
Tes Sensitivitas Kornea
Definisi
Tes sensitivitas kornea adalah pemeriksaan untuk menilai integritas dan fungsi saraf trigeminus (nervus kranialis V, khususnya cabang oftalmikus) yang menginervasi kornea. Pemeriksaan ini dilakukan dengan merangsang permukaan kornea menggunakan alat sederhana atau khusus untuk menilai respon refleks berkedip dan persepsi sensorik pasien.¹
Tujuan Pemeriksaan
Menilai fungsi sensorik kornea.
Mendeteksi penurunan atau hilangnya sensasi kornea.
Membantu diagnosis penyakit mata (misalnya keratitis neurotrofik) dan gangguan saraf trigeminus.
Menentukan risiko ulkus atau trauma kornea berulang akibat hipoestesia.²
Alat dan Bahan
Ujung kapas steril yang dipilin halus → metode sederhana.
Wisp dari benang nilon/ujung kertas tisu (metode tradisional).
Cochet–Bonnet aesthesiometer (alat standar klinis; menggunakan monofilamen nilon dengan panjang variabel).³
Cara Pemeriksaan
1. Metode Kapas/Tisu
Pasien diminta melihat ke arah yang berlawanan dari mata yang diperiksa.
Ujung kapas/tisu halus disentuhkan perlahan ke permukaan kornea (bukan konjungtiva).
Amati respon pasien: kedipan, refleks menarik kepala, atau laporan rasa sentuhan.
2. Metode Cochet–Bonnet Aesthesiometer
Pasien menatap lurus ke depan.
Monofilamen nilon ditempelkan tegak lurus pada permukaan kornea.
Panjang filamen disesuaikan (semakin panjang = tekanan lebih kecil).
Pasien ditanya apakah merasakan sentuhan.
Nilai sensitivitas ditentukan dari panjang filamen terpanjang yang masih dirasakan.⁴
Temuan Klinis dan Kemungkinan Diagnosis
Normal → respon cepat berupa kedipan dan sensasi sentuhan jelas.
Hipoestesia kornea (sensitivitas menurun):
Keratitis herpetik (HSV atau HZV) → virus merusak saraf trigeminus.
Neuropati trigeminal (trauma, tumor, pasca bedah trigeminal).
Penggunaan lensa kontak jangka panjang → desensitisasi kornea.
Pasca operasi refraktif (LASIK/PRK) → sementara terjadi hipoestesia.
Diabetes mellitus → neuropati perifer.
Anestesia kornea (hilang total):
Keratitis neurotrofik berat.
Tumor intrakranial yang mengenai n. trigeminus.
Trauma orbita dengan kerusakan saraf V.
Hipersensitivitas kornea: jarang, dapat terjadi pada keratitis akut dengan inflamasi aktif.⁵
Korelasi Klinis
Tes sensitivitas kornea merupakan pemeriksaan penting pada pasien dengan ulkus rekuren, infeksi herpetik, trauma, atau riwayat operasi refraktif. Deteksi dini hipoestesia kornea membantu pencegahan komplikasi serius seperti keratitis neurotrofik yang sulit diobati. Metode kapas sederhana dapat dilakukan di fasilitas primer, sedangkan aesthesiometer memberikan pengukuran lebih akurat.⁶