Limfogranuloma Venereum (LGV) [2].
Nama Lain : LGV, Lymphogranuloma venereum, Limfogranuloma inguinale, Penyakit Nicolas-Favre, Penyakit Durand-Nicolas-Favre, Climatic bubo.
Definisi
Limfogranuloma venereum (LGV) adalah infeksi menular seksual akibat Chlamydia trachomatis serovar L1, L2, dan L3 yang terutama menyerang sistem limfatik pada area genital dan anorektal, dengan manifestasi berupa lesi primer sementara, limfadenitis inguinal atau femoral, serta proktokolitis.¹,¹⁰,¹¹

Epidemiologi
Limfogranuloma venereum (LGV) merupakan infeksi menular seksual yang relatif jarang, tetapi penting secara klinis karena dapat menyebabkan komplikasi limfatik dan anorektal kronik jika tidak diobati.¹⁰,¹¹
LGV lebih sering dilaporkan pada kelompok usia aktif secara seksual dengan perilaku seksual berisiko, terutama pada individu dengan pasangan seksual multipel dan riwayat IMS.⁸,¹¹
Dalam dua dekade terakhir, peningkatan kasus terutama dilaporkan pada kelompok men who have sex with men (MSM), khususnya pada individu dengan koinfeksi HIV atau riwayat proktitis.¹⁰,¹¹,¹²
Penularan terjadi melalui kontak seksual genital, anal, atau oral, sehingga manifestasi klinis dapat berupa sindrom inguinal maupun proktokolitis.¹⁰,¹¹
Data epidemiologi nasional di Indonesia masih terbatas. Secara klinis, LGV tetap perlu dipertimbangkan pada pasien dengan ulkus genital sementara, limfadenitis inguinal nyeri, bubo, atau proktitis setelah riwayat pajanan seksual berisiko.⁶,⁸,⁹
Etiologi
Limfogranuloma venereum (LGV) disebabkan oleh bakteri intraseluler obligat Chlamydia trachomatis serovar L1, L2, dan L3.¹⁰,¹¹
Serovar L1–L3 lebih invasif dibandingkan dengan serovar klamidia urogenital non-LGV karena dapat menyebar ke jaringan limfatik regional.²,¹¹
Penularan terutama melalui kontak seksual genital, anal, atau oral dengan mukosa yang terinfeksi.¹⁰,¹¹
Portal masuk dapat melalui mukosa genital, rektum, anus, atau faring, biasanya melalui mikrotrauma saat kontak seksual.¹⁰,¹²
Faktor Risiko
Hubungan seksual tanpa kondom, terutama melalui kontak seksual genital, anal, atau oral dengan pasangan yang terinfeksi.¹⁰,¹¹
Pasangan seksual multipel atau pasangan seksual baru.⁸,¹¹
Riwayat infeksi menular seksual lain, termasuk sifilis, gonore, klamidia non-LGV, dan HIV.¹⁰,¹¹
Men who have sex with men (MSM), terutama bila terdapat riwayat proktitis atau melakukan hubungan seksual anal reseptif.¹⁰,¹¹,¹²
Koinfeksi HIV atau kondisi imunosupresi meningkatkan risiko infeksi persisten dan manifestasi yang lebih berat.¹⁰,¹¹
Riwayat ulkus genital, bubo inguinal, atau proktokolitis setelah pajanan seksual berisiko.⁶,⁸,¹¹
Klasifikasi
Stadium sekunder muncul beberapa hari hingga beberapa minggu setelah lesi primer menghilang, ketika Chlamydia trachomatis serovar L1–L3 menyebar ke saluran dan kelenjar limfe regional.⁶,¹⁰,¹¹
Manifestasi utama adalah limfangitis dan limfadenitis inguinal/femoral yang nyeri, progresif, dan dapat berkembang menjadi bubo.²,⁶
Keluhan sistemik dapat berupa malaise, demam, nyeri kepala, anoreksia, mual, artralgia, dan mialgia.⁶,¹⁰
Kelenjar getah bening dapat saling melekat, kulit di atasnya tampak merah, hangat, nyeri, kemudian mengalami fluktuasi, supurasi, abses, dan fistula.⁶,¹¹
Groove sign dapat muncul akibat pembesaran kelenjar inguinal dan femoral yang dipisahkan oleh ligamentum inguinale, sehingga membentuk cekungan khas di lipat paha.²,⁶,¹⁰
Stadium ini paling sering menyebabkan pasien datang berobat karena nyeri pada lipat paha dan pembesaran kelenjar getah bening.⁶,¹⁰
Bila tidak diterapi, inflamasi dapat berlanjut menjadi abses, sinus, fistula, fibrosis, dan obstruksi limfatik kronik.⁶,¹¹
Predileksi
Regio inguinal dan femoral merupakan lokasi tersering pada sindrom inguinal.⁶,¹⁰
Pada pajanan anal reseptif, manifestasi dapat dominan berupa proktitis/proktokolitis dengan nyeri rektal, tenesmus, sekret rektal, atau perdarahan.¹⁰,¹¹
Efloresensi / Temuan Fisik
Limfadenopati inguinal/femoral nyeri, unilateral atau bilateral.⁶,¹⁰
Bubo berupa pembesaran kelenjar limfe yang besar, nyeri, dapat fluktuatif, supuratif, dan membentuk fistula.⁶,¹¹
Kulit di atas bubo dapat tampak eritematosa, edematosa, hangat, dan terasa nyeri saat ditekan.⁶
Sindrom Genital / Esthiomene
Dapat muncul 2–10 tahun setelah infeksi awal yang tidak ditangani.⁶
Terjadi kerusakan saluran dan kelenjar limfa yang menyebabkan edema kronik, fibrosis, dan elephantiasis genital.⁶,¹⁰
Pada pria, dapat berupa elephantiasis penis dan skrotum.⁶
Pada wanita, dapat berupa elephantiasis vulva dan klitoris.⁶
Bila elephantiasis meluas hingga area genito-anorektal, hal ini dapat disebut sebagai sindrom Jersild dalam literatur lama.⁶
Sindrom Anorektal
Lebih sering ditemukan pada pasien dengan pajanan anorektal atau keterlibatan rektum.¹⁰,¹¹
Manifestasi dapat berupa proktitis, proktokolitis, periproktitis, abses perirektal, fistula rektovaginal atau rektovesikal, serta striktur rektum.⁶,¹¹
Striktur rektum merupakan komplikasi penting karena dapat menyebabkan gangguan defekasi hingga obstruksi.⁶,¹⁰
Efloresensi / Temuan Fisik
Edema kronik, penebalan kulit, fibrosis, deformitas genital, fistula, sinus, abses, atau ulkus kronik.⁶,¹⁰
Pada vulva dapat terbentuk Buchblatt condyloma, yaitu elephantiasis vulva yang terjepit sehingga tampak pipih, berlipat, dan menyerupai kondiloma.⁶
Keterangan klinis penting
Stadium lanjut LGV dapat menyebabkan kerusakan anatomis permanen bila tidak ditangani.⁶,¹⁰
Pada fase ini terapi antibiotik tetap diperlukan untuk eradikasi infeksi, tetapi komplikasi seperti striktur, fistula, abses, atau elephantiasis sering membutuhkan tindakan bedah atau rujukan spesialistik.⁸,¹¹
Pemeriksaan Penunjang
NAAT/PCR (Nucleic Acid Amplification Test/Polymerase Chain Reaction) merupakan pemeriksaan paling spesifik untuk mendeteksi Chlamydia trachomatis dari swab lesi, aspirat bubo, atau sampel rektal. Pemeriksaan ini dapat dilanjutkan dengan genotyping untuk memastikan serovar L1–L3 penyebab LGV.¹⁰,¹¹
Swab rektal atau uretra untuk Chlamydia trachomatis dilakukan sesuai lokasi keluhan. Pada pasien dengan proktitis, sampel rektal lebih bermakna; pada uretritis atau lesi genital, sampel diambil dari uretra atau lesi.¹⁰,¹¹
Aspirasi bubo dapat dilakukan bila terdapat pembesaran kelenjar limfe fluktuatif; sampel digunakan untuk pemeriksaan NAAT/PCR atau kultur, sekaligus membantu mengurangi nyeri dan mencegah ruptur spontan.⁶,¹¹
Serologi klamidia seperti complement fixation test atau micro-immunofluorescence dapat mendukung diagnosis bila NAAT tidak tersedia, tetapi interpretasinya terbatas karena reaktivitas silang dan tidak selalu membedakan infeksi LGV dari klamidia non-LGV.¹⁰,¹²
Pengecatan Giemsa dapat mendeteksi badan inklusi Chlamydia, tetapi sensitivitasnya rendah sehingga tidak menjadi pemeriksaan utama.⁶
Tes Frei dan GPR (Gatte-Papacosta Reaction) merupakan pemeriksaan historis/nonspesifik dan saat ini tidak rutin digunakan karena akurasi rendah serta dapat memberikan hasil positif pada infeksi Chlamydia lain.⁶,¹⁰
Skrining IMS lain seperti HIV, sifilis, gonore, hepatitis B/C, dan klamidia non-LGV dianjurkan karena LGV sering berkaitan dengan pajanan seksual berisiko dan koinfeksi IMS.⁸,¹¹
Diagnosis Banding
| Diagnosis Banding | Perbedaan dengan LGV |
|---|---|
| Herpes genitalis | Ulkus biasanya nyeri, multipel, diawali vesikel berkelompok, dan sering rekuren.¹,² |
| Sifilis primer | Ulkus umumnya tidak nyeri, soliter, induratif, dengan dasar bersih dan limfadenopati tidak nyeri.²,⁶ |
| Ulkus mole (chancroid) | Ulkus nyeri, dasar kotor nekrotik, tepi tidak teratur, dan disertai bubo supuratif akibat Haemophilus ducreyi.²,³ |
| Granuloma inguinale (donovanosis) | Ulkus merah granulomatosa mudah berdarah, progresif, dan biasanya tanpa limfadenopati inguinal nyata.³,⁶ |
| Limfoma | Limfadenopati persisten, keras, umumnya tidak nyeri, tanpa riwayat lesi genital sementara atau pajanan seksual khas IMS.⁶,⁸ |
Penatalaksanaan
Nonfarmakologis
Edukasi bahwa Limfogranuloma venereum (LGV) adalah infeksi menular seksual akibat Chlamydia trachomatis serovar L1–L3 dan dapat menimbulkan komplikasi limfatik/anorektal jika tidak diobati.¹⁰,¹¹
Anjurkan abstinensi seksual sementara sampai terapi selesai, gejala membaik, dan pasangan seksual sudah dievaluasi atau diterapi.¹¹
Lakukan skrining IMS lain, terutama HIV, sifilis, gonore, hepatitis B/C, dan klamidia non-LGV.⁸,¹¹
Evaluasi dan terapi pasangan seksual yang kontak dalam periode risiko, untuk mencegah reinfeksi dan memutus rantai penularan.¹¹
Bila terdapat bubo fluktuatif, lakukan aspirasi jarum bila tersedia; hindari insisi luas yang tidak perlu karena dapat memperberat fistula.⁶,¹¹
Farmakologis
Prinsip terapi: terapi utama LGV adalah antibiotik sistemik untuk eradikasi Chlamydia trachomatis serovar L1–L3, mencegah progresi limfadenitis menjadi abses/fistula, serta mencegah komplikasi kronik berupa striktur, fibrosis, atau elephantiasis.¹⁰,¹¹
| Golongan | Obat / Sediaan | Dosis dan Frekuensi | Farmakodinamik |
|---|---|---|---|
| Tetrasiklin | Doksisiklin tablet/kapsul oral | 100 mg oral 2×/hari selama 21 hari | Terapi utama; menghambat sintesis protein bakteri melalui ikatan pada subunit ribosom 30S. Kontraindikasi relatif pada kehamilan, menyusui, dan anak kecil.¹¹ |
| Makrolida | Eritromisin oral | 500 mg oral 4×/hari selama 21 hari | Alternatif pada kehamilan atau kontraindikasi doksisiklin; menghambat sintesis protein melalui subunit ribosom 50S.¹¹ |
| Makrolida | Azitromisin oral | 1 g oral 1×/minggu selama 3 minggu | Alternatif; regimen lebih praktis, tetapi data efektivitas lebih terbatas dibanding doksisiklin.¹¹,¹² |
Terapi Pembedahan
Aspirasi bubo dilakukan pada kelenjar limfe yang fluktuatif untuk mengurangi nyeri, mencegah ruptur spontan, dan mendapatkan sampel pemeriksaan.⁶,¹¹
Drainase abses perianal atau perirektal dilakukan bila terbentuk abses yang jelas.⁶,¹¹
Dilatasi bougie dapat dipertimbangkan pada striktur rektum; bila terjadi obstruksi total atau berat, dapat diperlukan kolostomi.⁶
Vulvektomi/labiektomi dapat dipertimbangkan pada elephantiasis labia yang berat.⁶
Operasi plastik/rekonstruksi dapat diperlukan pada elephantiasis penis dan skrotum atau pada deformitas genital kronik.⁶
Komplikasi
Bubo supuratif dapat terjadi akibat limfadenitis berat yang berkembang menjadi abses, fluktuasi, ruptur spontan, serta pembentukan sinus atau fistula.⁶,¹⁰
Fibrosis dan obstruksi limfatik kronik menyebabkan gangguan drainase limfe sehingga timbul edema menetap dan deformitas jaringan.⁶,¹¹
Elephantiasis genital dapat mengenai penis, skrotum, vulva, atau klitoris akibat inflamasi dan fibrosis limfatik kronik yang tidak ditangani.⁶,¹⁰
Proktitis dan proktokolitis kronik dapat berkembang menjadi striktur rektum, abses perirektal, fistula rektovaginal/rektovesikal, hingga obstruksi anorektal.⁶,¹¹
Sindrom esthiomene merupakan deformitas genital destruktif akibat edema kronik dan fibrosis berat pada stadium lanjut LGV.⁶
Infeksi sekunder dapat muncul pada lesi ulseratif, fistula, atau abses kronik sehingga memperberat kerusakan jaringan lokal.⁶,⁸
Keterlambatan diagnosis dan terapi dapat menyebabkan kerusakan anatomis permanen dan gangguan fungsi genitourinaria maupun anorektal.¹⁰,¹¹
Prognosis
Ad vitam (terhadap kehidupan): bonam, bila diagnosis dan terapi antibiotik diberikan dini sebelum terjadi komplikasi limfatik atau anorektal yang berat.¹⁰,¹¹
Ad functionam (terhadap fungsi organ): dubia ad bonam, karena pada kasus lanjut dapat terjadi striktur rektum, fistula, edema kronik, atau elephantiasis yang menyebabkan gangguan fungsi genitourinaria dan anorektal.⁶,¹⁰
Ad sanationam (terhadap kesembuhan): dubia ad bonam, karena infeksi umumnya respons baik terhadap terapi antibiotik adekuat, tetapi keterlambatan diagnosis dapat menyebabkan fibrosis dan deformitas permanen meskipun infeksi sudah tereradikasi.⁶,¹¹
Edukasi
Jelaskan bahwa Limfogranuloma venereum (LGV) merupakan infeksi menular seksual akibat Chlamydia trachomatis serovar L1–L3 yang dapat menyebabkan komplikasi limfatik dan anorektal bila tidak diterapi.¹⁰,¹¹
Pasien harus menghabiskan antibiotik sesuai durasi terapi meskipun gejala sudah membaik untuk mencegah kekambuhan dan komplikasi kronik.¹¹
Anjurkan untuk menghindari hubungan seksual sementara sampai terapi selesai dan pasangan seksual sudah dievaluasi atau diterapi.¹¹
Edukasi penggunaan kondom untuk menurunkan risiko penularan LGV dan IMS lain.¹⁰,¹¹
Sarankan skrining pasangan seksual dan pemeriksaan IMS lain seperti HIV, sifilis, gonore, dan hepatitis.⁸,¹¹
Jelaskan tanda bahaya seperti bubo membesar, nyeri hebat, fistula, sekret rektal, perdarahan rektal, konstipasi berat, atau edema genital progresif yang memerlukan evaluasi segera.⁶,¹¹
Tekankan pentingnya kontrol ulang untuk menilai respons terapi dan mendeteksi komplikasi atau reinfeksi.¹¹
Kriteria Rujukan
Terdapat bubo besar, fluktuatif, supuratif, atau fistula yang memerlukan tindakan bedah atau drainase spesialistik.⁶,¹¹
Dicurigai proktitis/proktokolitis berat, striktur rektum, abses perirektal, atau obstruksi anorektal.⁶,¹⁰
Terjadi elephantiasis genital, edema kronik berat, atau deformitas genital akibat fibrosis limfatik.⁶
Pasien dengan nyeri anorektal berat, perdarahan rektal, sekret rektal persisten, atau konstipasi progresif.¹⁰,¹¹
Tidak membaik atau memburuk setelah terapi antibiotik yang adekuat.¹¹
Membutuhkan pemeriksaan lanjutan seperti NAAT/PCR spesifik LGV, biopsi, atau evaluasi multidisiplin.¹⁰,¹¹
Pasien dengan HIV/imunosupresi berat atau kecurigaan koinfeksi IMS kompleks yang memerlukan tata laksana spesialistik.⁸,¹¹
Flashcard 1
Q: Apa penyebab utama Limfogranuloma venereum (LGV)?
A: Chlamydia trachomatis serovar L1, L2, dan L3.
Flashcard 2
Q: Manifestasi khas stadium sekunder LGV?
A: Limfadenitis inguinal/femoral nyeri yang dapat berkembang menjadi bubo supuratif dan fistula.
Flashcard 3
Q: Apa yang dimaksud dengan groove sign pada LGV?
A: Cekungan di lipat paha akibat pembesaran kelenjar inguinal dan femoral yang dipisahkan oleh ligamentum inguinale.
Flashcard 4
Q: Pemeriksaan penunjang utama untuk menegakkan diagnosis LGV?
A: NAAT/PCR *Chlamydia trachomatis* dari lesi, aspirat bubo, atau swab rektal/uretra.
Flashcard 5
Q: Terapi lini pertama LGV?
A: Doksisiklin 100 mg oral 2×/hari selama 21 hari.
Soal 1
Pria 28 tahun datang dengan benjolan nyeri di lipat paha kanan. Dua minggu sebelumnya terdapat luka kecil di penis yang hilang sendiri. Pemeriksaan menunjukkan limfadenitis inguinal nyeri dengan cekungan di lipat paha. Diagnosis paling mungkin adalah?
A. Sifilis primer
B. Herpes genitalis
C. Limfogranuloma venereum
D. Ulkus mole
E. Granuloma inguinale
Jawaban: C. Limfogranuloma venereum
Pembahasan: Riwayat lesi genital sementara, limfadenitis inguinal nyeri, dan groove sign khas untuk LGV.
Soal 2
Agen penyebab Limfogranuloma venereum adalah?
A. Treponema pallidum
B. Haemophilus ducreyi
C. Klebsiella granulomatis
D. Chlamydia trachomatis serovar L1–L3
E. Herpes simplex virus tipe 2
Jawaban: D. Chlamydia trachomatis serovar L1–L3
Pembahasan: LGV disebabkan oleh Chlamydia trachomatis serovar L1, L2, dan L3.
Soal 3
Terapi lini pertama LGV adalah?
A. Benzathine penicillin G dosis tunggal
B. Acyclovir 400 mg 3 kali sehari 7 hari
C. Doksisiklin 100 mg 2 kali sehari 21 hari
D. Ceftriaxone 500 mg IM dosis tunggal
E. Azitromisin 1 gram dosis tunggal
Jawaban: C. Doksisiklin 100 mg 2 kali sehari 21 hari
Pembahasan: Terapi utama LGV adalah doksisiklin 100 mg oral 2×/hari selama 21 hari.
Soal 4
Komplikasi lanjut LGV yang paling khas adalah?
A. Aneurisma aorta
B. Elephantiasis genital
C. Neuralgia pascaherpetik
D. Vegetasi kembang kol
E. Chancre tidak nyeri
Jawaban: B. Elephantiasis genital
Pembahasan: LGV lanjut dapat menyebabkan fibrosis limfatik, edema kronik, striktur rektum, fistula, dan elephantiasis genital.
Soal 5
Pemeriksaan paling spesifik untuk diagnosis LGV adalah?
A. Tes Tzanck
B. VDRL
C. NAAT/PCR Chlamydia trachomatis
D. Pewarnaan Gram diplokokus
E. KOH 10%
Jawaban: C. NAAT/PCR *Chlamydia trachomatis*
Pembahasan: Pemeriksaan terbaik adalah NAAT/PCR dari lesi, aspirat bubo, atau swab rektal/uretra.
