Pneumonia Viral [3B].
| Item | Keterangan |
|---|---|
| SKDI | 3B — mampu menegakkan diagnosis klinis, memberikan tata laksana awal dan stabilisasi, serta melakukan rujukan/kolaborasi pada kasus yang memerlukan penanganan lanjutan atau rawat inap. |
Definisi
Pneumonia viral adalah infeksi akut pada parenkim paru akibat virus respiratori, yang ditandai oleh inflamasi alveolar atau interstisial serta gejala infeksi saluran napas bawah, dan dapat disertai infiltrat interstisial, ground-glass opacity, atau konsolidasi pada pemeriksaan radiologi.⁵,⁶,¹⁸
Etiologi
Coronavirus: SARS-CoV, SARS-CoV-2, dan MERS-CoV.¹⁸,¹⁹,²⁰,²³,²⁴
Influenza virus: influenza A H1N1, influenza A H5N1, dan influenza musiman.¹⁸,²¹,²²
Respiratory syncytial virus (RSV): sering berat pada anak, lansia, dan pasien komorbid.¹⁸
Adenovirus: dapat menyebabkan pneumonia berat, terutama pada anak dan imunokompromais.¹⁸
Parainfluenza virus dan human metapneumovirus: dapat menyebabkan infeksi saluran napas bawah, terutama pada kelompok rentan.¹⁸
Virus lain: rhinovirus, enterovirus, varicella-zoster virus, dan cytomegalovirus, terutama pada pasien imunokompromais.⁶,¹⁸
Faktor risiko
Usia ekstrem, terutama anak kecil dan lansia.¹⁸
Komorbid kronik, seperti PPOK, asma, diabetes melitus, penyakit jantung, penyakit ginjal kronik, dan penyakit hati kronik.⁵,⁶,¹⁸
Kondisi imunokompromais, seperti HIV/AIDS, transplantasi, kemoterapi, penggunaan kortikosteroid atau obat imunosupresif.⁶,¹⁸
Kehamilan, terutama pada influenza berat seperti H1N1.²¹
Paparan atau kontak erat dengan pasien infeksi virus respiratori, termasuk SARS-CoV-2, SARS-CoV, dan MERS-CoV.¹⁹,²⁰,²³,²⁴
Paparan unggas sakit atau lingkungan berisiko pada dugaan influenza A H5N1.²²
Tinggal di fasilitas padat, rumah sakit, panti jompo, atau lingkungan dengan ventilasi buruk.¹³,¹⁸
Status vaksinasi influenza atau COVID-19 yang tidak adekuat pada kelompok risiko tinggi.¹⁹,²¹
Gambaran klinis
Anamnesis

Demam, malaise, menggigil, dan gejala prodromal yang menyerupai influenza-like illness.⁵,⁶,¹⁸
Batuk, umumnya batuk kering, tetapi dapat berkembang menjadi batuk produktif pada infeksi berat atau koinfeksi bakteri.¹⁸
Sesak napas dengan progresi yang bervariasi, mulai dari ringan hingga gagal napas pada kasus berat.⁵,¹⁸
Gejala saluran napas atas seperti rhinore, odinofagia, kongesti nasal, atau serak dapat mendahului gejala paru.¹⁸
Mialgia, sakit kepala, dan kelelahan lebih menonjol pada influenza, COVID-19, dan infeksi coronavirus lainnya.¹⁹,²¹,²³
Anosmia atau ageusia dapat ditemukan pada COVID-19.¹⁹
Riwayat kontak erat, perjalanan, paparan wabah, atau paparan unggas sakit penting digali pada dugaan COVID-19, SARS, MERS, atau H5N1.¹⁹,²²,²³,²⁴
Pemeriksaan Fisik
Demam, takipnea, takikardia, dan penurunan saturasi oksigen.⁵,¹⁸
Ronki halus/crackles bilateral akibat keterlibatan interstisial atau alveolar.¹,⁵
Dapat ditemukan wheezing pada sebagian pasien akibat inflamasi saluran napas bawah.¹⁸
Pada kasus sedang–berat dapat ditemukan penggunaan otot bantu napas, retraksi, atau tanda distres respirasi.⁵,¹⁸
Temuan konsolidasi seperti perkusi redup dan bronchial breath sound dapat muncul bila terdapat keterlibatan alveolar luas atau superinfeksi bakteri.¹,⁶
Pada kasus berat dapat berkembang menjadi hipoksemia berat, ARDS, syok, atau tanda disfungsi multiorgan.¹³,¹⁹,²⁰,²³
Penunjang
Darah lengkap: dapat menunjukkan leukopenia, limfopenia, atau leukositosis bila terdapat koinfeksi bakteri. .¹⁸,¹⁹
CRP dan prokalsitonin: membantu menilai derajat inflamasi. Prokalsitonin rendah lebih mendukung etiologi viral, sedangkan peningkatan bermakna mengarah ke koinfeksi bakteri. .¹⁸,¹⁹
RT-PCR/NAAT respiratori: pemeriksaan utama untuk mendeteksi virus spesifik, seperti SARS-CoV-2, influenza, RSV, atau virus respiratori lain. .¹⁸,¹⁹,²¹
Tes antigen cepat: dapat digunakan untuk skrining cepat beberapa virus, tetapi sensitivitas umumnya lebih rendah dibanding RT-PCR. .¹⁹,²¹
Panel PCR multiplex respiratori: membantu mendeteksi beberapa virus dan bakteri atipikal dalam satu pemeriksaan, terutama pada pneumonia berat atau imunokompromais. .¹⁸
Analisis gas darah: dilakukan pada kasus sedang hingga berat untuk menilai hipoksemia, gangguan ventilasi, asidosis, atau risiko gagal napas. .⁵,¹³
Kultur sputum dan kultur darah: dipertimbangkan bila dicurigai koinfeksi bakteri, sepsis, atau pneumonia berat. .⁶,¹⁸
Pemeriksaan fungsi hati, ginjal, elektrolit, dan koagulasi: penting pada pneumonia viral berat, terutama COVID-19, MERS, SARS, atau influenza berat. .¹³,¹⁹
Bronkoskopi/BAL: dipertimbangkan pada pasien imunokompromais, gagal terapi, atau diagnosis belum jelas. Pemeriksaan ini bukan pemeriksaan rutin. .⁵,⁶
Tatalaksana
Prinsip Umum
Tata laksana pneumonia viral meliputi terapi suportif, isolasi sesuai transmisi, dan terapi antivirus bila terdapat indikasi.¹³,¹⁸,¹⁹
Penilaian derajat berat, oksigenasi, komorbid, dan risiko komplikasi harus dilakukan sejak awal.¹³,¹⁹
Antibiotik tidak rutin diberikan, kecuali terdapat kecurigaan koinfeksi bakteri.⁶,¹⁸
Non-Farmakologis
Oksigenasi sesuai kebutuhan klinis.¹³
Hidrasi, nutrisi adekuat, antipiretik, dan terapi simptomatik.¹³,¹⁸
Isolasi droplet/contact/airborne sesuai jenis virus dan pedoman infeksi.¹³,¹⁹,²³
Monitoring tanda vital, saturasi oksigen, dan tanda perburukan respirasi.¹³
Pertimbangkan ICU pada hipoksemia berat, ARDS, syok, atau gagal napas.¹³,¹⁹
Prinsip Terapi Farmakologis
Antivirus spesifik diberikan bila tersedia dan sesuai etiologi virus.¹⁹,²¹,²²
Influenza (H1N1/H5N1) memerlukan terapi neuraminidase inhibitor sedini mungkin.²¹,²²
Pada COVID-19, terapi mengikuti derajat keparahan dan pedoman terkini, termasuk pertimbangan antiviral, kortikosteroid, atau imunomodulator pada kasus tertentu.¹⁹
Tata laksana SARS dan MERS terutama bersifat suportif, termasuk manajemen gagal napas dan komplikasi.²⁰,²³,²⁴
Evaluasi kemungkinan koinfeksi bakteri pada pneumonia berat atau pasien ICU.⁶,¹⁸
