Traumatik Optik Neuropati (TON) [2]

Traumatik Optik Neuropati (TON) [2]


Definisi

Traumatik Optik Neuropati (TON) adalah kerusakan saraf optikus akibat cedera tumpul atau tembus pada kepala atau orbita yang menyebabkan gangguan penghantaran impuls visual secara akut.¹²


Epidemiologi

TON adalah kondisi jarang namun signifikan pada trauma orbita dan kepala, dan harus selalu dicurigai pada pasien dengan riwayat cedera wajah atau kepala.

TON terjadi pada hingga 5% dari semua fraktur facial, menjadikannya salah satu komplikasi neuro-oftalmologis penting pada trauma maksilofasial.

Lebih sering terjadi pada trauma tumpul dibanding trauma tembus karena mekanisme "indirect TON" yang lebih umum.

Kasus lebih banyak pada dewasa muda laki-laki, sejalan dengan pola umum cedera akibat kecelakaan lalu lintas, olahraga, dan kekerasan.

Sebagian besar pasien mengalami penurunan visus berat sejak awal—sekitar 50% hanya memiliki persepsi cahaya saat datang pertama kali.¹,²


Etiologi


Klasifikasi

1.

Berdasarkan Mekanisme Cedera

2.

Berdasarkan Lokasi Lesi


Patofisiologi


Anamnesis

Penurunan tajam penglihatan mendadak setelah trauma kepala atau orbita, sesuai mekanisme cedera aksonal dan iskemik pasca-benturan.

Tidak ada nyeri pada pergerakan bola mata, sehingga membedakan TON dari neuritis optik inflamasi.

Keluhan dapat berupa hilangnya persepsi cahaya sejak awal, terutama pada TON langsung akibat laserasi atau transeksi saraf optik.

Riwayat cedera tumpul (kecelakaan motor, jatuh, pukulan) merupakan penyebab tersering indirect TON.

Riwayat cedera tembus (benda tajam, peluru) mengarah pada direct TON dengan risiko kehilangan visus permanen lebih tinggi.

Pasien dapat mengeluhkan penurunan penglihatan progresif dalam jam–hari, sesuai fase edema aksonal dan iskemia sekunder.

Riwayat penurunan kesadaran, muntah, atau perdarahan di hidung/ telinga dapat menyertai trauma kepala berat.

Pasien kadang menyadari penurunan warna atau kontras visual, namun gejala ini sering tersamar oleh penurunan visus yang berat.¹,²,³,¹²,¹³


Pemeriksaan Fisik

Penurunan tajam penglihatan bervariasi dari ringan hingga hilangnya persepsi cahaya, bergantung pada derajat cedera aksonal dan vaskular.

Pupil menunjukkan RAPD (Relative Afferent Pupillary Defect) pada TON unilateral atau TON bilateral asimetris, sebagai tanda kerusakan berat saraf optik.

Gerakan bola mata umumnya normal, kecuali bila terdapat fraktur orbita atau cedera mekanik yang mengenai otot ekstraokular.

Dalam hari–minggu berikutnya dapat muncul papil atropi, mencerminkan degenerasi Wallerian sekunder.

Perdarahan subkonjungtiva, ecchymosis periorbital, atau deformitas orbita dapat ditemukan pada trauma tumpul atau tembus sebagai petunjuk lokasi cedera.

Bila terdapat trauma kepala berat, dapat dijumpai defisit neurologis lain seperti anisokoria non-optik, gangguan kesadaran, atau defisit motorik fokal.¹,²,³,¹²


Pemeriksaan Penunjang 🟨


Diagnosis Banding³,¹²

Diagnosis BandingPerbedaan dengan TON
Neuritis optik demielinasi (MS/NMO/MOGAD)Onset nyeri saat menggerakkan bola mata, sering unilateral, dan MRI menunjukkan enhancement saraf optik, berbeda dengan TON yang biasanya tanpa nyeri dan onset pascatrauma.
NAION (Non-Arteritic Anterior Ischemic Optic Neuropathy)Kehilangan visus terjadi saat bangun tidur atau spontan tanpa riwayat trauma, dengan edema diskus optikus yang tidak ditemukan pada TON fase awal.
Laserasi/perdarahan makula akibat traumaKehilangan penglihatan disertai temuan makular jelas seperti Berlin’s edema atau ruptur koroid, bukan disfungsi saraf optik.
Fraktur blow-out dengan entrapment ototDiplopia dan keterbatasan gerak bola mata mendominasi, sedangkan visus biasanya relatif baik kecuali ada cedera retina atau saraf optik yang menyertai.

Penatalaksanaan

3.

Non-Farmakologis

Stabilisasi awal trauma (ABCDE): Pastikan jalan napas, stabilitas hemodinamik, dan evaluasi cedera kepala serius sesuai prinsip trauma terpadu.

Hindari manuver yang meningkatkan tekanan orbita, seperti tekanan manual pada bola mata atau membuka kelopak secara paksa, karena dapat memperburuk cedera saraf optik.

Monitoring neurologis ketat pada trauma kepala, meliputi GCS dan tanda cedera intrakranial, karena TON sering merupakan bagian dari trauma kompleks.

Penanganan fraktur orbita dan sinus bila ada perdarahan aktif atau kompresi yang memerlukan evaluasi multidisiplin bersama THT/bedah saraf.

Observasi awal pada indirect TON berat sering dianjurkan, karena sebagian kecil pasien dapat membaik spontan dalam 1–2 minggu.²,³,¹²


4.

Farmakologis

Terapi farmakologis pada TON kontroversial dan manfaatnya tidak konsisten, namun masih digunakan di beberapa fasilitas berdasarkan kondisi klinis.³,⁴,¹²

ObatDosis & FrekuensiFarmakokinetik
Metilprednisolon IV dosis tinggiProtokol umum: 30 mg/kg bolus → 5,4 mg/kg/jam selama 23 jamMengurangi edema dan inflamasi pada saraf optik; bukti manfaat tidak kuat, digunakan selektif.
Prednison oral1 mg/kg/hari (jika tidak memakai protokol IV)Alternatif bila pasien stabil dan tidak membutuhkan terapi IV.
Mannitol 20%1–2 g/kg IV, dapat diulangMengurangi tekanan intraorbita pada kasus dengan edema signifikan; digunakan individual.
Neuroprotektor (Vitamin B1, B6, B12)B1/B6/B12 1×1–2/hariMendukung fungsi metabolik saraf; bukan terapi utama, hanya tambahan.
AnalgesikSesuai kebutuhanUntuk kenyamanan pasien pada cedera multipel; tidak memengaruhi saraf optik.

5.

Operatif 🟨


Komplikasi


Prognosis


Edukasi

Pasien harus memahami bahwa penurunan penglihatan pascatrauma adalah kondisi serius yang membutuhkan evaluasi segera oleh dokter mata dan/atau bedah saraf.

Tekankan bahwa pemulihan penglihatan tidak selalu optimal, terutama bila visus awal sangat buruk atau terdapat fraktur kanal optik.

Pasien harus menghindari aktivitas yang meningkatkan tekanan orbita, seperti menekan atau menggosok mata, untuk mencegah perburukan.

Edukasi bahwa sebagian kasus indirect TON dapat mengalami perbaikan spontan, namun tanpa jaminan pemulihan penuh.

Anjurkan pasien untuk segera kembali bila muncul tanda bahaya seperti penurunan visus progresif, nyeri kepala hebat, muntah, atau perubahan kesadaran—yang dapat menandakan cedera intrakranial.

Pada korban kecelakaan lalu lintas, edukasi pentingnya perlindungan kepala dan penggunaan helm standar untuk mencegah cedera ulang.²,³,¹²


Kriteria Rujukan

Penurunan visus mendadak pascatrauma, terutama bila disertai RAPD—sangat mengarah pada kerusakan saraf optik yang membutuhkan evaluasi emergensi.

Visus awal sangat buruk (≤ LP atau NLP) yang tidak membaik dalam jam–hari pertama—menandakan cedera aksonal berat atau kompresi kanal optik.

Kecurigaan fraktur kanal optik berdasarkan gejala klinis atau temuan CT awal—memerlukan pertimbangan dekompresi oleh tim bedah saraf/THT.

Perburukan visus progresif dalam 24–48 jam—mencerminkan edema dan iskemia sekunder yang membutuhkan penanganan khusus.

Tanda cedera intrakranial (penurunan kesadaran, muntah proyektil, anisokoria non-optik, hemiparesis)—memerlukan stabilisasi dan evaluasi multidisiplin segera.

Cedera orbita tembus dengan dugaan transeksi atau avulsi saraf optik—memerlukan penanganan spesialis emergensi.

Trauma multipel atau polifraktur—memerlukan koordinasi dengan trauma center atau ICU.²,³,¹²


✏️ Kasih pendapatmu mengenai artikel ini! Yuk, klik disini