Pneumonia Parasit [3B].

Pneumonia Parasit [3B].

(Parasitic Pneumonia)

ItemKeterangan
SKDI3B — mampu menegakkan diagnosis klinis, memberikan tata laksana awal dan stabilisasi, serta melakukan rujukan/kolaborasi pada kasus yang memerlukan penanganan lanjutan atau rawat inap.

Definisi

Pneumonia parasit adalah infeksi atau inflamasi parenkim paru akibat infestasi parasit, yang dapat terjadi melalui migrasi larva, invasi jaringan paru, reaksi hipersensitivitas, atau penyebaran sistemik. Kondisi ini sering dikaitkan dengan riwayat paparan di daerah endemik, konsumsi makanan terkontaminasi, eosinofilia, atau keadaan imunokompromais.⁴,⁶


Etiologi

Paragonimus westermani dan spesies Paragonimus lain menyebabkan paragonimiasis paru setelah konsumsi krustasea air tawar mentah atau kurang matang.⁴,⁶

Strongyloides stercoralis dapat menyebabkan keterlibatan paru saat migrasi larva atau hiperinfeksi pada pasien imunokompromais.⁴,⁶

Ascaris lumbricoides menyebabkan manifestasi paru sementara pada fase migrasi larva melalui paru.⁴,⁶

Toxocara canis/cati dapat menimbulkan visceral larva migrans dengan infiltrat paru dan eosinofilia.⁴,⁶

Echinococcus granulosus menyebabkan kista hidatid paru yang dapat menyerupai lesi infeksi paru.⁴,⁶

Toxoplasma gondii dapat menyebabkan pneumonia berat, terutama pada pasien HIV/AIDS atau imunokompromais.⁴,⁶


Faktor risiko

Tinggal atau bepergian ke daerah endemik parasit.⁴,⁶

Konsumsi krustasea air tawar mentah atau kurang matang, terutama pada dugaan paragonimiasis paru.⁴,⁶

Paparan tanah, air, atau makanan yang terkontaminasi telur atau larva parasit.⁴,⁶

Higiene dan sanitasi yang buruk, termasuk keterbatasan akses air bersih.⁴,⁶

Imunokompromais, seperti HIV/AIDS, penggunaan kortikosteroid atau imunosupresan, transplantasi, atau kemoterapi.⁴,⁶

Riwayat eosinofilia, gejala paru berulang, atau infiltrat paru yang berpindah-pindah.⁴,⁶

Kontak dengan hewan reservoir, misalnya anjing atau kucing pada toksokariasis atau ternak pada hidatidosis.⁴,⁶


Patofisiologi

Pneumonia parasit terjadi melalui beberapa mekanisme, yaitu migrasi larva melalui paru, invasi langsung jaringan paru, reaksi hipersensitivitas, atau penyebaran sistemik pada pasien imunokompromais.⁴,⁶

Pada fase migrasi larva, parasit seperti Ascaris lumbricoides, Strongyloides stercoralis, atau Toxocara dapat melewati kapiler paru dan alveoli sehingga memicu inflamasi lokal dan eosinofilia paru.⁴,⁶

Respons imun terhadap antigen parasit menyebabkan rekrutmen eosinofil, pelepasan mediator inflamasi, edema interstisial, dan infiltrat paru yang dapat bersifat sementara atau berpindah pindah.⁴,⁶

Paragonimus spp. dapat menetap di jaringan paru dan membentuk lesi kistik atau kavitas. Kondisi ini menyebabkan inflamasi kronik, hemoptisis, serta gambaran yang dapat menyerupai tuberkulosis.⁴,⁶

Echinococcus granulosus menyebabkan kista hidatid paru. Ruptur kista dapat memicu reaksi inflamasi berat, batuk, hemoptisis, atau reaksi anafilaksis.⁴,⁶

Pada pasien imunokompromais, Strongyloides stercoralis dapat menyebabkan hiperinfeksi dengan penyebaran larva masif ke paru. Kondisi ini dapat menimbulkan pneumonia berat, perdarahan alveolar, sepsis, atau gagal napas.⁴,⁶

Toxoplasma gondii dapat menyebabkan pneumonia difus pada pasien imunokompromais melalui reaktivasi atau penyebaran hematogen, terutama pada HIV/AIDS berat.⁴,⁶


Anamnesis

Batuk subakut atau kronik, dapat disertai sputum, mengi, atau sesak napas.⁴,⁶

Demam, malaise, penurunan berat badan, atau gejala sistemik dapat ditemukan pada infeksi parasit jaringan atau diseminata.⁴,⁶

Hemoptisis dapat terjadi pada paragonimiasis paru atau kista hidatid paru yang mengalami komplikasi.⁴,⁶

Nyeri dada pleuritik dapat muncul bila terdapat keterlibatan pleura, lesi perifer, atau ruptur kista.⁴,⁶

Riwayat perjalanan atau tinggal di daerah endemik, konsumsi makanan mentah atau kurang matang, paparan tanah, air, atau makanan yang terkontaminasi, serta kontak dengan hewan perlu digali.⁴,⁶

Riwayat eosinofilia, penggunaan kortikosteroid atau imunosupresan, HIV/AIDS, atau gejala paru berulang dapat mengarahkan pada etiologi parasit tertentu.⁴,⁶


Pemeriksaan Fisik

Takipnea, takikardia, demam, atau penurunan saturasi oksigen pada kasus sedang hingga berat.⁴,⁶

Ronki basah/crackles atau wheezing dapat ditemukan akibat inflamasi bronkoalveolar atau migrasi larva.⁴,⁶

Perkusi redup atau penurunan suara napas dapat muncul bila terdapat efusi pleura, konsolidasi, atau lesi kistik besar.⁴,⁶

Pada kasus berat dapat ditemukan distres respirasi, sianosis, hipotensi, atau tanda sepsis.⁴,⁶

Manifestasi ekstraparu seperti hepatomegali, lesi kulit, limfadenopati, atau tanda neurologis dapat membantu mengarah pada parasitosis sistemik.⁴,⁶


Penunjang

Darah lengkap: dapat menunjukkan eosinofilia perifer, yang merupakan petunjuk penting pada banyak infeksi parasit paru, meskipun tidak selalu ditemukan pada pasien imunokompromais.⁴,⁶

Analisis gas darah: dilakukan pada pasien dengan sesak sedang hingga berat, hipoksemia, atau dugaan gagal napas.³,⁷

Pemeriksaan sputum: dapat digunakan untuk mencari telur parasit, larva, atau bahan diagnostik lain. Pada paragonimiasis, telur dapat ditemukan pada sputum atau feses.⁴,⁶

Pemeriksaan feses: membantu identifikasi telur atau larva parasit, terutama pada ascariasis, strongyloidiasis, atau paragonimiasis.⁴,⁶

Pemeriksaan serologi: membantu diagnosis beberapa parasitosis, seperti echinococcosis, toxocariasis, strongyloidiasis, atau toxoplasmosis.⁴,⁶

PCR/pemeriksaan molekuler: tersedia di pusat tertentu untuk meningkatkan sensitivitas identifikasi beberapa infeksi parasit.⁴,⁶

Bronkoskopi dengan BAL: dipertimbangkan pada kasus dengan diagnosis yang tidak jelas, pneumonia berat, pasien imunokompromais, atau dugaan infeksi oportunistik/diseminata.⁴,⁶

Histopatologi/biopsi jaringan: dapat diperlukan bila terdapat lesi nodular atau kista, atau bila diagnosis belum dapat ditegakkan melalui pemeriksaan noninvasif.⁴,⁶



Tatalaksana

Prinsip Umum

Tata laksana bergantung pada jenis parasit, lokasi infeksi, status imun pasien, dan derajat keparahan penyakit.⁴,⁶

Terapi utama meliputi antiparasit spesifik, terapi suportif, serta tata laksana komplikasi.⁴,⁶

Pada pasien imunokompromais atau penyakit berat diperlukan rawat inap dan kolaborasi spesialistik.⁶,⁷

Evaluasi keterlibatan ekstraparu penting karena banyak parasitosis bersifat sistemik.⁴,⁶


Non-Farmakologis

Oksigenasi sesuai kebutuhan klinis.⁷

Hidrasi, nutrisi adekuat, antipiretik, dan terapi simptomatik.⁷

Monitoring saturasi, tanda vital, dan perkembangan respirasi.⁷

Penanganan komplikasi seperti efusi pleura, gagal napas, atau ruptur kista bila ada.⁴,⁶


Prinsip Terapi Farmakologis

Albendazole atau ivermectin banyak digunakan pada beberapa helminthiasis paru.⁴,⁶

Praziquantel merupakan terapi utama paragonimiasis.⁴,⁶

Toxoplasmosis paru memerlukan regimen pyrimethamine-sulfadiazine dengan suplementasi folinat.⁴,⁶

Echinococcosis paru dapat memerlukan kombinasi albendazole dan tindakan bedah/intervensi sesuai ukuran serta komplikasi kista.⁴,⁶