Tension Type Headeache (TTH) [4].

Tension Type Headeache (TTH) [4].


Definisi

Tension-type headache (TTH) adalah nyeri kepala primer dengan karakteristik bilateral, rasa menekan seperti diikat, berintensitas ringan–sedang, tidak diperberat aktivitas fisik, sering berhubungan dengan stres/ketegangan, serta tanpa gejala otonom menonjol.¹⁰

(Jones dkk, 2013)
(Jones dkk, 2013)

Epidemiologi

Jenis nyeri kepala paling sering di populasi umum.

Prevalensi seumur hidup mencapai >70% populasi dewasa.

Lebih sering pada wanita dibanding pria.

Paling sering pada usia produktif (20–50 tahun).

Bentuk episodik lebih sering, namun dapat berkembang menjadi kronik pada sebagian pasien.¹,⁵,¹⁰


Etiologi

Multifaktorial, melibatkan interaksi mekanisme perifer dan sentral.

Disfungsi modulasi nyeri di sistem saraf pusat, menyebabkan penurunan ambang nyeri.

Sensitisasi sentral, yaitu peningkatan respons neuron terhadap rangsang nyeri berulang.

Peningkatan aktivitas nociceptor perifer, terutama pada jaringan otot perikranial.¹,⁵,¹⁰


Faktor Pencetus

Stres, depresi, dan kecemasan, meningkatkan aktivasi sistem saraf pusat serta mengganggu modulasi nyeri, sehingga ambang nyeri menurun.

Kurang tidur atau perubahan pola tidur, menyebabkan gangguan regulasi neurotransmiter, terutama serotonin, yang berperan dalam kontrol nyeri.

Melewatkan makan, memicu perubahan metabolik dan penurunan glukosa yang dapat meningkatkan sensitivitas terhadap nyeri.

Postur tubuh yang salah, menyebabkan kontraksi menetap pada otot leher dan perikranial, sehingga mengaktivasi nociceptor perifer.

Bekerja dalam posisi tetap dalam waktu lama, menyebabkan overuse otot perikranial dan penumpukan metabolit yang memicu nyeri kepala.

Kurang aktivitas fisik, menurunkan kemampuan relaksasi otot serta meningkatkan ketegangan otot kronis.

Faktor hormonal (menstruasi, kehamilan, menopause), memengaruhi keseimbangan neurotransmiter dan sensitivitas nyeri di sistem saraf pusat.

Penggunaan obat-obatan tertentu (misalnya antihipertensi, antidepresan) dapat memengaruhi sistem neurotransmiter, sehingga mengubah ambang nyeri.

Penggunaan analgesik berlebihan, menyebabkan medication overuse headache akibat perubahan regulasi nyeri sentral.¹,⁵,⁶,¹⁰


Patofisiologi

Kontraksi otot perikranial, menyebabkan aktivasi nociceptor perifer sehingga timbul nyeri akut.

Sensitisasi sentral, meningkatkan respons neuron terhadap rangsang nyeri sehingga ambang nyeri menurun.

Teori vaskular, pada TTH kronik terjadi vasokonstriksi arteri temporalis superfisial, berbeda dengan migren yang mengalami vasodilatasi.

Teori humoral , penurunan serotonin (5-HT) trombosit menyebabkan peningkatan sensitivitas nyeri.

Faktor postural, ketegangan ligamen dan regangan otot leher menyebabkan kontraksi otot menetap yang berkontribusi pada nyeri kronik.¹,⁵,¹⁰


Klasifikasi (Berdasarkan ICHD)

1. Tension-Type Headache Episodik Jarang (Infrequent Episodic TTH)

Frekuensi ≥10 episode, dengan rata-rata <1 hari per bulan (<12 hari/tahun).

Durasi nyeri 30 menit hingga 7 hari.

Karakteristik nyeri (minimal 2):

Bilateral

Menekan/mengikat (tidak berdenyut)

Intensitas ringan–sedang

Tidak diperberat aktivitas fisik rutin

Tidak disertai:

Mual atau muntah

Fotofobia dan fonofobia secara bersamaan

Tidak berkaitan dengan kelainan lain.¹⁰


2. Tension-Type Headache Episodik Sering (Frequent Episodic TTH)

Frekuensi ≥10 episode, dengan rata-rata 1–14 hari per bulan selama minimal 3 bulan (12–80 hari/tahun)

Memenuhi karakteristik klinis yang sama seperti episodik jarang

Tidak berkaitan dengan kelainan lain.¹⁰


3. Tension-Type Headache Kronik (Chronic TTH)

Frekuensi ≥15 hari per bulan (≥180 hari/tahun) selama >3 bulan

Karakteristik nyeri sama dengan TTH episodik

Dapat disertai fotofobia atau fonofobia ringan (tidak dominan)

Tidak berkaitan dengan kelainan lain.¹⁰


Anamnesis

Nyeri kepala bilateral (difus), sering mengenai daerah frontal, temporal, oksipital, hingga leher dan punggung atas, karena keterlibatan otot perikranial secara luas.

Kualitas nyeri menekan, seperti diikat atau terasa kencang (tidak berdenyut), disebabkan oleh kontraksi otot yang menetap, bukan mekanisme vaskular.

Intensitas ringan hingga sedang, karena aktivasi nociceptor perifer tanpa keterlibatan sistem nyeri yang berat.

Frekuensi sering hingga hampir setiap hari, dengan durasi menit hingga hari, mencerminkan proses kronik akibat sensitisasi sentral dan ketegangan otot yang persisten.

Tidak diperberat oleh aktivitas fisik rutin, karena nyeri tidak dipengaruhi perubahan hemodinamik seperti pada migren.

Tidak disertai mual dan muntah, karena tidak ada aktivasi pusat muntah di batang otak.

Fotofobia atau fonofobia ringan (tidak dominan), akibat sensitisasi ringan sistem saraf pusat.

Riwayat faktor pencetus seperti stres, kecemasan, depresi, kurang tidur, atau kelelahan berperan dalam menurunkan ambang nyeri dan meningkatkan ketegangan otot.

Pada TTH kronik dapat disertai gangguan tidur (insomnia), akibat hubungan dua arah antara nyeri kronik dan disfungsi regulasi tidur.¹,⁵,¹⁰


Pemeriksaan Fisik

Keadaan umum biasanya baik, karena TTH merupakan nyeri kepala primer tanpa gangguan sistemik.

Nyeri tekan pada otot perikranial (temporalis, frontal, trapezius, leher), disebabkan oleh kontraksi otot yang menetap dan peningkatan sensitivitas nociceptor perifer.

Tidak ditemukan tanda peningkatan tekanan intrakranial (tidak ada papiledema), karena tidak ada proses ruang intrakranial.

Tidak ditemukan tanda infeksi (demam, kaku kuduk), membantu menyingkirkan penyebab sekunder seperti meningitis.¹,⁵,¹⁰


Pemeriksaan Neurologis

Status neurologis dalam batas normal, karena tidak terdapat lesi struktural atau gangguan fokal pada sistem saraf pusat.

Tidak terdapat defisit neurologis fokal (hemiparesis, afasia, gangguan visus), menjadi pembeda utama dengan stroke atau tumor otak.

Fungsi saraf kranialis normal, karena tidak ada keterlibatan struktur saraf spesifik.

Refleks fisiologis normal, menunjukkan tidak adanya gangguan traktus motorik.¹,¹⁰


Pemeriksaan Penunjang

CT Scan kepala: menyingkirkan perdarahan atau tumor; hasil normal pada TTH

MRI otak: evaluasi lesi struktural lebih detail; hasil normal pada TTH

Laboratorium (bila indikasi): menyingkirkan infeksi atau gangguan metabolik; hasil non-spesifik


Diagnosis Banding

DiagnosisPerbedaan utama dengan TTH
MigrenNyeri unilateral, berdenyut, intensitas sedang–berat, disertai mual/muntah dan fotofobia
Nyeri kepala klusterNyeri sangat berat, unilateral orbital, disertai gejala otonom (lakrimasi, rinore)
Nyeri kepala sekunder (penyakit lain)Nyeri disertai gejala sistemik atau organ spesifik seperti gangguan gigi, mata, hipertensi, infeksi, toksik, metabolik, anemia, penyakit hati atau jantung
Tumor otakNyeri progresif, memburuk pagi hari, disertai defisit neurologis
Neuralgia trigeminalNyeri tajam seperti listrik, singkat, terlokalisir pada distribusi saraf trigeminal
SinusitisNyeri wajah disertai gejala nasal (sumbatan, rinore, nyeri tekan sinus)
Psikosomatis (somatoform)Nyeri tidak sesuai pola neurologis, berkaitan dengan faktor psikologis dominan tanpa temuan objektif

Penatalaksanaan

Non-Farmakologis

Manajemen stres (relaksasi, psikoterapi, dan mindfulness), untuk menurunkan aktivasi sistem saraf pusat dan mencegah sensitisasi nyeri.

Sleep hygiene, memperbaiki kualitas tidur untuk menjaga keseimbangan neurotransmiter nyeri.

Perbaikan postur dan ergonomi, mengurangi ketegangan otot perikranial akibat posisi statis.

Fisioterapi dan latihan peregangan otot, menurunkan kontraksi otot leher dan bahu.

Edukasi pasien, menghindari penggunaan analgesik berlebihan untuk mencegah rebound headache.¹,³,⁵,⁶,⁹,¹⁰


Farmakologis

Prinsip terapi:

terapi simptomatik untuk serangan akut dan profilaksis pada kasus sering atau kronik.¹,⁹


Terapi Akut

GolonganObat & SediaanDosis & FrekuensiFarmakodinamik
Analgesik non-opioidParacetamol tablet 500 mg500–1000 mg, 3–4 kali/hariMenghambat sintesis prostaglandin di sistem saraf pusat
Aspirin tablet 500 mg500–1000 mg, 3–4 kali/hariMenghambat COX dan transmisi nyeri
NSAIDIbuprofen tablet 200–400 mg400–800 mg, 3–4 kali/hariMenghambat COX dan mengurangi inflamasi
Natrium diklofenak 50 mg50–100 mg/hariInhibisi COX
Asam mefenamat 500 mg500 mg, 3 kali/hariInhibisi COX
Analgetik adjuvanKafein 65 mgsesuai kombinasiMeningkatkan efek analgesik
Kombinasi analgesikAspirin + parasetamol + kafeinkombinasi tetapSinergisme efek analgesik

Catatan:

NSAID dapat menyebabkan gangguan gastrointestinal

Paracetamol lebih aman untuk lambung.¹,⁹


Terapi Profilaksis (TTH sering/kronik)

GolonganObat & SediaanDosis & FrekuensiFarmakodinamik
Antidepresan trisiklik (first line)Amitriptyline tablet 10–25 mgAwal 10–25 mg malam hari, titrasi bertahap tiap 1–2 minggu hingga 25–75 mg/hari (maks ±150 mg/hari)Menghambat reuptake serotonin dan norepinefrin sehingga meningkatkan modulasi nyeri
Antidepresan alternatifNortriptyline tablet 10–25 mgAwal 10–25 mg malam hari, titrasi hingga 25–75 mg/hariEfek mirip TCA dengan efek samping lebih ringan
SSRI (alternatif)Fluoxetine tablet 20 mg20 mg/hari, dapat ditingkatkan hingga 40–60 mg/hariMeningkatkan kadar serotonin
Antianxietas (adjunct)Diazepam tablet 2–5 mg2–5 mg, 1–2 kali/hari, jangka pendekPotensiasi GABA sehingga menurunkan kecemasan dan ketegangan otot
Muscle relaxant (tambahan)Tizanidine tablet 2 mgAwal 2–4 mg/hari, dapat ditingkatkan hingga 8–24 mg/hari terbagi dosisAgonis α2-adrenergik yang menurunkan tonus otot

Catatan :

First line: paracetamol / NSAID

Profilaksis utama: amitriptyline

Kombinasi dengan kafein dapat meningkatkan efek analgesik

Hindari penggunaan berlebihan untuk mencegah rebound headache


Terapi Tambahan

Massage dan manual terapi, meningkatkan relaksasi otot serta menurunkan aktivitas nociceptor perifer.

Modalitas fisik seperti ultrasound dan kompres panas atau dingin, membantu relaksasi otot dan mengurangi persepsi nyeri.

Akupunktur dan TENS (Transcutaneous Electrical Nerve Stimulation), meningkatkan modulasi nyeri melalui stimulasi saraf perifer.

Behavioral therapy, meliputi teknik relaksasi, biofeedback, dan coping stress untuk menurunkan faktor pencetus psikologis.¹,⁵,⁶


Prognosis

Ad vitam: bonam (terhadap kehidupan baik), karena TTH merupakan nyeri kepala primer yang tidak mengancam jiwa dan tidak berkaitan dengan lesi struktural otak.

Ad functionam: bonam (terhadap fungsi baik), karena sebagian besar pasien tetap dapat beraktivitas dengan gangguan minimal akibat intensitas nyeri yang ringan hingga sedang.

Ad sanationam: dubia ad bonam (terhadap kesembuhan meragukan ke arah baik), karena penyakit dapat membaik dengan terapi dan modifikasi faktor pencetus, namun memiliki kecenderungan rekurensi terutama bila stres dan faktor risiko tidak terkontrol.¹,⁶,¹⁰


Edukasi

Manajemen stres, mengurangi paparan faktor pencetus utama seperti kecemasan dan tekanan emosional untuk mencegah kekambuhan.

Perbaikan pola tidur (sleep hygiene), tidur teratur dan cukup untuk menjaga keseimbangan neurotransmiter yang berperan dalam modulasi nyeri.

Hindari penggunaan analgesik berlebihan, untuk mencegah medication overuse headache (rebound headache) akibat gangguan modulasi nyeri sentral.

Perbaikan postur dan ergonomi, terutama saat bekerja atau menggunakan komputer dalam waktu lama untuk mencegah ketegangan otot perikranial.

Aktivitas fisik teratur, membantu relaksasi otot dan menurunkan stres sehingga menurunkan frekuensi nyeri.

Pola makan teratur (tidak melewatkan makan), untuk mencegah perubahan metabolik yang dapat memicu nyeri kepala.

Kepatuhan terapi, terutama pada penggunaan obat profilaksis seperti amitriptyline agar hasil terapi optimal.¹,³,⁹,¹⁰


Kriteria Rujukan

Tidak membaik dengan terapi standar, setelah terapi adekuat (analgesik dan/atau profilaksis) karena memerlukan evaluasi lanjutan.

Nyeri kepala kronik atau semakin sering, untuk evaluasi kemungkinan chronic TTH atau medication overuse headache.

Adanya tanda neurologis abnormal, seperti defisit fokal (hemiparesis, afasia, gangguan visus) yang mengarah ke nyeri kepala sekunder.

Kecurigaan diagnosis lain (secondary headache), misalnya tumor otak, infeksi, atau kelainan vaskular.

Adanya red flags, seperti onset mendadak hebat, perubahan pola nyeri, atau nyeri disertai gejala sistemik.

Komorbid psikiatri berat, seperti depresi atau ansietas berat yang memerlukan penanganan spesialis.¹,⁶,¹⁰


Komplikasi

Tension-Type Headache kronik, terjadi akibat paparan faktor pencetus berulang yang menyebabkan sensitisasi sentral, sehingga frekuensi nyeri meningkat menjadi ≥15 hari per bulan.

Medication Overuse Headache (rebound headache), disebabkan oleh penggunaan analgesik berlebihan yang mengganggu modulasi nyeri sentral, sehingga nyeri menjadi lebih sering dan kronik.

Gangguan tidur (insomnia), terjadi akibat hubungan dua arah antara nyeri kronik dan disfungsi regulasi tidur, yang memperburuk persepsi nyeri.

Gangguan psikologis (ansietas, depresi), muncul akibat nyeri kronik yang berkepanjangan sehingga memengaruhi kualitas hidup dan memperburuk ambang nyeri.¹,⁶,¹⁰



✏️ Kasih pendapatmu mengenai artikel ini! Yuk, klik disini