Flashcard Lesi Saraf Kranial dan Batang Otak

Flashcard Lesi Saraf Kranial dan Batang Otak

Definisi

Q: Apa definisi Bell’s palsy?

A: Bell’s palsy adalah paralisis perifer akut saraf fasialis (N. VII) yang bersifat idiopatik dan menyebabkan kelemahan otot wajah unilateral.¹


Etiologi (HSV-1)

Q: Apa penyebab paling sering Bell’s palsy?

A: Reaktivasi virus herpes simpleks tipe 1 (HSV‑1) pada ganglion genikulatum yang memicu inflamasi saraf fasialis.¹,⁴


Gejala Klinis Utama

Q: Apa gejala klinis utama Bell’s palsy?

A: Kelemahan wajah unilateral dengan deviasi sudut mulut, hilangnya lipatan nasolabial, dan ketidakmampuan menutup mata pada sisi yang terkena.³,⁴


Diagnosis Banding: Bell’s Palsy vs Stroke

Q: Bagaimana membedakan Bell’s palsy dengan stroke pada pemeriksaan wajah?

A: Pada Bell’s palsy dahi ikut lumpuh (tidak dapat mengangkat alis), sedangkan pada stroke fungsi dahi masih relatif terjaga karena persarafan bilateral kortikobulbar.³,⁴


Tanda Khas: Bell’s Phenomenon

Q: Apa tanda khas yang sering ditemukan saat pasien mencoba menutup mata pada Bell’s palsy?

A: Bell’s phenomenon yaitu bola mata bergerak ke atas saat pasien mencoba menutup mata.⁴,⁷


Terapi Lini Pertama

Q: Apa terapi lini pertama Bell’s palsy?

A: Kortikosteroid oral (misalnya prednison) yang diberikan dalam 72 jam pertama untuk mengurangi inflamasi saraf fasialis.¹,³


Patofisiologi Hiperkakusis

Q: Mengapa pasien Bell’s palsy dapat mengalami hiperkakusis?

A: Karena paralisis otot stapedius yang diinervasi oleh saraf fasialis sehingga sensitivitas terhadap suara meningkat.³,⁴


Pemeriksaan Penunjang (EMG & NCS)

Q: Pemeriksaan apa yang dapat digunakan untuk menilai derajat kerusakan saraf pada Bell’s palsy?

A: Elektromiografi (EMG) dan nerve conduction study pada saraf fasialis.³,⁶


Komplikasi: Keratitis Eksposur

Q: Apa komplikasi yang paling sering terjadi bila mata tidak terlindungi pada Bell’s palsy?

A: Keratitis eksposur akibat ketidakmampuan menutup mata secara sempurna.³,⁴


Prognosis

Q: Bagaimana prognosis Bell’s palsy secara umum?

A: Sekitar 70–85% pasien mengalami pemulihan sempurna dalam 3–6 bulan.¹,³,⁴


Klasifikasi: House–Brackmann

Q: Apa sistem klasifikasi yang digunakan untuk menilai derajat kelumpuhan wajah pada Bell’s palsy?

A: Skala House–Brackmann yang menilai derajat disfungsi saraf fasialis dari I hingga VI.³,⁴


Faktor Risiko

Q: Faktor risiko apa yang sering berhubungan dengan Bell’s palsy?

A: Diabetes mellitus, hipertensi, kehamilan trimester ketiga, dan infeksi virus sebelumnya.¹,²,⁴


Gangguan Pengecapan (Chorda Tympani)

Q: Mengapa pasien Bell’s palsy dapat mengalami gangguan pengecapan?

A: Karena keterlibatan cabang chorda tympani yang membawa sensasi pengecapan dari dua pertiga anterior lidah.⁴,⁶


Tujuan Terapi Non‑Farmakologis

Q: Apa tujuan utama terapi non‑farmakologis pada Bell’s palsy?

A: Melindungi kornea dari kerusakan dan mempertahankan fungsi otot wajah selama proses regenerasi saraf.³,⁴


Kriteria Rujukan

Q: Kapan pasien Bell’s palsy perlu dirujuk ke spesialis?

A: Bila tidak ada perbaikan setelah 3 bulan, terdapat defisit neurologis lain, atau paralisis wajah bersifat progresif.³,⁴