
Subluksasi dan Luksasi (Dislokasi) Lensa
Definisi
Subluksasi lensa adalah pergeseran sebagian lensa dari posisi normalnya, sedangkan luksasi lensa adalah pergeseran total lensa dari posisi normalnya.¹,²
Etiologi
Trauma tumpul – penyebab tersering pada usia produktif.
Kelainan genetik (Marfan, homosistinuria, Weill‑Marchesani).
Degenerasi zonular (senilis).
Glaukoma kongenital – buftalmos meregangkan serabut zonula siliaris → ruptur zonula → subluksasi.³,⁷
Perbedaan Sindrom Genetik Terkait Subluksasi¹⁰,⁵,³
| Sindroma | Arah subluksais lensa | Genetik | Manifestasi sistemik | Catatan |
|---|---|---|---|---|
| Marfan | Supero‑temporal | AD (FBN1) | Postur tinggi, arachnodaktili, aortic root dilatation | Skrining kardiovaskular dengan ketat |
| Homosistinuria | Infero‑nasal | AR (defisiensi CBS) | Retardasi mental, trombosis luas | Terapi vit B₆ + diet rendah metionin |
| Weill‑Marchesani | Inferior (mikrosferofakia) | AD/AR (FBN1, ADAMTS10/17) | Postur pendek, brachidaktilli | Risiko glaukoma dengan blok pupil |
Deskripsi Klinis Subluksasi Lensa
Belum memiliki sistem klasifikasi stadium baku, enilaian dilakukan secara deskriptif berdasarkan:
Lokasi pergeseran menurut kuadran jam (misalnya superior-temporal = pukul 11–2).
Luas zonulolisis (≤ 90°, 90–180°, 180–270°, > 270°), untuk penggunaan CTR (Capsular tension ring) atau Cionni ring.
Istilah praktis : "ringan (≤ 3 jam), sedang (3–6 jam), berat (> 6 jam) dipakai di AAO.⁸,¹⁰
Sedangkan untuk luksasi lensa; dibedakan menjadi 2
Luksasi lensa anterior, ke bilik mata depan
Luksasi lensa posterior, ke segmen posterior.
Patofisiologi
Kerusakan atau degenerasi serat zonula Zinn menyebabkan hilangnya stabilitas lensa. Akibatnya, fluktuasi tekanan intraokular dan gerakan bola mata mendorong terjadinya subluksasi lensa.⁴
Anamnesis
Penurunan tajam penglihatan
Diplopia monokular
Metamorfopsia.
Riwayat trauma
Riwayat keluarga penyakit jaringan ikat
Riwayat glaukoma kongenital.
Pemeriksaan Fisik
Pupil: deformitas tepi pupil atau tepi lensa yang terlihat.
Tes visus: astigmatisme tinggi yang tidak dapat dikoreksi.⁸,¹⁰
Perbedaan Klinis Luksasi Lensa Anterior vs Posterior⁸,¹⁰
| Parameter | Luksasi Anterior | Luksasi Posterior |
|---|---|---|
| Letak lensa | di BMD, menempel kornea | Terjatuh ke vitreous |
| Kedalaman BMD | Dangkal/hilang sentral – sudut tertutup | Normal atau lebih dalam |
| TIO | ↑ akut ➔ glaukoma sudut tertutup sekunder | Normal atau ↑ kronik (obstruksi trabekulum)¹⁰ |
| Kornea & endotel | Edema, touch lensa‑endotel | Kornea umumnya jernih |
| Iris | Midriasis, iris bombé; tremulans minimal | Iris tremulans/iridodonesis jelas |
| Gejala dominan | Nyeri hebat, penurunan visus mendadak | Visus buram ± floaters; nyeri minimal |
| Komplikasi khas | Glaukoma sudut tertutup, keratopati | Uveitis fakolitik/anafilaktik, robekan retina jarang |
Pemeriksaan Penunjang¹²
| Pemeriksaan | Tujuan | Temuan klinis |
|---|---|---|
| USG B‑scan | Visualisasi posisi lensa | Dislokasi total/parsial |
| Biomikroskopi AS‑OCT | Visualisasi zonula | Diskontinuitas zonula |
| Tes refraksi subjektif | Menilai astigmatisme ireguler | Silinder tinggi ≥ 3 D |
Diagnosis Banding⁹
| Diagnosis Banding | Ciri Pembeda |
|---|---|
| Katarak dengan subluksasi | Kekeruhan kortikal/nuklear menyertai dislokasi |
| Afakia pasca‑trauma | Lensa hilang sama sekali, BMD dalam |
| Keratokonus | Penonjolan kornea, bukan dislokasi lensa |
| Sindrom Marfan tanpa subluksasi | Manifestasi sistemik ± miopi tinggi, lensa stabil |
| Endoftalmitis | Nyeri, reaksi sel/flare, tidak ada pergeseran lensa |
Penatalaksanaan
Non‑Farmakologis : hindari benturan/olahraga berat, pemberian kacamata sementara.
Farmakologis : steroid topikal (mis. fluorometholone 0,1 % 4–6×/hari) untuk mengurangi inflamasi.
Operatif : lensektomi pars plana atau ekstraksi lensa + IOL dengan fiksasi sklera bila luksasi signifikan.⁶,¹¹
Komplikasi
Glaukoma sekunder akibat sumbatan sudut oleh lensa.
Uveitis fakolitik.
Aphakia sekunder bila lensa harus diangkat.
Prognosis
Ad vitam : baik.
Ad functionam : bervariasi; visus biasanya pulih dengan koreksi optik/pembedahan tepat.
Ad sanationam : baik jika intervensi dini.¹⁰
Edukasi Pasien
Hindari aktivitas yang meningkatkan risiko trauma.
Kontrol tekanan intraokular pasca‑operasi; kenali tanda glaukoma sekunder.