
Pinguekula [2]
Nama lain : Pinguekula, pinguecula, conjunctival degeneration, elastotic degeneration of conjunctiva
Definisi
Pinguekula adalah lesi degeneratif jinak pada konjungtiva bulbi yang ditandai dengan penebalan kekuningan akibat degenerasi elastotik jaringan subepitel. Lesi ini biasanya terletak di dekat limbus dan tidak melibatkan kornea.¹,⁸

Epidemiologi
Pinguekula merupakan kelainan degeneratif konjungtiva yang sangat sering ditemukan, dengan prevalensi yang dilaporkan mencapai ±40–70% pada populasi dewasa.
Lebih sering terjadi pada usia >40 tahun, seiring akumulasi paparan sinar ultraviolet dan proses degenerasi jaringan kronik.
Prevalensi meningkat signifikan pada individu dengan paparan UV tinggi (pekerja outdoor), dengan angka kejadian lebih tinggi dibandingkan populasi umum akibat kerusakan jaringan konjungtiva oleh radiasi UV.
Lebih banyak ditemukan di daerah tropis dan subtropis karena intensitas sinar matahari, debu, dan angin yang lebih tinggi.
Sering bersifat bilateral, karena kedua mata mengalami paparan lingkungan yang sama secara kronik.
Tidak terdapat perbedaan bermakna antara jenis kelamin, tetapi lebih sering pada individu dengan paparan lingkungan kronik dibandingkan faktor genetik.¹-³
Etiologi
Paparan sinar ultraviolet (UV) merupakan faktor utama yang menyebabkan degenerasi elastotik pada konjungtiva.
Iritasi kronik akibat debu, angin, dan polusi dapat menimbulkan mikrotrauma serta inflamasi kronik ringan pada konjungtiva.
Penuaan menyebabkan akumulasi jaringan elastotik abnormal karena penurunan kemampuan regenerasi jaringan.
Lingkungan kering (dry eye) meningkatkan iritasi permukaan okular dan menyebabkan instabilitas tear film.¹-³
Faktor Risiko
Paparan sinar ultraviolet (UV) kronik, terutama pada pekerja luar ruangan, meningkatkan risiko akibat kerusakan jaringan konjungtiva.
Lingkungan berdebu, berangin, dan polusi tinggi menyebabkan iritasi kronik dan mikrotrauma konjungtiva.
Usia >40 tahun, karena terjadi akumulasi degenerasi jaringan elastotik.
Mata kering (dry eye) yang menyebabkan instabilitas tear film dan iritasi permukaan okular.
Paparan kronik terhadap faktor lingkungan ekstrem (panas, kering) yang mempercepat proses degeneratif konjungtiva.¹-³
Patofisiologi
Paparan kronik sinar ultraviolet (UV) menyebabkan kerusakan DNA sel epitel dan fibroblas konjungtiva, serta meningkatkan produksi reactive oxygen species (ROS) yang memicu stres oksidatif jaringan.
Stres oksidatif mengaktivasi matrix metalloproteinases (MMPs) yang menyebabkan degradasi kolagen normal pada stroma konjungtiva.
Terjadi perubahan struktur jaringan berupa akumulasi material elastotik abnormal (degenerasi elastotik) akibat disorganisasi serabut kolagen dan elastin.
Proses ini disertai inflamasi kronik ringan melalui pelepasan mediator, seperti sitokin proinflamasi (IL-1, TNF-α), yang mempercepat remodeling jaringan.
Akumulasi jaringan degeneratif menyebabkan penebalan lokal konjungtiva yang tampak sebagai lesi kekuningan khas pinguekula.
Lesi ini mengganggu stabilitas tear film, sehingga terjadi area kering (dry spot) dan iritasi permukaan okular.
Predileksi di area interpalpebral dekat limbus disebabkan oleh paparan maksimal terhadap UV dan lingkungan eksternal.¹-³
Anamnesis
Keluhan benjolan kuning pada mata, biasanya di bagian putih mata dekat kornea, akibat penebalan konjungtiva karena degenerasi elastotik.
Rasa mengganjal atau seperti ada benda asing, disebabkan oleh permukaan konjungtiva yang tidak rata sehingga meningkatkan gesekan dengan kelopak mata.
Mata terasa kering atau tidak nyaman, akibat gangguan tear film oleh lesi pinguekula.
Iritasi ringan atau mata merah lokal (terutama pada pingueculitis), karena adanya inflamasi konjungtiva.
Keluhan bertambah saat terpapar matahari, debu, atau angin karena meningkatkan iritasi permukaan okular.
Umumnya tidak ada penurunan visus karena lesi tidak mengenai kornea atau aksis visual.¹-³
Pemeriksaan Fisik
Tampak lesi kekuningan pada konjungtiva bulbi, terutama di sisi nasal dekat limbus, akibat akumulasi jaringan elastotik subepitel.
Lesi berbentuk plak atau penebalan lokal, sedikit menonjol, akibat degenerasi kolagen dan elastin pada stroma konjungtiva.
Lesi dapat mengalami kalsifikasi, sehingga tampak lebih padat atau keputihan, akibat deposit kalsium pada jaringan degeneratif kronik.

Lesi tidak meluas ke kornea, yang menjadi pembeda utama dengan pterigium, karena proses degeneratif terbatas pada konjungtiva.
Permukaan lesi dapat tampak kering atau tidak rata, akibat gangguan distribusi tear film pada permukaan okular.
Pada kondisi inflamasi (pingueculitis), tampak hiperemia lokal di sekitar lesi, akibat inflamasi konjungtiva ringan.
Pingueculitis dapat disertai nyeri ringan dan peningkatan rasa tidak nyaman, akibat aktivasi respons inflamasi lokal pada jaringan pinguekula.
Umumnya bersifat bilateral, karena kedua mata mengalami paparan lingkungan kronis yang sama.
Lokasi predileksi pada area interpalpebral berkaitan dengan paparan maksimal terhadap UV dan faktor lingkungan eksternal.
Struktur lesi berada pada lapisan konjungtiva (epitel dan stroma subepitel) tanpa keterlibatan jaringan lebih dalam, sesuai dengan anatomi konjungtiva.¹,²,³,⁵,⁷,⁸,⁹
Pemeriksaan Penunjang
Slit lamp biomicroscopy. Untuk evaluasi lesi. Tampak penebalan konjungtiva kekuningan tanpa invasi kornea.
Fluorescein staining. Untuk menilai epitel. Hasil umumnya negatif, kecuali terdapat iritasi atau inflamasi.
TBUT (tear film). Untuk menilai stabilitas air mata. Dapat ditemukan tear film tidak stabil.¹,²,⁹
Diagnosis Banding¹,²,⁴,⁵
| Diagnosis | Perbedaan dengan Pinguekula |
|---|---|
| Pterigium | Lesi berbentuk segitiga yang meluas ke kornea, sedangkan pinguekula tidak melewati limbus. |
| Konjungtivitis | Ditandai hiperemia difus tanpa lesi kuning lokal, sedangkan pinguekula berupa penebalan terlokalisir. |
| Episkleritis | Menyebabkan kemerahan sektor dengan nyeri ringan, tanpa adanya lesi degeneratif kekuningan. |
| Konjungtival tumor (neoplasma) | Lesi progresif, vaskular, atau tidak homogen, berbeda dengan pinguekula yang jinak dan stabil. |
| Limbal dermoid | Lesi kongenital, lebih padat dan menonjol, biasanya sejak lahir, bukan akibat degenerasi kronik. |
Penatalaksanaan
Nonfarmakologis
Menghindari paparan sinar ultraviolet (UV) dengan menggunakan kacamata pelindung untuk mencegah progresivitas lesi.
Menghindari debu, angin, dan iritan lingkungan yang dapat memperberat iritasi konjungtiva.
Memberikan edukasi bahwa penyakit ini jinak dan tidak mengganggu visus.¹,²
Farmakologis
Prinsip Terapi Farmakologis
Terapi farmakologis bertujuan mengurangi gejala iritasi dan ketidaknyamanan, bukan menghilangkan lesi, karena pinguekula bersifat degeneratif.
Lubrikan (air mata buatan) merupakan terapi utama untuk meningkatkan stabilitas tear film dan mengurangi gesekan pada permukaan okular.
Pada kondisi inflamasi (pingueculitis), dapat diberikan antiinflamasi topikal jangka pendek untuk menurunkan reaksi inflamasi pada konjungtiva.
Penggunaan obat bersifat simptomatik dan konservatif.¹,²,⁹
| Golongan | Obat dan Sediaan | Dosis & Frekuensi | Farmakodinamik |
|---|---|---|---|
| Lubrikan (air mata buatan) | Carboxymethylcellulose (CMC) 0,5% tetes mata; Hypromellose (HPMC) tetes mata | 4–6×/hari atau sesuai kebutuhan | Meningkatkan stabilitas tear film dan melumasi permukaan okular sehingga mengurangi gesekan dan iritasi konjungtiva |
| Lubrikan viskositas tinggi | Carbomer gel oftalmik | 2–3×/hari atau malam hari | Membentuk lapisan pelindung lebih lama pada permukaan okular sehingga mempertahankan kelembaban dan mengurangi evaporasi air mata |
| NSAID topikal | Diclofenac sodium 0,1% tetes mata | 2–3×/hari (jangka pendek) | Menghambat enzim cyclooxygenase (COX) sehingga menurunkan sintesis prostaglandin dan inflamasi lokal |
| Kortikosteroid topikal ringan | Fluorometholone 0,1% tetes mata | 2–3×/hari (short course sesuai indikasi) | Menghambat mediator inflamasi dan respon imun lokal, sehingga menurunkan inflamasi konjungtiva |
Terapi Pembedahan 🟨
Eksisi pinguekula jarang dilakukan karena lesi bersifat jinak dan tidak progresif.
Indikasi tindakan meliputi:
Gangguan kosmetik signifikan.
Iritasi persisten yang tidak respons terhadap terapi konservatif.
Kecurigaan terhadap lesi lain (misalnya neoplasma).
Teknik utama berupa eksisi sederhana lesi. Tindakan ini umumnya sudah adekuat karena angka rekurensi rendah, berbeda dengan pterigium.
Alternatif tindakan adalah ablasi laser termal, yang efektif menghilangkan lesi dengan meningkatkan absorpsi energi pada jaringan target.¹,⁵
Komplikasi
Sindrom mata kering dapat terjadi akibat gangguan stabilitas tear film karena permukaan konjungtiva yang tidak rata, sehingga meningkatkan evaporasi air mata dan menimbulkan iritasi kronik.
Iritasi kronik persisten dapat muncul akibat gesekan berulang antara lesi dan kelopak mata, sehingga menimbulkan ketidaknyamanan berulang, terutama pada lingkungan kering atau berdebu.
Prognosis
Ad vitam (terhadap kehidupan): bonam. Pinguekula merupakan lesi degeneratif jinak yang tidak mengancam nyawa dan tidak menyebabkan komplikasi sistemik.
Ad functionam (terhadap fungsi): bonam. Lesi tidak melibatkan kornea atau aksis visual, sehingga tidak menimbulkan gangguan fungsi penglihatan.
Ad sanationam (terhadap kesembuhan): dubia ad bonam. Lesi bersifat persisten dan tidak menghilang spontan, tetapi gejala dapat dikontrol dengan terapi konservatif serta perbaikan faktor risiko.¹-³
Edukasi
Menjelaskan bahwa pinguekula merupakan lesi jinak yang tidak berbahaya dan tidak mengganggu penglihatan, sehingga pasien tidak perlu khawatir berlebihan.
Menganjurkan penggunaan kacamata dengan proteksi UV untuk mengurangi paparan sinar ultraviolet yang dapat memperburuk kondisi.
Menganjurkan pasien untuk menghindari debu, angin, dan polusi karena dapat menyebabkan iritasi konjungtiva dan memperberat gejala.
Menganjurkan penggunaan air mata buatan secara rutin untuk menjaga kelembaban permukaan okular dan mengurangi keluhan kering atau mengganjal.
Menganjurkan pasien untuk tidak menggosok mata karena dapat memperparah iritasi dan inflamasi lokal.
Menjelaskan tanda bahaya, seperti mata merah menetap, nyeri, atau keluhan yang semakin berat, yang memerlukan evaluasi lebih lanjut.¹-³
Kriteria Rujukan
Iritasi persisten atau berulang (pinguekulitis) yang tidak membaik dengan terapi konservatif dan memerlukan evaluasi lanjutan serta kemungkinan terapi spesialis.
Diagnosis meragukan, terutama bila sulit dibedakan dengan pterigium atau neoplasma konjungtiva, sehingga memerlukan pemeriksaan lanjutan oleh dokter spesialis mata.
Lesi dengan pertumbuhan cepat, perubahan bentuk, atau vaskularisasi abnormal yang dapat mengarah ke kelainan lain yang lebih serius.
Keluhan berat atau tidak sesuai dengan gambaran klinis pinguekula, seperti nyeri signifikan atau gangguan visus, yang memerlukan evaluasi penyebab lain.
Permintaan pasien untuk tindakan operatif (kosmetik atau simptomatik) yang berada di luar kewenangan layanan primer.¹,²,³,⁵