Pengukuran Produksi Air Mata

Pengukuran Produksi Air Mata

Definisi

Produksi air mata dievaluasi untuk menilai fungsi kelenjar lakrimal dan mendeteksi defisiensi kuantitatif air mata. Pemeriksaan ini merupakan bagian dari diagnosis Dry Eye Disease (DED), sindrom Sjögren, serta berbagai kelainan okular permukaan mata.¹

https://ophthalmologybreakingnews.com/
https://ophthalmologybreakingnews.com/

Tujuan

1.

Mengukur jumlah sekresi air mata basal maupun refleks.

2.

Menilai ada tidaknya defisiensi air mata.

3.

Membantu menegakkan diagnosis mata kering (DED).

4.

Mengevaluasi terapi pada pasien dengan kelainan kelenjar lakrimal.²

Alat dan Bahan

Kertas saring Whatman no. 41 (strip Schirmer).

Anestesi topikal (untuk Schirmer I dengan anestesi).

Stopwatch.

Filter strip / cotton thread (untuk uji benang merah).³

https://www.indiamart.com/
https://www.indiamart.com/

Jenis Pemeriksaan Schirmer

1. Schirmer I (tanpa anestesi)

Mengukur sekresi total (basal + refleks).

Dilakukan tanpa anestesi.

2. Schirmer I (dengan anestesi)

Mengukur sekresi basal murni.

Setelah tetes anestesi topikal, sekresi refleks diminimalkan.

3. Schirmer II

Mengukur sekresi refleks.

Dilakukan dengan stimulasi mekanis/kimia, misalnya iritasi mukosa hidung dengan cotton bud.

Cara Pemeriksaan

Schirmer I (tanpa anestesi) – paling sering digunakan

5.

Pasien duduk tegak, pandangan ke depan.

6.

Lipat ujung kertas ±5 mm.

7.

Tempatkan lipatan pada forniks inferior temporal.

8.

Pasien diminta menutup mata ringan atau membiarkannya terbuka.

9.

Tunggu 5 menit.

10.

Lepaskan strip, ukur panjang kertas yang basah (mm).

Schirmer I (dengan anestesi)

11.

Teteskan anestesi topikal.

12.

Tunggu 1 menit, kemudian keringkan sisa tetesan.

13.

Lanjutkan langkah sama seperti Schirmer I.

Schirmer II

14.

Lakukan Schirmer I dengan anestesi.

15.

Iritasi mukosa hidung dengan kapas steril/cotton bud.

16.

Ukur panjang pembasahan kertas setelah 5 menit.⁴

Interpretasi Hasil

Jenis TesNormalBorderlineAbnormal
Schirmer I (tanpa anestesi)>15 mm/5 menit5–10 mm<5 mm
Schirmer I (dengan anestesi)>10 mm/5 menit5–10 mm<5 mm
Schirmer II>15 mm/5 menit<5 mm

<5 mm/5 menit → produksi air mata berkurang, curiga DED aqueous deficiency (mis. Sjögren syndrome).

>25 mm/5 menit → hipersekresi, bisa karena iritasi, infeksi konjungtiva, atau epifora akibat obstruksi duktus lakrimalis.⁵

Korelasi Klinis

Tes skrining utama untuk defisiensi air mata kuantitatif.

Hasil abnormal perlu dikombinasikan dengan pemeriksaan TBUT (Tear Break-Up Time), osmolaritas air mata, dan tes sitologi untuk diagnosis lengkap DED.

Sering digunakan pada pasien dengan gejala mata kering kronis, terutama pada pasien autoimun (Sjögren syndrome, rheumatoid arthritis, SLE).⁶

Phenol Red Thread Test (PRTT / Uji Benang Merah)

Lebih cepat, hanya butuh 15 detik.

Cara:

17.

Gunakan benang khusus dengan indikator phenol red (kuning → merah bila terkena air mata).

18.

Tempelkan pada forniks inferior selama 15 detik.

19.

Ukur panjang benang yang berubah warna.

Interpretasi:

Normal: ≥10 mm/15 detik.

Abnormal: <10 mm → hiposekresi.⁵

Tear Meniscus Height (TMH)

Dilakukan dengan slit lamp atau OCT anterior segment.

Mengukur tinggi kolom air mata di tepi palpebra inferior.

Normal: ±0,2–0,4 mm.

<0,2 mm → curiga defisiensi kuantitatif.⁶

Korelasi Klinis

Schirmer test: metode klasik, masih sering dipakai di klinik umum.

PRTT: lebih nyaman untuk pasien anak-anak dan lansia karena singkat.

TMH/OCT: metode modern, non-invasif, lebih akurat.

Digunakan dalam diagnosis Dry Eye Disease, terutama bila dicurigai aqueous deficient dry eye (ADDE) seperti pada Sjögren syndrome.

Hasil harus dikombinasikan dengan pemeriksaan kualitas air mata (misalnya Tear Break-Up Time / TBUT) untuk diagnosis lengkap DED.⁷


✏️ Kasih pendapatmu mengenai artikel ini! Yuk, klik disini