Xerophthalmia [3A]

Xerophthalmia [3A]


Definisi

Xerophthalmia merupakan spektrum kelainan mata yang disebabkan oleh defisiensi vitamin A, mulai dari rabun senja (night blindness) hingga keratomalasia yang dapat berakhir dengan kebutaan permanen.¹

Etiologi

Defisiensi vitamin A dapat disebabkan oleh:

Asupan rendah vitamin A (malnutrisi)

Gangguan penyerapan atau malabsorpsi (sirosis bilier, penyakit pankreas, bypass usus)

Alkoholisme kronis

Penyakit infeksi (terutama campak dan diare berat pada anak-anak).²,³

Klasifikasi WHO

Kode WHONama Lesi KlinisDeskripsi
XNRabun senja (Xerophthalmia Night Blindness)Gangguan adaptasi gelap akibat gangguan sintesis rhodopsin pada batang retina.
X1AXerosis konjungtivaKeringnya konjungtiva karena hilangnya sel goblet dan mukus; tampak kusam dan keratinisasi.
X1BBitot spotPlak putih berbusa (keratin + bakteri Corynebacterium) di konjungtiva.
X2Xerosis korneaPermukaan kornea menjadi kering, buram, dan kehilangan kilau.
X3AUlkus kornea <1/3Ulkus superfisial yang mengenai <1/3 permukaan kornea; risiko progresi ke keratomalasia.
X3BUlkus kornea >1/3Ulkus dalam dan luas, >1/3 permukaan kornea; sangat berisiko perforasi.
XSJaringan parut korneaSkar kornea permanen akibat penyembuhan keratomalasia atau ulkus berat.
XFFundus xerophthalmicLesi kekuningan di retina perifer; menunjukkan defisiensi vitamin A kronis.

Patofisiologi

Vitamin A berperan penting dalam proses fisiologis mata, terutama dalam:

1.

Fungsi retina: Vitamin A diperlukan untuk sintesis rhodopsin di sel batang retina, yang esensial untuk penglihatan dalam cahaya redup. Defisiensi menyebabkan rabun senja (nyctalopia).

2.

Kesehatan epitel okular: Vitamin A mempertahankan integritas dan fungsi epitel konjungtiva dan kornea melalui regulasi diferensiasi sel epitel dan produksi mukus oleh sel goblet. Defisiensinya menyebabkan hilangnya sel goblet, metaplasia skuamosa, dan keratinisasi epitel.

3.

Peradangan dan nekrosis kornea: Kekeringan dan keratinisasi progresif dapat menyebabkan ulserasi kornea. Pada stadium lanjut, terjadi keratomalasia (pelelehan kornea) akibat nekrosis jaringan yang dapat berakhir dengan perforasi kornea dan kebutaan.

4.

Sistem imun: Vitamin A mendukung imunitas mukosa, sehingga kekurangannya meningkatkan risiko infeksi sekunder pada permukaan okular.

Seluruh perubahan tersebut bersifat progresif dan ireversibel bila tidak ditangani dengan cepat dan tepat.¹,⁵

Anamnesis

Rabun senja (gejala awal yang khas)

Mata kering dan terasa terbakar

Riwayat gizi buruk, khususnya kekurangan vitamin A

Riwayat infeksi sistemik (campak, diare berulang) Usia rentan: anak <5 tahun

Pemeriksaan Fisik

Konjungtiva: xerosis, bintik Bitot (bentukan plak putih berbusa)

Kornea: keratinisasi, ulkus, keratomalasia

Fundus: bercak kekuningan di perifer (XF)

ERG (Elektroretinografi): penurunan amplitudo (pada stadium lanjut)

Pemeriksaan Penunjang

Pemeriksaan status gizi (pengukuran berat badan, lingkar lengan atas)

Kadar vitamin A serum (bila fasilitas tersedia)

Elektroretinografi (ERG): menunjukkan penurunan amplitudo

Tes absorpsi lemak untuk kasus dengan dugaan malabsorpsi

Dasar Diagnosis

Diagnosis ditegakkan secara klinis berdasarkan gejala khas dan riwayat gizi pasien

Klasifikasi WHO digunakan sebagai panduan untuk menentukan stadium dan penatalaksanaan

Diagnosis Banding

Diagnosis BandingPerbedaan Kunci
Keratitis herpetikBiasanya unilateral, nyeri, terdapat dendritik fluorescein
Sindrom mata kering (DED)Tidak disertai rabun senja atau tanda malnutrisi
Keratitis neurotropikTidak ada bitot spot, sering pada diabetes/neuroparalitik
Trakoma kronisDitemukan folikel dan jaringan parut konjungtiva
PPCDBentuk distropi kornea herediter, onset lambat, bukan karena kekurangan gizi

Penatalaksanaan

Non-Farmakologis

Edukasi keluarga tentang pentingnya asupan gizi seimbang dan sumber vitamin A

Partisipasi dalam program suplementasi vitamin A massal nasional

Promosi dan dukungan pemberian ASI eksklusif pada bayi

Imunisasi campak lengkap, peningkatan sanitasi, dan akses air bersih

Pemantauan rutin tumbuh kembang anak

Farmakologis

Obat / SediaanDosis dan FrekuensiKeterangan Singkat
Vitamin A oral<6 bulan: 50.000 IU x3 hariSuplemen standar WHO
6–12 bulan: 100.000 IU x3 hari
≥12 bulan dan dewasa: 200.000 IU x3 hari
Vitamin A IM100.000 IU IM (jika muntah/malabsorpsi)Untuk pasien yang tidak bisa minum oral
Lubrikan intensif4–8x/hariMengurangi gejala subjektif
Asam retinoat topikal0,01–0,05% 2x/hariBila terdapat keratinisasi berat
Antibiotik topikalSesuai kuman: gentamisin, kloramfenikolBila ada ulkus/infeksi sekunder

Dosis Vitamin A Program Nasional (Kemenkes RI)

Bayi 6–11 bulan: 100.000 IU (kapsul biru), diberikan 1 kali setiap Februari dan Agustus

Anak 12–59 bulan: 200.000 IU (kapsul merah), diberikan 1 kali setiap Februari dan Agustus

Ibu nifas: 200.000 IU (kapsul merah), 1 kali setelah melahirkan (jika tidak sedang mengonsumsi suplemen prenatal)

⭐ Standar Dosis Vitamin A (WHO & Program Nasional)

Terapi defisiensi vitamin A (rabun senja)

Usia AnakDosisWarna KapsulJadwal
< 6 bulan50.000 IUBiru (½)hari 1, 2, 15
6–11 bulan100.000 IUBiru (1 kapsul)hari 1, 2, 15
≥ 12 bulan200.000 IUMerah (1 kapsul)hari 1, 2, 15

Komplikasi

Keratomalasia → perforasi kornea → kebutaan

Sikatrik kornea permanen

Infeksi sekunder (keratitis bakteri)

Mortalitas meningkat (defisiensi berat pada anak-anak)

Prognosis

Ad vitam: baik jika tanpa komplikasi berat

Ad functionam: buruk bila ada kerusakan kornea

Ad sanationam: baik bila diberikan terapi pada stadium awal

Edukasi Pasien

Pentingnya konsumsi gizi seimbang dan makanan kaya vitamin A (seperti wortel, hati, dan sayuran hijau)

Kesadaran akan rabun senja sebagai gejala awal yang perlu diperhatikan

Pentingnya imunisasi campak, pencegahan diare, dan menjaga kebersihan lingkungan

Keterlibatan keluarga dalam deteksi dini dan memastikan kepatuhan terapi

Kriteria Rujukan

Keratomalasia (pelelehan kornea)

Ulkus kornea yang luas

Kondisi tidak membaik setelah terapi hari ke-3

Tanda perforasi kornea atau penurunan tajam penglihatan yang drastis

Defisiensi vitamin A yang diduga akibat penyakit sistemik kronis


✏️ Kasih pendapatmu mengenai artikel ini! Yuk, klik disini