Pneumonia [3A-4 ].

Pneumonia [3A-4 ].


Definisi

Pneumonia adalah infeksi akut pada parenkim paru yang menyebabkan inflamasi alveoli, ruang alveolar terisi eksudat inflamasi, dan umumnya ditandai oleh infiltrat baru pada pemeriksaan radiologi disertai gejala infeksi saluran napas bawah. ¹,²,³

(https://my.clevelandclinic.org/)
(https://my.clevelandclinic.org/)

Epidemiologi

Pneumonia merupakan salah satu penyebab utama morbiditas dan mortalitas akibat infeksi saluran napas bawah secara global.¹,²

Beban penyakit tertinggi terjadi pada kelompok anak usia <5 tahun, lansia, pasien dengan komorbid, dan individu imunokompromais.²,³

Secara global, infeksi saluran napas bawah masih menjadi penyebab utama kematian akibat infeksi, dengan jutaan kematian per tahun dan beban tertinggi pada kelompok usia ekstrem.³

Di Indonesia, menurut Riskesdas 2018, prevalensi pneumonia pada semua usia sekitar 2,21%, lebih tinggi pada kelompok usia lanjut, yaitu 44–64 tahun 2,5%, 65–74 tahun 3,0%, dan ≥75 tahun 2,9%

Kemenkes memperkirakan terdapat sekitar 1 juta kasus pneumonia per tahun di Indonesia, dengan sekitar 50.000 kematian per tahun.²

Pneumonia komunitas (CAP) merupakan bentuk yang paling sering dijumpai di layanan primer dan rumah sakit.²,⁴

HAP dan VAP memiliki angka mortalitas lebih tinggi karena sering disebabkan oleh patogen nosokomial, pasien kritis, penggunaan antibiotik sebelumnya, dan risiko MDR.⁵,⁶

Pneumonia aspirasi lebih sering terjadi pada pasien dengan gangguan menelan, stroke, penurunan kesadaran, GERD, usia lanjut, atau penggunaan ventilator.⁷

Pneumonia akibat virus, jamur, dan parasit lebih sering menjadi masalah pada pasien imunokompromais, HIV/AIDS, pengguna kortikosteroid atau imunosupresan, keganasan, transplantasi, atau perawatan ICU.⁶,⁸


Etiologi

Bakteri tipikal: penyebab tersering pneumonia komunitas, terutama Streptococcus pneumoniae, diikuti Haemophilus influenzae, Staphylococcus aureus, Klebsiella pneumoniae, dan Moraxella catarrhalis.¹,²,³.

Bakteri atipikal: meliputi Mycoplasma pneumoniae, Chlamydophila pneumoniae, dan Legionella pneumophila. Keluhan sering lebih ringan atau dengan gambaran interstisial.²,³.

Bakteri nosokomial: dominan pada HAP/VAP, terutama Pseudomonas aeruginosa, Acinetobacter baumannii, Enterobacterales, dan Staphylococcus aureus termasuk MRSA.⁴,⁵.

Virus: meliputi influenza, RSV, adenovirus, SARS-CoV-2, dan virus respiratori lain.²,⁶.

Jamur: lebih sering pada pasien imunokompromais, misalnya Pneumocystis jirovecii, Aspergillus spp., Histoplasma capsulatum, dan Cryptococcus spp.⁶,⁸.

Parasit: jarang, tetapi dapat terjadi pada kondisi tertentu, misalnya Paragonimus westermani, Strongyloides stercoralis, dan Toxoplasma gondii.⁸.

Aspirasi: disebabkan oleh masuknya sekret orofaring, isi lambung, atau material asing ke saluran napas bawah. Kondisi ini sering melibatkan flora orofaring dan bakteri anaerob.⁷.


Faktor Risiko

Usia ekstrem, terutama anak <5 tahun dan lansia, karena respons imun dan cadangan fisiologis lebih rendah.²,³

Komorbid kronik, seperti PPOK, asma, gagal jantung, diabetes melitus, penyakit ginjal kronik, penyakit hati kronik, dan keganasan.²,³

Imunokompromais, misalnya HIV/AIDS, penggunaan kortikosteroid atau imunosupresan, kemoterapi, transplantasi, atau neutropenia.⁶,⁸

Merokok, paparan polusi udara, dan konsumsi alkohol, karena mengganggu mekanisme pertahanan mukosilier dan imun lokal saluran napas.²,³

Gangguan menelan, stroke, penurunan kesadaran, kejang, GERD, atau muntah berulang, yang meningkatkan risiko pneumonia aspirasi.⁷

Rawat inap ≥48 jam, perawatan ICU, penggunaan antibiotik sebelumnya, dan tindakan invasif, yang meningkatkan risiko HAP.⁴,⁵

Ventilasi mekanik, intubasi endotrakeal, aspirasi sekret orofaring, dan biofilm pada pipa endotrakeal, yang meningkatkan risiko VAP.⁴,⁵

Malnutrisi, imobilisasi lama, higiene oral buruk, dan kepadatan hunian, yang meningkatkan risiko infeksi saluran napas bawah.²,³


Klasifikasi


Derajat Keparahan Pneumonia

Dilakukan untuk menentukan lokasi perawatan, yaitu rawat jalan, rawat inap, atau ICU.²,³,⁶

Membantu memperkirakan risiko mortalitas pasien.²,³,⁶

Digunakan untuk memandu pemilihan strategi terapi empiris serta intensitas tata laksana.²,³,⁶

Skoring tidak menggantikan judgment klinis; komorbid, saturasi oksigen, kondisi umum, dan faktor sosial tetap dipertimbangkan dalam keputusan terapi.²,³,⁶



Anamnesis

Pneumonia umumnya ditandai oleh gejala infeksi saluran napas bawah akut akibat inflamasi parenkim paru dan gangguan pertukaran gas.¹,²,³.

Demam, menggigil, atau riwayat demam akibat pelepasan mediator inflamasi sistemik.¹,³.

Batuk, dapat berupa batuk produktif dengan sputum purulen pada pneumonia bakteri atau batuk kering pada pneumonia virus atau atipikal.²,³.

Sesak napas akibat gangguan ventilasi-perfusi dan penurunan oksigenasi alveolar.¹,².

Nyeri dada pleuritik, yaitu nyeri yang memburuk saat inspirasi atau batuk akibat keterlibatan pleura.¹,³.

Gejala sistemik seperti malaise, lemah, anoreksia, mialgia, atau penurunan aktivitas.²,³.

Anamnesis dapat membantu mengarahkan etiologi atau subtipe pneumonia.

CAP: onset akut di komunitas, sering didahului ISPA atau pajanan infeksi respiratori.²,³.

HAP: gejala muncul ≥48 jam setelah rawat inap.⁴,⁵.

VAP: pada pasien yang menggunakan ventilator, dapat ditemukan demam, sputum purulen, peningkatan kebutuhan oksigen, atau perburukan ventilasi.⁴,⁵.

Pneumonia aspirasi: riwayat stroke, disfagia, gangguan kesadaran, muntah, GERD, intoksikasi, atau riwayat aspirasi sebelumnya.⁷.

Pneumonia virus: lebih sering disertai mialgia, rinore, sakit tenggorokan, atau gejala prodromal virus.⁶.

Pneumonia jamur atau parasit: pertimbangkan riwayat HIV atau imunosupresi, transplantasi, penggunaan steroid, perjalanan ke daerah endemik, atau pajanan terhadap lingkungan tertentu.⁶,⁸.

Pada lansia, gejala dapat tidak khas, berupa kebingungan, penurunan kesadaran, kelemahan mendadak, atau penurunan status fungsional.²,³.


Pemeriksaan Fisik

Pemeriksaan fisik pada pneumonia bertujuan untuk menilai tanda infeksi sistemikgangguan oksigenasi, dan konsolidasi paru.¹,²,³

Demam akibat respons inflamasi sistemik terhadap infeksi.¹,³

Takipnea sebagai kompensasi terhadap hipoksemia dan gangguan ventilasi-perfusi.¹,²

Takikardia akibat demam, hipoksia, atau respons sistemik terhadap infeksi.²,³

Saturasi oksigen menurun pada pneumonia sedang–berat atau keterlibatan paru yang luas.²,³

Ronki basah atau crackles akibat cairan dan eksudat inflamasi di alveoli.¹,²

Perkusi redup pada area konsolidasi paru atau efusi pleura.¹,²

Bronchial breath sound dapat terdengar pada konsolidasi karena transmisi suara meningkat melalui jaringan paru yang padat.¹,³

Fremitus vokal meningkat pada konsolidasi, tetapi dapat menurun bila terdapat efusi pleura.¹,³

Penggunaan otot bantu napas, retraksi, sianosis, atau penurunan kesadaran dapat menunjukkan pneumonia berat atau gagal napas.²,³


Pemeriksaan Penunjang

Darah lengkap: dapat menunjukkan leukositosis neutrofilik pada infeksi bakteri, leukopenia pada infeksi berat atau sepsis, atau trombositopenia pada pneumonia berat. ²,³

CRP dan prokalsitonin: membantu menilai derajat inflamasi dan mendukung pertimbangan infeksi bakteri, tetapi tidak menggantikan penilaian klinis. ²,³

Analisis gas darah: dilakukan pada pneumonia sedang hingga berat untuk menilai hipoksemia, gangguan ventilasi, asidosis, serta kebutuhan oksigenasi atau ventilasi. ²,³

Pewarnaan Gram dan kultur sputum: membantu mengidentifikasi bakteri penyebab dan menyesuaikan antibiotik, terutama pada pneumonia berat, rawat inap, HAP/VAP, atau pada pasien dengan risiko patogen resisten. ²,⁴

Kultur darah: dipertimbangkan pada pneumonia berat, sepsis, rawat inap, atau sebelum pemberian antibiotik bila memungkinkan. ²,³

PCR atau panel molekuler respiratori: digunakan untuk mendeteksi virus respiratori, bakteri atipikal, atau patogen spesifik, terutama pada wabah, pneumonia berat, atau pasien imunokompromais. ³,⁶

Pemeriksaan cairan pleura: dilakukan bila terdapat efusi pleura signifikan untuk membedakan efusi parapneumonik sederhana, komplikata, atau empiema. ²,³

Bronkoskopi/BAL: dipertimbangkan pada HAP/VAP, pneumonia berat yang tidak membaik, pasien imunokompromais, atau kecurigaan jamur atau patogen oportunistik. ⁴,⁵,⁸


Pemeriksaan Radiologi

CT scan toraks: dipertimbangkan bila foto toraks tidak jelas, pneumonia berat atau komplikasi, kecurigaan abses, empiema, keganasan, atau pada pasien imunokompromais. ¹,³


Diagnosis Banding

Diagnosis BandingPerbedaan dengan Pneumonia
Tuberkulosis paruGejala lebih kronik, biasanya batuk >2 minggu, keringat malam, penurunan berat badan, dan infiltrat sering dominan di lobus atas.
Bronkitis akutBatuk akut dominan, tetapi tanpa infiltrat baru pada foto toraks.
Eksaserbasi PPOKRiwayat PPOK/merokok lama, sesak dan sputum meningkat, tetapi tidak selalu disertai konsolidasi radiologis.
Edema paru kardiogenikSesak akut dengan riwayat penyakit jantung, ronki bilateral, kardiomegali, dan gambaran edema paru bilateral.
Emboli paruSesak mendadak, nyeri dada pleuritik, hemoptisis, faktor risiko tromboemboli, dan foto toraks dapat normal atau tidak khas.
AtelektasisTerdapat penurunan volume paru atau deviasi struktur toraks pada radiologi, bukan infiltrat inflamasi utama.
Kanker paruGejala dapat kronik, terdapat massa/nodul, hemoptisis, penurunan berat badan, dan tidak membaik dengan antibiotik adekuat.
Abses paruKavitas berisi pus dengan air-fluid level, sputum berbau, dan sering berkaitan dengan aspirasi atau infeksi anaerob.

Penatalaksanaan

Nonfarmakologis

Istirahat, hidrasi adekuat, dan nutrisi cukup untuk mendukung pemulihan.²,³

Oksigenasi bila terdapat hipoksemia. Target saturasi disesuaikan dengan kondisi pasien.²,³

Antipiretik, mukolitik, dan terapi simptomatik diberikan sesuai keluhan.²

Monitoring klinis meliputi suhu, frekuensi napas, nadi, tekanan darah, saturasi oksigen, serta tanda perburukan.²,³

Pada pneumonia berat, lakukan resusitasi cairan, koreksi elektrolit, ventilasi noninvasif atau invasif bila perlu, serta perawatan di ICU sesuai indikasi.²,⁴

Pada HAP/VAP, pencegahan meliputi kebersihan tangan, elevasi kepala tempat tidur 30–45°, oral hygiene, mobilisasi dini, serta evaluasi untuk penghentian ventilator sedini mungkin.⁴,⁵


Farmakologis

Terapi farmakologis sesuai dengan etiologi dan dibahas di bab lainnya


Komplikasi

Efusi pleura parapneumonik: terjadi akibat penyebaran inflamasi dari parenkim paru ke rongga pleura, sehingga menyebabkan akumulasi cairan pleura yang steril atau terinfeksi.¹,²

Empiema: infeksi pada rongga pleura dengan akumulasi pus. Kondisi ini sering berkembang dari efusi parapneumonik komplikata dan dapat memerlukan drainase pleura.¹,²

Abses paru: terjadi akibat nekrosis jaringan paru dan pembentukan kavitas berisi pus. Kondisi ini sering berkaitan dengan aspirasi, bakteri anaerob, atau infeksi berat.¹,³

Gagal napas akut: disebabkan oleh konsolidasi luas, gangguan ventilasi-perfusi, dan hipoksemia berat, sehingga pasien dapat memerlukan oksigenasi lanjut atau ventilasi mekanik.¹,²

Sepsis dan syok septik: penyebaran infeksi dan respons inflamasi sistemik yang berlebihan dapat menyebabkan hipotensi, disfungsi organ multipel, dan instabilitas hemodinamik.²,⁴

Acute Respiratory Distress Syndrome (ARDS): inflamasi paru berat menyebabkan kerusakan alveolar difus, peningkatan permeabilitas kapiler, edema alveolar nonkardiogenik, dan hipoksemia refrakter.¹,⁴

Bakteremia atau diseminasi infeksi: mikroorganisme dapat menyebar ke sirkulasi sistemik dan menyebabkan infeksi sekunder pada organ lain, terutama pada pasien imunokompromais atau pasien dengan pneumonia berat.¹,³

Kematian: risiko meningkat pada pneumonia berat, usia lanjut, komorbid, imunokompromais, HAP/VAP, atau keterlambatan terapi yang adekuat.²,⁴


Prognosis

Ad vitam (terhadap kehidupan): dubia ad bonam. Sebagian besar pasien pneumonia dapat sembuh dengan terapi yang adekuat, tetapi mortalitas meningkat pada pneumonia berat, HAP/VAP, usia lanjut, imunokompromais, sepsis, atau komorbid yang bermakna.¹,²,⁴

Ad functionam (terhadap fungsi): bonam hingga dubia. Fungsi paru umumnya membaik setelah infeksi teratasi, tetapi dapat terganggu pada pneumonia berat, ARDS, abses paru, atau penyakit paru dasar yang sudah ada sebelumnya.¹,³

Ad sanationam (terhadap kesembuhan): bonam. Sebagian besar kasus dapat sembuh dengan terapi antimikroba dan tata laksana suportif yang tepat, meskipun risiko relaps, komplikasi, atau eradikasi yang tidak sempurna lebih tinggi pada HAP/VAP, pneumonia oportunistik, dan pasien imunokompromais.²,⁴,⁶


Edukasi

Konsumsi obat sesuai dosis, interval, dan durasi terapi yang dianjurkan. Jangan menghentikan antibiotik tanpa evaluasi medis terlebih dahulu.²,³

Istirahat yang cukup, hidrasi yang adekuat, dan nutrisi optimal untuk mendukung pemulihan serta respons imun.²

Hindari merokok, alkohol, dan paparan polusi udara karena dapat memperburuk inflamasi paru dan memperlambat perbaikan klinis.¹,³

Terapkan etika batuk, gunakan masker bila diperlukan, dan lakukan kebersihan tangan untuk mengurangi transmisi infeksi respiratori.²,⁶

Kenali tanda bahaya seperti sesak yang memburuk, demam persisten, penurunan kesadaran, sianosis, hemoptisis, atau saturasi yang menurun. Segera kembali ke fasilitas kesehatan jika tanda tersebut muncul.²,³

Kontrol penyakit penyerta seperti DM, PPOK, gagal jantung, atau imunodefisiensi karena dapat memengaruhi luaran pneumonia.²,³

Pada kelompok risiko tinggi, anjurkan vaksinasi influenza dan pneumokokus sebagai upaya pencegahan pneumonia.²,³

Pada pasien dengan risiko aspirasi, berikan edukasi mengenai posisi makan yang benar, teknik menelan, higiene oral, dan modifikasi diet sesuai indikasi.⁷

Pada pasien rawat inap atau yang menggunakan ventilator, edukasi keluarga mengenai pencegahan infeksi nosokomial, mobilisasi dini, serta kepatuhan terhadap tata laksana rumah sakit.⁴,⁵


Kriteria Rujukan

Pneumonia berat berdasarkan penilaian klinis atau skor keparahan (CURB-65, PSI, IDSA/ATS severe CAP).²,³

Gagal napas, hipoksemia, atau kebutuhan oksigenasi atau ventilasi lanjut (ventilasi noninvasif atau invasif).²,³

Instabilitas hemodinamik, sepsis, atau syok septik.²,⁴

Perburukan klinis cepat, penurunan kesadaran, atau tanda disfungsi organ.²,³

Komplikasi pneumonia seperti efusi pleura komplikata, empiema, atau abses paru.¹,²