Absces Serebri [2].

Absces Serebri [2].


Nama lain : Brain abscess atau cerebral abscess.


Definisi

Abses serebri adalah infeksi fokal pada parenkim otak yang ditandai oleh proses supuratif terlokalisasi dengan pembentukan kapsul berisi pus akibat invasi mikroorganisme ke jaringan otak.¹,²

Gambaran abses otak multiple  (Jones dkk, 2013)
Gambaran abses otak multiple (Jones dkk, 2013)

Epidemiologi

Insidensi diperkirakan sekitar 0,3–1,3 kasus per 100.000 populasi per tahun

Lebih sering ditemukan pada laki-laki usia produktif.

Sumber infeksi tersering adalah infeksi telinga tengah, sinusitis, dan endokarditis.

Mortalitas menurun secara signifikan dengan kemajuan neuroimaging modern dan terapi antibiotik.²,⁶,⁸


Etiologi

Bakteri aerob dan anaerob: terutama Streptococcus spp. dan Staphylococcus aureus.

Bakteri Gram negatif pada infeksi nosokomial atau trauma kepala.

Jamur, seperti Aspergillus, terutama pada pasien imunokompromais.

Parasit, meskipun jarang, dapat menyebabkan lesi menyerupai abses.²


Faktor Risiko

Infeksi lokal di sekitar otak, seperti sinusitis, otitis media, mastoiditis, atau infeksi gigi, dapat menyebar langsung ke parenkim otak.

Infeksi sistemik dengan penyebaran hematogen, misalnya endokarditis atau abses paru, dapat menyebabkan emboli septik ke otak.

Imunokompromais, misalnya pada HIV/AIDS, diabetes melitus, atau penggunaan obat imunosupresif, meningkatkan kerentanan terhadap infeksi oportunistik.

Trauma kepala atau fraktur tengkorak terbuka memungkinkan masuknya mikroorganisme ke jaringan otak.

Riwayat prosedur bedah saraf atau infeksi pascaoperasi.

Penyakit jantung bawaan sianotik meningkatkan risiko embolisasi bakteri ke sirkulasi serebral.¹,³,⁸


Klasifikasi

Abses otak berdasarkan rute infeksi

Kontigu (penyebaran langsung) dari infeksi di sekitar otak seperti sinusitis, otitis media, mastoiditis, atau infeksi gigi.

Hematogen, akibat penyebaran melalui aliran darah dari infeksi jauh seperti endokarditis atau abses paru.

Pasca trauma atau pasca operasi, akibat kontaminasi langsung jaringan otak setelah trauma kepala terbuka atau prosedur bedah saraf.

Abses otak berdasarkan jumlah lesi

Abses tunggal, biasanya akibat penyebaran langsung dari infeksi lokal.

Abses multipel, lebih sering terjadi akibat penyebaran hematogen.¹,³

Abses otak berdasarkan stadium perkembangan

StadiumWaktu PerkembanganKarakteristik PatologiTemuan Klinis / Imaging
Early cerebritisHari 1–3Inflamasi awal jaringan otak dengan infiltrasi neutrofil dan edema, belum terbentuk kapsulLesi inflamasi difus, batas tidak jelas pada CT/MRI
Late cerebritisHari 4–9Terjadi nekrosis jaringan dan pembentukan pusat abses dengan infiltrasi sel inflamasiLesi mulai lebih jelas dengan edema sekitarnya
Early capsule formationHari 10–13Mulai terbentuk kapsul kolagen tipis yang mengelilingi absesPada imaging mulai tampak ring enhancement
Late capsule formation≥14 hariKapsul abses menebal dan terorganisasi, pusat abses berisi pusLesi ring-enhancing dengan edema vasogenik yang jelas

Patofisiologi

Mikroorganisme mencapai parenkim otak melalui penyebaran langsung (kontigu), hematogen, atau trauma kepala, sehingga memicu infeksi pada jaringan otak.

Infeksi memicu inflamasi lokal dengan infiltrasi neutrofil dan sel imun, sehingga menimbulkan edema serebral dan kerusakan jaringan otak (serebritis).

Terjadi nekrosis jaringan dan terbentuk pusat abses berisi pus yang terdiri dari bakteri, leukosit, dan debris sel.

Selanjutnya terbentuk kapsul kolagen di sekitar abses sebagai respons pertahanan tubuh untuk membatasi penyebaran infeksi.

Edema vasogenik di sekitar abses meningkatkan tekanan intrakranial, sehingga dapat menyebabkan sakit kepala, defisit neurologis fokal, kejang, dan penurunan kesadaran.¹,³


Anamnesis

Sakit kepala progresif, umumnya persisten dan memburuk bertahap akibat peningkatan tekanan intrakranial.

Demam, yang mengindikasikan adanya proses infeksi.

Mual dan muntah, berkaitan dengan peningkatan tekanan intrakranial.

Kejang, akibat iritasi korteks serebri oleh inflamasi atau efek massa abses.

Defisit neurologis fokal, seperti hemiparesis, gangguan bicara, atau gangguan penglihatan, bergantung pada lokasi abses.

Penurunan kesadaran, terutama pada kasus dengan edema serebral atau peningkatan tekanan intrakranial berat.

Riwayat infeksi sebelumnya, seperti sinusitis, otitis media, mastoiditis, infeksi gigi, atau endokarditis, yang dapat menjadi sumber infeksi.¹,³


Pemeriksaan Fisik

Demam sebagai tanda infeksi sistemik yang mendasari pembentukan abses.

Takikardia serta tanda inflamasi sistemik lainnya.

Penurunan kesadaran, mulai dari konfusi hingga koma, akibat peningkatan tekanan intrakranial atau edema serebral.

Tanda peningkatan tekanan intrakranial, seperti muntah proyektil, sakit kepala berat, dan papiledema.

Dapat ditemukan tanda infeksi primer, misalnya nyeri sinus, otitis media, mastoiditis, atau infeksi gigi, yang menjadi sumber penyebaran infeksi.¹,³


Pemeriksaan Neurologis

Penurunan skor GCS akibat gangguan fungsi serebral dan peningkatan tekanan intrakranial.

Defisit neurologis fokal, seperti hemiparesis, afasia, atau gangguan lapang pandang, sesuai lokasi abses.

Papiledema pada pemeriksaan funduskopi yang menunjukkan peningkatan tekanan intrakranial.

Kejang atau aktivitas motorik abnormal akibat iritasi korteks serebri oleh lesi abses.

Pada beberapa kasus dapat ditemukan tanda rangsang meningeal jika terjadi iritasi meningen di sekitar abses.¹,³


Pemeriksaan Penunjang

⭐ CT scan kepala dengan kontras sering digunakan sebagai pemeriksaan awal untuk mendeteksi abses otak, dan biasanya menunjukkan lesi ring-enhancing dengan edema vasogenik di sekitarnya.

Pemeriksaan darah, seperti leukosit dan penanda inflamasi (CRP atau LED), dapat menunjukkan tanda infeksi sistemik.

Kultur darah dilakukan untuk mengidentifikasi mikroorganisme penyebab infeksi, terutama pada kasus dengan penyebaran hematogen.

Aspirasi atau biopsi abses otak dapat dilakukan untuk memperoleh sampel pus guna pemeriksaan kultur dan identifikasi patogen, sehingga membantu menentukan terapi antibiotik yang tepat.

Catatan: Pungsi lumbal dikontraindikasikan pada abses serebri dengan efek massa karena dapat memicu herniasi otak.¹-³


Diagnosis Banding¹,³

DiagnosisPerbedaan dengan Abses Otak
Tumor otak primerLesi massa dengan pertumbuhan lebih lambat dan biasanya tanpa tanda infeksi sistemik seperti demam.
Metastasis otakBiasanya lesi multipel dengan riwayat keganasan primer di organ lain.
TuberkulomaLesi granulomatosa akibat infeksi *Mycobacterium tuberculosis • dengan perjalanan penyakit lebih kronis.
NeurocysticercosisInfeksi parasit dengan lesi kistik pada otak, sering ditemukan skoleks pada imaging.
EnsefalitisInflamasi parenkim otak tanpa pembentukan kapsul abses dan biasanya tidak menunjukkan lesi ring-enhancing khas.

Penatalaksanaan

Non-Farmakologis

Stabilisasi airway, breathing, circulation (ABC) untuk mempertahankan fungsi vital pasien.

Pemantauan status neurologis secara ketat, termasuk penilaian GCS dan tanda peningkatan tekanan intrakranial.

Tatalaksana peningkatan tekanan intrakranial, seperti elevasi kepala 30° dan pemantauan tekanan intrakranial.

Tindakan bedah berupa aspirasi atau drainase abses untuk mengurangi efek massa serta memperoleh sampel pus untuk kultur.

Perawatan suportif, termasuk hidrasi yang adekuat, nutrisi, dan pencegahan komplikasi seperti aspirasi atau dekubitus.¹,³


Farmakologis

Prinsip terapi

Pemberian antibiotik empiris segera dengan spektrum luas untuk mencakup bakteri aerob dan anaerob penyebab abses otak.

Penyesuaian antibiotik berdasarkan hasil kultur dan uji sensitivitas dari aspirasi abses atau kultur darah.

Terapi antibiotik jangka panjang, umumnya diberikan secara intravena selama 4–8 minggu, untuk eradikasi infeksi.

Kontrol kejang dengan antikonvulsan bila terdapat kejang atau risiko iritasi kortikal akibat lesi abses.

Penanganan edema serebral dengan terapi yang sesuai untuk menurunkan tekanan intrakranial dan efek massa abses.¹,³

Golongan ObatObat dan SediaanIndikasi KlinisDosis dan FrekuensiFarmakodinamik
Sefalosporin generasi III (β-laktam)Ceftriaxone injeksi 1 g / 2 g vialAbses otak akibat bakteri aerob Gram positif dan Gram negatif2 g IV setiap 12 jamMenghambat sintesis dinding sel bakteri melalui inhibisi enzim transpeptidase.
Nitroimidazole (antibiotik anaerob)Metronidazole injeksi 500 mg/100 mLInfeksi bakteri anaerob, sering pada abses dari infeksi gigi atau sinus500 mg IV setiap 8 jamMerusak DNA bakteri anaerob sehingga menghambat replikasi sel.
GlikopeptidaVancomycin injeksi 500 mg / 1 g vialDugaan infeksi Staphylococcus aureus atau Gram positif resisten15–20 mg/kgBB IV setiap 8–12 jamMenghambat sintesis dinding sel bakteri Gram positif.
BenzodiazepinDiazepam injeksi 5 mg/mL ampulKejang akut atau status epileptikus0,15–0,2 mg/kgBB IV perlahan, dapat diulang bila perluPotensiasi reseptor GABA-A sehingga meningkatkan inhibisi neuron dan menghentikan aktivitas kejang.
AntikonvulsanLevetiracetam tablet 500 mg / injeksi 500 mg/5 mLKontrol kejang berulang500–1000 mg dua kali sehariMenghambat pelepasan neurotransmiter eksitatorik.
KortikosteroidDeksametason injeksi 5 mg/mL ampulEdema serebral dengan efek massa4–10 mg IV setiap 6–8 jam sesuai indikasiAnti-inflamasi yang menurunkan edema serebral dan tekanan intrakranial.
Diuretik osmotikManitol injeksi 20% (200 mg/mL)Peningkatan tekanan intrakranial akibat edema serebral0,25–1 g/kgBB IV bolusMeningkatkan osmolaritas plasma sehingga menarik cairan dari jaringan otak dan menurunkan tekanan intrakranial.

Diazepam digunakan untuk menghentikan kejang akut, sedangkan levetiracetam untuk pencegahan kejang berulang.

Manitol digunakan pada pasien dengan tanda peningkatan tekanan intrakranial seperti papiledema atau penurunan kesadaran.

Terapi antibiotik biasanya diberikan 4–8 minggu intravena dan disesuaikan dengan hasil kultur abses.¹,³


Operasi

Aspirasi abses dengan stereotactic needle aspiration untuk mengeluarkan pus dan menurunkan tekanan intrakranial.

Drainase abses melalui kraniotomi pada abses yang berukuran besar, multilokular, atau tidak responsif terhadap terapi antibiotik.

Eksisi total abses pada kasus tertentu bila kapsul abses telah terbentuk jelas dan lokasi lesi dapat diakses dengan aman.

Pengambilan sampel pus saat tindakan operasi untuk pemeriksaan kultur dan uji sensitivitas antibiotik.¹,³


Komplikasi

Peningkatan tekanan intrakranial akibat edema serebral dan efek massa abses, yang dapat menyebabkan herniasi otak.

Kejang berulang atau epilepsi simptomatik akibat iritasi korteks serebri oleh lesi abses.

Defisit neurologis permanen, seperti hemiparesis, afasia, atau gangguan penglihatan, bergantung pada lokasi kerusakan jaringan otak.

Ruptur abses ke ventrikel yang dapat menyebabkan ventrikulitis dan meningitis sekunder dengan mortalitas tinggi.

Sepsis atau penyebaran infeksi sistemik bila infeksi tidak terkontrol.¹,³


Prognosis

Ad vitam (prognosis terhadap kelangsungan hidup): dubia ad bonam dengan terapi cepat dan adekuat.

Ad functionam (prognosis terhadap fungsi neurologis): dubia tergantung lokasi lesi dan komplikasi.

Ad sanationam (prognosis terhadap kesembuhan penyakit): bonam bila diagnosis dan terapi dini, namun dapat menjadi dubia ad malam bila diagnosis terlambat.²,³


Edukasi

Kepatuhan terhadap terapi antibiotik jangka panjang.

Penanganan sumber infeksi primer seperti sinusitis atau infeksi telinga.

Edukasi tanda bahaya seperti kejang, muntah proyektil, atau penurunan kesadaran.²,³


Kriteria Rujukan

Penurunan kesadaran progresif.

Kejang berulang.

Abses >2,5 cm atau dengan efek massa signifikan.

Keterbatasan fasilitas untuk tindakan bedah saraf.²,³,⁷



✏️ Kasih pendapatmu mengenai artikel ini! Yuk, klik disini