
Asuhan Persalinan Normal
Definisi
Persalinan normal adalah persalinan yang dimulai secara spontan, low-risk, berlangsung antara 37-42 minggu kehamilan, bayi lahir dalam posisi vertex, tanpa komplikasi maternal atau fetal, dan ibu serta bayi dalam kondisi baik setelah persalinan.¹,²
Etiologi
Persalinan dipicu oleh perubahan hormonal, biokimia, dan mekanik antara janin, plasenta, dan ibu:
Peningkatan rasio estrogen : progesteron → kontraktilitas uterus meningkat. Menjelang aterm terjadi functional progesterone withdrawal, bukan sekadar penurunan kadar, tetapi penurunan efek progesteron menjaga relaksasi miometrium. Estrogen yang relatif meningkat menstimulasi ekspresi gen kontraktil (mis. kanal Ca²⁺, connexin-43) dan menurunkan ambang eksitabilitas otot rahim sehingga kontraksi lebih mudah dipicu. Hasil akhirnya, miometrium beralih dari fase “tenang” ke keadaan lebih reaktif terhadap rangsang.
Peningkatan prostaglandin, reseptor oksitosin, dan gap junction di miometrium. Produksi PGE₂/PGF₂α di desidua–membran janin meningkat, mematangkan serviks (efase/dilatasi) dan memperkuat kontraksi. Estrogen meningkatkan jumlah reseptor oksitosin (OXTR) di miometrium, sehingga kadar oksitosin fisiologis menghasilkan kontraksi yang lebih kuat. Pada saat yang sama, pembentukan gap junction (connexin-43) antar sel miometrium meningkat dan menyinkronkan depolarisasi—kontraksi menjadi terkoordinasi dan efektif mendorong desensus janin.
Peran CRH plasenta dan adrenal janin. Menjelang persalinan, CRH plasenta naik tajam dan mengaktifkan sumbu HPA janin → peningkatan ACTH dan kortisol janin. Kortisol memperkuat sintesis prostaglandin dan menggeser keseimbangan menuju dominasi estrogen (melalui peningkatan prekursor steroid), mempercepat pematangan serviks dan kesiapan kontraksi. Tercipta feed-forward loop CRH–kortisol–prostaglandin yang memfasilitasi onset persalinan.²
Tahap Persalianan
Anamnesis
Nama, umur, dan alamat
Gravida dan Para
Hari Pertama Haid Terakhir (HPHT)
Hari Perkiraan Lahir (HPL)
Riwayat Obstetrik
Riwayat Kehamilan saat ini
Gerakan janin.
Kontraksi: awal, frekuensi, durasi, intensitas.
Pecah ketuban.
Lendir darah.
Riwayat perdarahan, hipertensi, infeksi, DM, dsb.⁸
Pemeriksaan Fisik
Vital sign ibu.
Pemeriksaan abdomen: Leopold.
Pemeriksaan dalam: dilatasi, efase, posisi, konsistensi serviks, station janin.
Auskultasi DJJ.
Pemeriksaan Tambahan
| Pemeriksaan | Tujuan | Prinsip |
|---|---|---|
| Lab dasar (Hb, golongan darah, serologi) | Status ibu & risiko perdarahan/infeksi | Tes darah |
| USG | Posisi janin, plasenta | USG obstetri |
| Monitor janin (FHR) | Kesejahteraan janin | CTG / auskultasi |
| Partograf | Pantau progres persalinan | Plot serviks vs waktu |
Dasar Diagnosis
Kontraksi uterus teratur dengan perubahan serviks. Tahap aktif mulai saat dilatasi ≥ 6 cm.
Kehamilan ≥ 37 minggu, presentasi normal, tanpa komplikasi.⁶
Penatalaksanaan
Non-Farmakologis
Dukungan emosional & pendamping.
Mobilisasi, perubahan posisi.
Relaksasi, mandi hangat, pijat.
Teknik non-medikasi lain.⁴
Farmakologis
| Obat / Sediaan | Dosis & Frekuensi | farmakokinetik | Indikasi / Kegunaan |
|---|---|---|---|
| Oksitosin injeksi (ampul 10 IU/mL) | Induksi/Augmentasi: mulai 1–2 mIU/menit IV, titrasi tiap 30 menit, maksimal ± 20 mIU/menit. MAK III: 10 IU IM dalam 1 menit setelah bayi lahir | Agonis reseptor oksitosin → ↑ Ca²⁺ intraseluler → kontraksi uterus | - Induksi persalinan bila ada indikasi medis (misalnya postterm, preeklampsia). - Augmentasi bila kontraksi lemah. - Pencegahan HPP pada MAK III |
| Metilergometrin (ampul 0,2 mg/mL) | 0,2 mg IM/IV perlahan setelah bayi lahir; dapat diulang tiap 2–4 jam bila perlu. Kontraindikasi: hipertensi, preeklampsia | Agonis α-adrenergik & serotonergik → kontraksi uterus tetanik | - Alternatif oksitosin cegah HPP - Mengatasi atonia uteri. - Tidak digunakan rutin untuk induksi karena kontraksi tetanik dapat bahaya bagi janin. |
| Misoprostol (tablet 200 mcg) | Profilaksis HPP: 600 mcg oral / 800 mcg per rektal setelah persalinan. Terapi HPP: 800–1000 mcg per rektal | Analog prostaglandin E1 → kontraksi miometrium & maturasi serviks | - Alternatif pencegahan HPP terutama di fasilitas tanpa oksitosin. - Penanganan HPP bila oksitosin tidak tersedia. |
| Pethidin (50 mg/mL) | 25–50 mg IM tiap 4 jam bila perlu. Hindari dekat kala II (risiko depresi napas neonatus) | Agonis reseptor opioid µ → analgesia sistemik | - Mengurangi nyeri persalinan kala I. - Tidak untuk kala II/akhir karena risiko depresi napas bayi. |
| Fentanil (injeksi 50 mcg/mL) | 25–50 mcg IV perlahan; dapat diulang tiap 30–60 menit. Sering dipakai dalam epidural/spinal | Agonis reseptor opioid µ → analgesia cepat, singkat | - Analgesia jangka pendek, terutama sebagai tambahan dalam epidural/spinal. |
| Epidural kombinasi (Bupivakain 0,125% + Fentanil 2 mcg/mL) | Infus kontinu 8–12 mL/jam atau bolus intermiten sesuai protokol | Blok saraf sensorik di regio lumbal, minimal blok motorik bila dosis rendah | - Analgesia regional paling efektif untuk kala I & II. - Memungkinkan ibu tetap sadar & ikut aktif dalam proses persalinan. |
Operatif
Vakum/forceps bila indikasi.
Episiotomi bila indikasi.
SC bila gagal progres atau ada komplikasi.⁶,⁷
Komplikasi
Perdarahan postpartum.
Trauma jalan lahir.
Distress janin.
Infeksi.
Retensi plasenta.
Prognosis
Ad vitam: baik.
Ad functionam: pemulihan normal.
Ad sanationam: normal bila tanpa trauma berat.
Edukasi
Tanda persalinan: kontraksi, pecah ketuban, lendir darah.
Segera ke fasyankes bila ada tanda bahaya.
Pilihan manajemen nyeri.
Manfaat IMD & menyusui dini.
Catatan
Definisi fase aktif mulai dilatasi 6 cm (ACOG, Williams Obstetrics).⁶