Pterygium [3A]
Definisi
Pterigium adalah pertumbuhan jaringan fibrovaskular konjungtiva berbentuk segitiga yang meluas ke arah kornea, terutama di daerah interpalpebral, akibat proses degeneratif dan proliferatif kronik.¹,⁷,⁸

(A) Gambaran histopatologi yang menunjukkan perubahan degeneratif kolagen pada stroma subepitel yang mengalami vaskularisasi;
(B) Pterigium yang memperlihatkan bagian cap (tudung), head/kepala, body/badan, serta garis Stocker (panah);
(C) Pterigium yang mengalami inflamasi;
(D) Pseudopterigium yang terjadi secara sekunder akibat luka bakar kimia.
Epidemiologi
Pterigium merupakan kelainan permukaan okular yang cukup sering ditemukan, dengan prevalensi sekitar 5% sampai 15% pada populasi umum, dan dapat mencapai lebih dari 20% pada daerah dengan paparan sinar ultraviolet tinggi.⁸,⁷
Lebih sering terjadi pada usia dewasa (lebih dari 30 sampai 40 tahun), karena adanya akumulasi paparan sinar ultraviolet dan iritasi lingkungan secara kronik.⁸
Insidensi lebih tinggi pada individu yang bekerja di luar ruangan, seperti petani atau nelayan, akibat paparan sinar UV, debu, dan angin yang berlangsung terus-menerus.¹,⁸
Lebih banyak ditemukan di daerah tropis dan subtropis, karena intensitas radiasi ultraviolet yang lebih tinggi dibandingkan dengan daerah beriklim sedang.⁷,⁸
Umumnya mengenai mata bagian nasal dan dapat bersifat bilateral, karena area tersebut paling sering terpapar faktor lingkungan.¹,⁴
Etiologi
Paparan kronik sinar ultraviolet (UV-B) menyebabkan degenerasi dan proliferasi jaringan fibrovaskular konjungtiva.¹,⁸
Iritasi lingkungan kronik (debu, angin, asap) dapat menyebabkan inflamasi permukaan okular berulang.¹,⁷
Mata kering (dry eye) menyebabkan instabilitas lapisan air mata (tear film) dan iritasi kronik.⁸
Faktor genetik dapat meningkatkan kerentanan terhadap stres oksidatif dan inflamasi.⁸
Faktor Risiko
Paparan sinar ultraviolet (UV) kronik, terutama pada pekerja luar ruangan, meningkatkan risiko akibat kerusakan jaringan konjungtiva.¹,⁸
Tinggal di daerah tropis atau subtropis, karena intensitas radiasi UV lebih tinggi.⁷,⁸
Paparan debu, angin, dan polusi, yang menyebabkan iritasi kronik permukaan okular.¹,⁷
Usia dewasa (30–40 tahun), akibat akumulasi paparan lingkungan jangka panjang.⁸
Mata kering (dry eye) menyebabkan instabilitas lapisan air mata dan meningkatkan iritasi.⁸
Pekerjaan di luar ruangan (petani, nelayan), karena paparan faktor lingkungan secara terus-menerus.¹
Klasifikasi
1. Berdasarkan derajat invasi ke kornea (grading pterigium)
| Grade | Keterangan |
|---|---|
| Grade I | Lesi mencapai limbus namun belum memasuki kornea; umumnya asimptomatik atau hanya keluhan ringan |
| Grade II | Lesi melewati limbus dan masuk ke kornea hingga <2 mm |
| Grade III | Lesi meluas >2 mm ke kornea, namun belum mencapai aksis visual |
| Grade IV | Lesi telah mencapai atau menutupi aksis visual (pupil) sehingga dapat menyebabkan penurunan visus signifikan |
Berdasarkan aktivitas lesi
Pterigium aktif (inflamed): tampak tebal, hiperemis, dengan vaskularisasi yang jelas, mencerminkan inflamasi dan proliferasi yang aktif.⁴,⁷,⁸
Pterigium inaktif (atrofik): tampak tipis, pucat, dengan vaskularisasi minimal, mencerminkan aktivitas inflamasi yang rendah.⁴,⁷,⁸
Anamnesis
Pada tahap awal, pasien sering asimptomatik karena lesi masih kecil dan belum menyebabkan gangguan pada permukaan okular.⁴
Keluhan awal berupa munculnya jaringan berbentuk segitiga pada mata yang dirasakan sebagai gangguan kosmetik.⁴,⁵
Mata merah kronik (hiperemia) akibat proliferasi jaringan fibrovaskular dan inflamasi konjungtiva.⁴,⁵
Rasa mengganjal atau seperti ada benda asing terjadi akibat permukaan kornea yang tidak rata akibat invasi jaringan pterigium.⁵
Mata terasa kering atau terbakar akibat gangguan stabilitas tear film dan iritasi pada permukaan okular.⁸
Penurunan visus dapat terjadi, terutama bila lesi telah mencapai aksis visual atau menyebabkan astigmatisme (umumnya with-the-rule, yaitu meridian vertikal lebih curam akibat perataan meridian horizontal oleh tarikan jaringan), akibat distorsi permukaan kornea.⁴,⁹
Keluhan dapat bertambah saat terpapar sinar matahari, debu, atau angin karena meningkatkan iritasi dan inflamasi pada permukaan okular.¹,⁸
Riwayat pekerjaan dengan paparan lingkungan tinggi (outdoor) merupakan faktor risiko yang mendukung diagnosis.¹
Pemeriksaan Fisik
Tampak lesi fibrovaskular berbentuk segitiga yang tumbuh dari konjungtiva bulbi ke arah kornea, paling sering di sisi nasal dekat limbus, akibat proliferasi jaringan dan invasi ke kornea.¹,⁴
Lesi terdiri dari tiga bagian utama.
Cap (apeks): bagian paling anterior, relatif avaskular
Head (kepala): bagian yang melewati limbus dan masuk ke kornea
Body (tubuh): bagian yang berada di konjungtiva bulbi Pembagian ini mencerminkan arah pertumbuhan progresif pterigium.⁴
Tampak vaskularisasi superfisial, terutama pada lesi aktif, akibat angiogenesis yang dipicu oleh mediator inflamasi (VEGF).¹
Secara klinis dapat dibedakan.
Pterigium aktif (inflamed): tampak tebal, hiperemis, dengan vaskularisasi yang jelas, akibat inflamasi dan proliferasi jaringan yang aktif.
Pterigium inaktif (atrofik): tampak tipis, pucat, dengan vaskularisasi minimal, akibat aktivitas inflamasi yang rendah.
Perbedaan ini mencerminkan derajat inflamasi dan aktivitas proliferasi jaringan fibrovaskular.⁴,⁷,⁸
Pada beberapa kasus tampak Fuchs’ islets, yaitu infiltrat kecil di bagian apeks, sebagai tanda aktivitas lesi. Fuchs’ islets adalah bintik-bintik kecil berwarna abu-abu keputihan pada puncak/kepala pterigium, yang merupakan kumpulan sel epitel atau jaringan degeneratif. ⁴
Permukaan kornea dapat menjadi tidak rata akibat tarikan jaringan fibrovaskular, sehingga dapat menimbulkan astigmatisme.⁴,⁹
Ditemukan hiperemia konjungtiva di sekitar lesi akibat inflamasi kronik.⁴,⁵
Lesi dapat meluas ke aksis visual, yang berhubungan dengan penurunan visus saat menutupi pupil.⁴
Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan visus Menilai dampak terhadap tajam penglihatan. Dapat ditemukan penurunan visus bila lesi mencapai aksis visual atau menimbulkan astigmatisme.⁴,⁹
Slit-lamp biomikroskopi Menilai morfologi lesi, vaskularisasi, dan derajat invasi ke kornea. Pemeriksaan ini membantu menentukan stadium dan aktivitas pterigium.¹,⁴
Fotografi serial Digunakan untuk memantau progresi lesi, termasuk perubahan ukuran dan vaskularisasi dari waktu ke waktu.⁴
Pemeriksaan histopatologi (jarang, bila ada indikasi) Menunjukkan degenerasi hialin dan elastotik pada konjungtiva, serta perubahan pada kornea berupa degenerasi membran Bowman. Temuan ini mencerminkan proses degeneratif kronik akibat paparan UV.⁴,⁸
Diagnosis Banding
| Diagnosis | Perbedaan dengan Pterigium |
|---|---|
| Pinguekula | Lesi kekuningan pada konjungtiva yang tidak meluas ke kornea, berbeda dengan pterigium yang menjalar ke kornea.¹,⁴ |
| Pseudopterigium | Perlekatan konjungtiva ke kornea akibat inflamasi atau trauma, tidak memiliki pertumbuhan progresif segitiga khas dan dapat diangkat dengan probe (tes sonde).⁴ |
| Karsinoma sel skuamosa konjungtiva | Lesi tampak tidak teratur, vaskularisasi abnormal, dan dapat ulseratif, berbeda dengan pterigium yang lebih teratur dan jinak.⁴,⁷ |
| Limbal dermoid | Lesi kongenital berupa massa padat putih kekuningan di limbus, tidak bersifat progresif dan tidak invasif ke kornea seperti pterigium.⁵ |
| Konjungtivitis kronik | Menyebabkan mata merah difus tanpa pertumbuhan jaringan fibrovascular ke kornea, berbeda dengan pterigium yang membentuk lesi struktural.⁴ |
Penatalaksanaan
Nonfarmakologis
Edukasi untuk mengurangi paparan sinar ultraviolet (UV) dengan menggunakan kacamata pelindung UV dan topi.¹,⁸
Anjurkan untuk menghindari debu, angin, dan polusi, karena dapat memperberat iritasi permukaan okular.¹
Farmakologis
Prinsip Terapi Farmakologis
Terapi farmakologis bertujuan untuk mengurangi gejala iritasi dan inflamasi, bukan untuk menghilangkan lesi pterigium.⁴,⁶
Lubrikan (air mata buatan) merupakan terapi utama untuk memperbaiki stabilitas film air mata dan mengurangi gesekan pada permukaan okular.⁴
Pada kondisi pterigium aktif (inflamed), dapat diberikan kortikosteroid topikal jangka pendek untuk menekan inflamasi lokal.⁴,⁶
Penggunaan obat bersifat simptomatik. Hal ini karena pterigium merupakan kondisi degeneratif dan proliferatif kronik yang tidak dapat disembuhkan dengan obat.¹
Terapi farmakologis digunakan sebagai tatalaksana awal atau suportif. Terapi definitif pada kasus berat tetap berupa tindakan operatif.⁴,⁵
| Golongan | Obat & Sediaan | Dosis & Frekuensi | Farmakodinamik |
|---|---|---|---|
| Lubrikan (air mata buatan) | Carboxymethylcellulose 0,5% tetes mata; Hypromellose 0,3% | 4–6 kali per hari atau sesuai kebutuhan | Meningkatkan stabilitas tear film dan mengurangi gesekan serta iritasi permukaan okular |
| Kortikosteroid topikal ringan | Fluorometholone 0,1% tetes mata; Loteprednol 0,5% | 2–4 kali per hari selama 1–2 minggu (jangka pendek) | Menghambat inflamasi dengan menekan sitokin proinflamasi seperti TNF-α dan respon imun lokal |
| NSAID topikal (opsional) | Diclofenac sodium 0,1% tetes mata; Ketorolac 0,5% | 2–4 kali per hari | Menghambat enzim siklooksigenase (COX) sehingga menurunkan produksi prostaglandin dan mengurangi inflamasi ringan |
Operatif 🟨
Macam Teknik Bedah 🟨
(dalam bab ini sudah kami sediakan video dan link youtube, keduanya membutuhkan koneksi internet dan bandwith yang lumayan ya)
Terapi Tambahan 🟨
Mitomycin C (MMC) Agen antifibrotik intraoperatif yang menghambat proliferasi fibroblas untuk menurunkan risiko kekambuhan.⁵
Beta radiation Terapi adjuvan pada kasus tertentu untuk menekan proliferasi jaringan fibrovaskular yang rekuren.⁵,⁷
Komplikasi
Penurunan visus dapat terjadi akibat invasi lesi ke aksis visual atau terbentuknya astigmatisme ireguler karena tarikan jaringan fibrovaskular pada kornea.⁴,⁹
Astigmatisme terjadi akibat distorsi kelengkungan kornea, terutama pada pterigium yang progresif dan luas.⁴
Kekambuhan (rekurensi) merupakan komplikasi tersering pascabedah, disebabkan oleh proliferasi fibroblas dan inflamasi yang tidak terkontrol.⁵
Iritasi kronik persisten dapat terjadi akibat ketidakstabilan film air mata dan permukaan okular yang tidak rata.⁸
Inflamasi berulang (pterigium aktif) dapat menyebabkan hiperemia dan penebalan lesi akibat aktivasi mediator inflamasi kronik.⁴
Komplikasi pascabedah seperti infeksi, granuloma, atau nekrosis graft dapat terjadi akibat gangguan penyembuhan jaringan dan teknik bedah.⁵
Prognosis
Ad vitam (terhadap kehidupan): bonam, karena pterigium merupakan lesi jinak yang tidak mengancam nyawa dan tidak menimbulkan komplikasi sistemik.⁴,⁸
Ad functionam (terhadap fungsi): dubia ad bonam, karena fungsi penglihatan dapat tetap baik pada stadium awal. Namun, pada kasus lanjut dapat terjadi penurunan visus akibat keterlibatan aksis visual atau astigmatisme.⁴,⁹
Ad sanationam (terhadap kesembuhan): dubia ad bonam, karena lesi dapat diatasi dengan terapi operatif. Namun, terdapat risiko kekambuhan akibat proliferasi fibrovaskular pascaoperasi.⁵
Edukasi
Jelaskan bahwa pterigium merupakan lesi jinak yang dapat tumbuh perlahan dan pada kondisi tertentu dapat mengganggu penglihatan.⁴
Anjurkan penggunaan kacamata dengan proteksi UV dan topi saat beraktivitas di luar ruangan untuk mengurangi paparan sinar ultraviolet.¹,⁸
Anjurkan pasien menghindari debu, angin, dan polusi, karena dapat memperberat iritasi dan inflamasi permukaan mata.¹
Anjurkan penggunaan air mata buatan secara rutin untuk menjaga kelembapan permukaan okular dan mengurangi keluhan kering atau mengganjal.⁴
Anjurkan pasien untuk tidak menggosok mata, karena dapat memperburuk iritasi dan inflamasi lokal.⁴
Jelaskan tanda bahaya, seperti penurunan penglihatan, pertumbuhan lesi yang cepat, atau mata merah menetap, yang memerlukan evaluasi lebih lanjut.⁴,⁵
Anjurkan kontrol berkala untuk memantau progresivitas lesi, terutama pada pasien dengan faktor risiko tinggi.⁴
Kriteria Rujukan
Lesi telah mencapai atau mengganggu aksis visual sehingga berisiko menimbulkan penurunan visus signifikan dan memerlukan evaluasi untuk tindakan operatif.⁴,⁵
Penurunan visus akibat pterigium, baik karena invasi ke kornea maupun astigmatisme, sehingga memerlukan penatalaksanaan lanjutan.⁴,⁹
Pertumbuhan progresif ke arah kornea yang terpantau pada pemeriksaan serial sehingga berisiko memperburuk fungsi penglihatan.⁴
Iritasi kronik persisten yang tidak membaik dengan terapi konservatif sehingga memerlukan evaluasi oleh dokter spesialis.⁴,⁶
Kecurigaan diagnosis lain, seperti neoplasma konjungtiva, bila tampak lesi tidak khas, pertumbuhan cepat, atau vaskularisasi abnormal.⁷
Permintaan pasien untuk tindakan operatif untuk alasan kosmetik atau fungsional yang berada di luar kewenangan layanan primer.⁴,⁵
