
Tetanus [3B].
Nama Lain : Lock Jaw
Definisi

Tetanus adalah penyakit neurologis akut yang disebabkan oleh toksin tetanospasmin dari Clostridium tetani yang masuk melalui luka terkontaminasi spora bakteri dan menimbulkan rigiditas otot serta spasme generalisata akibat hambatan neurotransmiter inhibitori (GABA dan glisin) di sistem saraf pusat, dengan kesadaran umumnya tetap baik serta dapat disertai gangguan otonom seperti takikardia, hipertensi, dan labilitas tekanan darah.¹,³,⁶
Epidemiologi
Tetanus masih sering ditemukan di negara berkembang, terutama di wilayah dengan cakupan imunisasi rendah.
Risiko meningkat pada luka terbuka atau luka tusuk yang terkontaminasi tanah atau kotoran yang mengandung spora Clostridium tetani.
Tetanus neonatorum masih dapat terjadi akibat persalinan atau perawatan tali pusat yang tidak steril.
Mortalitas tetap tinggi pada kasus berat, terutama bila terjadi gagal napas atau disautonomia tanpa perawatan intensif.
Masa inkubasi umumnya 3–21 hari; masa inkubasi yang lebih pendek berhubungan dengan penyakit yang lebih berat dan prognosis yang lebih buruk.³,⁶
Etiologi
Clostridium tetani, bakteri Gram positif anaerob pembentuk spora, merupakan penyebab utama tetanus.
Spora bakteri tersebar luas di tanah, debu, dan kotoran hewan.
Infeksi terjadi ketika spora masuk melalui luka terbuka atau jaringan yang rusak, terutama pada luka tusuk, luka kotor, atau luka dengan jaringan nekrotik.
Pada tetanus neonatorum, infeksi umumnya terjadi melalui kontaminasi tali pusat yang tidak steril.³,⁶
Faktor Risiko
Tidak mendapat imunisasi tetanus atau booster yang tidak lengkap.
Luka tusuk dalam atau luka kotor yang terkontaminasi tanah, debu, atau kotoran hewan.
Jaringan nekrotik atau luka dengan perfusi buruk yang menciptakan kondisi anaerob.
Perawatan luka yang tidak adekuat atau penggunaan alat yang tidak steril.
Perawatan tali pusat yang tidak steril pada neonatus yang dapat menyebabkan tetanus neonatorum.³,⁶
Klasifikasi
Tetanus generalisata adalah bentuk paling sering. Gejalanya meliputi trismus, risus sardonicus, rigiditas otot, dan spasme generalisata, yang dapat melibatkan otot respirasi.
Tetanus lokal ditandai kekakuan otot yang terbatas di sekitar luka, tanpa spasme generalisata, dan umumnya memiliki prognosis lebih baik.
Tetanus sefalik terjadi setelah luka pada kepala atau wajah, dengan keterlibatan saraf kranialis, terutama nervus fasialis (N. VII).
Tetanus neonatorum terjadi pada neonatus, biasanya akibat kontaminasi tali pusat yang tidak steril.³,⁶
Derajat Keparahan (Ablett Classification)
Derajat I (ringan) ditandai trismus ringan, tanpa spasme generalisata, dan tanpa gangguan respirasi.
Derajat II (sedang) ditandai trismus jelas dan spasme ringan–sedang, namun fungsi respirasi masih baik.
Derajat III (berat) ditandai spasme sering dengan gangguan respirasi, takikardia, dan peningkatan tonus otot generalisata.
Derajat IV (sangat berat) ditandai spasme berat disertai disautonomia, seperti hipertensi, aritmia, dan labilitas hemodinamik.³
Patofisiologi

Spora Clostridium tetani masuk melalui luka terkontaminasi dan berkembang pada kondisi anaerob, terutama di jaringan nekrotik.
Bakteri menghasilkan toksin tetanospasmin yang berikatan dengan ujung saraf motorik perifer, masuk ke neuron melalui endositosis, lalu mengalami transport retrograd melalui akson menuju medula spinalis dan batang otak.
Di sistem saraf pusat, tetanospasmin memotong protein sinaptobrevin (VAMP), yaitu protein vesikel sinaptik yang berperan dalam pelepasan neurotransmiter di sinaps, sehingga menghambat pelepasan neurotransmiter inhibitori.
Neurotransmiter yang terhambat adalah GABA (gamma-aminobutyric acid) dan glisin, yaitu neurotransmiter inhibitorik utama di sistem saraf pusat yang berfungsi menghambat aktivitas neuron motorik agar kontraksi otot tetap terkontrol.
Hambatan ini menyebabkan kehilangan inhibisi pada neuron motorik alfa dan gamma. Neuron alfa menginervasi serabut otot rangka untuk menghasilkan kontraksi, sedangkan neuron gamma mengatur sensitivitas spindle otot dan tonus otot.
Kehilangan inhibisi tersebut menimbulkan hiperaktivitas neuron motorik, sehingga terjadi rigiditas otot dan spasme persisten, yang merupakan gambaran khas tetanus.
Selain itu, keterlibatan sistem otonom dapat menyebabkan disautonomia berupa labilitas tekanan darah, takikardia, dan aritmia akibat gangguan regulasi simpatis.³,⁶
Anamnesis
Riwayat luka, terutama luka tusuk, luka kotor, atau luka terkontaminasi tanah, dalam beberapa hari hingga minggu sebelum gejala.
Kesulitan membuka mulut (trismus) akibat spasme otot masseter.
Kekakuan leher dan punggung akibat spasme otot paraspinal.
Spasme atau kejang otot yang dipicu rangsangan ringan, seperti cahaya, suara, atau sentuhan.
Nyeri otot dan kekakuan tubuh yang semakin memberat seiring perjalanan penyakit.
Riwayat imunisasi tetanus tidak lengkap atau tidak mendapat booster dalam 10 tahun terakhir.
Dapat disertai gejala gangguan otonom, seperti berdebar, berkeringat berlebihan, atau fluktuasi tekanan darah.³,⁶
Pemeriksaan Fisik
Trismus (lockjaw): kesulitan membuka mulut akibat spasme otot masseter, dan sering menjadi gejala awal tetanus.
Risus sardonicus: ekspresi wajah seperti tersenyum kaku akibat spasme otot wajah.
Kaku leher: rigiditas otot leher dan paraspinal yang menyebabkan pergerakan kepala terbatas.
Opistotonus: hiperekstensi tubuh dengan lengkungan punggung kuat akibat spasme otot aksial pada kasus berat.
Perut kaku seperti papan (board-like abdomen): rigiditas menetap otot dinding abdomen.
Spasme atau kejang otot generalisata yang dapat dipicu rangsangan minimal seperti cahaya, suara, atau sentuhan.
Pada spasme berat, pasien dapat menunjukkan postur seperti “boxing position” akibat kontraksi kuat otot fleksor dan ekstensor ekstremitas.³
Pemeriksaan Neurologis
Spasme otot generalisata intermiten yang dapat menyebabkan apnea periodik akibat spasme otot respirasi atau laring.
Gagal napas dapat terjadi bila spasme melibatkan otot toraks dan diafragma.
Kesadaran umumnya tetap baik, karena tetanus terutama memengaruhi interneuron inhibitorik di medula spinalis, bukan korteks serebri.³
Pemeriksaan Penunjang
Diagnosis tetanus bersifat klinis, sehingga umumnya tidak memerlukan konfirmasi laboratorium, karena kultur bakteri sering negatif dan sensitivitasnya rendah.
Kultur luka dapat dilakukan untuk mencoba mengidentifikasi Clostridium tetani, tetapi bakteri sering tidak terisolasi dari luka sehingga hasil negatif tidak menyingkirkan diagnosis.
Pemeriksaan elektrolit serum dan analisis gas darah (AGD) dilakukan untuk menilai komplikasi metabolik, seperti asidosis metabolik, hipoksia, atau gangguan elektrolit, akibat spasme otot berat.
Kreatin kinase (CK) dapat meningkat akibat kerusakan otot yang terjadi karena kontraksi otot terus-menerus selama spasme.
Foto toraks dilakukan untuk mendeteksi komplikasi respirasi, seperti aspirasi pneumonia atau atelektasis, terutama pada pasien dengan spasme berat atau yang memerlukan ventilasi mekanik.
Elektrokardiografi (EKG) dapat dilakukan untuk memantau aritmia atau gangguan otonom yang sering terjadi pada tetanus berat.³,⁶
Diagnosis Banding
| Diagnosis | Perbedaan dengan Tetanus |
|---|---|
| Trismus akibat infeksi gigi (odontogenik) | Trismus terjadi karena infeksi lokal pada rahang atau jaringan gigi, tanpa spasme otot generalisata. |
| Neuroleptic Malignant Syndrome (NMS) | Ditandai rigiditas otot, hipertermia, dan perubahan status mental dengan riwayat penggunaan obat antipsikotik. |
| Stiff Person Syndrome | Rigiditas otot kronik terutama pada aksial, tidak disertai trismus khas tetanus dan tidak terkait luka. |
| Keracunan strychnine | Spasme otot generalisata mirip tetanus, tetapi onset sangat cepat setelah paparan toksin. |
| Sepsis | Infeksi sistemik dengan demam dan hipotensi, tanpa spasme otot khas tetanus. |
| Meningoensefalitis (ME) | Disertai demam, gangguan kesadaran, dan tanda inflamasi sistem saraf pusat. |
| Rabies | Riwayat gigitan hewan dengan hidrofobia, aerofobia, dan agitasi. |
| Hipokalsemia | Spasme otot disertai tanda Chvostek dan Trousseau positif akibat gangguan elektrolit. |
| Drug-induced dystonia | Distonia akut dengan riwayat penggunaan obat dopamin antagonis seperti antipsikotik atau antiemetik. |
Penatalaksanaan

Penatalaksanaan Non-Farmakologis
Perawatan di ruang isolasi tenang dan gelap serta stimulasi minimal, karena rangsangan seperti cahaya, suara, atau sentuhan dapat memicu spasme. Manipulasi pasien harus dibatasi seminimal mungkin.
Perawatan di rumah sakit dengan fasilitas ICU pada kasus sedang–berat untuk monitoring respirasi dan hemodinamik secara ketat.
Stabilisasi airway, breathing, circulation (ABC) dengan pemantauan ketat terhadap fungsi respirasi, karena spasme dapat menyebabkan obstruksi jalan napas atau gagal napas.
Manajemen jalan napas, termasuk intubasi dan ventilasi mekanik, bila terjadi spasme berat, apnea periodik, atau gagal napas.
Debridement dan perawatan luka yang adekuat untuk menghilangkan jaringan nekrotik dan mengurangi kondisi anaerob, sehingga menghambat produksi toksin oleh bakteri.
Dukungan cairan yang adekuat untuk menjaga keseimbangan hemodinamik dan mencegah dehidrasi akibat peningkatan metabolisme dan diaforesis.
Dukungan nutrisi tinggi kalori dan protein, karena spasme otot meningkatkan kebutuhan metabolik hingga 3500–4000 kkal per hari. Berikan nutrisi enteral melalui NGT bila pasien sulit menelan.
Pencegahan komplikasi imobilisasi dengan perawatan kulit, perubahan posisi berkala, dan pencegahan ulkus dekubitus.
Monitoring ketat fungsi kardiovaskular dan respirasi untuk mendeteksi dini disautonomia atau komplikasi respirasi.³,⁶
Farmakologis
Menetralisasi toksin bebas menggunakan human tetanus immunoglobulin (HTIG).
Eradikasi Clostridium tetani dengan antibiotik yang aktif terhadap bakteri anaerob.
Mengontrol spasme otot dengan sedatif atau relaksan otot.
Mengatasi disautonomia dengan obat yang menstabilkan fungsi otonom.
Memberikan imunisasi aktif tetanus untuk membentuk kekebalan jangka panjang.
Imunisasi aktif dengan toksoid tetanus tetap diberikan meskipun pasien sudah terinfeksi.³,⁶
Terapi Kausatif (Eradikasi Clostridium tetani)³,⁶
| Golongan Obat | Obat dan Sediaan | Dosis dan Frekuensi | Farmakodinamik |
|---|---|---|---|
| Nitroimidazole | Metronidazole injeksi 500 mg/100 mL atau tablet 500 mg | 500 mg IV/PO setiap 6–8 jam selama 7–10 hari | Mengganggu sintesis DNA bakteri anaerob sehingga menghentikan produksi toksin. |
| β-laktam (alternatif) | Penicillin G procaine injeksi 600.000–1.200.000 IU/vial | 600.000–1.200.000 IU IM setiap hari selama 7–10 hari | Menghambat sintesis dinding sel bakteri Gram positif. |
Netralisasi Toksin dan Imunisasi³,⁶
| Golongan | Obat dan Sediaan | Dosis dan Frekuensi | Farmakodinamik |
|---|---|---|---|
| Antitoksin (imunisasi pasif) | Human Tetanus Immunoglobulin (HTIG) injeksi IM 250–500 IU/mL | 3.000–6.000 IU IM dosis tunggal | Antibodi pasif yang menetralisasi tetanospasmin bebas sebelum masuk ke neuron. |
| Antitoksin alternatif | Anti Tetanus Serum (ATS) injeksi | 10.000 IU IM dosis tunggal (setelah uji sensitivitas) | Antibodi heterolog yang menetralisasi toksin tetanus bebas. |
| Imunisasi aktif | Tetanus toxoid injeksi 0,5 mL | 0,5 mL IM, diberikan meskipun pasien sudah terinfeksi | Merangsang pembentukan antibodi terhadap toksin tetanus untuk kekebalan jangka panjang. |
Antikonvulsan³
| Golongan Obat | Obat dan Sediaan | Dosis dan Frekuensi | Farmakodinamik |
|---|---|---|---|
| Benzodiazepin | Diazepam injeksi 5 mg/mL atau tablet 5 mg | 5–10 mg IV setiap 3–4 jam atau titrasi sesuai spasme | Potensiasi GABA inhibitorik sehingga menurunkan hiperaktivitas neuron motorik. |
| Benzodiazepin alternatif | Midazolam injeksi 1–5 mg/mL | 0,05–0,1 mg/kg IV bolus kemudian infus titrasi | Meningkatkan aktivitas GABA dan menurunkan spasme. |
| Stabilisator neuromuskular / otonom | Magnesium sulfat injeksi 20% | Loading 4–5 g IV kemudian infus titrasi | Menghambat pelepasan asetilkolin dan katekolamin, menurunkan spasme dan disautonomia. |
Komplikasi
Obstruksi jalan napas akibat spasme otot laring dan otot respirasi, yang dapat menyebabkan gagal napas akut.
Fraktur tulang, terutama vertebra atau tulang panjang, akibat spasme otot yang sangat kuat dan berulang.
Rhabdomyolisis, yaitu kerusakan otot rangka akibat kontraksi otot yang terus-menerus, yang dapat menyebabkan peningkatan kreatin kinase dan gagal ginjal akut.
Gangguan sistem saraf otonom (disautonomia), seperti takikardia, hipertensi, aritmia, dan labilitas tekanan darah.
Ulserasi lidah akibat gigitan lidah saat spasme atau kejang otot.
Ulkus dekubitus akibat imobilisasi berkepanjangan pada pasien dengan spasme berat.³
Prognosis
Ad vitam (kelangsungan hidup): dubia ad malam, karena tetanus berat dapat menyebabkan gagal napas dan disautonomia yang berpotensi fatal.
Ad functionam (fungsi neurologis): bonam hingga dubia, karena pada pasien yang bertahan hidup, fungsi neurologis umumnya dapat pulih tanpa defisit permanen. Namun, komplikasi dapat terjadi pada kasus berat.
Ad sanationam (kesembuhan penyakit): bonam bila terapi cepat dan perawatan intensif adekuat, tetapi dapat menjadi dubia bila terdapat keterlambatan terapi, spasme berat, atau komplikasi sistemik.³,⁶
Edukasi
Menjelaskan kepada pasien dan keluarga bahwa tetanus merupakan penyakit serius tetapi dapat dicegah dengan imunisasi.
Menekankan pentingnya imunisasi dasar dan booster tetanus setiap 10 tahun untuk mempertahankan kekebalan terhadap toksin tetanus.
Mengedukasi masyarakat untuk segera membersihkan luka dan mencari pertolongan medis bila terjadi luka tusuk, luka kotor, atau luka dalam.
Menjelaskan pentingnya perawatan luka yang bersih dan penggunaan alat steril untuk mencegah kontaminasi spora Clostridium tetani.
Pada ibu hamil dianjurkan imunisasi tetanus toxoid (TT) serta perawatan tali pusat secara steril pada neonatus untuk mencegah tetanus neonatorum.
Pasien dan keluarga perlu memahami bahwa selama perawatan harus menghindari rangsangan berlebihan (cahaya, suara, atau sentuhan) karena dapat memicu spasme otot.¹,³,⁶
Pencegahan
Imunisasi aktif
Imunisasi dasar DPT (Difteri–Pertusis–Tetanus) diberikan 3 kali pada bayi usia 2, 3, dan 4 bulan, kemudian diikuti booster pada usia 18 bulan dan 5 tahun.
Booster tetanus pada dewasa dianjurkan setiap 10 tahun dengan tetanus toxoid 0,5 mL IM.
Kriteria Rujukan
Semua kasus tetanus harus dirujuk ke rumah sakit dengan fasilitas ICU karena risiko spasme berat, obstruksi jalan napas, dan gagal napas yang memerlukan pemantauan intensif.
Spasme otot generalisata atau trismus berat yang mengganggu makan, minum, atau pernapasan.
Terdapat tanda gangguan respirasi, seperti apnea periodik, takipnea, atau penurunan saturasi oksigen.
Muncul gangguan sistem saraf otonom, seperti takikardia, hipertensi, aritmia, atau labilitas tekanan darah.
Terdapat komplikasi, seperti gagal napas, rhabdomyolisis, fraktur akibat spasme, atau pneumonia aspirasi.
Semua kasus tetanus harus dirujuk ke rumah sakit dengan fasilitas ICU karena risiko spasme berat dan gagal napas.³,⁶