Status Epileptikus [3B].

Status Epileptikus [3B].

Definisi

Status epileptikus adalah keadaan kejang berlangsung terus-menerus atau kejang berulang tanpa pemulihan kesadaran. Secara operasional, kondisi ini didefinisikan sebagai durasi ≥5 menit atau ≥2 kejang tanpa pemulihan kesadaran, sehingga merupakan kegawatdaruratan neurologis yang memerlukan terapi segera.

Serial seizure (cluster seizure) adalah kejang berulang dalam waktu singkat dengan pemulihan kesadaran di antaranya, sehingga berbeda dengan status epileptikus yang ditandai oleh tidak adanya pemulihan kesadaran.¹,²


Etiologi

Status epileptikus dapat disebabkan oleh berbagai kondisi yang mengganggu keseimbangan eksitasi dan inhibisi neuron, antara lain:

Epilepsi tidak terkontrol atau penghentian obat antiepilepsi secara mendadak, yang merupakan penyebab tersering pada pasien dengan riwayat epilepsi.

Lesi struktural otak seperti stroke, tumor, trauma kepala, atau perdarahan intrakranial, yang dapat membentuk fokus epileptogenik.

Infeksi sistem saraf pusat seperti meningitis, ensefalitis, atau abses otak dapat menimbulkan inflamasi dan iritasi neuron.

Gangguan metabolik seperti hipoglikemia, hiponatremia, hipokalsemia, uremia, atau gagal hati dapat mengganggu fungsi membran neuron.

Toksik dan obat, termasuk intoksikasi obat, overdosis, atau putus alkohol (withdrawal), dapat meningkatkan eksitabilitas neuron.

Penyakit autoimun, seperti autoimmune encephalitis (anti-NMDA receptor), dapat menyebabkan disfungsi sinaptik.

Idiopatik, yaitu tidak ditemukan penyebab yang jelas meskipun telah dilakukan evaluasi menyeluruh.


Diagnosis

Penegakan diagnosis status epileptikus terutama bersifat klinis, dengan kriteria utama:

Diagnosis ditegakkan bila terdapat kejang ≥5 menit atau kejang berulang tanpa pemulihan kesadaran di antaranya.

Secara klasik, status epileptikus didefinisikan sebagai kejang ≥30 menit atau berulang tanpa pulihnya kesadaran, namun dalam praktik klinis terapi harus dimulai lebih awal (5–10 menit).

Serial seizure ditandai dengan kejang berulang dengan kesadaran pulih di antara episode, sehingga tidak termasuk status epileptikus.

Berdasarkan manifestasi klinis:

Pada status epileptikus konvulsif, diagnosis mudah ditegakkan dari kejang tonik-klonik generalisata yang berkepanjangan.

Pada status epileptikus non-konvulsif, diagnosis dicurigai pada pasien dengan penurunan kesadaran, kebingungan, atau perubahan perilaku menetap, sehingga memerlukan konfirmasi dengan EEG.

Pemeriksaan penunjang:

Elektroensefalografi (EEG) merupakan pemeriksaan utama untuk mendeteksi aktivitas epileptiform kontinu, terutama pada kasus non-konvulsif.

Pemeriksaan laboratorium seperti glukosa darah, elektrolit, fungsi ginjal, dan fungsi hati dilakukan untuk mengidentifikasi penyebab metabolik yang reversible.

Neuroimaging (CT scan atau MRI otak) digunakan untuk mendeteksi lesi struktural seperti stroke, tumor, atau perdarahan.

Pemeriksaan toksikologi dipertimbangkan bila terdapat kecurigaan intoksikasi atau withdrawal zat.

Prinsip penting: diagnosis harus ditegakkan segera secara klinis tanpa menunggu pemeriksaan penunjang, karena keterlambatan terapi meningkatkan risiko kerusakan neuron dan mortalitas.¹,⁵,⁶,⁸,¹⁰


Tatalaksana

Penatalaksanaan status epileptikus merupakan kegawatdaruratan neurologis yang harus dilakukan secara cepat, sistematis, dan simultan antara stabilisasi, penghentian kejang, dan terapi etiologi.⁶,¹⁰

(Unit Kerja Koordinasi Neurologi Ikatan Dokter Anak Indonesia, 2016)
(Unit Kerja Koordinasi Neurologi Ikatan Dokter Anak Indonesia, 2016)

1. Tindakan Suportif (Primary Survey)

Dilakukan segera:

Airway: pastikan jalan napas

Breathing: berikan oksigen

Circulation: akses IV, monitor hemodinamik

Cek glukosa darah → koreksi bila hipoglikemia

Pertimbangkan tiamin pada alkoholik

Dilakukan sebelum pemberian benzodiazepin karena risiko depresi napas.⁶


2. Antikonvulsi Lini 1 (Benzodiazepin)

Benzodiazepin efektif untuk menghentikan kejang secara cepat, tetapi efeknya sementara sehingga memerlukan terapi lanjutan.¹⁰

Obat & SediaanDosis & FrekuensiFarmakodinamikPenjelasan Klinis
Diazepam IV10–20 mg IV perlahanPotensiasi reseptor GABA-A sehingga meningkatkan inhibisi neuronOnset sangat cepat sehingga menjadi pilihan utama untuk menghentikan kejang akut, namun durasi kerja singkat sehingga perlu dilanjutkan dengan obat antiepilepsi
Midazolam buccal/IM10 mgAktivasi reseptor GABA-ADigunakan bila tidak tersedia akses intravena, efektif pada kondisi pra-rumah sakit
Diazepam suppositoria0,5 mg/kgAktivasi GABAAlternatif praktis terutama pada anak atau kondisi tanpa akses IV

1.

Antikonvulsi Lini Kedua

Terapi lini kedua diperlukan untuk mempertahankan kontrol kejang setelah efek benzodiazepin berkurang.⁵,⁶

Obat & SediaanDosis & FrekuensiFarmakodinamikPenjelasan Klinis
Phenytoin IV15–20 mg/kg, kecepatan ≤50 mg/menitBlok kanal natrium sehingga menstabilkan membran neuronDiberikan segera setelah benzodiazepin untuk mencegah kekambuhan kejang karena onset kerja lebih lambat
Levetiracetam IV20–60 mg/kgMengikat protein vesikel sinaptik SV2A sehingga menurunkan pelepasan neurotransmiter eksitatorikProfil keamanan baik dan interaksi obat minimal sehingga sering menjadi alternatif utama
Valproate IV20–40 mg/kgMeningkatkan kadar GABA dan menekan aktivitas neuron eksitatorikEfektif pada berbagai jenis kejang, tetapi perlu dihindari pada gangguan fungsi hati

4. Refractory Status Epilepticus

Kondisi ini menunjukkan kegagalan terapi awal dan memerlukan perawatan intensif dengan monitoring ketat di ICU.⁶

ObatDosis / RegimenFarmakodinamikPenjelasan Klinis
Midazolam infusionTitrasi kontinu sesuai responsAktivasi GABA secara kuatDigunakan pada kejang yang tidak respons terhadap terapi awal dan memerlukan sedasi kontinu
Propofol infusionTitrasi sesuai responsPotensiasi GABA dan inhibisi NMDAOnset cepat, namun berisiko menyebabkan hipotensi dan depresi napas
PentobarbitalTitrasiDepresi sistem saraf pusat yang kuatDigunakan pada kasus berat yang tidak respons terhadap terapi lain

5. Terapi Berdasarkan Etiologi

Pengobatan penyebab sangat penting untuk mencegah kekambuhan dan memperbaiki prognosis.⁶

EtiologiTerapiPenjelasan Klinis
HipoglikemiaDextrose IVPenyebab yang paling reversibel dan harus segera dikoreksi
Infeksi SSPAntibiotik atau antivirusTanpa terapi akan menyebabkan kejang persisten
StrokeTerapi sesuai protokol strokeLesi struktural menjadi fokus epileptogenik
Withdrawal alkoholBenzodiazepinKejang sering berulang bila tidak ditangani
AutoimunSteroid atau IVIGMenekan proses inflamasi yang mendasari

✏️ Kasih pendapatmu mengenai artikel ini! Yuk, klik disini