Bronkitis [3B &4].

Bronkitis [3B &4].


Definisi

Bronkitis adalah inflamasi pada bronkus yang ditandai keluhan utama berupa batuk, dengan atau tanpa produksi sputum.¹,³,⁴,⁶

(https://www.sciencedirect.com/)
(https://www.sciencedirect.com/)

Epidemiologi

Bronkitis akut merupakan salah satu penyebab tersering batuk akut dan kunjungan ke layanan primer. ³,⁹

Sekitar 90% kasus bronkitis akut disebabkan oleh infeksi virus, sehingga sebagian besar kasus tidak memerlukan antibiotik. ⁴,⁶,⁸,¹⁰

Batuk pada bronkitis akut umumnya berlangsung 1–3 minggu, meskipun keluhan infeksi saluran napas lain seperti demam ringan atau malaise dapat membaik lebih cepat. ³,⁹

Bronkitis akut lebih sering terjadi pada kelompok dengan paparan atau kerentanan saluran napas, terutama anak-anak, dewasa muda, perokok, dan individu yang terpapar polusi udara atau iritan respirasi. ²,³

Kejadian bronkitis akut cenderung meningkat pada periode dengan angka infeksi saluran napas tinggi, seperti musim hujan/dingin atau saat sirkulasi virus respirasi meningkat. ³,⁶

Bronkitis kronis lebih sering ditemukan pada individu dengan paparan iritan jangka panjang, terutama rokok, dan sering menjadi bagian dari spektrum penyakit paru obstruktif kronik (PPOK). ¹,²


Etiologi

Virus merupakan penyebab tersering bronkitis akut, sekitar ±90% kasus, terutama influenza A/B, rhinovirus, coronavirus, RSV, parainfluenza, adenovirus, dan human metapneumovirus.⁴,⁶,⁹

Bakteri lebih jarang, tetapi dapat terjadi pada kasus tertentu, terutama Mycoplasma pneumoniae, Chlamydia pneumoniae, dan Bordetella pertussis.⁴,⁵,⁹

Iritan noninfeksi seperti asap rokok, polusi udara, debu, asap pembakaran, bahan kimia inhalan, serta paparan kerja dapat memicu atau memperberat inflamasi bronkus.¹,²,³

Bronkitis kronis terutama disebabkan oleh paparan iritan jangka panjang, paling sering rokok, yang menyebabkan inflamasi kronis, hipersekresi mukus, dan gangguan klirens mukosilier.¹,²


Faktor Risiko

Merokok aktif maupun pasif merupakan faktor risiko utama, terutama untuk bronkitis kronis dan kekambuhan gejala respirasi.¹,²

Paparan polusi udara, debu, asap pembakaran, dan bahan kimia inhalan dapat mengiritasi mukosa bronkus dan memicu inflamasi saluran napas.¹,²,³

Riwayat infeksi saluran napas berulang meningkatkan risiko bronkitis akut, terutama saat sirkulasi virus respirasi meningkat.³,⁶

Anak-anak, lansia, atau individu dengan daya tahan tubuh rendah lebih rentan mengalami infeksi saluran napas dan komplikasi.²,³

Penyakit paru atau jantung kronis, seperti asma, PPOK, atau gagal jantung, meningkatkan risiko gejala yang lebih berat dan memerlukan evaluasi lebih lanjut.¹,²

Lingkungan padat, ventilasi buruk, dan kontak erat dengan penderita ISPA meningkatkan risiko penularan virus respirasi penyebab bronkitis akut.³,⁶


Klasifikasi

Bronkitis akut. Inflamasi bronkus yang berlangsung singkat, umumnya <3 minggu, paling sering disebabkan oleh infeksi virus, dan biasanya bersifat self-limiting.³,⁴,⁶,⁹

Bronkitis kronis. Batuk produktif kronis akibat inflamasi bronkus jangka panjang, berlangsung ≥3 bulan dalam 1 tahun selama 2 tahun berturut-turut, terutama berkaitan dengan paparan iritan seperti rokok.¹,²

Bronkitis infeksius. Bronkitis yang disebabkan oleh agen infeksi, terutama virus, dan lebih jarang oleh bakteri atipikal seperti Mycoplasma pneumoniae, Chlamydia pneumoniae, atau Bordetella pertussis.⁴,⁶,⁹

Bronkitis iritatif/noninfeksius. Bronkitis yang dipicu oleh paparan asap rokok, polusi udara, debu, asap pembakaran, bahan kimia inhalan, atau iritan lingkungan atau pekerjaan.¹,²,³



Anamnesis

Batuk akut merupakan keluhan utama, umumnya berlangsung <3 minggu, awalnya dapat berupa batuk kering lalu menjadi batuk berdahak.³,⁹

Sputum dapat berupa mukoid atau purulen. Sputum purulen tidak selalu berarti infeksi bakteri, karena dapat terjadi akibat inflamasi mukosa bronkus.³,⁸,⁹

Gejala penyerta dapat berupa demam ringan, pilek, nyeri tenggorokan, malaise, nyeri dada ringan akibat batuk, atau rasa tidak nyaman di dada.³,⁴,⁶

Wheezing atau sesak ringan dapat muncul akibat bronkospasme sementara, terutama pada pasien dengan hiperreaktivitas saluran napas.³,⁹

Riwayat ISPA sebelumnya sering ditemukan, misalnya pilek, flu-like illness, atau kontak dengan penderita batuk pilek.³,⁶

Faktor risiko perlu digali, terutama merokok aktif/pasif, paparan polusi, debu, asap pembakaran, bahan kimia inhalan, penyakit paru kronis, dan riwayat asma/PPOK.¹,²,³

Red flags harus ditanyakan, yaitu demam tinggi menetap, sesak berat, nyeri dada pleuritik, hemoptisis, saturasi menurun, batuk >3 minggu, penurunan berat badan, atau komorbid berat.²,³,⁹


Pemeriksaan Fisik

Keadaan umum umumnya baik hingga tampak sakit ringan, dengan tanda vital relatif stabil pada bronkitis akut tanpa komplikasi.²,³,⁹

Demam biasanya ringan atau tidak ada. Demam tinggi perlu menimbulkan kecurigaan terhadap pneumonia atau infeksi lain yang lebih berat.³,⁴

Frekuensi napas dan saturasi oksigen biasanya normal. Takipnea, hipoksia, atau distress napas merupakan tanda bahaya.²,³,⁹

Auskultasi paru dapat ditemukan ronki kasar atau wheezing ringan akibat sekret dan bronkospasme. Temuan ini biasanya berkurang setelah batuk.³,⁹

Tanda konsolidasi paru seperti perkusi redup, suara napas bronkial, egofoni, atau peningkatan fremitus umumnya tidak ditemukan. Bila ada, pertimbangkan pneumonia.³,⁴,⁹

Pada bronkitis kronis, dapat ditemukan wheezing, ekspirasi memanjang, atau tanda obstruksi jalan napas, terutama bila berkaitan dengan PPOK.¹,²


Pemeriksaan Penunjang

Tidak rutin diperlukan pada bronkitis akut tanpa tanda bahaya. Diagnosis umumnya cukup ditegakkan secara klinis.³,⁹

Foto toraks dilakukan bila dicurigai pneumonia, misalnya demam tinggi, takipnea, hipoksia, ronki fokal, nyeri dada pleuritik, atau kondisi umum berat.³,⁴,⁹

Darah rutin bersifat tidak spesifik. Leukosit dapat normal atau sedikit meningkat, sehingga tidak wajib pada kasus ringan.²,³

Pemeriksaan mikrobiologi, seperti PCR atau kultur sputum, dilakukan bila dicurigai pertusis, influenza berat, COVID-19, atau infeksi khusus.³,⁴,⁶

Spirometri dipertimbangkan bila batuk berulang atau kronis, atau bila dicurigai asma, PPOK, atau bronkitis kronis.¹,²

Pulse oximetry dilakukan bila pasien sesak, lansia, memiliki komorbid paru atau jantung, atau tampak distress napas.²,³


Dasar Diagnosis

Diagnosis bronkitis akut ditegakkan secara klinis pada pasien dengan batuk akut <3 minggu, dengan atau tanpa sputum, disertai gejala ISPA ringan, tanpa tanda pneumonia, serta tanpa bukti penyakit paru kronis.³,⁴,⁹

Diagnosis bronkitis kronis dipertimbangkan bila terdapat batuk produktif ≥3 bulan dalam 1 tahun selama 2 tahun berturut-turut, terutama pada pasien dengan riwayat merokok atau paparan iritan kronis, setelah penyebab batuk kronis lain disingkirkan.¹,²


Diagnosis Banding

Diagnosis BandingPerbedaan dengan Bronkitis
PneumoniaDemam tinggi, takipnea, sesak, ronki fokal, tanda konsolidasi paru, dan dapat ditemukan infiltrat pada foto toraks.³,⁴,⁹
AsmaBatuk episodik disertai wheezing, sesak berulang, riwayat atopi/alergi, dan obstruksi jalan napas reversibel.¹,²
PPOK eksaserbasiUsia lebih tua, riwayat merokok lama, batuk berdahak kronis, sesak progresif, dan eksaserbasi berulang.¹,²
PertusisBatuk paroksismal, dapat disertai inspiratory whoop, muntah setelah batuk, atau batuk yang menetap lebih lama.⁴,⁹
COVID-19 / InfluenzaGejala sistemik lebih menonjol seperti demam, mialgia, nyeri kepala, anosmia pada COVID-19, atau onset akut berat pada influenza.⁶
Tuberkulosis paruBatuk >2 minggu, keringat malam, penurunan berat badan, demam lama, hemoptisis, atau riwayat kontak TB.²
Gagal jantungBatuk disertai sesak saat aktivitas/berbaring, or

Penatalaksanaan

Nonfarmakologis

Istirahat cukup selama fase akut, terutama bila disertai demam, malaise, atau batuk berat.²,³

Hidrasi yang adekuat untuk menjaga kelembapan mukosa dan membantu pengeluaran sekret.²,³

Hindari iritan seperti rokok, asap pembakaran, debu, polusi udara, dan bahan kimia inhalan.¹,²,³

Edukasi bahwa bronkitis akut umumnya bersifat self-limiting, dan batuk dapat bertahan selama 1–3 minggu.³,⁹

Antibiotik tidak diberikan secara rutin, karena mayoritas kasus disebabkan oleh virus.⁴,⁸,¹⁰

Pada bronkitis kronis, fokus utama adalah berhenti merokok, menghindari iritan, dan mengevaluasi kemungkinan PPOK bila gejala menetap.¹,²


Farmakologis

Prinsip Terapi Farmakologis

Terapi bersifat simptomatik, karena mayoritas bronkitis akut disebabkan oleh virus dan membaik sendiri.⁴,⁶,⁹

Antipiretik/analgesik diberikan bila terdapat demam, nyeri kepala, nyeri tenggorok, atau nyeri dada akibat batuk.²,³

Antitusif dipertimbangkan bila batuk kering mengganggu tidur, tetapi dihindari bila sputum banyak.³,⁹

Ekspektoran/mukolitik dapat diberikan bila terdapat sputum kental.³,⁹

Bronkodilator tidak diberikan secara rutin, dan hanya dipertimbangkan bila ada wheezing atau bronkospasme.³,⁹

Antibiotik tidak diberikan secara rutin, dan hanya diberikan bila dicurigai pertusis, pneumonia, infeksi bakteri tertentu, atau pada pasien berisiko tinggi.⁴,⁸,¹⁰

GolonganObat & SediaanDosis & FrekuensiFarmakodinamikKeterangan
Antipiretik / AnalgesikParacetamol tablet 500 mg; sirup 120 mg/5 mL atau 160 mg/5 mLDewasa: 500–1.000 mg tiap 6–8 jam bila perlu. Anak: 10–15 mg/kgBB/kali tiap 4–6 jam bila perluMenghambat sintesis prostaglandin di sistem saraf pusat sehingga menurunkan demam dan nyeriUntuk demam ringan, nyeri kepala, nyeri tenggorok, atau nyeri dada akibat batuk.²,³
AntitusifDextromethorphan sirup/tabletDewasa: 10–20 mg tiap 4 jam atau 30 mg tiap 6–8 jam bila perluMenekan pusat batuk di medula sehingga menurunkan refleks batukDipertimbangkan bila batuk kering mengganggu tidur. Hindari bila sputum banyak.³,⁹
EkspektoranGuaifenesin sirup/tabletDewasa: 200–400 mg tiap 4 jam bila perluMeningkatkan hidrasi sekret bronkus sehingga sputum lebih encer dan mudah dikeluarkanUntuk batuk berdahak dengan sputum kental; efektivitas klinis dapat bervariasi.³,⁹
Bronkodilator kerja pendekSalbutamol inhaler 100 mcg/puff; nebulisasi 2,5 mg/2,5 mLInhaler: 1–2 puff tiap 4–6 jam bila perlu. Nebulisasi: 2,5 mg tiap 4–6 jam bila perluAgonis β2-adrenergik yang merelaksasi otot polos bronkus dan mengurangi bronkospasmeTidak rutin diberikan; dipertimbangkan bila ada wheezing atau bronkospasme.³,⁹
AntibiotikSesuai dugaan etiologi dan pedoman lokalTidak diberikan rutinMenghambat atau membunuh bakteri penyebab infeksiHanya bila curiga pertusis, pneumonia, infeksi bakteri tertentu, atau pasien risiko tinggi. Mayoritas bronkitis akut bersifat viral.⁴,⁸,¹⁰

Komplikasi

Batuk persisten atau hiperreaktivitas bronkus pascainfeksi, sehingga batuk dapat menetap selama beberapa minggu.³,⁹

Pneumonia sekunder, terutama bila disertai demam tinggi, sesak, takipnea, hipoksia, atau tanda konsolidasi paru.³,⁴,⁹

Eksaserbasi asma atau PPOK pada pasien dengan penyakit paru yang mendasari.¹,²

Bronkitis kronis dapat terjadi atau memburuk pada pasien dengan pajanan iritan berulang, terutama rokok.¹,²

Gangguan kualitas hidup sementara, seperti sulit tidur, nyeri dada akibat batuk, dan penurunan aktivitas harian.³,⁹


Prognosis

Ad vitam (terhadap kehidupan): bonam, karena bronkitis akut umumnya ringan, membaik sendiri, dan jarang mengancam jiwa bila tidak disertai pneumonia, hipoksia, atau komorbid berat.³,⁹

Ad functionam (terhadap fungsi): bonam, karena fungsi respirasi biasanya kembali normal setelah inflamasi bronkus membaik.³,⁴

Ad sanationam (terhadap kesembuhan): bonam pada bronkitis akut, karena sebagian besar kasus membaik spontan dalam 1–3 minggu, meskipun batuk dapat menetap sementara.³,⁹


Edukasi

Jelaskan bahwa bronkitis akut umumnya disebabkan oleh virus, bersifat self-limiting, dan biasanya membaik dalam 1–3 minggu.³,⁴,⁶,⁹

Tekankan bahwa antibiotik tidak rutin diperlukan karena sebagian besar kasus tidak disebabkan oleh bakteri.⁴,⁸,¹⁰

Anjurkan istirahat cukup, hidrasi adekuat, dan menghindari paparan rokok, polusi, debu, asap pembakaran, atau iritan saluran napas lain.²,³

Edukasi bahwa batuk dapat menetap selama beberapa minggu meskipun demam atau gejala ISPA lain sudah membaik.³,⁹

Anjurkan kontrol segera bila muncul demam tinggi, sesak napas, nyeri dada berat, batuk darah, saturasi menurun, atau kondisi umum memburuk.²,³,⁹

Pada bronkitis kronis, tekankan pentingnya berhenti merokok, menghindari iritan, serta melakukan evaluasi lanjutan bila batuk berdahak kronis atau sesak berulang.¹,²


Kriteria Rujukan

Curiga pneumonia, misalnya demam tinggi, takipnea, sesak, hipoksia, ronki fokal, nyeri dada pleuritik, atau tanda konsolidasi paru.³,⁴,⁹

Sesak napas berat, distress napas, saturasi oksigen menurun, atau kondisi umum tampak toksik atau berat.²,³

Batuk menetap >3 minggu, terutama bila disertai penurunan berat badan, keringat malam, hemoptisis, atau kecurigaan TB atau keganasan.²,³

Komorbid berat, seperti PPOK, asma tidak terkontrol, penyakit jantung, imunokompromais, lansia frail, atau kehamilan dengan gejala berat.¹,²

Kecurigaan pertusis, influenza berat, atau COVID-19 berat, atau infeksi khusus yang memerlukan pemeriksaan atau terapi lanjutan.⁴,⁶,⁹

Bronkitis kronis atau batuk produktif berulang dengan dugaan PPOK, obstruksi jalan napas, atau kebutuhan spirometri dan evaluasi paru lanjutan.¹,²


Daftar Pustaka

1.

Murray JF, Nadel JA. Textbook of Respiratory Medicine. Edisi ke-6. Philadelphia: Elsevier; 2016.

2.

Perhimpunan Dokter Paru Indonesia. Pedoman Penyakit Paru. Jakarta: PDPI; 2021.

3.

Albert RH. Diagnosis and treatment of acute bronchitis. Am Fam Physician. 2010;82(11):1345–1350.

4.

Wenzel RP, Fowler AA. Acute bronchitis. N Engl J Med. 2006;355(20):2125–2130.

5.

Hart AM, Pepper GA, Gonzales R. Antibiotic prescribing for acute bronchitis. JAMA. 2011;305(21):2225–2226.

6.

Heikkinen T, Järvinen A. Viral respiratory infections. Lancet. 2003;361(9351):51–59.

7.

Hueston WJ, Mainous AG. Acute bronchitis. J Fam Pract. 1998;47(2):153–160.

8.

Gonzales R, Bartlett JG, Besser RE, Cooper RJ, Hickner JM, Hoffman JR, et al. Principles of appropriate antibiotic use for treatment of uncomplicated acute bronchitis: background. Ann Intern Med. 2001;134(6):521–529.

9.

Kinkade S, Long NA. Acute bronchitis. Am Fam Physician. 2016;94(7):560–565.

10.

Smith SM, Fahey T, Smucny J, Becker LA. Antibiotics for acute bronchitis. Cochrane Database Syst Rev. 2017;6(6):CD000245.