Moluskum Kontagiosum [4].

Moluskum Kontagiosum [4].


Nama Lain : Molluscum contagiosum, Moluskum kontagiosum, Water wart, Viral umbilicated papules, Molluscum bodies infection.


Definisi

Moluskum kontagiosum adalah infeksi kulit jinak yang menular akibat Molluscum contagiosum virus dari famili Poxviridae. Penyakit ini ditandai oleh papul kecil berbentuk kubah dengan umbilikasi sentral pada kulit atau mukosa.¹,²


Epidemiologi

Moluskum kontagiosum sering ditemukan pada anak-anak, terutama usia sekolah, karena kontak kulit ke kulit, kebiasaan berbagi barang, dan autoinokulasi lebih mudah terjadi.

Pada dewasa, lesi di area genital atau perigenital dapat berkaitan dengan transmisi seksual.

Penyakit cenderung lebih sering dan lebih luas pada pasien dengan imunosupresi, termasuk HIV, penggunaan imunosupresan, atau dermatitis atopik.

Penularan dapat terjadi melalui kontak langsung, autoinokulasi, atau benda terkontaminasi, seperti handuk, pakaian, alat olahraga, dan peralatan mandi.

Lesi umumnya bersifat self-limited, tetapi dapat menetap lebih lama atau menjadi luas pada pasien imunokompromais.¹,²,¹³,¹⁴


Etiologi

Moluskum kontagiosum disebabkan oleh Molluscum contagiosum virus (MCV), yaitu virus DNA dari famili Poxviridae.

MCV menginfeksi keratinosit epidermis dan menyebabkan proliferasi lokal yang membentuk papul umbilikasi.

Penularan dapat terjadi melalui kontak langsung kulit ke kulit atau melalui benda terkontaminasi, seperti handuk, pakaian, alat mandi, serta kemungkinan permukaan lembap di fasilitas umum.

Penyebaran antarlokasi tubuh dapat terjadi melalui autoinokulasi, terutama akibat garukan, mencukur, atau memencet lesi.

Lesi juga dapat muncul pada area kulit yang mengalami trauma melalui fenomena Koebner.

Pada dewasa, penularan dapat terjadi melalui kontak seksual, terutama bila lesi berada di area genital, perineum, atau perianal.

Penularan vertikal dari ibu ke bayi dilaporkan sangat jarang.¹,²,¹³,¹⁴


Faktor Risiko

Anak-anak, terutama usia sekolah, karena kontak kulit ke kulit dan kebiasaan berbagi barang pribadi lebih sering terjadi.

Kontak erat dengan penderita, termasuk kontak di rumah, sekolah, tempat olahraga, atau kolam renang.

Autoinokulasi akibat menggaruk atau memencet lesi, sehingga virus menyebar ke area kulit lain.

Riwayat dermatitis atopik atau gangguan sawar kulit, karena kulit lebih mudah mengalami mikroabrasi dan infeksi menyebar lebih luas.

Imunosupresi, termasuk HIV, penggunaan imunosupresan, atau kondisi imun rendah, karena lesi dapat menjadi banyak, besar, persisten, dan atipikal.

Kontak seksual pada dewasa, terutama bila lesi berada di area genital, perineum, atau perianal.¹,²,¹³,¹⁴



Anamnesis

Masa inkubasi moluskum kontagiosum umumnya sekitar 1 hingga beberapa minggu setelah pajanan, tetapi dapat bervariasi.

Keluhan utama biasanya berupa benjolan kecil pada kulit yang perlahan bertambah jumlah atau menyebar ke area lain.

Lesi umumnya asimtomatis, tidak nyeri, dan sering ditemukan secara tidak sengaja.

Keluhan dapat disertai gatal, kemerahan, atau inflamasi ringan di sekitar lesi, terutama bila terjadi iritasi, garukan, atau dermatitis di sekitar moluskum.

Pada pasien dengan dermatitis atopik atau imunokompromais, lesi dapat lebih banyak, lebih besar, menetap lebih lama, lebih meradang, dan lebih mudah menyebar.

Tanyakan riwayat kontak erat, penggunaan handuk atau barang pribadi bersama, berenang, autoinokulasi akibat garukan, serta riwayat kontak seksual bila lesi berada di area genital.¹,²,¹³,¹⁴


Pemeriksaan Fisik

Tampilan close-up moluskum multipel — tampak umbilikasi, inflamasi, dan eksema di sekitarnya. (https://dermnetnz.org/)
Tampilan close-up moluskum multipel — tampak umbilikasi, inflamasi, dan eksema di sekitarnya. (https://dermnetnz.org/)

Predileksi

Pada anak, lesi paling sering ditemukan pada wajah, badan, dan ekstremitas.

Pada dewasa, terutama bila ditularkan melalui kontak seksual, lesi sering mengenai area pregenital atau genital, perianal, suprapubik, perineum, dan paha bagian dalam.

Efloresensi

Lesi khas berupa papul miliar berbentuk kubah (dome-shaped papule) dengan lekukan sentral atau umbilikasi (delle).

Warna lesi dapat menyerupai warna kulit, putih mutiara, atau merah muda atau pink.

Lesi dapat tersebar soliter maupun multipel, sering berkelompok, dan umumnya tidak nyeri.

Bila dipijat atau dikuret, lesi dapat mengeluarkan massa putih seperti nasi yang berisi badan moluskum.

Lesi dapat dikelilingi eritema atau dermatitis eksematosa di sekitarnya, yang disebut moluskum dermatitis, terutama pada pasien dengan dermatitis atopik atau akibat garukan.¹,²,⁶,¹⁰,¹³,¹⁴


Pemeriksaan Penunjang

Diagnosis moluskum kontagiosum umumnya bersifat klinis, berdasarkan papul berbentuk kubah dengan umbilikasi sentral yang khas. Pemeriksaan penunjang biasanya tidak diperlukan pada lesi tipikal.

Dermoskopi dapat membantu bila diagnosis meragukan; gambaran khas berupa umbilikasi sentral dengan struktur putih-kuning amorf dan pembuluh darah perifer berbentuk mahkota (crown vessels).¹,²,⁶,⁷,¹⁰,¹³


Diagnosis Banding²-⁵,⁷

Diagnosis BandingPerbedaan dengan Moluskum Kontagiosum
Akne vulgarisTerdapat komedo, papul, pustul, atau nodul inflamasi pada area seboroik; tidak ada umbilikasi sentral.
FolikulitisPapul atau pustul berpusat pada folikel rambut, sering nyeri/gatal, dan tanpa umbilikasi.
MiliaPapul putih kecil berisi keratin, keras, tidak menular, dan tidak memiliki umbilikasi sentral.
Flat warts / veruka planaPapul datar multipel akibat HPV, permukaan halus, tidak berbentuk kubah dan tidak berumbilikasi.
MiliariaPapul atau vesikel kecil akibat sumbatan duktus keringat, sering muncul pada area panas/tertutup, tanpa umbilikasi.
SiringomaPapul kecil multipel terutama periokular, berasal dari duktus ekrin, menetap, dan tidak berumbilikasi.
Sebaceous hyperplasiaPapul kekuningan dengan depresi sentral terutama pada wajah orang dewasa/tua, sering disertai pembuluh kecil, bukan infeksi vir

Penatalaksanaan

Nonfarmakologis

Observasi dapat dilakukan pada pasien imunokompeten dengan lesi sedikit dan tanpa keluhan karena moluskum kontagiosum umumnya bersifat self-limited.

Edukasi pasien untuk tidak menggaruk, memencet, atau mencukur area lesi karena dapat menyebabkan autoinokulasi dan penyebaran lesi.

Anjurkan menjaga higiene personal, menutup lesi bila memungkinkan, serta tidak berbagi handuk, pakaian, alat mandi, atau alat cukur.

Pada lesi genital dewasa, lakukan edukasi mengenai kemungkinan transmisi seksual dan pertimbangkan skrining IMS lain sesuai faktor risiko.²,¹³,¹⁴


Farmakologis

Prinsip Terapi Farmakologis

Menghilangkan lesi untuk mencapai resolusi klinis.

Mengurangi autoinokulasi ke area kulit lain.

Menurunkan risiko transmisi ke individu lain.

Mempercepat perbaikan kosmetik dan pemulihan tampilan kulit.

Mencegah penyebaran lesi, terutama pada kasus lesi multipel atau pasien imunokompromais.²,⁸,¹¹,¹³,¹⁴

Golongan ObatObat & SediaanDosis / Cara PenggunaanFarmakodinamik / Keterangan
Retinoid topikalTretinoin krimDioleskan tipis pada lesi sesuai toleransi kulit.Mengganggu diferensiasi dan proliferasi keratinosit sehingga membantu deskuamasi lesi; efek samping berupa eritem, iritasi, dan rasa perih.
Kaustik kimiaTrichloroacetic acid (TCA)Diaplikasikan hati-hati oleh tenaga medis langsung pada lesi.Mengkoagulasi protein jaringan dan menyebabkan destruksi kimiawi lesi; risiko nyeri, iritasi, ulkus, dan jaringan parut bila aplikasi berlebihan.
Antagonis reseptor H2 / imunomodulator sistemikSimetidin oral40 mg/kgBB/hari terbagi dalam beberapa dosis.Dapat dipertimbangkan pada anak atau lesi luas/sulit diterapi; diduga memodulasi respons imun seluler, tetapi bukti efektivitas bervariasi dan bukan terapi lini utama.
Perawatan lokalAntiseptik lokal / kompres NaCl 0,9%Digunakan bila ada iritasi, ekskoriasi, atau risiko infeksi sekunder.Membantu menjaga kebersihan lesi dan mengurangi iritasi, tetapi tidak mengeradikasi virus.

Operatif / Tindakan

Kuretase dilakukan dengan mengangkat inti lesi secara mekanis menggunakan alat kuret.

Ekstraksi inti lesi dapat dilakukan dengan ekstraktor komedo, jarum steril, atau penekanan lembut untuk mengeluarkan massa putih (molluscum bodies).

Krioterapi menggunakan nitrogen cair untuk menghancurkan jaringan lesi melalui pembekuan.

Elektrokauterisasi menghancurkan lesi dengan energi panas/listrik.

Laser ablasi dipertimbangkan pada lesi luas, rekuren, atau lokasi kosmetik tertentu.

Efek samping tindakan dapat berupa nyeri, eritem, bula, hipopigmentasi, perdarahan ringan, dan jaringan parut.²,⁵,⁶,⁸,¹⁰


Komplikasi

Pruritus/gatal dapat terjadi, terutama pada pasien dengan dermatitis atopik, akibat inflamasi dan gangguan sawar kulit di sekitar lesi

Infeksi sekunder bakteri dapat muncul bila pasien sering menggaruk atau memanipulasi lesi, sehingga terjadi ekskoriasi dan kerusakan kulit.

Autoinokulasi menyebabkan penyebaran lesi ke area kulit lain akibat garukan, pencukuran, atau pemencetan lesi.

Moluskum dermatitis berupa dermatitis eksematosa di sekitar lesi dapat menyebabkan eritem, skuama, dan rasa gatal.

Bila mengenai area periokular atau kelopak mata, dapat terjadi konjungtivitis kronik dan keratitis akibat iritasi atau penyebaran virus ke permukaan mata.

Pada pasien imunokompromais, lesi dapat menjadi multipel, besar, persisten, dan atipikal, serta lebih sulit diterapi.²,¹³,¹⁴


Prognosis

Ad vitam (terhadap kehidupan): bonam, karena moluskum kontagiosum merupakan infeksi kulit jinak yang umumnya tidak mengancam jiwa pada pasien imunokompeten.

Ad functionam (terhadap fungsi organ): bonam, karena lesi biasanya terbatas pada kulit superfisial dan jarang menimbulkan gangguan fungsi permanen.

Ad sanationam (terhadap kesembuhan): bonam, karena sebagian besar kasus mengalami resolusi spontan dalam beberapa bulan hingga tahun, meskipun pada pasien imunokompromais lesi dapat lebih persisten, luas, dan rekuren.¹,²,¹³,¹⁴


Edukasi

Moluskum kontagiosum menular melalui kontak kulit, autoinokulasi, atau benda terkontaminasi.

Hindari menggaruk, memencet, atau mencukur lesi karena memicu penyebaran dan infeksi sekunder.

Jaga higiene; jangan berbagi handuk, pakaian, alat mandi, atau alat cukur.

Tutup lesi saat olahraga kontak atau berenang untuk menurunkan transmisi.

Lesi genital dewasa dapat terkait transmisi seksual; anjurkan seks aman.

Lesi umumnya sembuh spontan dalam beberapa bulan hingga tahun pada pasien imunokompeten.

Lesi luas, persisten, rekuren, atau pada pasien imunokompromais perlu evaluasi lanjut.²,¹³,¹⁴


Kriteria Rujukan

Lesi luas, multipel, gigantik, persisten, atau rekuren yang sulit ditangani di layanan primer.

Lesi pada pasien imunokompromais, termasuk HIV, penggunaan imunosupresan, atau keganasan.

Lesi dengan lokasi khusus seperti periokular/kelopak mata yang berisiko menyebabkan konjungtivitis atau keratitis.

Diagnosis meragukan atau dicurigai diagnosis banding lain seperti veruka, siringoma, basal cell carcinoma, atau lesi neoplastik lain.

Tidak membaik setelah terapi konservatif atau destruktif sederhana.

Membutuhkan tindakan khusus seperti laser ablasi atau evaluasi dermatopatologi lanjutan.²,⁵,¹⁰,¹¹,¹³


✏️ Kasih pendapatmu mengenai artikel ini! Yuk, klik disini