Tarsal Tunnel Syndrome [3A].

Tarsal Tunnel Syndrome [3A].


Definisi

Tarsal Tunnel Syndrome (TTS) adalah neuropati akibat kompresi nervus tibialis posterior atau cabangnya di dalam terowongan tarsal (di bawah retinakulum fleksor) pada pergelangan kaki medial. Kondisi ini merupakan analogi Carpal Tunnel Syndrome pada ekstremitas bawah, sehingga menimbulkan gejala sensorimotor pada distribusi saraf tersebut. ¹,²,³,⁴

(https://link.springer.com/)
(https://link.springer.com/)


Epidemiologi

Tarsal Tunnel Syndrome (TTS) merupakan neuropati kompresi yang lebih jarang dibanding CTS, dengan insidensi relatif rendah dan sering tidak terdiagnosis. ²,³,¹¹

Lebih sering terjadi pada wanita usia dewasa, meskipun dapat mengenai semua kelompok usia. ²,³,⁸

Sering berhubungan dengan kondisi yang menyebabkan peningkatan tekanan di pergelangan kaki medial, seperti deformitas kaki atau trauma. ³,⁴

Lebih banyak ditemukan pada individu dengan aktivitas berdiri lama atau penggunaan kaki berlebihan, seperti pekerja lapangan atau atlet. ³,⁴

Dapat terjadi unilateral atau bilateral, namun biasanya lebih dominan pada sisi yang mengalami beban lebih besar. ²,³


Etiologi

Kompresi nervus tibialis posterior atau cabangnya di dalam terowongan tarsal akibat peningkatan tekanan di bawah retinakulum fleksor. ¹,³,⁴

Faktor ekstrinsik, seperti trauma, fraktur, dislokasi, atau cedera pergelangan kaki, dapat menyebabkan perubahan anatomi dan penekanan saraf. ³,⁴

Faktor intrinsik berupa kelainan lokal, seperti neuroma, tumor, kista ganglion, varises, atau penonjolan tulang (osteofit), yang menyempitkan ruang terowongan tarsal. ³,⁴,¹¹

Faktor biomekanik (tension), seperti pes planus (flat foot) atau valgus kaki, dapat menyebabkan peregangan dan peningkatan tekanan pada nervus tibialis. ³,⁸

Proses inflamasi, seperti tenosinovitis tendon fleksor, dapat menyebabkan edema dan penyempitan ruang. ³

Penyakit sistemik, seperti diabetes melitus atau artritis reumatoid, dapat meningkatkan kerentanan saraf terhadap kompresi. ¹,²,³


Faktor Risiko/Pencetus

Aktivitas berdiri atau berjalan lama yang meningkatkan tekanan pada terowongan tarsal.²,³

Olahraga berulang (overuse) seperti lari atau aktivitas dengan beban kaki tinggi yang menyebabkan mikrotrauma kronis.³,⁴

Obesitas yang meningkatkan beban mekanik pada pergelangan kaki.¹,³

Kelainan bentuk kaki seperti pes planus (flat foot) atau valgus yang menyebabkan peningkatan tekanan dan peregangan saraf.³,⁸

Riwayat cedera pergelangan kaki yang dapat mempersempit ruang terowongan tarsal.³,⁴

Penyakit sistemik seperti diabetes melitus yang menyebabkan kerentanan saraf terhadap kompresi.¹,²,³


Patofisiologi

Kompresi nervus tibialis posterior di dalam terowongan tarsal menyebabkan peningkatan tekanan intrakanal yang mengganggu fungsi saraf.¹,³,⁴

Peningkatan tekanan menyebabkan gangguan aliran darah (iskemia saraf), sehingga terjadi disfungsi metabolisme akson dan sel Schwann.¹,³,⁵

Iskemia yang berlanjut menyebabkan demielinisasi segmental, menimbulkan perlambatan hantaran impuls dan gejala parestesia pada telapak kaki.³,⁶

Pada kondisi kronik dapat terjadi degenerasi aksonal yang menyebabkan penurunan fungsi motorik otot intrinsik kaki.¹,³

Kompresi juga memicu inflamasi dan edema lokal pada tendon fleksor dan jaringan sekitar, yang semakin meningkatkan tekanan dalam terowongan (vicious cycle).³,⁸

Iritasi serabut sensorik menimbulkan nyeri khas yang menjalar ke telapak kaki, sering memberat saat berdiri atau berjalan lama.²,³


Anamnesis

Nyeri pada pergelangan kaki medial yang menjalar ke telapak kaki akibat iritasi nervus tibialis posterior.²,³

Parestesia (kesemutan, rasa terbakar, atau seperti listrik) pada telapak kaki dan jari sesuai distribusi saraf, akibat demielinisasi dan gangguan hantaran impuls.³,⁶

Keluhan sering memberat saat berdiri atau berjalan lama karena peningkatan tekanan intrakanal pada terowongan tarsal.²,³

Nyeri dapat berkurang saat istirahat atau elevasi kaki akibat penurunan tekanan dan perbaikan aliran darah saraf.³

Pada kondisi kronik dapat muncul kelemahan otot intrinsik kaki akibat degenerasi aksonal.¹,³

Keluhan dapat bersifat unilateral atau bilateral, bergantung pada faktor mekanik dan beban kaki.²,³

Riwayat trauma pergelangan kaki, aktivitas berat, atau kelainan bentuk kaki (flat foot) yang dapat menyebabkan kompresi saraf.³,⁴


Pemeriksaan Fisik

Inspeksi kaki dapat menunjukkan deformitas kaki seperti pes planus (flat foot) atau valgus, yang meningkatkan tekanan pada terowongan tarsal. ³,⁸

Palpasi dapat ditemukan nyeri tekan pada area pergelangan kaki medial (posterior malleolus medialis) sesuai lokasi terowongan tarsal. ³

Pemeriksaan struktur lokal dapat menemukan massa lokal seperti kista, varises, atau pembengkakan jaringan yang menekan saraf. ³,⁴

Range of motion (ROM) pergelangan kaki dapat memperberat nyeri, terutama pada posisi yang meningkatkan tekanan pada saraf. ³

Pemeriksaan biomekanik dapat menunjukkan gait abnormal atau distribusi beban kaki yang tidak normal. ³,⁴


Pemeriksaan Neurologi

Fungsi sensorik dapat ditemukan nyeri, hipestesia, atau parestesia pada telapak kaki dan jari sesuai distribusi nervus tibialis posterior, akibat gangguan hantaran saraf. ¹,²,³

Fungsi motorik dapat ditemukan kelemahan otot intrinsik kaki, dan pada kondisi lanjut dapat terjadi atrofi otot kaki, akibat degenerasi aksonal kronik. ¹,³

Refleks umumnya normal, karena lesi bersifat perifer distal. ¹,³

Gerakan kaki seperti eversi dan dorsofleksi dapat memperberat nyeri, akibat peningkatan tekanan pada saraf dalam terowongan tarsal. ³


Pemeriksaan Penunjang

Radiologi umumnya normal, tetapi dapat digunakan untuk menyingkirkan penyebab lain, seperti fraktur, deformitas tulang, atau massa.³,⁴

Nerve Conduction Study (NCS) dan Electromyography (EMG) dapat menunjukkan pemanjangan latensi distal nervus tibialis dan dapat disertai penurunan amplitudo, yang menandakan gangguan konduksi saraf akibat kompresi.¹,³,⁶

Pemeriksaan laboratorium dilakukan sesuai kecurigaan etiologi, seperti diabetes melitus (glukosa darah), fungsi ginjal (ureum, kreatinin), atau autoimun (ANA), untuk menyingkirkan penyebab sistemik.¹,²


Diagnosis Banding

DiagnosisPerbedaan dengan Tarsal Tunnel Syndrome (TTS)
Neuropati diabetikumBersifat simetris (stocking distribution), melibatkan banyak saraf, dan tidak terbatas pada nervus tibialis posterior.¹,²
Neuropati ulnaris / perifer lainDistribusi tidak sesuai dengan telapak kaki, melainkan pada saraf lain.¹
Radikulopati lumbal (L5-S1)Nyeri menjalar dari punggung ke tungkai, disertai refleks abnormal dan nyeri radikuler.²,³
Plantar fasciitisNyeri pada tumit, terutama saat langkah pertama pada pagi hari, tanpa parestesia
Penebalan saraf (lepra / amiloid neuropati)Ditemukan penebalan saraf perifer, sering disertai gangguan sensorik luas dan gejala sistemik, serta tidak spesifik pada tarsal tunnel.¹,²
Posterior tibial tendon dysfunctionNyeri pada pergelangan kaki medial dengan deformitas kaki, tanpa gejala neuropatik khas

Penatalaksanaan

Nonfarmakologis

Istirahatkan kaki dari aktivitas yang memicu kompresi, seperti berdiri atau berjalan lama. ²,³

Modifikasi aktivitas dan ergonomi untuk mengurangi tekanan pada pergelangan kaki. ³

Penggunaan ortosis atau insole untuk memperbaiki biomekanik kaki (flat foot). ³,⁸

Fisioterapi untuk meningkatkan fleksibilitas dan vaskularisasi lokal, serta mengurangi tekanan pada saraf. ³

Imobilisasi sementara (splint/ankle brace) pada fase akut untuk mengurangi iritasi saraf. ³


Farmakologis

Prinsip Terapi Farmakologis

Mengurangi nyeri dan inflamasi, serta menurunkan kompresi saraf. ¹,³

Terapi dimulai dari analgetik dan NSAID, sesuai derajat gejala. ²,³

Kortikosteroid lokal diberikan bila gejala berat atau tidak respons terhadap terapi awal. ³

Vitamin neurotropik dapat diberikan sebagai terapi tambahan untuk mendukung fungsi saraf. ¹

Terapi harus dikombinasikan dengan terapi nonfarmakologis karena penyebab utama bersifat mekanik. ³

Evaluasi berkala. Bila gagal atau progresif, pertimbangkan operasi. ¹,³

GolonganObat & SediaanDosis & FrekuensiFarmakodinamik
NSAIDIbuprofen tablet3–4 × 400 mg/hariMenghambat enzim siklooksigenase (COX-1 dan COX-2) sehingga menurunkan sintesis prostaglandin, mengurangi inflamasi dan nyeri
NSAID alternatifNatrium diklofenak tablet2–3 × 50 mg/hariInhibisi COX yang kuat sehingga menekan inflamasi jaringan sekitar saraf
AnalgetikParacetamol tablet3–4 × 500–1000 mg/hari (maksimal 4 g/hari)Menghambat prostaglandin sentral pada sistem saraf pusat sehingga menurunkan persepsi nyeri
Vitamin neurotropikVitamin B1 (thiamin), B6 (pyridoxin), B12 (cobalamin)1 tablet kombinasi 1–2 ×/hariMendukung metabolisme neuron, regenerasi akson, dan mielinisasi saraf
Kortikosteroid lokalTriamcinolone injeksi lokal10–40 mg injeksi lokal, dapat diulang sesuai evaluasi klinisMenekan inflamasi lokal, edema, dan respon imun, sehingga menurunkan tekanan dalam terowongan
Kortikosteroid alternatifMethylprednisolone injeksi lokal20–40 mg injeksi lokalMenghambat fosfolipase A2, menurunkan mediator inflamasi (prostaglandin, leukotrien)

Terapi Pembedahan

Indikasi meliputi gagal terapi konservatif, adanya defisit neurologis progresif, atau ditemukan lesi struktural seperti tumor atau kista yang menekan saraf.¹,³

Tindakan utama adalah tarsal tunnel release, yaitu pemotongan retinakulum fleksor untuk mengurangi tekanan pada nervus tibialis posterior

Eksplorasi saraf dilakukan untuk mengidentifikasi dan menghilangkan penyebab kompresi seperti jaringan fibrotik, massa, atau varises.³,⁴

Pada kasus tertentu dilakukan dekompresi cabang saraf distal bila kompresi melibatkan nervus plantar medial atau lateral

Tujuan operasi adalah mengembalikan aliran darah saraf, memperbaiki konduksi saraf, serta mencegah kerusakan saraf permanen.¹,³


Prognosis

Ad vitam (terhadap kehidupan): bonam, karena Tarsal Tunnel Syndrome jarang mengancam nyawa dan bersifat lokal perifer.¹

Ad functionam (terhadap fungsi): dubia ad bonam, tergantung derajat kompresi dan lamanya penyakit; terapi dini memberikan perbaikan fungsi yang baik, sedangkan keterlambatan dapat menyebabkan defisit menetap.¹,³

Ad sanationam (terhadap kesembuhan): dubia ad bonam, sebagian besar pasien membaik dengan terapi konservatif atau operatif, namun pada kasus kronik dengan kerusakan aksonal dapat terjadi pemulihan tidak sempurna.¹,³


Edukasi

Jelaskan bahwa kondisi ini disebabkan oleh penekanan saraf di pergelangan kaki, sehingga keluhan dapat membaik bila tekanan berkurang.¹,³

Anjurkan untuk menghindari aktivitas berat dan berdiri atau berjalan lama, karena dapat memperberat kompresi saraf.²,³

Sarankan penggunaan alas kaki yang nyaman serta penyangga kaki (insole/orthotic) untuk memperbaiki biomekanik.³,⁸

Anjurkan peregangan dan latihan kaki secara rutin untuk membantu mengurangi tekanan pada saraf.³

Bantu pasien mengontrol penyakit penyerta, seperti diabetes melitus atau obesitas, karena dapat memperburuk gangguan saraf.¹,²

Ingatkan untuk tidak menunda pengobatan, karena keterlambatan dapat menyebabkan kerusakan saraf permanen.¹,³

Jelaskan tanda bahaya, seperti kelemahan otot kaki yang progresif atau nyeri yang semakin berat, yang memerlukan evaluasi lebih lanjut.¹


Kriteria Rujukan

Rujuk bila terdapat defisit neurologis, seperti kelemahan otot kaki atau atrofi, terutama bila progresif.¹,³

Rujuk bila keluhan tidak membaik setelah terapi konservatif yang adekuat, atau keluhan cenderung progresif.¹,³

Rujuk bila dicurigai adanya lesi struktural (misalnya massa) atau kelainan lokal yang memerlukan evaluasi lanjutan.³,⁴

Rujuk untuk evaluasi lebih lanjut bila nyeri semakin berat, atau terdapat gejala yang mengarah pada kondisi lain yang memerlukan penanganan spesialis.¹


Daftar Pustaka

1.

Ropper AH, Samuels MA, Klein JP. Adams and Victor’s Principles of Neurology. 12th ed. New York: McGraw-Hill; 2022.

2.

Jameson JL, Fauci AS, Kasper DL, Hauser SL, Longo DL, Loscalzo J. Harrison’s Neurology in Clinical Medicine. 4th ed. New York: McGraw-Hill; 2016.

3.

Aminoff MJ, Greenberg DA, Simon RP. Aminoff’s Neurology and General Medicine. 6th ed. London: Elsevier; 2021.

4.

Berkowitz AL. Clinical Neurology and Neuroanatomy. New York: McGraw-Hill; 2016.

5.

Lindsay KW, Bone I, Fuller G. Neurology and Neurosurgery Illustrated. 5th ed. London: Elsevier; 2010.

6.

DeJong RN. The Neurologic Examination. 8th ed. Philadelphia: Lippincott Williams & Wilkins; 2020.

7.

Estiasari R, Tunjungsari D, Samatra DPGP, editor. Pemeriksaan Klinis Neurologi Praktis. Jakarta: Kolegium Neurologi Indonesia; 2018.

8.

Aninditha T, Harris S, Wiratman W, editor. Buku Ajar Neurologi Edisi Kedua. Jakarta: Departemen Neurologi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia; 2022.

9.

Caplan LR. Caplan’s Stroke: A Clinical Approach. 4th ed. Philadelphia: Elsevier; 2016.

10.

Oxford University Press. Oxford Handbook of Neurology. 2nd ed. Oxford: Oxford University Press; 2014.

11.

National Center for Biotechnology Information. Tarsal Tunnel Syndrome. Treasure Island: StatPearls Publishing; 2024.