Pneumonia Jamur [3B].
(Fungal Pneumonia)
| Item | Keterangan |
|---|---|
| SKDI | 3B — mampu menegakkan diagnosis klinis, memberikan tata laksana awal dan stabilisasi, serta melakukan rujukan/kolaborasi pada kasus yang memerlukan penanganan lanjutan atau rawat inap. |
Definisi
Pneumonia jamur (fungal pneumonia) adalah infeksi parenkim paru yang disebabkan oleh jamur patogen atau oportunistik. Infeksi ini terjadi melalui inhalasi spora atau reaktivasi infeksi laten. Kondisi ini lebih sering ditemukan pada pasien imunokompromais, tetapi dapat juga terjadi pada individu imunokompeten, tergantung jenis patogennya.⁶,¹⁶,²¹
Etiologi
Pneumocystis jirovecii, terutama pada pasien HIV/AIDS, penggunaan kortikosteroid jangka panjang, transplantasi, atau imunokompromais berat.⁶,¹⁶,²⁰
Aspergillus spp., terutama menyebabkan aspergilosis pulmoner invasif pada neutropenia, transplantasi, penggunaan steroid, atau penyakit paru struktural.⁶,¹⁶,¹⁹
Histoplasma capsulatum, jamur dimorfik yang dapat menyebabkan pneumonia setelah inhalasi spora dari lingkungan endemik.⁶,¹⁶,²¹
Cryptococcus neoformans/gattii, terutama pada HIV/AIDS, transplantasi, atau imunokompromais.⁶,¹⁶,²²
Coccidioides spp. dan Blastomyces dermatitidis, terutama pada paparan wilayah endemik tertentu.⁶,¹⁶,²¹
Candida spp. jarang menyebabkan pneumonia primer. Temuan Candida pada sputum sering mencerminkan kolonisasi, bukan infeksi paru invasif.⁶,¹⁶,²¹
Faktor risiko
HIV/AIDS, terutama bila terjadi penurunan imunitas seluler berat.⁶,¹⁶,²⁰
Penggunaan kortikosteroid jangka panjang atau obat imunosupresif.⁶,¹⁶
Neutropenia, keganasan hematologi, kemoterapi, atau transplantasi organ atau sumsum tulang.⁶,¹⁶,¹⁹
Penyakit paru struktural, seperti PPOK, bronkiektasis, kavitas paru lama, atau riwayat TB paru.¹,⁶,¹⁹
Perawatan ICU, ventilasi mekanik, atau kondisi sakit kritis berat.⁴,¹⁶
Paparan lingkungan endemik, tanah, gua, kotoran burung atau kelelawar, atau debu yang mengandung spora jamur.⁶,¹⁶,²¹
Diabetes melitus, malnutrisi, dan penyakit kronik berat yang menurunkan respons imun.⁶,¹⁶
Patofisiologi
Pneumonia jamur terjadi setelah inhalasi spora jamur atau reaktivasi infeksi laten, terutama pada pasien dengan gangguan imunitas.⁶,¹⁶,²¹
Spora mencapai alveoli, lalu difagositosis oleh makrofag alveolar dan memicu respons imun lokal.¹,⁶
Pada individu imunokompeten, infeksi umumnya terlokalisasi melalui aktivasi imunitas seluler dan pembentukan granuloma, terutama pada jamur dimorfik seperti Histoplasma.⁶,²¹
Pada pasien imunokompromais, kontrol imun dapat gagal sehingga jamur bereplikasi, menginvasi jaringan paru, dan menyebar secara hematogen.⁶,¹⁶
Pneumocystis jirovecii terutama mengisi ruang alveolar dengan material proteinaceous sehingga terjadi gangguan difusi oksigen dan hipoksemia progresif.¹⁶,²⁰
Aspergillus spp. dapat bersifat angioinvasif sehingga menyebabkan trombosis pembuluh darah, infark paru, nekrosis, hemoptisis, dan kavitasi.¹⁶,¹⁹
Inflamasi dan kerusakan parenkim paru dapat menimbulkan infiltrat difus, nodul, konsolidasi, kavitasi, atau gagal napas pada kasus berat.⁶,¹⁶,¹⁹
Gambaran klinis
Anamnesis
Demam, malaise, penurunan berat badan, dan gejala konstitusional yang sering bersifat subakut hingga kronik.⁶,¹⁶
Batuk, dapat berupa batuk kering atau produktif, tergantung etiologi dan derajat inflamasi paru.¹⁶,²¹
Sesak napas progresif, terutama pada Pneumocystis jirovecii pneumonia (PJP/PCP).¹⁶,²⁰
Nyeri dada pleuritik dapat ditemukan akibat keterlibatan pleura atau lesi perifer paru.⁵,⁶
Hemoptisis dapat terjadi pada aspergilosis pulmoner, terutama bentuk invasif atau lesi kavitas.¹⁶,¹⁹
Riwayat imunokompromais (HIV/AIDS, transplantasi, kemoterapi, steroid), penyakit paru dasar, atau paparan lingkungan endemik perlu digali.⁶,¹⁶,²¹
Riwayat perjalanan, paparan guano kelelawar/burung, tanah, debu, atau area endemik mendukung etiologi tertentu, seperti histoplasmosis atau coccidioidomycosis.⁶,²¹
Pemeriksaan Fisik
Demam, takipnea, takikardia, dan penurunan saturasi oksigen.⁵,¹⁶
Ronki halus (crackles) bilateral akibat keterlibatan interstisial atau alveolar.¹,⁵
Temuan auskultasi dapat minimal meskipun terdapat hipoksemia berat, terutama pada PJP/PCP.¹⁶,²⁰
Wheezing, penurunan suara napas, atau tanda konsolidasi dapat ditemukan, tergantung pola lesi paru.¹,⁶
Pada aspergilosis invasif, dapat ditemukan hemoptisis, distres respirasi, atau progresi cepat menuju gagal napas.¹⁶,¹⁹
Pada kasus berat, kondisi dapat berkembang menjadi hipoksemia berat, ARDS, sepsis, atau disfungsi multiorgan.¹³,¹⁶
Penunjang
Darah lengkap: dapat menunjukkan leukositosis, leukopenia, neutropenia, limfopenia, atau eosinofilia sesuai etiologi dan status imun pasien..⁶,¹⁶
CRP dan prokalsitonin: membantu menilai derajat inflamasi. Prokalsitonin dapat lebih rendah pada infeksi jamur murni dibanding koinfeksi bakteri..¹⁶
Analisis gas darah: penting pada sesak sedang–berat untuk menilai hipoksemia, terutama pada PJP/PCP..¹⁶,²⁰
Pemeriksaan sputum/BAL: digunakan untuk mikroskopi, kultur jamur, PCR, atau identifikasi organisme..⁶,¹⁶
Galactomannan serum atau BAL: mendukung diagnosis aspergilosis invasif..¹⁶,¹⁹
β-D-glucan serum: penanda infeksi jamur invasif, termasuk PJP/PCP dan aspergilosis, tetapi tidak spesifik untuk satu spesies..¹⁶,²⁰
Antigen kriptokokus serum atau cairan tubuh: membantu diagnosis kriptokokosis, terutama pada HIV/AIDS..¹⁶,²²
Histopatologi/biopsi: dipertimbangkan bila diagnosis belum jelas untuk melihat invasi jaringan dan menentukan etiologi jamur..⁶,¹⁶
Tatalaksana
Prinsip Umum
Tata laksana pneumonia jamur bergantung pada etiologi jamur, status imun pasien, dan derajat keparahan penyakit.⁶,¹⁶
Terapi utama adalah antijamur spesifik disertai terapi suportif serta koreksi faktor predisposisi bila memungkinkan.⁶,²¹
Penilaian serta tata laksana kondisi imunokompromais (HIV/AIDS, neutropenia, transplantasi, steroid) merupakan bagian penting terapi.⁶,¹⁶
Pasien dengan hipoksemia, gagal napas, atau infeksi invasif memerlukan rawat inap dan kolaborasi spesialistik.¹³,¹⁶
Non-Farmakologis
Oksigenasi sesuai derajat hipoksemia.¹³
Hidrasi, nutrisi adekuat, antipiretik, dan terapi simptomatik.¹³,⁶
Evaluasi serta modifikasi faktor risiko, seperti imunosupresi, bila memungkinkan.⁶,¹⁶
Monitoring ketat tanda vital, saturasi oksigen, dan perkembangan klinis.¹³
Pertimbangkan ICU pada gagal napas, ARDS, atau instabilitas hemodinamik.¹³,¹⁶
Prinsip Terapi Farmakologis
Pemilihan terapi didasarkan pada identifikasi etiologi jamur.⁶,¹⁶
PJP/PCP diterapi utama dengan trimethoprim–sulfamethoxazole (TMP-SMX). Kortikosteroid dipertimbangkan pada hipoksemia sedang sampai berat.²⁰
Aspergilosis invasif umumnya menggunakan voriconazole sebagai terapi lini pertama.¹⁹
Infeksi jamur tertentu memerlukan azoles, amphotericin B, atau regimen lain sesuai spesies dan derajat berat penyakit.⁶,²¹
Evaluasi respons terapi dilakukan melalui perbaikan klinis, oksigenasi, biomarker, dan pencitraan serial.¹⁶
