Ptosis [2]

Ptosis [2]


Definisi

Ptosis adalah kondisi kelopak mata atas yang turun secara abnormal, menutupi sebagian atau seluruh pupil, sehingga dapat mengganggu fungsi visual dan estetika wajah.

Menurut AAO, ptosis terjadi ketika jarak antara margin kelopak atas dan refleks korneal (MRD1) kurang dari 2 mm pada posisi primer.¹,²

eyedoctorpmb.co.za
eyedoctorpmb.co.za

Epidemiologi

Ptosis kongenital merupakan bentuk tersering pada anak, dengan prevalensi sekitar 7–13 per 100.000, dan 70–90% bersifat unilateral.

Pada dewasa, yang paling sering adalah ptosis aponeurotik, terutama usia 50–70 tahun, terkait penuaan dan dehisensi aponeurosis levator.

Penggunaan lensa kontak, operasi okular sebelumnya, dan perubahan jaringan ikat akibat usia meningkatkan insiden ptosis didapat.

Pada miastenia gravis, ptosis ditemukan pada 40–60% pasien sebagai gejala awal dan bersifat fluktuatif.

Risiko gangguan perkembangan visual, termasuk ambliopia, lebih tinggi pada ptosis kongenital yang menutupi aksis visual.¹,²


Etiologi


Patofisiologi

Ptosis terjadi akibat gangguan mekanisme angkat kelopak mata yang melibatkan otot levator palpebra superior, otot Müller, atau jalur saraf yang mempersarafi keduanya.

Akibatnya, kekuatan angkat kelopak mata berkurang sehingga posisi kelopak menurun.²,⁴


Anamnesis

Onset keluhan: sejak lahir (ptosis kongenital) atau muncul kemudian (ptosis didapat).

Durasi dan perjalanan: menetap, progresif, atau fluktuatif—fluktuasi merupakan ciri khas miastenia gravis.

Keluhan utama: kelopak mata atas turun, pandangan terhalang, mata cepat lelah, atau gangguan penampilan.

Gejala penyerta: diplopia, nyeri kepala atau mata, penglihatan ganda. Fluktuasi siang–malam mengarah ke gangguan transmisi neuromuskular.

Riwayat trauma atau pembedahan mata: trauma tumpul atau tajam, operasi katarak, atau prosedur okular lain dapat menyebabkan ptosis aponeurotik atau traumatik.

Riwayat penggunaan lensa kontak: terutama lensa kontak keras jangka panjang yang dapat menyebabkan peregangan aponeurosis.

Riwayat penyakit sistemik atau neurologis: miastenia gravis, diabetes (risiko neuropati), atau gejala khas sindrom Horner seperti miosis dan anhidrosis.

Riwayat keluarga: dapat mengarah ke ptosis kongenital atau kelainan otot herediter.¹,²,³


Pemeriksaan Fisik

Inspeksi kelopak: Nilai derajat penurunan, asimetri, dan posisi kelopak pada tatapan primer. Periksa adanya massa atau edema yang dapat menyebabkan ptosis mekanik.

FIP (Fisura interpalpebralis) : Nilai normal 8–10 mm. Penurunan menunjukkan gangguan elevasi kelopak.

Pemeriksaan pupil: Periksa anisokoria atau pupil kecil ipsilateral yang mengarah ke sindrom Horner.

Pemeriksaan motilitas okular: Nilai keterlibatan otot ekstraokular, terutama defisit elevasi atau aduksi pada palsi nervus III.

Bell's phenomenon: Nilai untuk memastikan proteksi kornea sebelum pembedahan.

Uji kelelahan (fatigability): Minta pasien menatap ke atas. Penurunan progresif kelopak mengarah ke miastenia gravis.

Evaluasi kornea dan konjungtiva: Periksa tanda iritasi, paparan, atau lagoftalmos pada kasus pascaoperasi.¹,²,³,⁴


Pemeriksaan Tambahan 🟨

Tensilon test / Edrophonium test: Menilai kemungkinan miastenia gravis. Hasil positif ditandai perbaikan cepat elevasi kelopak setelah pemberian edrofonium.

Ice test: Skrining non-invasif untuk miastenia gravis. Pendinginan kelopak selama ±2 menit dianggap positif bila MRD1 meningkat ≥2 mm.

CT atau MRI orbita–otak: Diperlukan bila dicurigai penyebab neurogenik atau mekanik untuk mendeteksi lesi nervus III, jalur simpatis, massa orbita, atau inflamasi.

Elektromiografi (EMG): Mengevaluasi gangguan miopati atau transmisi neuromuskular. Pola decremental response mengarah ke miastenia gravis.

Pemeriksaan motilitas (misalnya Hess chart): Menilai keterlibatan otot ekstraokular, terutama pada dugaan palsi nervus III.

Evaluasi lapang pandang: Penting pada ptosis moderat–berat untuk mendeteksi penurunan lapang pandang superior akibat obstruksi kelopak.

Fotografi kelopak: Dokumentasi serial untuk menilai perkembangan, simetri, dan hasil pascaterapi atau pascaoperasi.¹,²


Diagnosis Banding¹,²,³

KondisiPerbedaan Utama dengan Ptosis
PseudoptosisPenurunan kelopak hanya tampak semu akibat enoftalmus, hipotropia, atau dermatochalasis; fungsi levator tetap normal.
DermatochalasisTampak seperti kelopak turun namun disebabkan kelebihan kulit, bukan kelemahan otot levator atau aponeurosis.
BlefarospasmePenurunan kelopak terjadi karena spasme intermiten, bukan posisi istirahat yang rendah.
Anophthalmia / MikroftalmiaCelah palpebra sempit karena bola mata kecil atau tidak ada, bukan gangguan elevasi kelopak.
HipotropiaKelopak tampak rendah karena bola mata turun, sedangkan fungsi levator tetap normal.

Penatalaksanaan

Non-Farmakologis

Observasi : Dilakukan pada ptosis ringan yang tidak menutupi aksis visual atau lapang pandang, dengan pemantauan berkala MRD1 dan fungsi levator.

Pencegahan ambliopia pada anak: Gunakan oklusi atau koreksi refraksi bila ptosis kongenital menutupi aksis visual untuk mencegah gangguan perkembangan penglihatan.

Perlindungan kornea: Pada kasus dengan lagoftalmos atau Bell's phenomenon yang buruk, gunakan lubrikan, penutup mata saat tidur, atau pelembap lingkungan.¹,²

Farmakologis¹,² 🟨

Obat & SediaanDosis & FrekuensiFarmakokinetik / Mekanisme Sederhana
Apraclonidine tetes mata 0,5–1%1 tetes 2–3×/hariAgonis α2-adrenergik; meningkatkan kontraksi otot Müller dan memberikan elevasi kelopak sementara (efek menit–jam).
Fenilefrin tetes mata 2,5%1 tetes untuk uji responsAgonis α1 → kontraksi otot Müller; digunakan untuk menilai kandidat prosedur Müller muscle–conjunctival resection.
Pyridostigmine tablet oral30–60 mg 3–4×/hariInhibitor asetilkolinesterase; meningkatkan transmisi neuromuskular pada miastenia gravis, membantu mengurangi ptosis fluktuatif.
Kortikosteroid / Imunoterapi (oral/IV)Sesuai protokol neurologiMengendalikan proses autoimun pada miastenia gravis, memperbaiki kekuatan neuromuskular dan mengurangi ptosis.

Operatif 🟨


Komplikasi

Overcorrection: Kelopak terangkat terlalu tinggi akibat penyesuaian levator yang berlebihan, menyebabkan asimetri dan risiko paparan kornea.

Undercorrection: Kelopak masih turun setelah operasi karena pemendekan levator kurang memadai atau struktur penunjang kurang responsif. Kondisi ini sering memerlukan revisi.

Lagoftalmos: Ketidakmampuan menutup mata sempurna pascaoperasi yang meningkatkan risiko keratopati paparan, terutama bila Bell's phenomenon buruk.

Abrasi atau iritasi kornea: Gesekan antara kelopak dan kornea pada kondisi paparan yang memicu abrasi, nyeri, dan epifora.

Asimetri kelopak: Perbedaan posisi kelopak antarmata akibat variasi anatomi individual atau penyembuhan yang tidak merata.

Infeksi atau granuloma jahitan: Terutama terjadi pada penggunaan bahan sling sintetis. Granuloma dapat menyebabkan iritasi lokal dan ketidaknyamanan.

Rekurensi (kekambuhan): Ptosis dapat kambuh dalam jangka panjang, terutama pada ptosis aponeurotik atau kondisi miogenik yang bersifat progresif.¹,²,³


Prognosis


Edukasi

Pasien perlu memahami bahwa ptosis dapat disebabkan oleh faktor anatomi, neurologis, atau sistemik. Evaluasi menyeluruh penting untuk menentukan terapi yang tepat.

Pada anak, orang tua harus diedukasi mengenai risiko ambliopia bila kelopak menutupi aksis visual. Kontrol rutin dan tindakan dini sangat diperlukan.

Pasien yang direncanakan untuk operasi perlu mengetahui kemungkinan overcorrection, undercorrection, asimetri, dan potensi perlunya revisi.

Perlindungan kornea—seperti air mata buatan atau penutup mata saat tidur—sangat penting bila terdapat lagoftalmos atau Bell's phenomenon buruk setelah tindakan.

Pasien dengan dugaan miastenia gravis harus diedukasi mengenai tanda bahaya: kelemahan otot yang meningkat, gangguan menelan, atau sesak napas yang memerlukan evaluasi segera.¹,²


Kriteria Rujukan

Ptosis kongenital yang menutupi aksis visual atau berisiko menyebabkan ambliopia—terutama bila MRD1 sangat rendah atau fungsi levator buruk.

Ptosis akut dengan diplopia, nyeri kepala, atau onset mendadak yang mengarah ke etiologi neurogenik seperti palsi nervus III atau sindrom Horner.

Ptosis progresif tanpa penyebab jelas atau disertai tanda fatigabilitas yang mencurigai miastenia gravis—memerlukan evaluasi neurologi lebih lanjut.

Ptosis dengan massa kelopak atau lesi orbita seperti tumor atau inflamasi yang membutuhkan pencitraan dan penanganan spesialis.

Ptosis pascatrauma dengan dugaan disinsersi levator atau kerusakan struktur penunjang kelopak yang memerlukan koreksi bedah.

Permintaan tindakan pembedahan untuk koreksi kosmetik atau fungsional—termasuk levator resection, frontalis sling, atau prosedur posterior.¹,²,³


✏️ Kasih pendapatmu mengenai artikel ini! Yuk, klik disini