Skleritis

Skleritis


Definisi

Inflamasi berat seluruh ketebalan sklera yang sering berhubungan dengan vaskulitis imun‑kompleks dan dapat menyebabkan destruksi jaringan, nyeri hebat, serta hilangnya penglihatan.²

Etiologi

1.

Autoimun (≈50 %): Rheumatoid arthritis, granulomatosis dengan poliangiitis, lupus, seronegative spondylo­arthritis.

2.

Infeksi: TB, sifilis, herpes zoster, Pseudomonas, Nocardia

3.

Pasca‑pembedahan: Surgically‑induced necrotising scleritis (SINS)

4.

Idiopatik (≈30 %).²˒⁴˒⁵

Klasifikasi

LokasiSubtipeCiri klinis ringkas
Anterior non‑nekrotikDifusZona merah‑violase luas, nyeri sedang‑berat
NodularNodul violase dalam, imobil
Anterior nekrotikDengan inflamasiArea avaskular putih, nyeri parah, risiko perforasi
Tanpa inflamasi (scleromalacia perforans)Asimtomatik, sklera menipis biru‑gelap
PosteriorNyeri dalam + lipatan koroid, efusi koroid

Patofisiologi

Vaskulitis imun‑kompleks → infiltrasi neutrofil & limfosit → nekrosis kolagen sklera, pelepasan protease, penipisan dan perforasi sklera.²

Anamnesis

Nyeri tumpul hebat yang memburuk pada malam hari dan menjalar ke dahi atau rahang.

Mata merah keunguan, fotofobia, dan penurunan penglihatan.

Nyeri disebabkan oleh aktivasi saraf trigeminus akibat inflamasi sklera.⁵

Pemeriksaan Fisik

Hiperemia merah- keunguan dengan pola vaskular criss-cross yang tidak dapat digeser dengan kapas.

Sklera mengalami edema atau penipisan; terdapat nodul dalam.

Pembuluh darah tidak memucat dengan fenilefrin 10% (membedakan dari episkleritis).

Nyeri tekan pada bola mata positif.⁴

Pemeriksaan Tambahan²

TujuanPemeriksaanPrinsip & Temuan
Deteksi penebalan posteriorUSG B‑scanPenebalan sklera “T‑sign”
Menyingkirkan vaskulitis sistemikLab: CBC, ESR/CRP, ANA, RF, ANCAInflamasi sistemik
Deteksi TB & sarkoidosisRontgen toraks, QuantiFERONLesi paru, adenopati
Identifikasi infeksiBiakan/skrap skleraMikroorganisme penyebab

Dasar Diagnosis

Nyeri ocular hebat + hiperemia violase sklera yang tidak memucat dengan fenilefrin, disertai hasil imaging atau lab yang mendukung.

Diagnosis Banding

KondisiPerbedaan kunci
EpiskleritisNyeri ringan, pembuluh darah memucat dengan fenilefrin
KonjungtivitisMukopurulen, pembuluh superfisial bergerak, nyeri minimal
Keratitis perifer ulseratifDefek kornea, fluorescein (+)
Orbital cellulitisDemam, proptosis, motilitas terbatas
Anterior uveitisNyeri + sel flare bilik depan, tetapi sklera relatif normal

Penatalaksanaan

Non‑Farmakologis

Edukasi penyakit sistemik, kompres dingin, kacamata hitam sebagai pelindung cahaya.

Rujuk reumatolog jika dicurigai penyakit autoimun.

Farmakologis

1. NSAID oral (lini 1)

Obat & SediaanDosis & FrekuensiFarmakodinamik (mekanisme singkat)
Ibuprofen tab 400 mg400–600 mg PO q6‑8 jamInhibisi COX‑1/COX‑2 → ↓prostaglandin
Indometasin cap 25 mg25–50 mg PO tidNSAID poten; menstabilkan membran neutrofil
Naproksen tab 250 mg250–500 mg PO bidNSAID; t½ panjang; blokade sintesis prostaglandin

2. Kortikosteroid sistemik (lini 2)

Obat & SediaanDosis & FrekuensiFarmakodinamik
Prednison tab 5 mg0,5–1 mg/kg PO harian (taper)Agonis reseptor glukokortikoid → trans‑repressi gen pro‑inflamasi
Metilprednisolon vial 500 mg500–1000 mg IV per hari ×3Pulse steroid; supresi sitokin cepat

3. Imunosupresan steroid‑sparing (lini 3)

Obat & SediaanDosis & FrekuensiFarmakodinamik
Metotreksat tab 2,5 mg15–25 mg PO / mingguHambat DHFR → ↓purin → ↓proliferasi limfosit
Mycophenolate mofetil cap 500 mg1–1,5 g PO bidHambat IMP‑dehidrogenase → ↓GTP limfosit
Siklosporin A cap 50 mg2–5 mg/kg PO harianBlok calcineurin → ↓IL‑2 & aktivasi T‑sel
Siklofosfamid tab 50 mg1–2 mg/kg PO harianAgen alkilasi DNA → apoptosis limfosit

4. Biologik

Obat & SediaanDosis & FrekuensiFarmakodinamik
Rituximab vial 500 mg1 g IV D1 & D15Antibodi anti‑CD20 → deplesi sel B
Adalimumab pen 40 mg40 mg SC tiap 2 mingguAntibodi anti‑TNF‑α → blok jalur sitokin

5. Anti‑infeksi spesifik

Obat & SediaanDosis & FrekuensiFarmakodinamik
Kombinasi HRZESesuai protokol TB (berat badan)Bakterisidal terhadap M. tuberculosis
Benzathine penicillin G 2,4 juta IU injIM sekali/minggu ×3Bakterisidal pada Treponema pallidum
Acyclovir tab 800 mg800 mg PO 5×/hariAnalog guanosin → hambat DNA polimerase HSV/VZV

6. Kortikosteroid/topikal adjunktif

Obat & SediaanDosis & FrekuensiFarmakodinamik
Prednisolon asetat 1 % tetes1 tetes q2‑4 jamSteroid topikal; ↓inflamasi okular permukaan
Algoritme ringkas: Mulai NSAID → evaluasi 1 minggu; bila respon tidak adekuat atau penyakit berat → tambah steroid sistemik. Steroid >20 mg prednison >2 minggu → tambahkan imunosupresan. Kasus refrakter/nekrotik → pertimbangkan biologik. Infeksi diobati sesuai kuman sebelum/selama imunoterapi.

Operasi

Tujuan utama pembedahan pada skleritis adalah mempertahankan integritas bola mata, menutup perforasi, menenangkan nyeri, serta mengelola komplikasi intraokular

Klasifikasi Tindakan Berdasarkan Tujuan

5.

Penguatan dinding sklera (reinforcement/patching)

• Scleral patch graft (donor sclera)

• Lamellar corneoscleral graft

6.

Penutup permukaan & akselerasi epitelisasi

• Amniotic membrane transplantation

• Conjunctival advancement flap

7.

Rekonstruksi korneo‑sklera tectonic

• Tectonic keratoplasty (penetrating/lamellar)

8.

Penanganan komplikasi posterior/intraokular

• Pars plana vitrectomy ± tamponade silikon

9.

Tindakan definitif ablasi (salvage) pada mata terminal

• Enukleasi / eviscerasi.²,⁵

Pilihan Prosedur & Indikasi Ringkas

Scleral patch graft – digunakan untuk penipisan sklera yang berisiko perforasi atau pada perforasi berukuran kecil.

Lamellar corneoscleral graft – untuk penipisan yang melebar hingga tepi kornea.

Tectonic keratoplasty – untuk perforasi yang melibatkan kornea dengan ketebalan penuh bersama sklera perifer.

Amniotic membrane transplantation – berfungsi sebagai penutup permukaan tambahan, mempercepat epitelisasi, dan mengurangi inflamasi.

Conjunctival advancement flap – untuk defek sklera kecil–sedang yang superfisial.

Pars plana vitrectomy ± tamponade silikon – untuk nekrotik posterior dengan efusi koroid atau perforasi posterior.

Enukleasi / eviscerasi – untuk mata buta, nyeri yang tidak terkontrol, atau infeksi nekrotik luas.

Keputusan operasi bergantung pada lokasi, luas, kedalaman nekrosis, status infeksi, dan prognosis visual; terapi imunospresif sistemik tetap dilanjutkan atau bahkan diintensifkan peri‑operatif untuk mencegah progresi lesi.²,⁵

Komplikasi

Keratitis perifer ulseratif (PUK) karena vaskulitis kornea.

Uveitis & katarak karena spill‑over inflamasi.

Glaukoma sekunder akibat inflamasi sudut.

Stafiloma & perforasi scleral pada nekrotik lanjut.¹,²,⁵

Prognosis

Ad vitam: Baik kecuali vaskulitis sistemik tidak terkendali.

Ad functionam: Tergantung keterlibatan makula; nekrotik ± 40 % buta.

Ad sanationam: Dapat remisi dengan imunospresi jangka panjang; rekurens 10 %.²,⁴

Edukasi Pasien

Pentingnya kontrol penyakit rematik/tuberkulosis.

Jangan hentikan obat imunospresif tanpa konsultasi.

Waspada nyeri hebat mendadak, penglihatan menurun → segera ke IGD.

Catatan

Test fenilefrin & cotton‑bud membantu membedakan episkleritis dari skleritis.

Tambahan Data

Angka komplikasi: keratitis 37 %, uveitis 30 %, penipisan sklera 33 %.

Nodular skleritis prevalensi 44 %; nekrotik 5 %.


✏️ Kasih pendapatmu mengenai artikel ini! Yuk, klik disini