Sifilis [3A & 4].

Sifilis [3A & 4].


Nama Lain : Lues, Lues venerea, Raja singa, The great imitator, The great masquerader, Venereal syphilis.


Definisi

Sifilis adalah infeksi menular seksual sistemik akibat bakteri spiroketa Treponema pallidum dengan perjalanan penyakit kronis, progresif, dan dapat mengenai kulit, mukosa, sistem saraf, serta organ tubuh lainnya. ¹,²


Epidemiologi

Sifilis masih menjadi IMS penting secara global. WHO memperkirakan terdapat sekitar 8 juta infeksi sifilis baru pada usia 15–49 tahun pada tahun 2022

Sebagian kasus asimtomatik atau tidak dikenali, sehingga penularan dapat berlanjut tanpa deteksi dini.¹

Kelompok berisiko lebih tinggi meliputi usia seksual aktif, individu dengan pasangan seksual multipel, hubungan seksual tanpa kondom, riwayat IMS lain, dan kelompok populasi kunci.¹

Di Indonesia, Kemenkes mencatat 23.347 kasus sifilis pada tahun 2024, dengan mayoritas berupa sifilis dini sebanyak 19.904 kasus dan 77 kasus sifilis kongenital

Sifilis pada kehamilan penting karena dapat menyebabkan transmisi ibu ke bayi dan luaran janin yang buruk bila tidak diobati secara adekuat.¹,²


Etiologi

Sifilis disebabkan oleh bakteri spiroketa Treponema pallidum subsp. pallidum.¹,²

Penularan terutama melalui kontak seksual langsung dengan lesi infeksius pada kulit atau mukosa.¹,²

Penularan juga dapat terjadi secara transplasenta dari ibu ke janin dan menyebabkan sifilis kongenital.²,³


Faktor Risiko

Hubungan seksual tanpa kondom, terutama dengan pasangan yang status IMS-nya tidak diketahui.¹,²

Pasangan seksual multipel atau sering berganti pasangan.¹,²

Riwayat IMS sebelumnya atau IMS yang terjadi bersamaan, termasuk HIV, karena perilaku seksual berisiko dan kerusakan mukosa meningkatkan peluang transmisi.²,³

Kontak seksual dengan penderita sifilis aktif, terutama pada fase primer dan sekunder yang sangat infeksius.¹,²

Kehamilan dengan sifilis yang tidak terdiagnosis atau tidak diterapi, karena berisiko menyebabkan transmisi transplasenta ke janin.²,³


Klasifikasi

Berdasarkan perjalanan klinis: terdiri dari sifilis primer, sekunder, laten, dan tersier. Pembagian ini menggambarkan progresivitas penyakit, mulai dari lesi inokulasi awal hingga komplikasi organ lanjut.²,³

Berdasarkan durasi laten: terdiri dari laten dini dan laten lanjut/tidak diketahui durasinya. Klasifikasi ini penting karena menentukan regimen dan durasi terapi antibiotik.³,¹¹

Berdasarkan keterlibatan organ: mencakup neurosifilis, sifilis kardiovaskular, dan guma. Klasifikasi ini menunjukkan adanya penyulit akibat inflamasi kronis dan invasi organ oleh Treponema pallidum.²,³,⁵

Berdasarkan cara penularan: terdiri dari sifilis akuisita yang diperoleh setelah lahir, terutama melalui kontak seksual, dan sifilis kongenital yang ditularkan secara transplasenta dari ibu ke janin.²,³,¹¹


Stadium



Pemeriksaan Penunjang

VDRL/RPR (Venereal Disease Research Laboratory) / RPR (Rapid Plasma Reagin): uji nontreponemal : uji nontreponemal untuk skrining, menilai aktivitas penyakit, dan pemantauan terapi melalui titer; penurunan ≥4 kali menandakan respons adekuat, sedangkan titer menetap/meningkat mengarah ke reinfeksi atau kegagalan terapi.⁷,¹¹

TPHA/TPPA/FTA-ABS Treponema pallidum Hemagglutination Assay) / TPPA (Treponema pallidum Particle Agglutination) / FTA-ABS (Fluorescent Treponemal Antibody Absorption): uji treponemal untuk konfirmasi diagnosis; hasil dapat tetap positif jangka panjang sehingga kurang sesuai untuk pemantauan terapi.²,⁸

Pemeriksaan CSF: dilakukan bila curiga neurosifilis; dapat ditemukan pleositosis, protein meningkat, atau VDRL-CSF reaktif.²,⁷,¹¹

Skrining IMS lain dan kehamilan: meliputi HIV, hepatitis, gonore, klamidia, serta serologi sifilis pada ibu hamil untuk mencegah sifilis kongenital.⁵,⁷,¹¹


Diagnosis Banding

Diagnosis BandingPerbedaan dengan Sifilis
Herpes genitalisUlkus biasanya nyeri, multipel, diawali vesikel, dan sering rekuren.²,³
Ulkus mole (chancroid)Ulkus nyeri, dasar kotor nekrotik, tepi tidak teratur, sering disertai bubo supuratif.²,³
Lymphogranuloma venereum (LGV)Ulkus awal kecil dan sering tidak disadari, kemudian muncul limfadenopati inguinal nyeri.³,⁴
Granuloma inguinale (donovanosis)Ulkus merah granulomatosa mudah berdarah, progresif, tanpa indurasi khas sifilis.³,⁴
Behçet diseaseUlkus genital rekuren disertai ulkus oral dan manifestasi sistemik autoimun.²,⁴

Penatalaksanaan

Nonfarmakologis

Edukasi mengenai infeksi menular seksual (IMS) dan cara penularannya.²,¹¹.

Anjurkan abstinensi seksual sementara hingga terapi selesai dan lesi sembuh.¹¹.

Lakukan skrining dan evaluasi pasangan seksual.¹¹.

Edukasi penggunaan kondom dan perilaku seksual yang aman untuk mencegah reinfeksi.²,¹¹.

Lakukan skrining IMS lain, terutama HIV, hepatitis B/C, gonore, dan klamidia.⁷,¹¹.


Farmakologis

Prinsip Terapi Farmakologis

Penisilin lini utama untuk eradikasi Treponema pallidum.¹¹

Regimen disesuaikan dengan stadium sifilis.¹¹

Tujuan terapi: eradikasi bakteri, mencegah progresivitas, komplikasi, dan transmisi.¹¹

Evaluasi dilakukan secara klinis dan serologis dengan titer VDRL/RPR.¹¹

Pasangan seksual perlu dievaluasi dan diterapi untuk mencegah reinfeksi.¹¹

Sifilis Primer, Sekunder, dan Laten Dini

Obat dan SediaanDosis dan FrekuensiFarmakodinamik
Benzathine Penicillin G injeksi IM 2,4 juta IU/vial2,4 juta IU IM dosis tunggalAntibiotik beta-laktam yang menghambat sintesis dinding sel Treponema pallidum sehingga bersifat bakterisidal.¹¹

Sifilis Laten Lanjut / Durasi Tidak Diketahui

Obat dan SediaanDosis dan FrekuensiFarmakodinamik
Benzathine Penicillin G injeksi IM 2,4 juta IU/vial2,4 juta IU IM tiap minggu selama 3 mingguMemberikan kadar penisilin jangka panjang untuk eradikasi spiroketa persisten pada infeksi kronik.¹¹

Sifilis Tersier Non-Neurosifilis

Obat dan SediaanDosis dan FrekuensiFarmakodinamik
Benzathine Penicillin G injeksi IM 2,4 juta IU/vial2,4 juta IU IM tiap minggu selama 3 mingguBersifat bakterisidal terhadap T. pallidum dengan pelepasan lambat dan durasi kerja panjang.¹¹

Neurosifilis

Obat dan SediaanDosis dan FrekuensiFarmakodinamik
Aqueous Crystalline Penicillin G injeksi IV 1–5 juta IU/vial18–24 juta IU/hari IV, dibagi tiap 4 jam selama 10–14 hariMemiliki penetrasi baik ke CSS/CSF, efektif untuk eradikasi bakteri di sistem saraf pusat.¹¹

Alergi Penisilin

Obat dan SediaanDosis dan FrekuensiFarmakodinamik
Doksisiklin tablet/kapsul 100 mg100 mg oral 2×/hari selama 14 hari (sifilis dini) atau 28 hari (laten lanjut/tersier).Antibiotik golongan tetrasiklin yang menghambat sintesis protein bakteri melalui ikatan pada subunit ribosom 30S.¹¹

Kehamilan dengan Sifilis

Obat dan SediaanDosis dan FrekuensiFarmakodinamik
Benzathine Penicillin G injeksi IM 2,4 juta IU/vialSesuai stadium penyakit; pasien alergi memerlukan desensitisasi penisilin.Satu-satunya terapi yang terbukti efektif mencegah transmisi transplasenta dan sifilis kongenital.¹¹

Monitoring terapi

Evaluasi dilakukan dengan pemantauan titer VDRL/RPR secara serial pada bulan ke-3, 6, 9, 12, 18, dan 24.¹¹

Respons terapi yang adekuat ditandai dengan penurunan titer ≥4 kali dari titer awal.¹¹

Titer yang menetap atau meningkat dapat mengarah pada reinfeksi, kegagalan terapi, kegagalan pengobatan, atau neurosifilis.¹¹


Kriteria Sembuh

Respons terapi yang adekuat ditandai dengan penurunan titer VDRL atau RPR ≥4 kali lipat dalam sekitar 6 bulan setelah pengobatan pada sifilis dini.¹¹

Pada sifilis laten lanjut atau sifilis tersier, penurunan titer dapat terjadi lebih lambat. Evaluasi dilakukan hingga 12-24 bulan.¹¹


Reaksi Jarisch-Herxheimer

Reaksi akut akibat lisis spiroketa setelah terapi antibiotik. Reaksi ini biasanya muncul dalam 24 jam pertama.²,³

Gejala meliputi demam, menggigil, malaise, nyeri kepala, dan eksaserbasi sementara lesi kulit.²,³

Tata laksana bersifat suportif dengan antipiretik seperti parasetamol.¹¹


Komplikasi

Neurosifilis: invasi Treponema pallidum ke sistem saraf pusat yang dapat menyebabkan meningitis, stroke meningovaskular, gangguan kognitif, tabes dorsalis, hingga demensia progresif bila tidak diterapi.²,³

Sifilis kardiovaskular: inflamasi kronik pada vasa vasorum aorta dapat menyebabkan aortitis sifilitika, aneurisma aorta, insufisiensi katup aorta, dan gagal jantung.²,³

Guma sifilitika: granuloma destruktif kronik pada kulit, mukosa, tulang, atau organ viseral yang dapat mengalami ulserasi dan menimbulkan kerusakan jaringan permanen.³,⁵

Sifilis kongenital: transmisi transplasenta dari ibu ke janin yang dapat menyebabkan abortus, lahir mati, prematuritas, deformitas tulang, gangguan neurologis, hingga kematian neonatal.²,¹¹

Infeksi HIV dan IMS lain: ulkus sifilis meningkatkan risiko transmisi dan akuisisi HIV karena kerusakan sawar mukosa serta tingginya infiltrasi sel inflamasi pada lesi.²,⁷

Jaringan parut dan destruksi organ: pada sifilis lanjut dapat terjadi fibrosis, deformitas, dan gangguan fungsi organ akibat inflamasi kronik yang berkepanjangan.³,⁶


Prognosis

Ad vitam (terhadap kehidupan): bonam, bila diagnosis ditegakkan dini dan terapi antibiotik diberikan secara adekuat sebelum terjadi keterlibatan organ vital.^²,¹¹

Ad functionam (terhadap fungsi organ): dubia ad bonam, karena pada sifilis dini fungsi organ umumnya dapat pulih dengan baik, tetapi pada neurosifilis atau sifilis kardiovaskular dapat terjadi kerusakan permanen.^²,³

Ad sanationam (terhadap kesembuhan): dubia ad bonam, karena eradikasi bakteri umumnya dapat dicapai dengan terapi yang tepat, tetapi hasil serologi treponemal dapat tetap positif dalam jangka panjang dan reinfeksi masih dapat terjadi bila faktor risiko tidak dikendalikan.^²,¹¹


Edukasi

Jelaskan bahwa sifilis merupakan infeksi menular seksual yang dapat menular melalui hubungan seksual serta dari ibu ke janin.²,¹¹

Anjurkan kepatuhan terhadap terapi antibiotik sesuai regimen yang diberikan, meskipun gejala sudah membaik.¹¹

Anjurkan pasien tidak melakukan hubungan seksual sementara hingga terapi selesai dan dinyatakan aman, untuk mencegah penularan ulang.¹¹

Edukasi penggunaan kondom serta praktik seksual yang aman untuk menurunkan risiko reinfeksi dan IMS lain.²,¹¹

Tekankan pentingnya skrining dan pengobatan pasangan seksual agar rantai penularan terputus.¹¹

Jelaskan perlunya kontrol dan pemeriksaan titer VDRL/RPR secara serial untuk menilai keberhasilan terapi.¹¹

Pada ibu hamil, jelaskan bahwa terapi yang adekuat penting karena sifilis dapat menyebabkan sifilis kongenital serta komplikasi janin yang berat.²,¹¹


Kriteria Rujukan

Neurosifilis atau kecurigaan keterlibatan sistem saraf pusat, seperti kejang, gangguan sensorik-motorik, stroke, gangguan kognitif, atau tabes dorsalis.²,¹¹

Sifilis kardiovaskular, termasuk aneurisma aorta, insufisiensi katup aorta, atau tanda gagal jantung.²,³

Sifilis pada kehamilan, terutama bila diperlukan evaluasi obstetri lanjutan atau desensitisasi penisilin pada alergi penisilin.¹¹

Kegagalan terapi, ditandai dengan titer VDRL/RPR yang tidak menurun secara adekuat, menetap tinggi, atau meningkat kembali setelah terapi.¹¹

Kecurigaan sifilis kongenital pada neonatus atau bayi dari ibu dengan sifilis.²,¹¹

Lesi destruktif luas, guma berat, atau keterlibatan organ viseral yang memerlukan evaluasi multidisiplin.³,⁵

Pasien dengan HIV atau imunokompromais berat, atau komplikasi IMS lain yang memerlukan tata laksana spesialistik.⁷,¹¹