Pneumonia Aspirasi [3B].
| Item | Keterangan |
|---|---|
| SKDI | 3B — mampu menegakkan diagnosis klinis, memberikan tata laksana awal dan stabilisasi, kemudian melakukan rujukan pada kasus yang memerlukan penanganan lanjutan atau rawat inap. |
Definisi
Pneumonia aspirasi adalah infeksi parenkim paru yang terjadi akibat masuknya sekret orofaring, isi lambung, atau material asing ke saluran napas bawah, sehingga memicu inflamasi alveoli dan terutama terjadi pada pasien dengan gangguan refleks batuk atau menelan.²,⁹

Etiologi
Flora orofaring yang teraspirasi, terutama campuran bakteri aerob dan anaerob.²,⁹
Bakteri anaerob, seperti Bacteroides, Prevotella, Fusobacterium, dan streptokokus anaerob, terutama pada aspirasi kronik, higiene oral buruk, abses paru, atau empiema.⁶,⁹
Bakteri aerob gram positif, terutama Streptococcus pneumoniae dan Staphylococcus aureus.²,⁹
Bakteri gram negatif, seperti Klebsiella pneumoniae, Escherichia coli, dan Pseudomonas aeruginosa, terutama pada pasien rawat inap, lansia, atau komorbid berat.⁶,⁹
Isi lambung yang teraspirasi dapat menyebabkan cedera kimia awal, yang kemudian dapat diikuti oleh infeksi bakteri sekunder.⁹
Faktor risiko
Gangguan menelan atau disfagia, misalnya akibat stroke, penyakit neurologis, atau gangguan neuromuskular.²,⁹.
Penurunan kesadaran, seperti pada kejang, intoksikasi alkohol, sedasi, anestesi, atau trauma kepala.⁶,⁹.
Refleks batuk menurun, sehingga material aspirasi sulit dikeluarkan dari saluran napas.⁹.
Usia lanjut, imobilisasi berkepanjangan, dan kelemahan umum.²,⁹.
GERD, muntah berulang, obstruksi gastrointestinal, atau penggunaan selang nasogastrik.⁹.
Higiene oral buruk dan penyakit periodontal, yang meningkatkan kolonisasi bakteri orofaring.⁶,⁹.
Gangguan proteksi jalan napas, termasuk intubasi, trakeostomi, atau ventilasi mekanik.⁴,⁹.
Komorbid berat, seperti PPOK, diabetes melitus, penyakit ginjal kronik, keganasan, dan imunokompromais.²,⁹.
Anamnesis
Batuk yang sering disertai sputum purulen atau sputum berbau akibat keterlibatan bakteri anaerob.⁶,⁹
Demam, menggigil, malaise, serta penurunan kondisi umum akibat respons inflamasi sistemik.²,⁹
Sesak napas dan takipnea akibat inflamasi paru serta gangguan pertukaran gas.¹,²
Riwayat episode aspirasi, seperti tersedak, batuk setelah makan atau minum, muntah, atau refluks gastroesofageal.⁶,⁹
Riwayat gangguan menelan atau disfagia, stroke, penyakit neurologis, sedasi, anestesi, kejang, atau penurunan kesadaran.⁶,⁹
Gejala dapat muncul secara akut setelah aspirasi masif atau subakut pada mikroaspirasi berulang.⁹
Pemeriksaan Fisik
Demam, takipnea, takikardia, serta penurunan saturasi oksigen.²,⁹
Ronki basah atau crackles akibat eksudat alveolar dan konsolidasi paru.¹,²
Perkusi redup dan bronchial breath sound pada area yang mengalami konsolidasi.¹,²
Tanda gangguan proteksi jalan napas, seperti disfagia, refleks batuk menurun, atau penurunan kesadaran.⁶,⁹
Pada aspirasi berat, dapat ditemukan penggunaan otot bantu napas, sianosis, atau tanda gagal napas.²,⁹
Halitosis dapat ditemukan pada infeksi yang melibatkan bakteri anaerob atau abses paru.⁶,⁹
Penunjang
Darah lengkap: dapat menunjukkan leukositosis neutrofilik, dan leukopenia dapat ditemukan pada infeksi berat atau sepsis.²,⁹
CRP dan prokalsitonin: membantu menilai derajat inflamasi dan mendukung dugaan infeksi bakteri.²
Analisis gas darah: dilakukan pada pasien dengan hipoksemia, sesak berat, atau dugaan gagal napas.²,⁹
Pewarnaan Gram dan kultur sputum: membantu identifikasi patogen, terutama pada pneumonia berat, rawat inap, atau dugaan bakteri anaerob atau patogen resisten.²,⁹
Kultur darah: dipertimbangkan pada kasus berat, sepsis, atau pasien rawat inap.²,⁹
Bronkoskopi dapat dipertimbangkan pada aspirasi masif, kecurigaan benda asing, obstruksi jalan napas, atau diagnosis yang belum jelas.⁶,⁹
Evaluasi fungsi menelan (swallowing assessment) membantu menilai adanya disfagia atau gangguan proteksi jalan napas sebagai faktor predisposisi aspirasi.⁶,⁹
Pemeriksaan mikrobiologi lanjutan seperti kultur cairan pleura atau BAL (BAL = Bronchoalveolar Lavage atau bilasan bronkoalveolar), dapat dilakukan bila terdapat empiema, pneumonia berat, atau kegagalan terapi.⁶,⁹
Radiologi
Foto Toraks (Chest X-ray (CXR))

Foto toraks merupakan pemeriksaan radiologi awal pada pneumonia aspirasi.²,⁹
Pemeriksaan ini bertujuan menilai lokasi infiltrat, luas keterlibatan paru, dan komplikasi awal.²,⁹
Gambaran khas berupa infiltrat atau konsolidasi pada segmen dependen paru, sesuai posisi tubuh saat aspirasi.⁶,⁹
Pada posisi tegak, lesi sering mengenai lobus bawah, terutama segmen basal.⁶,⁹
Pada posisi terlentang, lesi lebih sering mengenai segmen posterior lobus atas atau segmen superior lobus bawah.⁶,⁹
Dapat ditemukan opasitas patchy, air bronchogram, efusi pleura, atau kavitasi bila telah terjadi komplikasi.¹,⁹
CT Scan Toraks
CT scan toraks memiliki sensitivitas lebih tinggi dibanding foto toraks untuk mendeteksi infiltrat kecil, nekrosis, dan komplikasi paru.¹,⁵
Digunakan bila diagnosis belum jelas, terdapat perburukan klinis, atau respons terapi tidak adekuat.⁵,⁹
Lebih baik untuk menilai abses paru, empiema, kavitasi, aspirasi benda asing, atau obstruksi bronkus.⁵,⁶,⁹
Dapat memperlihatkan distribusi lesi pada segmen dependen paru secara lebih detail dibanding foto toraks.⁵,⁹
Tidak dilakukan rutin, tetapi dipertimbangkan pada kasus berat, komplikasi, atau diagnosis banding yang kompleks.⁵,⁹
Tatalaksana
Prinsip Umum
Terapi utama adalah stabilisasi jalan napas, oksigenasi, dan antibiotik empiris bila terdapat bukti infeksi bakteri.²,⁹
Evaluasi dan koreksi faktor pencetus aspirasi seperti disfagia, penurunan kesadaran, muntah, GERD, atau gangguan neurologis.⁶,⁹
Antibiotik dipilih berdasarkan derajat keparahan, lokasi perawatan, risiko patogen resisten, dan kecurigaan anaerob.²,⁹
Cakupan anaerob dipertimbangkan bila terdapat abses paru, empiema, sputum berbau, penyakit periodontal berat, atau aspirasi kronik.⁶,⁹
Non-Farmakologis
Oksigenasi bila terdapat hipoksemia.²,⁹
Posisikan kepala 30–45° untuk menurunkan risiko aspirasi berulang.⁴,⁹
Penghisapan (suction) sekret bila terdapat gangguan proteksi jalan napas atau sekret berlebihan.⁹
Evaluasi fungsi menelan (swallowing assessment) dan modifikasi diet bila terdapat disfagia.⁶,⁹
Higiene oral untuk menurunkan kolonisasi bakteri orofaring.⁶,⁹
Rawat inap atau rujuk bila terdapat gagal napas, sepsis, aspirasi masif, komplikasi, atau komorbid berat.²,⁹
Prinsip Terapi Farmakologis
Antibiotik diberikan bila terdapat bukti infeksi bakteri, bukan hanya aspirasi kimia tanpa tanda infeksi.²,⁹
Regimen empiris dipilih berdasarkan derajat keparahan, lokasi perawatan, komorbid, risiko patogen resisten, serta kemungkinan keterlibatan anaerob.²,⁹
Cakupan anaerob dipertimbangkan pada abses paru, empiema, sputum berbau, penyakit periodontal berat, atau aspirasi kronik.⁶,⁹
Pada kasus berat atau nosokomial, pertimbangkan cakupan bakteri gram negatif resisten, termasuk Pseudomonas aeruginosa, atau MRSA sesuai faktor risiko.²,⁴,⁹
Evaluasi respons terapi dalam 48–72 jam dan lakukan deeskalasi sesuai hasil kultur serta kondisi klinis.²,⁹
Daftar Pustaka
Broaddus VC, Mason RJ, Ernst JD, et al. Murray and Nadel's Textbook of Respiratory Medicine. 7th ed. Philadelphia: Elsevier; 2022.
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Pedoman Nasional Pelayanan Kedokteran Tatalaksana Pneumonia pada Pasien Dewasa. Jakarta: Kemenkes RI; 2023.
Metlay JP, Waterer GW, Long AC, et al. Diagnosis and Treatment of Adults with Community-acquired Pneumonia. Am J Respir Crit Care Med. 2019;200(7):e45–e67.
Kalil AC, Metersky ML, Klompas M, et al. Management of Adults With Hospital-acquired and Ventilator-associated Pneumonia: 2016 Clinical Practice Guidelines by IDSA and ATS. Clin Infect Dis. 2016;63(5):e61–e111.
Chapman SJ, Robinson G. Oxford Handbook of Respiratory Medicine. 4th ed. Oxford: Oxford University Press; 2021.
Mandell GL, Bennett JE, Dolin R. Mandell, Douglas, and Bennett’s Principles and Practice of Infectious Diseases. 9th ed. Philadelphia: Elsevier; 2020.
Buku Ajar Pulmonologi dan Kedokteran Respirasi. Jakarta: Perhimpunan Dokter Paru Indonesia; 2022.
StatPearls Publishing. Community-Acquired Pneumonia. Treasure Island: StatPearls Publishing; 2025.
StatPearls Publishing. Aspiration Pneumonia. Treasure Island: StatPearls Publishing; 2025.
StatPearls Publishing. Ventilator-Associated Pneumonia. Treasure Island: StatPearls Publishing; 2025.
NCBI Bookshelf. Hospital-Acquired Pneumonia. Treasure Island: StatPearls Publishing; 2025.
Kaminsky DA. The Netter Collection of Medical Illustrations: Respiratory System. 2nd ed. Philadelphia: Elsevier Saunders; 2011.
World Health Organization. Clinical Management of Severe Acute Respiratory Infection. Geneva: WHO; 2024.
Niederman MS. Pathophysiology of Pneumonia. Clin Chest Med. 2018;39(4):723–731.
Torres A, Niederman MS, Chastre J, et al. International ERS/ESICM/ESCMID/ALAT Guidelines for Management of Hospital-Acquired Pneumonia and Ventilator-Associated Pneumonia. Eur Respir J. 2017;50(3):1700582.
NCBI Bookshelf. Fungal Pneumonia. Treasure Island: StatPearls Publishing; 2025.
NCBI Bookshelf. Parasitic Lung Disease. Treasure Island: StatPearls Publishing; 2025.
NCBI Bookshelf. Viral Pneumonia. Treasure Island: StatPearls Publishing; 2025.
