
Penentuan Refraksi Setelah Sikloplegia (Skiascopy)/ Retinoskopi
Definisi
Skiascopy (retinoskopi) adalah metode pemeriksaan refraksi objektif dengan mengamati pergerakan bayangan cahaya di retina saat cahaya diproyeksikan ke dalam mata menggunakan retinoskop.
Setelah sikloplegia → pemeriksaan dilakukan setelah pemberian obat sikloplegik (misalnya atropin, siklopentolat, tropikamid) untuk melumpuhkan akomodasi.
Hal ini penting terutama pada anak-anak dan remaja, karena akomodasi yang kuat dapat menutupi kelainan refraksi sebenarnya.¹
Tujuan
Menentukan kelainan refraksi sejati tanpa pengaruh akomodasi.
Mengukur derajat miopia, hipermetropia, dan astigmatisme.
Menjadi dasar koreksi kacamata, terutama pada anak dengan risiko ambliopia.
Membantu diagnosis gangguan refraksi tersembunyi (latent hyperopia).²
Alat dan Bahan
Retinoskop (manual atau streak retinoscope).
Lensa uji (trial lens set) atau phoropter.
Obat sikloplegik (atropin, siklopentolat, tropikamid).
Snellen chart untuk konfirmasi visus.³
Cara Pemeriksaan
1. Persiapan Sikloplegia
Teteskan obat sikloplegik sesuai protokol:
Sikloplegia lengkap (atropin 1%) → biasanya pada anak kecil (2–3x sehari selama 3 hari).
Sikloplegia parsial (sikloplegik kerja cepat, misalnya siklopentolat 1%) → cukup untuk anak lebih besar atau dewasa muda.
Tunggu sampai refleks akomodasi hilang (pupil midriasis, refleks cahaya menghilang).
2. Posisi Pemeriksaan
Pasien duduk dengan pandangan ke arah jauh.
Pemeriksa berada ±1 meter di depan pasien.
3. Prosedur Skiascopy
Arahkan cahaya retinoskop ke dalam pupil.
Amati pergerakan bayangan (refleks) di retina saat cermin digerakkan:
“With movement” (bayangan searah gerakan retinoskop) → hipermetropia atau miopia ringan (<1D).
“Against movement” (bayangan berlawanan arah) → miopia >1D.
“No movement” → fokus tepat di retina (emmetropia atau miopia 1D pada jarak 1 m).
Tempatkan trial lens di depan mata untuk menetralkan gerakan refleks.
Netralisasi tercapai bila refleks berhenti bergerak dan memenuhi pupil.
4. Kalkulasi Koreksi
Catat lensa netralisasi yang digunakan.
Kurangi dengan jarak kerja pemeriksa (misalnya 1 m = 1,00 D).
Hasil akhir = refraksi sejati pasien.⁴
Interpretasi
Emmetropia: tidak ada pergerakan refleks (netralisasi dengan lensa plano).
Miopia: refleks “against”, netralisasi dengan lensa minus.
Hipermetropia: refleks “with”, netralisasi dengan lensa plus.
Astigmatisme: gerakan berbeda pada meridian yang berbeda, dikoreksi dengan kombinasi lensa sferis + silindris.
Korelasi Klinis
Pada anak-anak: wajib menggunakan skiascopy setelah sikloplegia untuk mencegah kesalahan koreksi akibat akomodasi.
Pada remaja & dewasa muda: membantu mendeteksi hipermetropia laten.
Pada dewasa: jarang diperlukan kecuali bila ada gangguan pengukuran subjektif.
Skiascopy tetap menjadi gold standard dalam refraksi objektif pediatrik, meskipun tersedia autorefractor.⁵