
Trigeminal Neuralgia [3A].
Nama Lain : Tic douloureux
Definisi
⭐ Trigeminal neuralgia adalah gangguan nyeri neuropatik kronis pada distribusi satu atau lebih cabang saraf trigeminus yang ditandai dengan serangan nyeri wajah unilateral yang sangat tajam, singkat, dan berulang akibat iritasi atau kompresi saraf trigeminus (N V).¹

Anatomi, Histologi, dan Fisiologi Nervus Trigeminus


Epidemiologi
Insidensi sekitar 4–13 kasus per 100.000 populasi per tahun.
Lebih sering terjadi pada usia di atas 50 tahun.
Wanita sedikit lebih sering dibandingkan pria.
Cabang saraf yang paling sering terkena adalah V2 (maksilaris) dan V3 (mandibularis).
Sebagian besar kasus merupakan trigeminal neuralgia klasik akibat kompresi vaskular.¹,²,⁴
Etiologi
Kompresi vaskular pada akar saraf trigeminus, paling sering oleh arteri serebelar superior.
Demyelinisasi saraf seperti pada multiple sclerosis.
Lesi struktural intrakranial, misalnya tumor fossa posterior atau schwannoma.
Trauma atau prosedur bedah kraniofasial.
Idiopatik, bila tidak ditemukan penyebab yang jelas pada pemeriksaan pencitraan.¹,²,⁴,⁷,⁸
Faktor Risiko
Usia lanjut, yang berhubungan dengan perubahan vaskular pada fossa posterior.
Hipertensi yang dapat berkontribusi terhadap perubahan vaskular.
Multiple sclerosis, terutama pada pasien usia muda dengan neuralgia trigeminal.
Kelainan vaskular intrakranial yang menyebabkan kompresi saraf.
Riwayat trauma wajah atau operasi kraniofasial.¹,²,⁴,⁷,⁸
Klasifikasi
Berdasarkan Etiologi
Trigeminal neuralgia klasik: disebabkan oleh kompresi vaskular pada root entry zone saraf trigeminus.
Trigeminal neuralgia sekunder: disebabkan oleh penyakit lain seperti multiple sclerosis atau tumor intrakranial.
Trigeminal neuralgia idiopatik: tidak ditemukan penyebab yang jelas pada pemeriksaan pencitraan.¹,²,⁵,⁸
Berdasarkan Distribusi Saraf
V1 (oftalmikus) – nyeri pada dahi dan daerah orbital.
V2 (maksilaris) – nyeri pada pipi dan rahang atas.
V3 (mandibularis) – nyeri pada rahang bawah dan dagu.¹,⁴
Patofisiologi
Kompresi vaskular kronis pada root entry zone (REZ) saraf trigeminus, paling sering oleh arteri serebelar superior.
Tekanan kronis ini menyebabkan demielinisasi fokal pada serabut saraf trigeminus.
Demielinisasi menimbulkan hipereksitabilitas neuron serta gangguan konduksi impuls.
Terjadi ephaptic transmission, yaitu aktivasi silang antars erabut saraf.
Rangsangan ringan pada trigger zone memicu discharge listrik abnormal yang menimbulkan nyeri paroksismal seperti sengatan listrik.
Pada trigeminal neuralgia sekunder, mekanisme serupa dapat terjadi akibat multiple sclerosis atau tumor fossa posterior.¹,²
Anamnesis
Nyeri wajah unilateral sangat tajam seperti sengatan listrik, berlangsung beberapa detik hingga menit.
Serangan nyeri berulang secara paroksismal dengan periode bebas nyeri.
Dipicu oleh stimulus ringan seperti menyentuh wajah, berbicara, mengunyah, atau menyikat gigi.
Lokasi nyeri sesuai distribusi saraf trigeminus.
Adanya trigger zone pada area wajah yang dapat memicu serangan nyeri. Trigger zone adalah area kecil pada wajah—terutama di pipi, lipatan nasolabial, bibir, gusi, atau dagu—yang bila terkena rangsangan ringan seperti sentuhan, mengunyah, berbicara, mencuci wajah, atau menyikat gigi dapat memicu nyeri paroksismal pada trigeminal neuralgia.¹,²,⁴,⁹
Pemeriksaan Fisik
Pada trigeminal neuralgia klasik biasanya tidak ditemukan kelainan neurologis.
Pasien sering menghindari sentuhan pada wajah karena dapat memicu nyeri.
Bila ditemukan defisit sensorik wajah, perlu dipertimbangkan penyebab sekunder.¹,²,⁴
Pemeriksaan Neurologis
Evaluasi sensasi wajah pada distribusi V1, V2, dan V3.
Pemeriksaan refleks kornea untuk menilai fungsi saraf trigeminus dan fasialis.
Penilaian fungsi motorik otot mastikasi yang diinervasi oleh cabang mandibularis.
Defisit neurologis tambahan dapat mengarah pada etiologi sekunder seperti tumor atau multiple sclerosis.¹,²,³,⁴
Pemeriksaan Penunjang
MRI otak untuk menilai adanya kompresi vaskular, tumor, atau multiple sclerosis.
Magnetic Resonance Angiography (MRA) untuk visualisasi pembuluh darah yang menekan saraf trigeminus.
CT scan kepala dapat digunakan bila dicurigai kelainan tulang atau massa intrakranial.¹,²,⁴,⁹
Diagnosis Banding
| Diagnosis | Perbedaan dengan Trigeminal Neuralgia |
|---|---|
| Cluster headache | Nyeri orbital sangat berat berlangsung 15–180 menit dan disertai gejala otonom seperti lakrimasi, kongesti hidung, atau ptosis. |
| Migraine | Nyeri kepala berdenyut, berlangsung jam hingga hari, sering disertai mual, fotofobia, dan fonofobia. |
| Postherpetic neuralgia | Nyeri neuropatik kronis dengan riwayat herpes zoster dan ruam dermatomal sebelumnya. |
| Sinusitis | Nyeri wajah disertai kongesti hidung, sekret purulen, dan nyeri tekan sinus. |
| Temporomandibular disorder | Nyeri wajah berhubungan dengan gerakan sendi temporomandibular dan gangguan mengunyah. |
| Glossopharyngeal neuralgia | Nyeri tajam pada tenggorokan, tonsil, atau telinga, dipicu oleh menelan atau berbicara. |
| Dental pain (pulpitis) | Nyeri lokal pada gigi tertentu, biasanya konstan dan diperburuk oleh rangsang panas atau dingin. |
Penatalaksanaan
Non Farmakologis
Edukasi pasien mengenai kondisi ini dan kemungkinan pemicu nyeri (trigger).
Menghindari stimulus pada trigger zone, seperti menyentuh wajah, mengunyah keras, atau menyikat gigi terlalu kuat.
Modifikasi pola makan, misalnya memilih makanan lunak untuk mengurangi nyeri saat mengunyah.
Menjaga kebersihan mulut dan wajah secara hati-hati untuk mencegah rangsangan berlebihan.
Dukungan psikologis, karena nyeri kronis dapat memicu kecemasan dan depresi.¹,²
Farmakologis
Mengontrol nyeri dan menurunkan frekuensi serangan.
Menstabilkan eksitabilitas saraf trigeminus dengan terapi obat.
Menghindari trigger yang memicu nyeri.
Pada kasus refrakter, dipertimbangkan tindakan intervensi atau pembedahan.¹,²
| Golongan Obat | Obat dan Sediaan | Dosis dan Frekuensi | Farmakodinamik |
|---|---|---|---|
| Antikonvulsan (lini pertama) | Carbamazepine tablet | Awal 100–200 mg 2x/hari, titrasi hingga 400–1200 mg/hari | Blok kanal natrium sehingga menurunkan eksitabilitas neuron trigeminal. |
| Antikonvulsan (alternatif lini pertama) | Oxcarbazepine tablet | 300 mg 2x/hari, dapat ditingkatkan hingga 900–1800 mg/hari | Menstabilkan membran neuron melalui blok kanal natrium. |
| Antikonvulsan tambahan | Gabapentin kapsul/tablet | 300 mg/hari, ditingkatkan bertahap hingga 900–3600 mg/hari | Menghambat kanal kalsium presinaptik sehingga menurunkan pelepasan neurotransmiter eksitatorik. |
| Antikonvulsan tambahan | Pregabalin kapsul | 75 mg 2x/hari, dapat ditingkatkan hingga 150–300 mg 2x/hari | Berikatan dengan subunit α2δ kanal kalsium, menurunkan pelepasan neurotransmiter eksitatorik. |
| Antikonvulsan tambahan | Phenytoin tablet/injeksi | 100 mg 2–3x/hari, dosis maksimum 300–400 mg/hari | Blok kanal natrium sehingga menghambat depolarisasi neuron berulang. |
| GABA agonist | Baclofen tablet | 5 mg 3x/hari, dapat ditingkatkan hingga 30–75 mg/hari | Agonis reseptor GABA-B yang menghambat transmisi sinaptik pada jalur nyeri. |
| Antikonvulsan alternatif | Lamotrigine tablet | Awal 25 mg/hari, titrasi hingga 200–400 mg/hari | Menghambat pelepasan glutamat dan kanal natrium. |
Operatif
Radiofrequency rhizotomy untuk destruksi selektif serabut saraf trigeminus.
Gamma knife radiosurgery pada kasus yang tidak respons terhadap terapi farmakologis.¹,²,⁵,⁹
Komplikasi
Malnutrisi, akibat nyeri saat makan sehingga pasien menghindari makanan.
Gangguan psikologis, seperti depresi dan kecemasan akibat nyeri kronis.
Disabilitas fungsional, karena nyeri berat yang berulang dan mengganggu aktivitas sehari-hari.
Efek samping obat, terutama dari carbamazepine seperti pusing, sedasi, atau gangguan hematologis.¹,²
Prognosis
Ad vitam (kelangsungan hidup): bonam, karena trigeminal neuralgia tidak secara langsung mengancam jiwa.
Ad functionam (fungsi): dubia ad bonam, karena nyeri berulang dapat mengganggu aktivitas makan dan kualitas hidup, tetapi umumnya membaik dengan terapi.
Ad sanationam (kesembuhan penyakit): dubia, karena penyakit dapat bersifat kronis dan kambuh, meskipun sebagian pasien dapat mengalami remisi dengan terapi atau tindakan bedah.¹,²
Edukasi
Menjelaskan bahwa trigeminal neuralgia merupakan penyebab nyeri wajah neuropatik yang dapat dikontrol dengan terapi obat.
Menekankan kepatuhan minum obat untuk mengurangi frekuensi dan intensitas serangan nyeri.
Menganjurkan pasien untuk menghindari pemicu nyeri (trigger), seperti sentuhan pada wajah, mengunyah keras, berbicara berlebihan, atau menyikat gigi terlalu kuat.
Menganjurkan makanan lunak bila nyeri muncul saat mengunyah.
Menganjurkan pasien untuk segera kontrol atau dirujuk ke dokter spesialis saraf bila nyeri tidak membaik dengan terapi atau muncul gejala neurologis lain.¹,²
Kriteria Rujukan
Nyeri tidak membaik dengan terapi lini pertama, seperti carbamazepine atau oxcarbazepine.
Ditemukan defisit neurologis pada wajah yang mengarah pada penyebab sekunder.
Kecurigaan penyakit lain, seperti tumor intrakranial atau multiple sclerosis.
Nyeri berat atau sering kambuh sehingga mengganggu fungsi makan dan aktivitas sehari-hari.
Pasien memerlukan tindakan intervensi atau pembedahan, seperti microvascular decompression atau ablasi saraf trigeminus.¹,²