Retinopati Prematuritas (ROP) [2]
Definisi
Retinopathy of prematurity (ROP) adalah penyakit vaskuloproliferatif retina pada bayi prematur yang ditandai oleh gangguan perkembangan pembuluh darah retina. Kondisi ini dapat menyebabkan neovaskularisasi abnormal yang berpotensi menimbulkan traksi dan ablasio retina.¹,²

Epidemiologi
Retinopathy of prematurity (ROP) merupakan salah satu penyebab utama kebutaan pada anak secara global, terutama di negara dengan meningkatnya angka kelangsungan hidup bayi prematur.¹,³
Insidensi ROP meningkat pada bayi dengan usia gestasi <32 minggu dan berat badan lahir <1500 gram, dengan risiko tertinggi pada bayi dengan usia gestasi <28 minggu atau berat badan lahir <1000 gram.¹,³
Sekitar 50–70% bayi sangat prematur mengalami ROP dengan derajat tertentu, tetapi hanya sebagian yang berkembang menjadi ROP berat yang memerlukan terapi.³,⁷
Fenomena “epidemi ketiga ROP” terjadi di negara berkembang akibat perawatan neonatal yang belum optimal, terutama dalam kontrol oksigen.³
Faktor tambahan seperti terapi oksigen yang tidak terkontrol, sepsis, dan gangguan pertumbuhan postnatal turut berkontribusi terhadap peningkatan kejadian.¹,⁷
Etiologi
Retinopathy of prematurity (ROP) terjadi akibat ketidakmatangan perkembangan vaskular retina pada bayi prematur, sehingga pembentukan pembuluh darah retina belum selesai saat lahir.¹,³
Faktor utama adalah kelahiran prematur, sehingga retina perifer masih avaskular dan rentan mengalami gangguan perkembangan vaskular normal.¹,³
Faktor Risiko
Usia gestasi yang rendah merupakan faktor risiko terkuat karena menentukan derajat imaturitas retina.¹,³
Berat badan lahir rendah (BBLR), terutama <1500 gram, berkaitan dengan imaturitas sistemik dan retina.¹,³
Terapi oksigen, terutama dengan kadar tinggi atau tidak terkontrol, dapat mengganggu perkembangan vaskular retina.¹,³
Faktor risiko tambahan:
Sepsis neonatal meningkatkan respons inflamasi sistemik yang dapat memengaruhi retina.³,⁷
Apnea dan ventilasi mekanik menyebabkan fluktuasi oksigenasi.³
Transfusi darah berulang dapat memengaruhi regulasi oksigen jaringan.³
Pertumbuhan postnatal yang buruk berkaitan dengan gangguan faktor pertumbuhan.³
Kehamilan multipel dan komplikasi perinatal meningkatkan risiko prematuritas dan instabilitas kondisi bayi.⁷
Klasifikasi
Klasifikasi retinopathy of prematurity (ROP) berdasarkan International Classification of ROP (ICROP) mencakup zona, stadium, serta adanya plus disease. Klasifikasi ini menentukan derajat keparahan dan kebutuhan terapi. ¹,³
1. Zona (Lokasi Retina)

Zona I: area posterior yang berpusat di papil optik, mencakup retina paling posterior, dan memiliki risiko tinggi dengan prognosis buruk.¹,³
Zona II: area dari tepi zona I hingga ora serrata bagian nasal, dan merupakan lokasi ROP yang paling sering.¹,³
Zona III: retina perifer temporal, umumnya terkait dengan ROP ringan.¹,³
2. Stadium (Derajat Kelainan)

Stadium 1: Terdapat garis demarkasi antara retina vaskular dan avaskular.¹,³
Stadium 2: Terbentuk tonjolan (ridge) pada garis demarkasi.¹,³
Stadium 3: Muncul proliferasi fibrovaskular ekstraretina.¹,³
Stadium 4: Terjadi ablasio retina parsial.¹,³
Stadium 5: Terjadi ablasio retina total.¹,³
3. Plus disease
Pre-plus disease: terdapat kelainan vaskular posterior (dilatasi dan tortuositas) yang belum memenuhi kriteria plus disease, tetapi lebih abnormal dibandingkan kondisi normal.¹,³
Plus disease: terdapat dilatasi dan tortuositas yang jelas pada pembuluh darah posterior retina. Kondisi ini menandakan aktivitas penyakit yang berat dan menjadi indikasi terapi.¹,³
4. Aggressive Posterior ROP (AP-ROP)

Bentuk ROP dengan progresi sangat cepat, biasanya mengenai zona I atau zona II posterior.³
Ditandai oleh plus disease berat dengan tahap klasik yang tidak jelas.³
Konsep Teori Patofisiologi
Teori klasik: paparan oksigen tinggi menyebabkan obliterasi pembuluh retina yang imatur, kemudian diikuti neovaskularisasi abnormal serta pembentukan massa retrolental.³
Teori angiogenik modern: iskemia retina memicu pelepasan faktor angiogenik, seperti VEGF, yang menyebabkan neovaskularisasi retina dan vitreus yang tidak terkontrol.¹,³
Anamnesis
Keluhan sering kali tidak spesifik karena bayi belum dapat mengungkapkan gangguan penglihatan.²,⁵
Riwayat prematuritas dan berat badan lahir rendah (BBLR).¹,³
Riwayat perawatan di NICU, terutama penggunaan terapi oksigen atau ventilasi mekanik.¹,³
Riwayat komplikasi neonatal, seperti sepsis, apnea, atau transfusi berulang.³,⁷
Keluhan dari orang tua, seperti tidak ada kontak mata atau tidak mengikuti objek.²,⁵
Dapat ditemukan leukokoria pada stadium lanjut.²,⁵
Riwayat skrining ROP sebelumnya.²
Pemeriksaan Fisik
Kondisi umum bayi prematur, termasuk BBLR, penggunaan alat bantu napas, serta kondisi sistemik selama perawatan di NICU.²,⁵
Respons visual awal, seperti refleks fiksasi dan pelacakan (tracking), dapat menurun sesuai derajat keterlibatan retina.²,⁵
Refleks pupil umumnya masih normal pada fase awal, tetapi dapat menurun pada fase lanjut.²
Pemeriksaan Segmen Anterior
Refleks merah (red reflex) dapat tampak normal pada fase awal, tetapi dapat menurun pada kondisi lanjut.²
Rubeosis iridis dapat ditemukan pada kasus berat akibat angiogenesis segmen anterior.³
Pupil tidak reaktif dapat ditemukan pada stadium lanjut.³
Dapat ditemukan tanda sekunder, seperti kekeruhan media akibat perdarahan vitreus.³
Pemeriksaan Fundus (Oftalmoskopi Indirek)
Dilakukan dengan dilatasi pupil untuk evaluasi retina perifer.¹,³
Tampak batas yang jelas antara retina vaskular dan avaskular.¹,³
Stadium 1–2: tampak garis demarkasi hingga ridge yang menonjol.¹,³
Stadium 3: terdapat proliferasi fibrovaskular ekstraretina.¹,³
Plus disease: dilatasi dan tortuositas pembuluh darah posterior retina yang menandakan aktivitas penyakit tinggi.¹,³
Dapat ditemukan perdarahan intraretina atau vitreus.³
Perubahan pada vitreoretinal interface berupa membran fibrovaskular.³
Stadium lanjut:
Ablasio retina parsial (stadium 4).³
Ablasio retina total (stadium 5).³
Pada kondisi berat dapat tampak lipatan retina, tarikan makula, hingga disorganisasi struktur posterior.³

Pemeriksaan Penunjang
Oftalmoskopi indirek dengan dilatasi pupil merupakan pemeriksaan utama untuk skrining dan diagnosis ROP karena memungkinkan visualisasi retina perifer.¹,³
Wide-field retinal imaging (RetCam) digunakan untuk dokumentasi objektif, pemantauan progresi, dan telemedisin dalam program skrining ROP.³,⁵
Foto fundus serial digunakan untuk menilai perubahan stadium, zona, dan plus disease secara longitudinal.³
Ultrasonografi B-scan dilakukan bila media keruh untuk menilai adanya ablasio retina atau perdarahan vitreus.³,⁶
Fluorescein angiography (FA) pada kasus tertentu digunakan untuk menilai area avaskular, kebocoran vaskular, dan neovaskularisasi.³,⁷
Pemeriksaan sistemik neonatal, seperti analisis gas darah dan pemantauan oksigen, dilakukan untuk mengevaluasi faktor risiko terkait.⁷
Diagnosis Banding
| Diagnosis | Perbedaan dengan Retinopathy of Prematurity |
|---|---|
| Retinoblastoma | Ditandai leukokoria, adanya massa intraokular dan kalsifikasi; tidak berkaitan dengan prematuritas.³,⁶ |
| Familial exudative vitreoretinopathy (FEVR) | Kelainan herediter dengan avaskular retina perifer menyerupai ROP; terjadi pada bayi cukup bulan dan sering ada riwayat keluarga.³,⁷ |
| Coats disease | Ditandai telangiektasia vaskular retina dan eksudasi lipid masif, biasanya unilateral dan tidak terkait prematuritas.³,⁶ |
| Persistent fetal vasculature (PFV) | Kelainan kongenital akibat persistensi vaskular fetal, ditandai membran retrolental dan mikroftalmia, umumnya unilateral.³,⁶ |
| Norrie disease | Kelainan genetik langka dengan leukokoria bilateral sejak lahir, disertai gangguan neurologis atau pendengaran.⁷ |
Penatalaksanaan
1. Observasi dan Monitoring
Dilakukan pada ROP stadium awal tanpa plus disease.¹,³
Meliputi pemeriksaan fundus serial untuk menilai progresivitas penyakit.¹,³
2. Terapi Ablatif Retina
Laser fotokoagulasi (laser ablation)
Dilakukan pada retina avaskular untuk mengurangi stimulus angiogenik.¹,³
Merupakan terapi utama saat ini, dengan luaran anatomi dan visual yang lebih baik dibandingkan krioterapi.³,⁷
Krioterapi
Dapat dilakukan pada fase awal penyakit.³
Kurang efektif apabila sudah terjadi ablasio retina.³
3. Terapi Farmakologis
Anti-VEGF intravitreal (bevacizumab/ranibizumab)
Terutama digunakan pada ROP zona I atau ROP posterior (AP-ROP).³,⁷
Memungkinkan perkembangan vaskular retina yang lebih fisiologis dibandingkan terapi ablasi.³
Memerlukan monitoring jangka panjang karena risiko reaktivasi.³
| Obat & Sediaan | Dosis / Cara Pemberian | Farmakodinamik |
|---|---|---|
| Bevacizumab (injeksi intravitreal) | 0,625 mg/0,025 mL intravitreal, 1 kali injeksi (dapat diulang sesuai evaluasi) | Antagonis VEGF yang menghambat angiogenesis patologis retina dengan menurunkan permeabilitas dan proliferasi vaskular.³,⁷ |
| Ranibizumab (injeksi intravitreal) | 0,2 mg/0,02 mL intravitreal, 1 kali injeksi (sesuai protokol ROP) | Fragmen antibodi anti-VEGF yang bekerja selektif pada VEGF-A, menghambat neovaskularisasi retina.³,⁷ |
4. Tatalaksana Bedah
Vitrektomi pars plana (PPV)
Diindikasikan pada ablasio retina parsial (stadium 4).³
Stadium 4a memiliki tingkat keberhasilan anatomi yang tinggi (~90%), dengan luaran fungsi visual yang baik.³
Stadium 4b memiliki tingkat keberhasilan sekitar 60%, sedangkan pada stadium 5 sekitar 20%.³
Scleral buckling
Dapat dipertimbangkan pada kasus dengan traksi retina tertentu.³
5. Skrining dan Tindak Lanjut
Kriteria skrining:
Bayi dengan BBL <1500 gram atau prematuritas yang bermakna.¹,³
Interval tindak lanjut (berdasarkan temuan klinis):
| Interval Follow-up | Temuan Klinik |
|---|---|
| < 1 minggu | Zona I tanpa ROP atau stage 1–2 |
| Zona II stage 2–3 | |
| 1–2 minggu | Zona I regresi |
| Zona II stage 1 | |
| 2 minggu | Zona II stage 1 atau regresi |
| 2–3 minggu | Zona II vaskularisasi imatur tanpa ROP |
| Zona III stage 1–2 atau regresi |
6. Penatalaksanaan Faktor Risiko
Kontrol terapi oksigen secara ketat pada bayi prematur.¹,³
Penanganan kondisi sistemik, seperti sepsis dan gangguan nutrisi.³,⁷
Prognosis
Ad vitam (terhadap kehidupan): bonam, karena ROP merupakan penyakit nonfatal dan tidak secara langsung mengancam jiwa.¹,³
Ad functionam (terhadap fungsi): dubia ad malam, karena ROP dapat menyebabkan gangguan penglihatan permanen, terutama pada stadium lanjut.³
Ad sanationam (terhadap kesembuhan): dubia, bergantung pada stadium, zona, dan keberhasilan terapi.³
Pada kasus dengan ablasio retina, keberhasilan pelekatan kembali retina sekitar 25–50%, tetapi hal ini tidak menjamin kembalinya penglihatan normal.³
Bayi dengan ROP stadium IV dan V berisiko mengalami komplikasi jangka panjang, seperti glaukoma sudut tertutup.³
Edukasi
Jelaskan bahwa retinopathy of prematurity (ROP) dapat menyebabkan gangguan penglihatan hingga kebutaan, terutama bila tidak terdeteksi dan ditangani sejak dini.¹,³
Tingkatkan kesadaran keluarga terhadap risiko jangka panjang, seperti ambliopia, strabismus, ablasio retina, dan glaukoma.³,⁶
Tekankan pentingnya kontrol dan skrining rutin sesuai jadwal untuk mencegah progresi penyakit.¹,³
Jelaskan pilihan tatalaksana yang mungkin dilakukan, termasuk laser, injeksi anti-VEGF, atau tindakan bedah, sesuai kondisi.³
Sampaikan bahwa pada fase lanjut dapat diperlukan terapi tambahan, seperti eye patch untuk ambliopia, kacamata untuk miopia, atau operasi strabismus.²,⁵
Edukasi orang tua untuk memperhatikan perkembangan visual anak, seperti kemampuan melihat, kontak mata, dan mengikuti objek.²
Kriteria Rujukan
Semua bayi prematur berisiko tinggi, seperti usia gestasi ≤32 minggu atau BBL ≤1500 gram, harus dirujuk untuk skrining ROP oleh dokter mata.¹,³,¹¹
Bayi dengan riwayat perawatan NICU, terutama penggunaan terapi oksigen atau ventilasi mekanik.¹,³
Ditemukan kecurigaan klinis, seperti leukokoria, refleks merah menurun, atau gangguan fiksasi dan tracking.²,⁵
Hasil skrining menunjukkan ROP zona I, stadium ≥2–3, atau adanya pre-plus dan plus disease.¹,³
Terdapat komplikasi, seperti perdarahan vitreus atau ablasio retina.³
ROP menunjukkan progresivitas atau tidak membaik pada follow-up.¹,³
Daftar Pustaka
American Academy of Ophthalmology. Fundamentals and principles of ophthalmology. Dalam: Basic and Clinical Science Course. San Francisco: American Academy of Ophthalmology; 2020.
American Academy of Ophthalmology. Pediatric ophthalmology and strabismus. Dalam: Basic and Clinical Science Course. San Francisco: American Academy of Ophthalmology; 2020.
American Academy of Ophthalmology. Retina and vitreous. Dalam: Basic and Clinical Science Course. San Francisco: American Academy of Ophthalmology; 2020.
American Academy of Ophthalmology. Ophthalmic pathology and intraocular tumors. Dalam: Basic and Clinical Science Course. San Francisco: American Academy of Ophthalmology; 2020.
Blomquist PH, editor. Practical ophthalmology: a manual for beginning residents. Edisi ke-8. San Francisco: American Academy of Ophthalmology; 2021.
Denniston AKO, Murray PI. Oxford handbook of ophthalmology. Edisi ke-4. Oxford: Oxford University Press; 2018.
Salmon JF. Kanski’s clinical ophthalmology: a systematic approach. Edisi ke-10. Amsterdam: Elsevier; 2025.
Khurana AK. Anatomy and physiology of the eye. Edisi ke-2. New Delhi: CBS Publishers & Distributors; 2014.
Suhardjo, Supanji, Sasongko MB, editor. Buku ilmu kesehatan mata. Yogyakarta: Departemen Ilmu Kesehatan Mata FK-KMK Universitas Gadjah Mada; 2023.
Sitorus RS, Sitompul R, Widyawati S, Bani AP, editor. Buku ajar oftalmologi. Jakarta: Badan Penerbit Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia; 2017.
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Panduan praktik klinis bagi dokter di fasilitas pelayanan kesehatan tingkat pertama. Jakarta: Kemenkes RI; 2022.
Konsil Kedokteran Indonesia. Standar kompetensi dokter Indonesia. Jakarta: KKI; 2012.
