Cluster Headeache [3A].

Cluster Headeache [3A].


Nama Lain : Nyeri Kepala Kluster


Definisi

Pria besar, kuat, dan berotot merupakan pasien yang khas. Wajah dapat tampak seperti peau d’orange (kulit jeruk) dengan adanya telangiektasis.(Jones dkk, 2013)
Pria besar, kuat, dan berotot merupakan pasien yang khas. Wajah dapat tampak seperti peau d’orange (kulit jeruk) dengan adanya telangiektasis.(Jones dkk, 2013)

Cluster headache adalah nyeri kepala primer yang sangat hebat, unilateral, dan berulang, biasanya pada daerah orbital, supraorbital, atau temporal, yang berlangsung selama 15–180 menit dan disertai gejala otonom ipsilateral seperti lakrimasi, kongesti nasal, atau ptosis akibat aktivasi sistem trigemino-parasimpatis.³,¹¹


Epidemiologi

Prevalensi sekitar 0,1% populasi umum.

Laki-laki lebih sering terkena dibanding perempuan dengan rasio sekitar 3–4 : 1.

Usia onset paling sering 20–40 tahun.

Sekitar 80–90% kasus merupakan tipe episodik.

Terdapat hubungan dengan ritme sirkadian dan sirkannual yang berkaitan dengan aktivitas hipotalamus.³,⁶,¹¹


Etiologi

Etiologi pasti belum diketahui, tetapi diduga melibatkan:

Disfungsi hipotalamus posterior, yang berperan dalam ritme sirkadian.

Aktivasi sistem trigeminovaskular, menyebabkan nyeri kepala hebat.

Aktivasi refleks trigemino-parasimpatis, yang menimbulkan gejala otonom seperti lakrimasi dan kongesti nasal.

Vasodilatasi pembuluh darah kranial, yang turut berkontribusi terhadap timbulnya nyeri.³,⁶,¹¹


Faktor Risiko

Jenis kelamin laki-laki memiliki insidensi lebih tinggi.

Merokok sering ditemukan pada pasien dengan cluster headache.

Riwayat keluarga dengan cluster headache dapat meningkatkan risiko terjadinya penyakit ini.

Konsumsi alkohol dapat memicu serangan selama periode cluster.

Gangguan ritme tidur atau ritme sirkadian berkaitan dengan aktivitas hipotalamus.³,⁶,¹¹


Klasifikasi

Berdasarkan Pola Serangan

Cluster headache episodik. Serangan terjadi dalam periode cluster selama 7 hari hingga 1 tahun, diikuti periode remisi minimal 3 bulan.

Cluster headache kronik. Serangan berlangsung >1 tahun tanpa remisi atau remisi <3 bulan.³,¹¹


Patofisiologi

(Alstadhaug KB, Ofte HK, 2015)
(Alstadhaug KB, Ofte HK, 2015)

1. Aktivasi hipotalamus. Aktivasi hipotalamus posterior memicu inisiasi serangan dan menjelaskan pola ritme sirkadian (clock-like regularity) pada cluster headache.

2. Aktivasi sistem trigeminovaskular. Aktivasi cabang pertama saraf trigeminus (V1) menyebabkan pelepasan CGRP dan VIP yang memicu vasodilatasi serta inflamasi neurogenik, sehingga timbul nyeri orbital unilateral hebat.

3. Aktivasi refleks trigemino-parasimpatis. Stimulasi saraf fasialis melalui ganglion sfenopalatina menimbulkan lakrimasi, rinore, kongesti nasal, dan injeksi konjungtiva pada sisi nyeri.

4. Disfungsi simpatis okular. Gangguan serabut simpatis okular di sekitar arteri karotis interna menyebabkan sindrom Horner parsial ipsilateral (ptosis dan miosis) selama serangan.³,⁶,¹³


Anamnesis

(Jones dkk, 2013)
(Jones dkk, 2013)

Nyeri kepala unilateral yang sangat hebat, biasanya pada daerah orbital, supraorbital, atau temporal, digambarkan sebagai nyeri tajam, menusuk, atau seperti terbakar.

Nyeri dapat menjalar ke dahi, pipi, rahang atas, telinga, atau leher pada sisi yang sama akibat keterlibatan distribusi saraf trigeminus.

Nyeri muncul mendadak, mencapai intensitas maksimum dalam beberapa menit, dan berlangsung 15–180 menit.

Serangan dapat terjadi 1–8 kali per hari dan sering muncul dengan clock-like regularity, yaitu pada waktu yang hampir sama setiap hari, terutama malam hari.

Nyeri sering disertai gejala otonom ipsilateral seperti lakrimasi, kongesti nasal, rinore, ptosis, atau miosis.

Pasien sering gelisah, berjalan mondar-mandir, atau tidak dapat berdiam diri selama serangan; hal ini merupakan ciri khas cluster headache.

Setelah serangan, pasien dapat merasakan kelelahan atau nyeri sisa ringan pada kepala.

Pencetus serangan dapat berupa konsumsi alkohol, nitrogliserin, gangguan tidur, atau paparan histamin, terutama selama periode cluster.

Nyeri dapat mereda secara spontan setelah durasi serangan berakhir atau setelah terapi akut seperti oksigen inhalasi atau sumatriptan.

Serangan biasanya muncul dalam periode cluster selama beberapa minggu hingga bulan, kemudian diikuti periode remisi tanpa nyeri.³,⁶,⁷,¹¹


Pemeriksaan Fisik dan Neurologis

Saat serangan

Pasien tampak gelisah atau sulit berdiam diri, sering berjalan atau menggoyangkan tubuh akibat nyeri sangat hebat.

Lakrimasi ipsilateral, injeksi konjungtiva, dan edema palpebra dapat ditemukan.

Kongesti nasal atau rinore ipsilateral dapat ditemukan.

Dapat ditemukan sindrom Horner parsial ipsilateral, berupa ptosis ringan dan miosis.

Pemeriksaan neurologis umumnya normal, tanpa defisit neurologis fokal.³,⁶,¹¹

Di antara serangan

Pemeriksaan fisik dan neurologis biasanya normal.

Gejala otonom kranial seperti lakrimasi, kongesti nasal, ptosis, atau miosis menghilang setelah serangan berakhir.

Tidak ditemukan defisit neurologis menetap.³,⁶,¹¹



Pemeriksaan Penunjang

Diagnosis cluster headache bersifat klinis berdasarkan karakteristik serangan khas.

MRI otak dilakukan untuk menyingkirkan penyebab sekunder seperti tumor hipofisis atau lesi sinus kavernosus.

CT scan kepala dapat dilakukan bila terdapat red flags atau gejala neurologis atipikal.

Tujuan pemeriksaan penunjang adalah mengeksklusi penyebab sekunder nyeri kepala unilateral berat.³,⁶,¹¹


Diagnosis Banding³,⁶,¹¹

DiagnosisPerbedaan dengan Cluster Headache
MigraineNyeri biasanya berdenyut, berlangsung 4–72 jam, disertai mual, fotofobia, dan fonofobia, tanpa gejala otonom kranial yang menonjol.
Paroxysmal hemicraniaDurasi serangan lebih pendek (2–30 menit) dan menunjukkan respons absolut terhadap indometasin.
SUNCT syndromeSerangan sangat singkat (detik–menit) dengan frekuensi sangat tinggi serta lakrimasi dan injeksi konjungtiva menonjol.
Tension-type headacheNyeri bilateral, intensitas ringan–sedang, tidak disertai gejala otonom kranial.
SinusitisNyeri wajah disertai gejala infeksi sinus seperti kongesti hidung, sekret purulen, dan demam, serta tidak memiliki pola cluster period.


Penatalaksanaan

Non-Farmakologis

Menghindari alkohol selama periode cluster karena dapat memicu serangan.

Menghentikan merokok untuk menurunkan faktor risiko.

Menjaga pola tidur teratur untuk mempertahankan ritme sirkadian.³,⁶,¹¹


Farmakologis

Prinsip terapi

Menghentikan serangan akut dengan oksigen inhalasi atau triptan.

Mencegah kekambuhan dengan profilaksis verapamil.

Dapat diberikan kortikosteroid sebagai terapi bridging pada awal periode cluster.³,⁷,¹¹


Serangan Akut³,⁷

Golongan ObatObat & SediaanIndikasiDosis & FrekuensiFarmakodinamik
Oksigen inhalasiOksigen 100% melalui masker non-rebreatherTerapi akut lini pertama7–12 L/menit selama 15–20 menitMenyebabkan vasokonstriksi serebral dan menurunkan aktivasi trigeminovaskular.
Agonis serotonin (triptan)Sumatriptan injeksi 6 mg/0,5 mLTerapi akut lini pertama6 mg subkutan saat seranganAgonis reseptor 5-HT1B/1D yang menyebabkan vasokonstriksi pembuluh kranial dan menghambat pelepasan neuropeptida nyeri.
Agonis serotonin (triptan)Zolmitriptan nasal spray 5 mgAlternatif terapi akut5–10 mg intranasal saat seranganAgonis reseptor 5-HT1B/1D yang menekan aktivasi sistem trigeminovaskular.
Ergot alkaloidDihidroergotamin injeksi 1 mg/mLAlternatif terapi akut1 mg IV/IM/SC, dapat diulang sesuai respons klinisAgonis parsial reseptor serotonin dan adrenergik yang menyebabkan vasokonstriksi pembuluh kranial dan menghambat transmisi nyeri trigeminovaskular.
Anestetik lokalLidokain intranasal 4%Alternatif terapi akut1 mL intranasal pada sisi nyeriMenghambat transmisi saraf trigeminal pada mukosa nasal.
Analog somatostatinOctreotide injeksi 100 µgAlternatif bila triptan kontraindikasi100 µg subkutan saat seranganMenghambat pelepasan neuropeptida vasoaktif pada sistem trigeminovaskular.

Serangan Profilaksis³,⁷,¹¹

Golongan ObatObat & SediaanIndikasiDosis & FrekuensiFarmakodinamik
Calcium channel blockerVerapamil tablet 80 mg / 120 mgProfilaksis lini pertama cluster headache240–480 mg/hari terbagi dosis, dapat dititrasi sesuai responsMenghambat kanal kalsium tipe L sehingga menurunkan aktivitas neuron trigeminovaskular.
KortikosteroidPrednison tablet 5 mg / 10 mgTerapi bridging pada awal periode cluster50–75 mg/hari, kemudian taperingMenekan inflamasi neurogenik dan membantu menurunkan frekuensi serangan sementara.
AntikonvulsanTopiramate tablet 25 mg / 50 mgProfilaksis alternatif bila verapamil tidak efektif50–200 mg/hari terbagi dosisMemodulasi kanal natrium dan GABA, menurunkan eksitabilitas neuron trigeminovaskular.
Mood stabilizerLithium karbonat tablet 300 mgProfilaksis terutama pada cluster headache kronik600–900 mg/hari terbagi dosisMemodulasi neurotransmisi serotonin dan dopamin serta memengaruhi ritme sirkadian hipotalamus.

Komplikasi

Gangguan tidur kronik, karena serangan sering terjadi pada malam hari dan dapat berulang beberapa kali dalam satu malam.

Penurunan kualitas hidup, akibat nyeri yang sangat hebat dan berulang selama periode cluster.

Gangguan psikologis seperti depresi atau kecemasan, yang berkaitan dengan nyeri kronik dan keterbatasan aktivitas.

Penyalahgunaan analgesik, jika pasien mencoba mengontrol nyeri dengan penggunaan obat yang tidak tepat atau berlebihan.

Ide bunuh diri (suicide headache) pada kasus nyeri yang sangat berat dan refrakter, yang dilaporkan pada sebagian pasien dengan cluster headache.³,¹¹


Prognosis

Ad vitam (kelangsungan hidup pasien): bonam, karena cluster headache tidak menyebabkan mortalitas langsung.

Ad functionam (fungsi neurologis pasien): bonam, karena tidak menyebabkan kerusakan neurologis permanen.

Ad sanationam (kemungkinan kesembuhan penyakit): dubia, karena penyakit bersifat kronik dan dapat kambuh dalam periode tertentu.³,¹¹


Edukasi

Menjelaskan bahwa cluster headache merupakan nyeri kepala primer yang sangat hebat tetapi tidak disebabkan oleh kelainan struktural otak.

Pasien perlu menghindari alkohol dan pemicu lain selama periode cluster.

Pentingnya kepatuhan terhadap terapi profilaksis untuk mengurangi frekuensi serangan.

Pasien harus segera mencari pertolongan medis bila pola nyeri berubah atau muncul gejala neurologis baru.³,⁷,¹¹


Kriteria Rujukan

Diagnosis tidak jelas atau terdapat red flags nyeri kepala sekunder.

Serangan tidak respons terhadap terapi akut.

Memerlukan terapi profilaksis jangka panjang seperti verapamil dosis tinggi.

Adanya gejala neurologis fokal atau perubahan pola nyeri kepala.³,⁶,⁷



✏️ Kasih pendapatmu mengenai artikel ini! Yuk, klik disini