, tetapi dapat memburuk pada anak dengan ambliopia atau pada pasien dengan gangguan neuromuskular yang progresif.
Ad sanationam (terhadap kesembuhan): dubia, karena posisi kelopak dapat membaik setelah koreksi sesuai etiologi, tetapi rekurensi, asimetri, atau kebutuhan revisi bedah masih dapat terjadi.¹-³
Edukasi
Jelaskan bahwa ptosis dapat bersifat kongenital atau didapat, dan tata laksana bergantung pada penyebab yang mendasarinya.
Edukasi pasien untuk segera mencari pertolongan bila ptosis disertai diplopia, anisokoria, nyeri kepala, kelemahan otot, atau onset mendadak, karena hal ini dapat menandakan kelainan neurologis serius.
Pada anak, orang tua perlu memahami risiko ambliopia bila kelopak menutupi aksis visual. Kontrol rutin dan intervensi dini sangat penting.
Pasien yang menjalani terapi bedah perlu diedukasi mengenai tujuan tindakan, kemungkinan overcorrection, undercorrection, asimetri, serta kemungkinan perlunya revisi bedah.
Anjurkan kepatuhan terhadap kontrol berkala dan tata laksana penyakit dasar, terutama pada ptosis akibat miastenia gravis, penyakit neurologis, atau kondisi sistemik lain.¹-³
Kriteria Rujukan
Ptosis mendadak disertai diplopia, anisokoria, nyeri kepala, oftalmoplegia, atau defisit neurologis.
Ptosis kongenital yang menutupi aksis visual, menyebabkan ambliopia, atau mengganggu perkembangan visual.
Dugaan miastenia gravis atau gangguan neuromuskular (fatigabilitas, kelemahan otot, disfagia, diplopia fluktuatif).
Ptosis akibat massa kelopak, kelainan orbita, atau trauma.
Kebutuhan koreksi bedah, diagnosis tidak jelas, ptosis progresif, bilateral tanpa penyebab pasti, atau tidak membaik dengan tata laksana awal.¹-³
