
Meningitis [3B].
Definisi
Meningitis adalah inflamasi pada leptomeningen dan ruang subaraknoid yang umumnya disebabkan oleh infeksi bakteri, virus, mikobakteri, atau jamur dan menimbulkan inflamasi pada cairan serebrospinal.³
Meningitis merupakan inflamasi pada leptomeningen dan ruang subaraknoid yang melibatkan cairan serebrospinal, paling sering disebabkan oleh infeksi bakteri, virus, mikobakteri, atau jamur.

Epidemiologi
Insidensi tertinggi pada anak <5 tahun dan lansia.
Meningitis virus merupakan penyebab tersering secara global dan umumnya membaik sendiri.
Meningitis bakteri memiliki mortalitas tertinggi, terutama oleh Streptococcus pneumoniae.
Meningitis meningokokus lebih sering terjadi pada lingkungan dengan kepadatan tinggi.
Meningitis tuberkulosis masih sering ditemukan di negara dengan prevalensi TB tinggi.³,¹¹,¹²,¹³
Etiologi
Bakteri: Streptococcus pneumoniae, Neisseria meningitidis, Haemophilus influenzae, dan Listeria monocytogenes.
Virus: terutama enterovirus, diikuti virus herpes simpleks dan virus varisela-zoster.
Mikobakteri: Mycobacterium tuberculosis sebagai penyebab meningitis tuberkulosis dengan perjalanan subakut hingga kronik.
Jamur: terutama Cryptococcus neoformans, sering pada pasien imunokompromais.³,¹¹,¹²,¹³
Faktor Risiko
Usia muda (terutama anak <5 tahun) dan lansia memiliki kerentanan lebih tinggi terhadap infeksi meningeal.
Imunokompromais, seperti HIV/AIDS, keganasan, atau penggunaan obat imunosupresif.
Infeksi parameningeal, misalnya sinusitis, otitis media, atau mastoiditis.
Trauma kepala, fraktur basis kranii, atau tindakan bedah saraf.
Lingkungan dengan kepadatan tinggi, seperti asrama atau barak militer.³,¹¹,¹³
Klasifikasi
Berdasarkan Etiologi
Meningitis bakteri, disebabkan oleh bakteri seperti Streptococcus pneumoniae dan Neisseria meningitidis dengan onset akut dan perjalanan klinis berat; lebih sering terjadi pada anak, dewasa muda, dan lansia.
Meningitis virus (aseptik), paling sering disebabkan oleh enterovirus dengan perjalanan penyakit yang lebih ringan; paling sering ditemukan pada anak-anak dan dewasa muda.
Meningitis tuberkulosis, disebabkan oleh Mycobacterium tuberculosis dengan perjalanan penyakit subakut hingga kronik; lebih sering terjadi pada anak-anak dan pasien imunokompromais.
Meningitis jamur, umumnya terjadi pada pasien imunokompromais, terutama oleh Cryptococcus neoformans, seperti pada penderita HIV/AIDS.³,¹¹,¹²,¹³
Berdasarkan Perjalanan Klinis
Meningitis akut berkembang cepat dalam beberapa jam hingga hari, dan paling sering disebabkan oleh bakteri.
Meningitis subakut berkembang dalam beberapa hari hingga minggu, dan sering ditemukan pada meningitis tuberkulosis.
Meningitis kronik berlangsung lebih dari empat minggu, dan biasanya disebabkan oleh infeksi jamur atau tuberkulosis.³,¹³
Berdasarkan Karakteristik Cairan Serebrospinal

Meningitis purulen, ditandai dengan dominasi neutrofil, peningkatan protein, dan penurunan kadar glukosa CSS.
Meningitis aseptik, umumnya disebabkan oleh virus dan ditandai dengan dominasi limfosit serta kadar glukosa CSS yang normal.
Meningitis tuberkulosis, menunjukkan dominasi limfosit dengan peningkatan protein yang tinggi serta penurunan kadar glukosa CSS.
Meningitis jamur, sering ditemukan pada pasien imunokompromais dengan dominasi limfosit dan peningkatan tekanan pembukaan CSS.¹¹,¹²,¹³
Patofisiologi Meningitis
Kolonisasi patogen pada mukosa nasofaring, terutama oleh bakteri seperti Streptococcus pneumoniae atau Neisseria meningitidis. Patogen kemudian memasuki aliran darah dan menyebabkan bakteriemia.
Penetrasi sawar darah otak, sehingga mikroorganisme mencapai ruang subaraknoid dan berkembang biak dalam cairan serebrospinal, yang memiliki aktivitas imun relatif rendah.
Aktivasi respons inflamasi, ditandai dengan pelepasan sitokin proinflamasi seperti TNF-α dan IL-1, yang meningkatkan permeabilitas sawar darah otak.
Edema serebral dan peningkatan tekanan intrakranial terjadi akibat gangguan aliran cairan serebrospinal serta peningkatan permeabilitas vaskular.
Penurunan perfusi serebral dan kerusakan jaringan otak dapat menimbulkan komplikasi neurologis, seperti infark serebral, hidrosefalus, kejang, dan herniasi otak.³,¹³
Anamnesis
Demam merupakan gejala awal yang paling sering ditemukan akibat respons inflamasi sistemik terhadap infeksi.
Nyeri kepala difus terjadi akibat iritasi meningen dan peningkatan tekanan intrakranial.
Mual dan muntah berkaitan dengan peningkatan tekanan intrakranial dan iritasi pusat muntah di batang otak.
Fotofobia terjadi akibat iritasi meningeal dan peningkatan sensitivitas terhadap rangsang cahaya.
Penurunan kesadaran dapat terjadi akibat edema serebral, peningkatan tekanan intrakranial, atau gangguan perfusi serebral.
Kejang dapat muncul akibat iritasi korteks serebri akibat proses inflamasi.
Riwayat infeksi sebelumnya, seperti sinusitis, otitis media, atau infeksi saluran napas atas, dapat menjadi sumber infeksi parameningeal.
Riwayat faktor risiko, misalnya imunokompromais, trauma kepala, atau riwayat kontak dengan penderita meningitis.¹,³,⁴,⁶,¹¹,¹²,¹³
Pemeriksaan Fisik
Demam, ditemukan pada pemeriksaan tanda vital sebagai manifestasi infeksi sistemik.
Takikardia, dapat terjadi sebagai respons terhadap demam atau proses infeksi.
Ruam petekie atau purpura, terutama pada infeksi Neisseria meningitidis yang dapat disertai meningokoksemia.
Tanda infeksi primer, seperti otitis media, sinusitis, atau mastoiditis yang dapat menjadi sumber infeksi parameningeal.³,⁶,¹¹
Pemeriksaan Neurologis
Kaku kuduk, merupakan tanda rangsang meningeal akibat iritasi pada meningen.
Tanda Kernig positif, nyeri atau resistensi saat ekstensi lutut pada posisi panggul fleksi.
Tanda Brudzinski positif, fleksi involunter panggul dan lutut saat leher difleksikan secara pasif.
Penurunan tingkat kesadaran, dinilai dengan Glasgow Coma Scale (GCS) dan dapat terjadi akibat edema serebral atau peningkatan tekanan intrakranial.
Defisit neurologis fokal, seperti hemiparesis atau gangguan saraf kranialis akibat komplikasi vaskulitis atau infark serebral.
Papiledema, dapat ditemukan pada pemeriksaan funduskopi sebagai tanda peningkatan tekanan intrakranial.
Kejang, menunjukkan iritasi korteks serebri akibat proses inflamasi.³,⁴,¹³
Pemeriksaan Penunjang
Pungsi lumbal dan analisis cairan serebrospinal (CSS) merupakan pemeriksaan utama untuk menegakkan diagnosis meningitis dengan menilai jumlah sel, kadar protein, kadar glukosa, serta tekanan pembukaan CSS.
Pewarnaan Gram dan kultur CSS dilakukan untuk mengidentifikasi mikroorganisme penyebab serta menentukan sensitivitas antibiotik pada meningitis bakteri.
Pemeriksaan PCR pada CSS digunakan untuk mendeteksi materi genetik patogen tertentu, seperti virus herpes simpleks atau Mycobacterium tuberculosis.
Kultur darah dilakukan untuk mengidentifikasi bakteri penyebab, terutama pada meningitis bakterial yang disertai bakteriemia.
CT scan kepala dilakukan sebelum pungsi lumbal pada pasien dengan penurunan kesadaran, defisit neurologis fokal, atau kecurigaan peningkatan tekanan intrakranial, untuk menilai adanya edema serebral, hidrosefalus, atau efek massa.
MRI otak dapat memberikan gambaran yang lebih sensitif terhadap komplikasi intrakranial, seperti infark serebral, abses otak, atau keterlibatan basal pada meningitis tuberkulosis.
Pemeriksaan neurologis dan funduskopi penting untuk menilai tanda peningkatan tekanan intrakranial sebelum dilakukan pungsi lumbal.¹,³,⁴,⁷,⁸,⁹,¹¹,¹²,¹³
Diagnosis Banding¹,³,⁶,⁷,¹²
| Diagnosis | Perbedaan Dengan Meningitis |
|---|---|
| Ensefalitis | Gangguan kesadaran lebih dominan akibat keterlibatan jaringan otak dibandingkan iritasi meningeal. |
| Perdarahan subaraknoid | Nyeri kepala mendadak hebat (thunderclap headache) tanpa gejala infeksi sistemik. |
| Abses otak | Lesi massa pada pencitraan otak dengan defisit neurologis fokal. |
| Migrain | Nyeri kepala berulang tanpa demam dan tanpa perubahan pada cairan serebrospinal. |
| Tension-type headache | Nyeri kepala bilateral tanpa tanda rangsang meningeal maupun gejala infeksi. |
Penatalaksanaan
Non-Farmakologis
Stabilisasi jalan napas, pernapasan, dan sirkulasi (ABC) serta pemantauan tanda vital secara ketat.
Monitoring neurologis, termasuk penilaian tingkat kesadaran menggunakan Glasgow Coma Scale (GCS).
Isolasi droplet, terutama pada kecurigaan meningitis meningokokus untuk mencegah penularan.
Manajemen peningkatan tekanan intrakranial, termasuk elevasi kepala tempat tidur sekitar 30° dan kontrol cairan.³,⁴,¹¹,¹³
Farmakologis
Prinsip Terapi Farmakologis
Antibiotik empiris diberikan segera pada kecurigaan meningitis bakterial.
Pemilihan antibiotik mencakup patogen tersering dan disesuaikan dengan usia serta faktor risiko pasien.
Kortikosteroid (deksametason) diberikan bersamaan dengan antibiotik untuk menurunkan inflamasi meningeal.
Terapi disesuaikan dengan hasil kultur, atau etiologi spesifik seperti antivirus atau obat anti-tuberkulosis.³,¹¹,¹³
Farmakologis³,¹¹,¹²,¹³
| Golongan Obat | Obat & Sediaan | Dosis & Frekuensi | Farmakodinamik |
|---|---|---|---|
| Antibiotik sefalosporin generasi III | Ceftriaxone injeksi IV 1–2 g/vial | 2 g IV setiap 12 jam | Menghambat sintesis dinding sel bakteri melalui ikatan dengan penicillin-binding protein (PBP) sehingga menyebabkan lisis bakteri. |
| Antibiotik glikopeptida | Vancomycin injeksi IV 500 mg/1 g | 15–20 mg/kgBB IV setiap 8–12 jam | Menghambat sintesis dinding sel bakteri Gram positif dengan mengikat prekursor peptidoglikan. |
| Antibiotik penisilin aminopenisilin | Ampicillin injeksi IV 1–2 g | 2 g IV setiap 4 jam | Menghambat sintesis dinding sel bakteri dan digunakan terutama untuk mencakup Listeria monocytogenes. |
| Kortikosteroid | Deksametason injeksi IV 5 mg/mL | 10 mg IV setiap 6 jam selama 4 hari, diberikan sebelum atau bersama dosis antibiotik pertama | Menekan respons inflamasi meningeal dengan menghambat produksi sitokin proinflamasi sehingga menurunkan edema serebral dan risiko sekuela neurologis. |
| Antivirus | Acyclovir injeksi IV 250 mg/10 mL atau setara | 10 mg/kgBB IV setiap 8 jam | Analog nukleosida yang menghambat DNA polymerase virus, digunakan bila dicurigai infeksi HSV/VZV. |
| Obat anti-tuberkulosis | RHZE tablet kombinasi tetap / sediaan terpisah | Sesuai berat badan pada regimen OAT standar | Bekerja pada berbagai target metabolik Mycobacterium tuberculosis, termasuk sintesis asam mikolat dan transkripsi bakteri. |
Regimen empiris yang lazim dipakai
Dewasa imunokompeten usia 18–50 tahun: ceftriaxone + vancomycin.
Usia >50 tahun, hamil, atau imunokompromais: ceftriaxone + vancomycin + ampicillin untuk cakupan Listeria.
Kecurigaan meningitis virus herpes: tambahkan acyclovir.
Meningitis tuberkulosis: OAT + deksametason.
Komplikasi
Edema serebral, terjadi akibat respons inflamasi meningeal yang meningkatkan permeabilitas sawar darah otak sehingga menyebabkan peningkatan tekanan intrakranial.
Infark serebral, disebabkan oleh vaskulitis dan trombosis pembuluh darah serebral akibat proses inflamasi pada meningitis.
Hidrosefalus, terutama pada meningitis tuberkulosis akibat gangguan aliran atau absorpsi cairan serebrospinal.
Kejang, terjadi akibat iritasi korteks serebri dan peningkatan tekanan intrakranial.
Tuli sensorineural, merupakan sekuela neurologis yang dapat terjadi akibat kerusakan saraf koklear atau struktur telinga dalam.³,¹¹,¹³
Prognosis
Ad vitam (prognosis terhadap kelangsungan hidup pasien): dubia ad malam pada meningitis bakteri berat karena mortalitas masih tinggi, terutama pada infeksi Streptococcus pneumoniae atau bila disertai komplikasi seperti sepsis dan peningkatan tekanan intrakranial.
Ad functionam (prognosis terhadap fungsi neurologis pasien): dubia karena terdapat risiko sekuela neurologis jangka panjang seperti tuli sensorineural, defisit neurologis fokal, epilepsi simptomatik, dan gangguan kognitif.
Ad sanationam (prognosis terhadap kemungkinan kesembuhan penyakit): bervariasi, umumnya bonam pada meningitis virus yang bersifat self-limiting, tetapi dapat dubia pada meningitis bakteri dan tuberkulosis tergantung kecepatan diagnosis serta ketepatan terapi.³,¹¹,¹²,¹³
Edukasi
Pasien dan keluarga perlu diberi penjelasan bahwa meningitis merupakan infeksi serius pada selaput otak yang memerlukan penanganan medis segera.
Pentingnya kepatuhan terhadap terapi antibiotik atau terapi spesifik lain sesuai penyebab untuk mencegah komplikasi dan kekambuhan.
Edukasi mengenai tanda bahaya seperti penurunan kesadaran, kejang, atau nyeri kepala yang semakin berat sehingga pasien harus segera mencari pertolongan medis.
Pencegahan melalui imunisasi, terutama vaksin Hib, pneumokokus, dan meningokokus pada kelompok berisiko.³,¹¹
Kriteria Rujukan
Penurunan tingkat kesadaran atau perubahan status mental yang progresif.
Kejang atau defisit neurologis fokal seperti hemiparesis atau gangguan saraf kranialis.
Tanda peningkatan tekanan intrakranial, seperti papiledema atau muntah proyektil.
Kecurigaan meningitis bakterial berat atau komplikasi neurologis yang memerlukan perawatan intensif dan pemeriksaan penunjang lanjutan.
Keterbatasan fasilitas diagnostik atau terapi di fasilitas kesehatan tingkat pertama sehingga pasien memerlukan penanganan di rumah sakit rujukan.³,¹⁰,¹¹,¹³