Trikiasis [4A]

Trikiasis [4A]


Definisi

Trikiasis merupakan kelainan posisi tumbuh bulu mata yang mengarah ke dalam, menyebabkan bulu mata menyentuh permukaan bola mata (kornea atau konjungtiva), dengan posisi kelopak mata yang tetap normal (tidak terlipat ke dalam).

Kondisi ini dapat mengakibatkan iritasi, nyeri, dan risiko kerusakan kornea jika tidak ditangani dengan tepat.¹,²,³

Etiologi

Berdasarkan mekanisme dan faktor pencetus, etiologi trikiasis dapat diklasifikasikan menjadi:

1.

Inflamasi kronis / sikatrik

Trakoma kronik (stadium sikatrik)

Pemfigoid okular

Stevens–Johnson syndrome

Blefaritis menahun atau ulseratif

Herpes zoster oftalmikus.

2.

Traumatik

Trauma tumpul atau tajam pada kelopak mata

Luka bakar kimia (terutama basa) atau termal

Cedera iatrogenik pasca pembedahan kelopak.

3.

Degeneratif / mekanik

Perubahan tarsus akibat penuaan

Kelainan struktur kelopak mata tanpa entropion

Perubahan arah silia idiopatik.

4.

Kongenital (jarang)

Malposisi folikel bulu mata sejak lahir.¹,²,³,⁴,⁶,⁷

Patofisiologi

5.

Kerusakan tepi kelopak mata akibat inflamasi kronis, infeksi, trauma, atau pembedahan.

6.

Respon penyembuhan memicu pembentukan jaringan parut (fibrosis) pada tarsus atau margin kelopak.

7.

Perubahan orientasi folikel bulu mata akibat tarikan atau dorongan dari jaringan parut.

8.

Pertumbuhan bulu mata ke arah bola mata meskipun posisi kelopak tetap normal (tidak terjadi entropion).

9.

Gesekan bulu mata terhadap kornea/konjungtiva → menyebabkan kerusakan epitel, inflamasi, abrasi, ulkus, dan pembentukan pembuluh darah baru.¹,²,³,⁴

Anamnesis

Keluhan yang sering dilaporkan pasien meliputi:

Sensasi benda asing di mata

Nyeri atau ketidaknyamanan

Mata berair (lakrimasi)

Sensitivitas terhadap cahaya (fotofobia)

Mata merah persisten.¹,²,³,⁵

Pemeriksaan Fisik

Pemeriksaan dilakukan untuk menilai arah pertumbuhan bulu mata, dampaknya pada permukaan bola mata, dan kemungkinan penyebabnya:

Inspeksi margin palpebra dengan cahaya langsung atau slit-lamp untuk mengidentifikasi bulu mata yang mengarah ke bola mata.

Penilaian distribusi silia: apakah fokal (satu atau beberapa silia) atau multipel/difus.

Pemeriksaan posisi kelopak mata untuk membedakan dengan entropion (pada trikiasis posisi kelopak normal).

Slit-lamp biomicroscopy untuk mengamati kontak silia dengan kornea/konjungtiva secara detail.

Pemeriksaan fluorescein staining untuk mendeteksi defek epitel atau abrasi kornea akibat gesekan.

Evaluasi tanda inflamasi seperti hiperemia konjungtiva, epifora, atau tanda blefaritis.

Pemeriksaan kelainan penyerta seperti jaringan parut pada konjungtiva/tarsus, tanda pemfigoid okular, atau kelainan struktural pasca trauma/operasi.¹,⁴,⁶,⁷

Pemeriksaan Penunjang

Uji fluorescein: mendeteksi defek epitel kornea

Pemeriksaan slit-lamp detail: menilai tingkat kerusakan permukaan bola mata

Histopatologi/kultur: dilakukan bila dicurigai pemfigoid okular atau blefaritis infeksius menahun.¹,²,³

Dasar Diagnosis

Diagnosis trikiasis ditegakkan berdasarkan inspeksi klinis arah pertumbuhan bulu mata dan dampaknya pada kornea atau konjungtiva.¹,²,³

Diagnosis Banding

Diagnosis BandingPersamaan dengan TrikiasisPerbedaan dengan Trikiasis
EntropionBulu mata menyentuh kornea dan menimbulkan iritasiAda pembalikan margo palpebra ke dalam; pada trikiasis posisi kelopak normal
DistikiasisSiliar kontak dengan kornea/konjungtivaBaris bulu mata tambahan tumbuh dari kelenjar Meibom; bisa normal atau abnormal arahnya
EpiblefaronSiliar mengarah ke bola mataLipatan kulit dan otot pretarsal mendorong silia ke kornea, folikel normal
Bulu mata lepasSiliar kontak kornea menimbulkan iritasi sementaraBulu mata lepas dari folikel dan tersangkut di permukaan mata; bukan pertumbuhan abnormal
MadarosisDapat disertai gejala iritasi sekunderHilangnya bulu mata; tidak ada pertumbuhan silia ke arah abnormal
DermatochalasisKeluhan iritasi dapat muncul pada kasus lanjutKulit kelopak berlebih menutupi mata, tidak mengubah arah tumbuh silia
Distikiasis
Distikiasis

Penatalaksanaan

Non-Farmakologis

Epilasi manual: pencabutan sementara bulu mata yang mengarah ke dalam; biasanya tumbuh kembali dalam 6–8 minggu.

Elektrolisis: metode menghancurkan folikel bulu mata menggunakan arus listrik; memberikan hasil permanen bila folikel tereliminasi seluruhnya.

Krioterapi: teknik pembekuan folikel menggunakan probe kriogenik; efektif untuk kasus dengan bulu mata abnormal yang multipel atau difus.

Laser ablasi (argon atau diode): alternatif untuk kasus yang resisten terhadap penanganan lain; memberikan akurasi tinggi pada folikel tunggal atau fokal.

Farmakologis

Tidak ada terapi farmakologis yang dapat memperbaiki arah pertumbuhan silia secara langsung, namun obat digunakan untuk:

Mengurangi inflamasi dan nyeri

Mengatasi penyakit dasar atau komplikasi (seperti blefaritis, keratitis)

Obat & SediaanDosis & FrekuensiMekanisme/Farmakokinetik Singkat
Antibiotik topikal (mis. eritromisin 0,5% salep)2–4×/hariMenghambat sintesis protein bakteri, pencegahan infeksi sekunder
Lubrikan mata (artificial tears)4–6×/hari atau sesuai kebutuhanMelapisi permukaan mata, mengurangi gesekan silia
Steroid topikal ringan (fluorometholone 0,1%)2–4×/hari, jangka pendekMengurangi inflamasi pada konjungtiva/kornea (gunakan hati-hati)

Operatif

Dilakukan bila metode konservatif gagal atau terdapat deformitas kelopak:

Tarsotomi/blefaroplasti: memperbaiki struktur kelopak pada entropion sekunder.

Rekonstruksi kelopak: untuk mengatasi kerusakan berat akibat fibrosis, trauma, atau tumor sebelumnya.

Lamina tarsal rotation: teknik memutar segmen tarsus untuk mengubah arah folikel.

Komplikasi

Abrasi kornea kronis – Terjadi akibat gesekan berulang bulu mata terhadap epitel kornea, menyebabkan hilangnya sel epitel superfisial dan memicu nyeri, fotofobia, serta epifora.

Ulkus kornea – Abrasi yang tidak sembuh atau terinfeksi dapat berkembang menjadi ulkus superfisial atau dalam, meningkatkan risiko jaringan parut permanen dan penurunan tajam penglihatan.

Keratitis – Inflamasi kornea akibat trauma mekanis berulang dari silia yang dapat diperparah oleh infeksi sekunder bakteri atau virus.

Jaringan parut kornea – Fibrosis stroma kornea pasca inflamasi atau ulkus yang menyebabkan hilangnya transparansi kornea dan penurunan visus.

Penurunan visus permanen – Terjadi akibat kerusakan optik kornea yang signifikan atau keterlambatan terapi definitif.¹,²,³,⁴,⁷

Edukasi

Pencabutan bulu mata hanya bersifat sementara

Memerlukan tata laksana jangka panjang bila penyebab dasar tidak diatasi

Menjaga kebersihan kelopak mata, terutama bila disertai blefaritis

Pentingnya kontrol berkala untuk mencegah kekambuhan.¹,²,³,⁴

Prognosis

DimensiPrognosisKeteranganDeterminan Utama
Ad vitamBonamMortalitas sangat rendah bila diagnosis dan terapi tepat waktuTidak terjadi komplikasi berat seperti perforasi kornea atau infeksi intraokular yang mengancam nyawa
Ad functionamBonamSebagian besar pasien mempertahankan atau kembali ke fungsi visual normal setelah terapiTerapi adekuat, penanganan komplikasi kornea secara cepat
Ad sanationamDubiaDapat sembuh total pada kasus tanpa komplikasi; terdapat risiko rekurensi terutama pada tipe cicatricialKepatuhan kontrol, perbaikan etiologi dasar, dan teknik operasi yang sesuai

Catatan Penting

Lakukan skrining rutin di daerah endemik trakoma

Evaluasi kemungkinan entropion dan distikiasis secara teliti sebelum menentukan terapi definitif

Waspadai pemfigoid okular pada kasus trikiasis berulang bilateral yang disertai fibrosis konjungtiva.¹,²,³,⁴


✏️ Kasih pendapatmu mengenai artikel ini! Yuk, klik disini