Bronkiektasis [3A].
Definisi
Bronkiektasis adalah kelainan paru kronik yang ditandai dengan dilatasi bronkus permanen dan ireversibel akibat kerusakan dinding bronkus serta jaringan elastik di sekitarnya. Kondisi ini menyebabkan gangguan klirens mukus, retensi sekret, infeksi berulang, serta batuk kronik produktif.¹,⁵,⁶

Epidemiologi
Prevalensi bronkiektasis dilaporkan sekitar 53–566 kasus per 100.000 populasi, dengan variasi menurut negara, usia, metode diagnosis, dan akses terhadap HRCT (High-Resolution Computed Tomography) thorax.¹,³,⁵,⁹
Insidensi dan prevalensi meningkat dalam 2–3 dekade terakhir, terutama karena penggunaan HRCT yang lebih luas dan meningkatnya deteksi kasus.³,⁵,⁹
Bronkiektasis lebih sering ditemukan pada usia lebih dari 50 tahun dan dilaporkan lebih banyak pada perempuan di beberapa populasi.³,⁵,⁹
Di negara maju, etiologi sering berkaitan dengan penyakit noninfeksi, seperti imunodefisiensi, penyakit autoimun, cystic fibrosis, atau gangguan klirens mukosilier.⁵,⁷,⁹
Di negara berkembang, bronkiektasis masih sering berhubungan dengan infeksi paru sebelumnya, terutama TB paru, pneumonia berat, atau infeksi respirasi berulang.²,⁷,¹⁰
Data di Indonesia masih terbatas, tetapi bronkiektasis sering dijumpai sebagai sekuele TB paru atau infeksi paru kronik/berulang.²,¹⁰
Etiologi
Infeksi paru sebelumnya, terutama TB paru, pneumonia berat, atau infeksi saluran napas berulang yang menimbulkan kerusakan bronkus.¹,²,⁷,¹⁰
Gangguan klirens mukosilier, seperti primary ciliary dyskinesia, paparan rokok, atau iritan kronik yang menghambat pembersihan sekret.¹,³,⁶
Obstruksi bronkus, misalnya akibat tumor, benda asing, stenosis bronkus, atau kompresi dari luar.¹,³,⁵
Imunodefisiensi, seperti hipogammaglobulinemia, yang menyebabkan infeksi saluran napas berulang dan inflamasi kronik.⁵,⁷
Penyakit kongenital atau genetik, terutama cystic fibrosis, yang menyebabkan sekret kental dan infeksi kronik.⁵,⁷
Penyakit paru kronik lain, seperti asma dan PPOK, dapat berasosiasi dengan bronkiektasis atau memperberat gejala.¹,³,⁵
Faktor Risiko
Riwayat TB paru atau infeksi paru berat sebelumnya, terutama bila menyebabkan kerusakan struktur bronkus.²,⁷,¹⁰
Pneumonia berulang atau infeksi saluran napas bawah berulang sejak anak-anak.¹,⁵,⁷
Merokok dan paparan polusi atau iritan kronik karena mengganggu klirens mukosilier dan memperberat inflamasi jalan napas.¹,³,⁶
Gangguan imun, seperti hipogammaglobulinemia atau imunodefisiensi lain, yang meningkatkan risiko infeksi respirasi berulang.⁵,⁷
Gangguan pembersihan mukosilier, misalnya primary ciliary dyskinesia atau cystic fibrosis.⁵,⁷
Obstruksi bronkus, seperti tumor, benda asing, stenosis bronkus, atau kompresi dari luar.¹,³,⁵
Penyakit paru kronik, seperti PPOK atau asma, terutama bila disertai eksaserbasi dan infeksi berulang.¹,³,⁵
Klasifikasi
Bronkiektasis dapat diklasifikasikan berdasarkan morfologi bronkus, distribusi, dan kondisi klinis.
Bronkiektasis silindris atau tubular. Dilatasi bronkus berbentuk relatif lurus dan seragam. Ini merupakan bentuk yang lebih ringan dan sering ditemukan pada HRCT thorax.¹,³,⁶
Bronkiektasis varikosa. Dilatasi bronkus tampak tidak teratur, menyerupai vena varikosa, dengan penyempitan dan pelebaran bergantian.¹,³,⁶
Bronkiektasis kistik atau sakular. Dilatasi bronkus berbentuk kantong atau kista. Kondisi ini sering menggambarkan kerusakan bronkus yang lebih berat.¹,³,⁶
Bronkiektasis fokal. Terbatas pada satu lobus atau segmen paru. Kondisi ini perlu menimbulkan kecurigaan adanya penyebab lokal, seperti obstruksi bronkus, benda asing, tumor, atau sekuele infeksi lokal.¹,³,⁵
Bronkiektasis difus. Melibatkan beberapa lobus atau kedua paru. Kondisi ini sering berkaitan dengan gangguan sistemik, seperti imunodefisiensi, cystic fibrosis, atau gangguan klirens mukosilier.⁵,⁷
Bronkiektasis stabil dan eksaserbasi. Secara klinis, pasien dapat berada dalam fase stabil atau mengalami eksaserbasi, yang ditandai peningkatan batuk, jumlah atau perubahan warna sputum menjadi lebih purulen, sesak yang bertambah, demam, atau penurunan kondisi umum.⁷,⁸
Anamnesis
Batuk kronik produktif merupakan gejala utama. Keluhan ini biasanya berlangsung lama dan berulang akibat akumulasi sekret pada bronkus yang melebar.¹,²
Sputum purulen banyak sering lebih banyak pada pagi hari. Sputum dapat berbau, dan jumlahnya meningkat saat eksaserbasi.¹,²,⁷
Hemoptisis dapat terjadi akibat inflamasi kronik dan erosi pembuluh darah bronkial.¹,⁴
Sesak napas dan wheezing dapat muncul akibat obstruksi jalan napas oleh mukus, inflamasi, atau penyakit paru penyerta.¹,³
Gali riwayat TB paru, pneumonia berulang, infeksi paru pada masa kanak-kanak, batuk kronik bertahun-tahun, serta eksaserbasi berulang.²,⁷,¹⁰
Tanyakan faktor penyerta, seperti PPOK, asma, imunodefisiensi, merokok, paparan polusi, atau riwayat keluarga dengan penyakit paru kronik.³,⁵,⁷
Pemeriksaan Fisik
Keadaan umum dapat tampak baik hingga sakit kronik. Pada eksaserbasi dapat ditemukan demam, takipnea, atau tampak sesak. ¹,²
Inspeksi dapat menunjukkan clubbing finger, takipnea, penggunaan otot bantu napas, atau tanda penurunan status nutrisi pada penyakit kronik. ¹,²,⁷
Palpasi dapat menemukan peningkatan fremitus taktil bila terdapat konsolidasi atau infeksi paru penyerta. ¹,²
Perkusi dapat normal, hipersonor bila ada air trapping, atau redup pada area dengan sekret banyak, atelektasis, atau konsolidasi. ¹,²
Auskultasi sering ditemukan ronki basah kasar/crackles, terutama di area paru yang terkena. Dapat disertai wheezing akibat obstruksi jalan napas oleh mukus. ¹,²,⁷
Pada kasus lanjut, nilai tanda komplikasi seperti sianosis, hipoksemia, edema tungkai, peningkatan JVP, atau tanda cor pulmonale. ¹,⁴,⁷
Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan sputum meliputi kultur dan uji sensitivitas antibiotik, terutama saat eksaserbasi atau infeksi berulang. Patogen penting antara lain Pseudomonas aeruginosa dan Haemophilus influenzae.⁴,⁷
Spirometri digunakan untuk menilai fungsi paru dan pemantauan progresivitas. Hasilnya dapat menunjukkan pola obstruktif atau campuran obstruktif-restriktif.¹,³
Pemeriksaan etiologi dipertimbangkan sesuai kecurigaan klinis, misalnya evaluasi TB, imunoglobulin, cystic fibrosis, primary ciliary dyskinesia, atau penyebab obstruksi bronkus.⁵,⁷
Diagnosis Banding
| Diagnosis Banding | Perbedaan dengan Bronkiektasis |
|---|---|
| PPOK | Batuk kronik dan sesak progresif dengan riwayat merokok lama, tetapi tidak selalu disertai sputum purulen banyak dan tidak ada dilatasi bronkus permanen pada HRCT.¹,³ |
| Asma | Gejala episodik berupa wheezing, sesak, dan batuk yang reversibel, sering berkaitan dengan atopi/alergi, tanpa sputum purulen kronik khas bronkiektasis.¹,³ |
| TB paru aktif | Batuk lama disertai demam lama, keringat malam, penurunan berat badan, hemoptisis, dan temuan mikrobiologi/radiologi yang mendukung TB aktif.²,¹⁰ |
| Abses paru | Demam, tampak toksik, sputum purulen berbau, dan pada radiologi dapat tampak kavitas dengan air-fluid level.¹,³ |
| Fibrosis paru | Sesak progresif, batuk kering, ronki velcro, pola restriktif pada spirometri, tanpa produksi sputum purulen kronik.¹,³ |
Penatalaksanaan
Nonfarmakologis
Airway clearance merupakan terapi utama, meliputi fisioterapi dada, postural drainage, perkusi dada, dan teknik batuk efektif.¹,²,⁷.
Hidrasi adekuat membantu mengencerkan sputum dan mempermudah ekspektorasi.²,⁷.
Latihan pernapasan membantu memperbaiki ventilasi dan mengurangi sesak.³,⁷.
Berhenti merokok serta hindari polusi, debu, asap pembakaran, dan iritan saluran napas.¹,²,⁷.
Nutrisi adekuat membantu menjaga daya tahan tubuh dan mencegah penurunan kondisi umum.²,⁷.
Vaksinasi influenza dan pneumokokus dianjurkan untuk menurunkan risiko infeksi dan eksaserbasi.⁷,⁸.
Kontrol rutin diperlukan untuk memantau gejala, eksaserbasi, fungsi paru, dan kebutuhan terapi lanjutan.⁷,⁸.
Farmakologis
Prinsip Terapi Farmakologis
Antibiotik diberikan saat eksaserbasi akut atau infeksi bakteri. Pemberian idealnya disesuaikan dengan kultur sputum dan uji sensitivitas.⁴,⁷,⁸
Antibiotik jangka panjang seperti makrolida dapat dipertimbangkan pada pasien dengan eksaserbasi berulang, umumnya ≥2 hingga 3 kali per tahun, setelah evaluasi spesialis.⁷,⁸
Bronkodilator dipertimbangkan bila terdapat wheezing, obstruksi jalan napas, atau tumpang tindih dengan asma atau PPOK.³,⁷
Mukolitik/ekspektoran dapat digunakan untuk membantu mengencerkan sputum dan mempermudah ekspektorasi.²,⁷
Kortikosteroid tidak diberikan secara rutin, kecuali terdapat asma, PPOK, ABPA, atau inflamasi saluran napas lain sebagai komorbid.³,⁷,⁸
1. Antibiotika
| Subgolongan | Obat dan Sediaan | Dosis dan Frekuensi Dewasa | Farmakodinamik |
|---|---|---|---|
| β-laktam oral | Amoksisilin tablet | 500 mg–1 g, 3×/hari, 10–14 hari | Menghambat sintesis dinding sel bakteri |
| β-laktam + inhibitor β-laktamase | Amoksisilin-klavulanat tablet | 625 mg, 3×/hari, 10–14 hari | Amoksisilin menghambat dinding sel; klavulanat menghambat β-laktamase |
| Tetrasiklin | Doksisiklin tablet | 100 mg, 1–2×/hari, 10–14 hari | Menghambat sintesis protein bakteri pada ribosom 30S |
| Fluorokuinolon | Siprofloksasin tablet | 500–750 mg, 2×/hari, 14 hari | Menghambat DNA gyrase dan topoisomerase IV; aktif terhadap Pseudomonas aeruginosa |
| β-laktam IV antipseudomonal | Piperasilin-tazobaktam IV | Sesuai fungsi ginjal dan protokol RS | Menghambat sintesis dinding sel dan aktivitas β-laktamase |
| Ceftazidime IV | Sesuai protokol RS | Sefalosporin generasi III dengan aktivitas antipseudomonal | |
| Cefepime IV | Sesuai protokol RS | Sefalosporin generasi IV; menghambat sintesis dinding sel bakteri | |
| Meropenem IV | Sesuai protokol RS | Karbapenem spektrum luas; menghambat sintesis dinding sel | |
| Aminoglikosida inhalasi | Tobramisin nebulisasi | Sesuai regimen spesialis | Menghambat sintesis protein bakteri pada ribosom 30S |
| Gentamisin nebulisasi | Sesuai regimen spesialis | Menghambat sintesis protein; aktif terhadap bakteri gram negatif | |
| Polimiksin inhalasi | Kolistin nebulisasi | Sesuai regimen spesialis | Merusak membran sel bakteri gram negatif |
| Monobaktam inhalasi | Aztreonam inhalasi | Sesuai regimen spesialis | Menghambat sintesis dinding sel bakteri |
| Makrolid jangka panjang | Azitromisin tablet | 250–500 mg, 3×/minggu atau 250 mg/hari | Menghambat ribosom 50S; memiliki efek imunomodulator dan antiinflamasi neutrofilik |
| Eritromisin tablet | 400–600 mg, 2×/hari | Menghambat sintesis protein bakteri dan menurunkan inflamasi jalan napas |
2. Kortikosteroid
| Golongan | Obat dan Sediaan | Dosis dan Frekuensi Dewasa | Farmakodinamik |
|---|---|---|---|
| Kortikosteroid inhalasi | Budesonid inhalasi | Sesuai sediaan dan indikasi | Menekan sitokin proinflamasi dan inflamasi eosinofilik |
| Flutikason inhalasi | Sesuai sediaan dan indikasi | Memberikan efek antiinflamasi lokal pada jalan napas | |
| Kortikosteroid sistemik | Prednison oral | Sesuai indikasi khusus, misalnya ABPA | Efek antiinflamasi dan imunosupresif melalui regulasi transkripsi gen |
3. Mukolitik dan Mukoaktif
| Subgolongan | Obat dan Sediaan | Dosis dan Frekuensi Dewasa | Farmakodinamik |
|---|---|---|---|
| Mukolitik | N-asetilsistein oral | 200 mg, 3×/hari atau 600 mg, 1×/hari | Memutus ikatan disulfida mukoprotein sehingga viskositas sputum menurun |
| Mukoregulator | Karbosistein oral | Sesuai sediaan | Memodifikasi komposisi mukus dan membantu klirens mukosilier |
| Agen hiperosmolar inhalasi | NaCl hipertonik 3–7% nebulisasi | 1–2×/hari sesuai toleransi | Menarik air ke permukaan jalan napas sehingga sputum lebih mudah dikeluarkan |
| Mannitol inhalasi | Sesuai regimen | Efek osmotik meningkatkan hidrasi sekret bronkus |
4. Bronkodilator
| Subgolongan | Obat dan Sediaan | Dosis dan Frekuensi Dewasa | Farmakodinamik |
|---|---|---|---|
| SABA | Salbutamol inhalasi | 100–200 mcg sesuai kebutuhan | Agonis β₂ kerja cepat; merelaksasi otot polos bronkus |
| LABA | Formoterol inhalasi | Sesuai sediaan | Agonis β₂ kerja panjang; mempertahankan bronkodilatasi |
| Salmeterol inhalasi | Sesuai sediaan | Agonis β₂ kerja panjang; mengurangi bronkospasme | |
| LAMA | Tiotropium inhalasi | Sesuai sediaan | Antagonis reseptor muskarinik; menurunkan bronkokonstriksi vagal |
5. Antijamur
| Subgolongan | Obat dan Sediaan | Dosis dan Frekuensi Dewasa | Farmakodinamik |
|---|---|---|---|
| Azol | Itrakonazol kapsul | Sesuai indikasi ABPA | Menghambat sintesis ergosterol membran sel jamur |
| Vorikonazol tablet/IV | Sesuai indikasi spesialis | Menghambat enzim 14-α-demethylase sehingga sintesis ergosterol terganggu |
6. Imunoglobulin
| Subgolongan | Obat dan Sediaan | Dosis dan Frekuensi Dewasa | Farmakodinamik |
|---|---|---|---|
| Replacement therapy | Imunoglobulin intravena/subkutan | Individual sesuai berat badan, kadar IgG, dan evaluasi imunologi klinik | Menggantikan defisiensi antibodi dan menurunkan risiko infeksi berulang |
Komplikasi
Eksaserbasi infeksi berulang ditandai dengan peningkatan batuk, sputum lebih banyak atau lebih purulen, sesak, demam, atau penurunan kondisi umum.⁷,⁸
Hemoptisis dapat ringan hingga masif akibat inflamasi kronik dan erosi pembuluh darah bronkial.¹,⁴,⁷
Kolonisasi bakteri kronik, terutama oleh Pseudomonas aeruginosa, berhubungan dengan eksaserbasi yang lebih sering dan prognosis yang lebih buruk.⁴,⁷,⁹
Gagal napas kronik dapat terjadi akibat kerusakan bronkus yang luas, obstruksi jalan napas, dan infeksi berulang.¹,⁷
Cor pulmonale dapat terjadi akibat hipertensi pulmonal kronik pada penyakit paru lanjut.¹,⁴,⁷
Prognosis
Ad vitam (terhadap kehidupan): dubia ad bonam. Sebagian besar pasien dapat bertahan lama dengan terapi yang adekuat, tetapi risiko mortalitas meningkat pada kasus berat, eksaserbasi berulang, hemoptisis masif, gagal napas, komorbid, atau kolonisasi kronik Pseudomonas aeruginosa.¹,⁴,⁷,⁹
Ad functionam (terhadap fungsi): dubia. Fungsi paru dapat menurun secara progresif akibat inflamasi kronik, infeksi berulang, retensi sekret, dan destruksi dinding bronkus.⁵,⁶,⁷
Ad sanationam (terhadap kesembuhan): dubia ad malam. Bronkiektasis bersifat permanen dan ireversibel. Terapi terutama bertujuan mengontrol gejala, mengurangi eksaserbasi, memperbaiki drainase sputum, dan memperlambat progresivitas penyakit.¹,⁵,⁷,⁸
Edukasi
Jelaskan bahwa bronkiektasis bersifat kronik dan ireversibel. Terapi bertujuan mengontrol gejala, mengurangi eksaserbasi, dan mencegah komplikasi.¹,⁵,⁷
Tekankan pentingnya airway clearance rutin, seperti fisioterapi dada, postural drainage, dan batuk efektif, untuk membantu mengeluarkan sputum.²,⁷
Edukasi tanda eksaserbasi, yaitu batuk bertambah, sputum makin banyak atau lebih purulen, sesak meningkat, demam, atau kondisi umum menurun.⁷,⁸
Anjurkan kepatuhan minum antibiotik sesuai resep saat eksaserbasi agar infeksi terkontrol dan risiko resistensi berkurang.⁴,⁷
Anjurkan untuk menghindari rokok, polusi, debu, asap pembakaran, dan iritan saluran napas lainnya.¹,²,⁷
Anjurkan vaksinasi influenza dan pneumokokus, nutrisi adekuat, hidrasi cukup, serta kontrol rutin untuk memantau fungsi paru dan frekuensi eksaserbasi.⁷,⁸
Kriteria Rujukan
Hemoptisis masif, gagal napas, hipoksemia berat, atau tanda kegawatan respirasi.¹,⁴,⁷
Tidak membaik dengan terapi awal atau eksaserbasi akut yang tidak terkontrol.⁷,⁸
Eksaserbasi berulang, terutama bila terjadi ≥2–3 kali per tahun.⁷,⁸
Kecurigaan etiologi khusus, seperti imunodefisiensi, cystic fibrosis, primary ciliary dyskinesia, atau obstruksi bronkus.⁵,⁷
Bronkiektasis fokal dengan kecurigaan tumor, benda asing, atau obstruksi saluran napas lokal.¹,³,⁵
Adanya komplikasi, seperti kolonisasi kronik *Pseudomonas aeruginosa*, cor pulmonale, abses paru, infeksi persisten, atau penurunan fungsi paru progresif.⁴,⁷,⁹
Pasien yang memerlukan evaluasi lanjutan dengan HRCT thorax, bronkoskopi, terapi antibiotik jangka panjang, atau pertimbangan tindakan operatif.³,⁷,⁸
