Carpal Tunnel Syndrome (3A).
Definisi
Neuropati akibat kompresi nervus medianus di dalam terowongan karpal (di bawah ligamentum transversum karpal) pada pergelangan tangan, yang menimbulkan gejala sensorimotor pada distribusi nervus medianus.¹,²,³,⁴

Epidemiologi
CTS merupakan neuropati kompresi perifer tersering, dengan prevalensi sekitar 3–6% pada populasi umum.²,³,¹¹
Lebih sering terjadi pada wanita dibanding pria (≈2–3 kali lebih tinggi), terutama usia 30–60 tahun.²,³,⁸
Insidensi meningkat pada individu dengan aktivitas berulang pada pergelangan tangan seperti pekerja kantor, industri, dan penggunaan komputer.³,⁴
Sering berhubungan dengan kondisi sistemik seperti diabetes melitus, hipotiroidisme, dan kehamilan.¹,³
Dapat terjadi bilateral, meskipun sering lebih berat pada tangan dominan.²,⁴
Etiologi
Kompresi nervus medianus dalam terowongan karpal akibat peningkatan tekanan intrakanal yang dibatasi oleh tulang karpal dan ligamentum transversum karpal.¹,³,⁴
Penebalan jaringan ikat pada kondisi seperti rheumatoid arthritis, akromegali, dan hipotiroidisme yang menyebabkan penyempitan ruang.¹,³,⁸
Infiltrasi jaringan seperti pada amyloidosis yang menebalkan struktur sekitar saraf.³
Retensi cairan seperti pada kehamilan atau peningkatan berat badan yang meningkatkan tekanan dalam terowongan karpal.¹,³
Faktor hormonal seperti kehamilan dan menopause yang menyebabkan edema jaringan dan meningkatkan tekanan saraf.³,⁸
Faktor mekanik berupa gerakan repetitif seperti mengetik, menulis, atau pekerjaan rumah tangga yang menyebabkan mikrotrauma berulang.³,⁴
Patofisiologi
Kompresi kronik nervus medianus di dalam terowongan karpal menyebabkan peningkatan tekanan intrakanal, terutama saat pergelangan tangan dalam posisi fleksi atau ekstensi.¹,³
Peningkatan tekanan tersebut menyebabkan gangguan aliran darah (iskemia saraf) sehingga terjadi disfungsi metabolisme akson dan sel Schwann.¹,³,⁴
Iskemia berlanjut mengakibatkan demielinisasi segmental, yang menyebabkan perlambatan hantaran impuls saraf dan timbulnya gejala parestesia.³,⁶
Pada kondisi kronik, terjadi kerusakan akson (degenerasi aksonal) yang menyebabkan penurunan fungsi motorik hingga kelemahan otot thenar.¹,³
Kompresi juga memicu inflamasi lokal dan edema pada tendon fleksor, yang semakin meningkatkan tekanan dalam terowongan karpal (siklus vicious).³,⁸
Aktivasi serabut saraf sensorik akibat iritasi dan iskemia menyebabkan nyeri khas, terutama pada malam hari, karena peningkatan tekanan saat posisi istirahat.³,⁴
Anamnesis

Nyeri, kesemutan, rasa tebal (numbness), atau sensasi seperti aliran listrik (tingling) pada distribusi nervus medianus, yaitu jari 1–3 dan setengah radial jari 4.¹,²,³
Keluhan sering memberat pada malam hari hingga membangunkan pasien dari tidur akibat peningkatan tekanan dalam terowongan karpal.¹,³,⁸
Pasien sering melakukan “flick sign” (mengibaskan tangan) untuk mengurangi gejala, yang memberikan perbaikan sementara.³,⁴
Nyeri dapat berkurang saat tangan diistirahatkan atau posisi diubah, karena tekanan saraf menurun.³
Keluhan dapat menjalar dari pergelangan ke lengan bawah, lengan atas, hingga bahu, akibat iritasi saraf yang menjalar.²,³,⁴
Dapat disertai kelemahan tangan dan kesulitan melakukan aktivitas halus pada kasus lanjut.¹,³,⁶
Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan Neurologi
Inspeksi dan palpasi ditemukan atrofi otot thenar (m. abductor pollicis brevis dan m. opponens pollicis) pada kasus berat akibat denervasi nervus medianus.¹,³
Fungsi motorik terdapat kelemahan abduksi dan oposisi ibu jari, serta pemeriksaan sepanjang lengan perlu dilakukan untuk menyingkirkan radikulopati servikal.¹,²,³
Fungsi sensorik ditemukan hipestesia atau parestesia pada distribusi nervus medianus (jari 1–3 dan setengah radial jari 4).¹,²,³
Pemeriksaan sensibilitas (two-point discrimination) menunjukkan penurunan ketajaman sensorik, dengan nilai normal <6 mm, meningkat pada CTS akibat gangguan fungsi saraf sensorik.³,⁶
Refleks umumnya normal, karena lesi terbatas pada saraf perifer distal.¹,³
Tes provokatif adalah pemeriksaan klinis dengan memicu kompresi nervus medianus di terowongan karpal untuk menimbulkan gejala khas berupa parestesia pada distribusi saraf medianus sebagai konfirmasi diagnosis CTS.³,⁶
Tourniquet test dilakukan dengan pemasangan manset tekanan darah di atas siku dengan tekanan sedikit di atas sistolik selama ±1 menit, hasil positif bila timbul parestesia akibat iskemia saraf.³
Pemeriksaan Penunjang
Nerve Conduction Study (NCS) menilai kecepatan hantaran nervus medianus, dengan temuan perlambatan konduksi sensorik dan motorik sebagai tanda kompresi.³,⁶
Elektromiografi (EMG) menunjukkan derajat kerusakan saraf dan dapat ditemukan denervasi pada otot thenar pada kasus lanjut.³,⁶
Ultrasonografi (USG) dapat menunjukkan pembesaran nervus medianus serta penebalan jaringan di terowongan karpal.³
Foto rontgen pergelangan tangan digunakan untuk mencari penyebab lain seperti fraktur atau kelainan tulang.³
Magnetic Resonance Imaging (MRI) digunakan bila dicurigai adanya massa, tumor, atau kelainan anatomi.³,⁴
Pemeriksaan laboratorium meliputi darah lengkap, fungsi ginjal, dan fungsi tiroid untuk menyingkirkan diagnosis banding, terutama pada pasien tanpa faktor risiko jelas, seperti diabetes melitus atau hipotiroidisme.¹,²,³
Diagnosis Banding
| Diagnosis | Perbedaan dengan CTS |
|---|---|
| Cervical root syndrome (radikulopati servikal) | Nyeri menjalar dari leher ke lengan, distribusi dermatom, disertai refleks abnormal.¹,² |
| Thoracic outlet syndrome | Keluhan pada seluruh lengan disertai gangguan vaskular, tidak spesifik nervus medianus.²,³ |
| Pronator teres syndrome | Kompresi nervus medianus di lengan proksimal, gejala tidak dominan pada malam hari dan tidak spesifik di pergelangan.³ |
| De Quervain’s syndrome | Nyeri pada pergelangan radial, tanpa parestesia saraf medianus.³ |
| Neuropati diabetik | Bersifat simetris (stocking-glove) dan melibatkan banyak saraf, bukan satu distribusi saraf.¹,² |
| Neuropati ulnaris | Gejala pada jari 4–5 sisi ulnar, bukan distribusi medianus.¹,³ |
Penatalaksanaan
Nonfarmakologis

Istirahatkan pergelangan tangan dan hindari aktivitas repetitif untuk menurunkan tekanan pada nervus medianus.¹,³
Splint pergelangan tangan (wrist splint) terutama saat malam hari untuk mempertahankan posisi netral.¹,³,⁸
Modifikasi aktivitas dan ergonomi kerja seperti posisi mengetik yang benar.³,⁴
Fisioterapi termasuk latihan peregangan dan penguatan otot.³
Farmakologis
| Golongan | Obat & Sediaan | Dosis & Frekuensi | Farmakodinamik |
|---|---|---|---|
| Analgetik non-opioid | Paracetamol tablet | 500–1000 mg setiap 6–8 jam (maksimal 4 g/hari) | Menghambat prostaglandin di sistem saraf pusat sehingga mengurangi nyeri |
| NSAID | Ibuprofen tablet | 400–800 mg setiap 8 jam | Menghambat enzim siklooksigenase (COX) sehingga menurunkan inflamasi dan edema jaringan |
| Kortikosteroid oral | Prednison tablet | 20–40 mg/hari jangka pendek | Menekan respons inflamasi dan mengurangi pembengkakan jaringan di terowongan karpal |
| Vitamin neurotropik | Vitamin B6 (piridoksin) | 50–100 mg/hari | Mendukung metabolisme saraf dan fungsi neurotransmiter |
| Kortikosteroid injeksi lokal | Triamcinolone / Metilprednisolon injeksi | 20–40 mg injeksi lokal, maksimal 3 kali | Mengurangi inflamasi lokal langsung sehingga menurunkan tekanan pada nervus medianus |
Prinsip Terapi Farmakologis
Mengurangi inflamasi dan edema pada terowongan karpal untuk menurunkan tekanan nervus medianus, menggunakan NSAID atau kortikosteroid.¹,³
Mengontrol nyeri dan parestesia sebagai terapi simptomatik dengan analgetik.¹,³
Mengurangi kompresi saraf melalui kortikosteroid lokal (injeksi) yang menurunkan inflamasi jaringan secara langsung di terowongan karpal.³,⁸
Mendukung fungsi saraf dengan vitamin neurotropik (misalnya vitamin B6) untuk memperbaiki metabolisme saraf.³
Terapi diberikan secara bertahap (stepwise), dimulai dari obat oral, kemudian injeksi lokal bila tidak membaik, sebelum dipertimbangkan tindakan operatif.¹,³
Terapi Lain
Terapi Injeksi
Kortikosteroid lokal diberikan langsung ke terowongan karpal untuk menurunkan inflamasi dan edema sehingga mengurangi tekanan pada nervus medianus.³,⁸
Obat yang digunakan antara lain triamcinolone 20–40 mg, metilprednisolon 20–40 mg, atau hidrokortison 10–25 mg dengan jarum kecil (No. 25).³
Efektif pada CTS ringan–sedang dan memberikan perbaikan cepat, terutama bila gejala baru.³
Dapat diulang hingga maksimal 3 kali, bila tidak membaik maka dipertimbangkan terapi operatif.³
Terapi Operatif 🟨

Carpal tunnel release dilakukan dengan memotong ligamentum transversum karpal untuk mengurangi tekanan pada nervus medianus.³,⁴
Indikasi
Gejala berat seperti atrofi thenar
Defisit motorik progresif
Gagal terapi konservatif dan injeksi
Teknik
Open release surgery (insisi terbuka)
Endoscopic release (minimal invasif)
Tujuan Mengembalikan fungsi saraf medianus dengan menghilangkan kompresi kronik.³
Prognosis
Ad vitam (terhadap kehidupan): bonam, karena Carpal Tunnel Syndrome tidak mengancam nyawa dan jarang menyebabkan komplikasi sistemik.¹,³
Ad functionam (terhadap fungsi): dubia ad bonam, karena fungsi tangan dapat membaik dengan terapi, namun pada kasus lanjut dengan atrofi thenar dapat terjadi gangguan fungsi menetap.¹,³,⁶
Ad sanationam (terhadap kesembuhan): dubia ad bonam, karena sebagian besar pasien membaik dengan terapi konservatif atau operatif, tetapi dapat terjadi kekambuhan bila faktor risiko tidak dikontrol.³,⁸
Edukasi
Ad vitam (terhadap kehidupan): bonam, karena Carpal Tunnel Syndrome tidak mengancam nyawa dan jarang menyebabkan komplikasi sistemik.¹,³
Ad functionam (terhadap fungsi): dubia ad bonam, karena fungsi tangan dapat membaik dengan terapi, namun pada kasus lanjut dengan atrofi thenar dapat terjadi gangguan fungsi menetap.¹,³,⁶
Ad sanationam (terhadap kesembuhan): dubia ad bonam, karena sebagian besar pasien membaik dengan terapi konservatif atau operatif, tetapi dapat terjadi kekambuhan bila faktor risiko tidak dikontrol.³,⁸
Kriteria Rujukan
Terdapat kelemahan motorik progresif terutama kelemahan oposisi ibu jari yang menunjukkan kerusakan nervus medianus lebih lanjut.¹,³
Ditemukan atrofi otot thenar, menandakan kompresi kronik dan kerusakan saraf berat.¹,³,⁶
Gejala tidak membaik dengan terapi konservatif (splint, obat) dalam waktu ≥6–12 minggu.³
Gagal terapi injeksi kortikosteroid atau gejala kambuh berulang setelah terapi.³
Diagnosis meragukan atau gejala atipikal, sehingga memerlukan pemeriksaan lanjutan seperti NCS/EMG atau evaluasi spesialis.¹,³
Dicurigai adanya penyebab sekunder seperti massa, tumor, atau kelainan anatomi.³
Daftar Pustaka
Ropper AH, Samuels MA, Klein JP. Adams and Victor’s Principles of Neurology. 12th ed. New York: McGraw-Hill; 2022.
Jameson JL, Fauci AS, Kasper DL, Hauser SL, Longo DL, Loscalzo J. Harrison’s Neurology in Clinical Medicine. 4th ed. New York: McGraw-Hill; 2016.
Aminoff MJ, Greenberg DA, Simon RP. Aminoff’s Neurology and General Medicine. 6th ed. London: Elsevier; 2021.
Berkowitz AL. Clinical Neurology and Neuroanatomy. New York: McGraw-Hill; 2016.
Lindsay KW, Bone I, Fuller G. Neurology and Neurosurgery Illustrated. 5th ed. London: Elsevier; 2010.
DeJong RN. The Neurologic Examination. 8th ed. Philadelphia: Lippincott Williams & Wilkins; 2020.
Estiasari R, Tunjungsari D, Samatra DPGP, editor. Pemeriksaan Klinis Neurologi Praktis. Jakarta: Kolegium Neurologi Indonesia; 2018.
Aninditha T, Harris S, Wiratman W, editor. Buku Ajar Neurologi Edisi Kedua. Jakarta: Departemen Neurologi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia; 2022.
Caplan LR. Caplan’s Stroke: A Clinical Approach. 4th ed. Philadelphia: Elsevier; 2016.
Oxford University Press. Oxford Handbook of Neurology. 2nd ed. Oxford: Oxford University Press; 2014.
National Center for Biotechnology Information. Carpal Tunnel Syndrome. Treasure Island: StatPearls Publishing; 2024.
