
Bell’s Palsy [3B].
Nama Lai : Idiopathic facial nerve palsy
Definisi

(https://neurologycasagrande.com)
Bell’s palsy adalah paralisis perifer akut saraf fasialis yang bersifat idiopatik, ditandai dengan kelemahan otot wajah unilateral akibat disfungsi saraf fasialis pada atau setelah keluar dari batang otak.
Istilah Bell’s palsy digunakan bila penyebab paralisis fasialis tidak diketahui. Bila penyebabnya dapat diidentifikasi, seperti infeksi varicella zoster (Ramsay Hunt syndrome), tumor parotis, trauma, atau penyakit neurologis lain, maka kondisi tersebut disebut paralisis saraf fasialis perifer sekunder, bukan Bell’s palsy.¹,³
Epidemiologi
Insidensi sekitar 15–30 kasus per 100.000 populasi per tahun.
Dapat terjadi pada semua usia namun paling sering pada usia 15–45 tahun.
Risiko meningkat pada kehamilan trimester ketiga dan periode postpartum.
Diabetes mellitus dan hipertensi merupakan komorbid yang sering ditemukan.
Sekitar 70–85% pasien mengalami pemulihan sempurna dalam beberapa bulan.¹-⁴,⁶
Etiologi
Penyebab pasti belum diketahui, namun diduga terkait dengan:
Reaktivasi virus herpes simpleks tipe 1 (HSV‑1) pada ganglion genikulatum.
Virus varicella zoster yang dapat menyebabkan inflamasi saraf fasialis.
Respons imun dan inflamasi saraf fasialis yang menimbulkan edema saraf.
Iskemia mikro pada saraf fasialis akibat penyakit metabolik seperti diabetes.¹-⁴,⁶
Faktor Risiko
Diabetes mellitus yang dapat menyebabkan neuropati dan gangguan mikrovaskular.
Hipertensi yang berhubungan dengan gangguan perfusi saraf perifer.
Kehamilan terutama trimester ketiga akibat perubahan hormonal dan retensi cairan.
Infeksi virus sebelumnya yang dapat memicu reaktivasi HSV‑1.
Paparan udara dingin yang diduga memicu vasokonstriksi lokal pada saraf fasialis.¹,²,⁴,⁶
Klasifikasi
Berdasarkan Derajat Kelumpuhan (House–Brackmann).
| Derajat | Gambaran Klinis |
|---|---|
| Grade I – Normal | Fungsi wajah normal, tidak terdapat kelemahan atau asimetri wajah. |
| Grade II – Disfungsi ringan | Asimetri ringan saat ekspresi wajah; dapat menutup mata sepenuhnya dengan usaha minimal; fungsi wajah hampir normal. |
| Grade III – Disfungsi sedang | Asimetri wajah jelas, terutama saat ekspresi wajah; penutupan mata masih dapat dilakukan tetapi dengan usaha; kelemahan otot wajah nyata. |
| Grade IV – Disfungsi sedang–berat | Kelemahan wajah nyata dengan asimetri saat istirahat; penutupan mata tidak sempurna; gerakan wajah terbatas. |
| Grade V – Disfungsi berat | Gerakan wajah sangat minimal, penutupan mata hampir tidak dapat dilakukan, asimetri wajah berat. |
| Grade VI – Paralisis total | Tidak ada gerakan otot wajah pada sisi yang terkena; paralisis fasialis lengkap. |
Klasifikasi ini digunakan untuk menilai derajat kerusakan saraf fasialis serta memantau perbaikan klinis selama perjalanan penyakit.³,⁴
Patofisiologi
Reaktivasi virus (terutama HSV‑1) pada ganglion genikulatum memicu respons inflamasi pada saraf fasialis.
Inflamasi menyebabkan edema saraf dalam kanalis fasialis yang sempit di tulang temporal, terutama pada segmen labirin (labyrinthine segment) yang merupakan bagian paling sempit dari kanalis fasialis.
Kompresi ini menimbulkan gangguan mikrosirkulasi, iskemia saraf, dan demielinisasi sementara pada serabut saraf fasialis.
Gangguan konduksi impuls saraf menyebabkan kelemahan otot wajah unilateral, gangguan sekresi air mata, serta gangguan pengecapan.
Bila kompresi berat, dapat terjadi degenerasi aksonal parsial yang menjelaskan mengapa sebagian pasien mengalami pemulihan lambat atau sinkinesis saat regenerasi saraf.¹-⁶,¹⁰
Anamnesis
Kelemahan wajah mendadak unilateral, biasanya berkembang dalam 24–72 jam.
Sulit menutup mata pada sisi yang terkena akibat paralisis otot orbicularis oculi.
Penglihatan kabur, terutama karena mata sulit menutup sehingga kornea menjadi kering.
Lakrimasi berlebihan atau mata berair, akibat gangguan regulasi sekresi kelenjar lakrimal oleh saraf fasialis.
Mulut mencong ke sisi sehat akibat dominasi otot wajah kontralateral.
Penurunan pengecapan pada 2/3 anterior lidah karena keterlibatan chorda tympani.
Hiperkakusis akibat paralisis otot stapedius.
Nyeri retroaurikular yang sering mendahului paralisis wajah.¹,³,⁴,⁶
Pemeriksaan Fisik
Asimetri wajah saat istirahat akibat paralisis otot wajah.
Hilangnya lipatan nasolabial pada sisi yang terkena akibat kelemahan otot wajah.
Deviasi sudut mulut ke sisi sehat karena dominasi otot kontralateral.
Lagoftalmus (ketidakmampuan menutup mata) akibat paralisis otot orbicularis oculi.³,⁴
Pemeriksaan Neurologis

Paralisis wajah perifer unilateral yang melibatkan dahi dan wajah bagian bawah.
Tidak dapat mengangkat alis atau mengerutkan dahi pada sisi yang terkena.
Bell’s phenomenon, yaitu bola mata bergerak ke atas saat pasien mencoba menutup mata.
Penurunan refleks kornea akibat gangguan penutupan kelopak mata.³,⁴,⁷
Pemeriksaan Penunjang
Sebagian besar kasus tidak memerlukan pemeriksaan tambahan karena diagnosis bersifat klinis, namun pemeriksaan dilakukan bila terdapat kecurigaan etiologi lain atau perjalanan penyakit tidak khas.
MRI otak dan tulang temporal digunakan untuk menyingkirkan tumor, stroke batang otak, atau lesi struktural sepanjang jalur saraf fasialis.
Elektromiografi (EMG) menilai aktivitas listrik otot wajah dan dapat menunjukkan adanya denervasi otot akibat kerusakan saraf fasialis.
Tes konduksi saraf fasialis (NCV = nerve conduction study) digunakan untuk menilai derajat degenerasi aksonal dan membantu memprediksi prognosis.
Tes lakrimasi (Schirmer test) dapat menilai fungsi serabut parasimpatis saraf fasialis yang menginervasi kelenjar lakrimal.
Tes pengecapan pada dua pertiga anterior lidah dapat menunjukkan keterlibatan cabang chorda tympani.³.⁴,⁶,⁷,⁸
Diagnosis Banding³,⁴,⁶
| Diagnosis | Perbedaan dengan Bell’s Palsy |
|---|---|
| Stroke (lesi sentral) | Kelumpuhan wajah tidak melibatkan dahi karena otot dahi masih mendapat inervasi bilateral dari korteks serebri. |
| Ramsay Hunt syndrome | Paralisis wajah disertai vesikel pada telinga atau kanalis auditorius dan nyeri telinga hebat akibat infeksi varicella zoster. |
| Tumor parotis | Paralisis wajah berkembang perlahan dan progresif, sering disertai massa pada daerah parotis. |
| Otitis media | Disertai nyeri telinga, demam, dan tanda infeksi telinga tengah. |
| Lyme disease | Paralisis fasialis disertai riwayat gigitan kutu dan gejala sistemik infeksi Borrelia burgdorferi. |
Penatalaksanaan
Tujuan terapi adalah mengurangi inflamasi saraf fasialis, melindungi mata dari komplikasi kornea, serta mempertahankan fungsi otot wajah selama proses regenerasi saraf.
Terapi paling efektif bila diberikan dalam 72 jam pertama sejak onset gejala, karena pada fase ini inflamasi saraf masih reversibel.¹,³,⁴,⁶
Non Farmakologis
Perawatan mata intensif menggunakan air mata buatan pada siang hari dan salep oftalmik pada malam hari untuk mencegah keratitis eksposur.
Penutup mata atau eye patch saat tidur untuk melindungi kornea dari trauma dan kekeringan.
Fisioterapi wajah dan latihan otot wajah membantu mempertahankan tonus otot dan mencegah atrofi otot selama masa denervasi.
Proteksi kornea dengan pelumas mata atau tape kelopak mata bila lagoftalmus berat.³,⁴,⁶
⭐ Farmakologis
Prinsip Terapi
Kortikosteroid diberikan dalam 72 jam pertama untuk menurunkan inflamasi dan edema saraf fasialis.
Antivirus dapat ditambahkan bila dicurigai terjadi reaktivasi virus herpes.
Analgesik diberikan untuk meredakan nyeri, terutama nyeri retroaurikular.¹,³,⁴,⁶
| Golongan Obat | Obat & Sediaan | Indikasi | Dosis & Frekuensi | Farmakodinamik |
|---|---|---|---|---|
| Kortikosteroid | Prednison tablet 5 mg / 10 mg | Terapi utama Bell’s palsy akut untuk mengurangi inflamasi saraf fasialis | 1 mg/kg BB atau 60 mg/hari selama 5 hari, kemudian tapering 5 hari berikutnya | Menghambat sitokin proinflamasi dan menurunkan edema saraf fasialis. |
| Antivirus | Acyclovir tablet 400 mg | Dugaan reaktivasi HSV pada Bell’s palsy | 400 mg 5x sehari selama 7 hari | Menghambat DNA polymerase virus sehingga menekan replikasi virus. |
| Antivirus (herpes zoster / Ramsay Hunt) | Acyclovir tablet 800 mg | Paralisis fasialis akibat herpes zoster (Ramsay Hunt syndrome) | 800 mg 5x sehari selama 7–10 hari | Menghambat replikasi DNA virus varicella zoster. |
| Analgesik | Paracetamol tablet 500 mg | Nyeri retroaurikular atau nyeri wajah | 500 mg setiap 6–8 jam bila perlu | Menghambat sintesis prostaglandin pada sistem saraf pusat. |

Terapi Operatif
Facial nerve decompression untuk mengurangi kompresi saraf fasialis pada kanalis fasialis.
Dipertimbangkan pada paralisis berat (House–Brackmann V–VI) atau degenerasi saraf >90% pada pemeriksaan elektrofisiologi.¹,³
Komplikasi
Keratitis eksposur, terjadi akibat ketidakmampuan menutup mata, sehingga kornea menjadi kering dan rentan cedera.
Gangguan pengecapan pada 2/3 anterior lidah, terjadi akibat keterlibatan chorda tympani.
Gangguan bicara (disartria ringan), terjadi akibat kelemahan otot wajah dan bibir.
Sinkinesis wajah (eye–mouth synkinesis), yaitu gerakan tidak sinkron antara mata dan mulut, akibat regenerasi saraf yang tidak sempurna.
Crocodile tears (Bogorad syndrome), yaitu lakrimasi berlebihan saat makan, akibat reinnervasi serabut parasimpatis yang abnormal.¹,³,⁴
Prognosis
Ad vitam (kelangsungan hidup): bonam karena penyakit jarang mengancam jiwa.
Ad functionam (fungsi neurologis): bonam hingga dubia tergantung derajat kerusakan saraf dan kecepatan terapi.
Ad sanationam (kesembuhan penyakit): bonam karena sekitar 70–85% pasien pulih sempurna dalam 3–6 bulan.¹,³,⁴
Edukasi
Pasien perlu memahami bahwa sebagian besar kasus Bell’s palsy dapat pulih sempurna.
Penting menjaga kelembapan mata dan perlindungan kornea untuk mencegah komplikasi kornea.
Segera kembali kontrol jika gejala memburuk atau tidak membaik dalam beberapa minggu.¹,³,⁴
Kriteria Rujukan
Paralisis wajah tidak membaik setelah 3 bulan terapi konservatif.
Paralisis wajah progresif atau bilateral yang mencurigakan etiologi lain.
Terdapat defisit neurologis lain yang mengarah pada lesi sentral.
Kecurigaan Ramsay Hunt syndrome, misalnya vesikel pada telinga disertai nyeri hebat.
House–Brackmann grade V–VI atau terdapat komplikasi mata (keratitis eksposur).³,⁴,⁶