Paralisis Saraf Troklearis (4) [2]

Paralisis Saraf Troklearis (4) [2]


Definisi

Paralisis saraf troklearis adalah kelumpuhan atau disfungsi nervus troklearis (saraf kranialis IV) yang menginervasi otot oblikus superior. Kondisi ini menyebabkan gangguan gerakan bola mata ke arah bawah (down gaze) pada posisi adduksi, diplopia vertikal, dan sering disertai kemiringan kepala kompensatorik (head tilt).¹-⁴

Parese saraf troklearis kiri (Salmon, 2025)
Parese saraf troklearis kiri (Salmon, 2025)


Epidemiologi

Paralisis saraf troklearis merupakan paralisis saraf kranialis yang paling jarang, dengan insidensi lebih rendah dibandingkan paralisis saraf III dan VI.

Saraf troklearis adalah saraf kranialis terpanjang dan satu-satunya yang keluar dari sisi dorsal batang otak, sehingga sangat rentan mengalami cedera pada trauma kepala.

Paralisis saraf troklearis kongenital sering tidak terdeteksi pada masa kanak-kanak dan baru tampak pada usia dewasa ketika mekanisme fusi menurun, sehingga diplopia mulai disadari pasien.

Pada dewasa, penyebab paling sering adalah trauma, diikuti oleh etiologi mikrovaskular (diabetes mellitus dan hipertensi) serta lesi intrakranial seperti tumor fossa posterior atau stroke batang otak.²,³,¹²,¹³


Etiologi


Klasifikasi



Patofisiologi


Anamnesis

Diplopia vertikal adalah keluhan utama, terutama memburuk saat melihat ke bawah—misalnya ketika membaca atau menuruni tangga.

Pasien sering melakukan head tilt kompensatorik ke arah berlawanan dari sisi saraf yang terkena untuk mengurangi diplopia dan menstabilkan intorsi–ekstorsi mata.

Torsional diplopia (penglihatan tampak miring atau berputar) dapat terjadi karena hilangnya fungsi intorsi otot oblikus superior.

Riwayat trauma kepala harus digali karena merupakan penyebab tersering paralisis saraf troklearis pada dewasa.

Riwayat penyakit sistemik seperti diabetes mellitus atau hipertensi mengarah pada etiologi mikrovaskular yang biasanya bersifat akut tanpa nyeri.

Riwayat diplopia lama yang baru terasa berat pada usia dewasa dapat menunjukkan paralisis troklearis kongenital yang mengalami dekompensasi.²,³,¹²,¹³


Pemeriksaan Fisik

(Salmon, 2025)
(Salmon, 2025)

Pemeriksaan Penunjang


Diagnosis Banding²-⁴,¹²,¹³

Diagnosis BandingPerbedaan dengan Paralisis Saraf Troklearis
Paralisis Saraf III ParsialDisertai ptosis dan gangguan aduksi/elevasi, sedangkan paralisis saraf IV hanya menurunkan kemampuan gerakan ke bawah dalam aduksi.
Paralisis Saraf VIMenimbulkan diplopia horizontal karena gangguan abduksi, bukan diplopia vertikal seperti pada paralisis saraf IV.
Restriktif akibat Thyroid Eye Disease (TED)Gangguan motilitas bersifat mekanik dan sering disertai retraksi kelopak mata, berbeda dari kelumpuhan otot oblikus superior.
Brown SyndromeTidak dapat melakukan gerakan ke atas dalam posisi adduksi, berbeda dari paralisis saraf IV yang gagal melakukan gerakan ke bawah pada adduksi.
Skew DeviationDeviasi vertikal berasal dari lesi batang otak/vestibular dan sering berfluktuasi, sedangkan perubahan pada paralisis saraf IV lebih konsisten.

Penatalaksanaan 🟨

1. Non-Farmakologis

Observasi untuk kasus mikrovaskular (DM/HT), karena sebagian besar membaik dalam 6–12 minggu.

Penutup mata sementara untuk mengurangi diplopia pada fase akut.

Prisma Fresnel dapat dipasang sementara untuk membantu fusi dan mengurangi diplopia vertikal.

Modifikasi posisi kepala, terutama pada kasus kongenital, untuk membantu stabilisasi pandangan.²,³,¹²,¹³


2. Farmakologis

Tidak ada obat yang secara langsung memperbaiki paralisis saraf troklearis. Namun, farmakoterapi diberikan untuk mengatasi penyebab atau kondisi penyerta:²,⁴,¹²,¹³

ObatIndikasiKeterangan
Analgesik (paracetamol/NSAID)Nyeri pada kasus inflamasi atau trauma ringanMengurangi ketidaknyamanan; tidak memengaruhi perbaikan saraf.
KortikosteroidBila penyebabnya inflamasi atau neuropati demielinisasiMengurangi edema/inflamasi pada batang otak atau sinus kavernosus.
Terapi penyakit dasar (DM/HT)MikrovaskularKontrol gula darah/tekanan darah mempercepat pemulihan.

Komplikasi


Prognosis


Edukasi

Paralisis saraf troklearis menyebabkan diplopia vertikal, terutama saat melihat ke bawah. Pasien perlu berhati-hati saat menuruni tangga atau membaca untuk menghindari kehilangan keseimbangan.

Sebagian besar kasus akibat mikrovaskular (DM/HT) membaik sendiri dalam 6–12 minggu. Kontrol gula darah dan tekanan darah yang baik mempercepat pemulihan.

Modifikasi perilaku sementara seperti menutup salah satu mata atau menyesuaikan posisi kepala dapat mengurangi diplopia pada fase akut.

Prisma Fresnel dapat dipasang sementara untuk mengatasi penglihatan ganda. Efeknya tidak permanen dan dapat disesuaikan kembali seiring perubahan deviasi.

Segera kembali ke fasilitas kesehatan bila diplopia memburuk, muncul nyeri hebat, atau terjadi gejala neurologis lain seperti mati rasa area V1 atau ptosis—ini dapat menandakan proses sinus kavernosus.

Pada kasus yang tidak membaik dalam 3–6 bulan, pasien perlu memahami bahwa operasi penyesuaian otot mata mungkin diperlukan. Operasi ini biasanya memberikan perbaikan signifikan.²-⁴,¹²,¹³


Kriteria Rujukan

Onset akut setelah trauma kepala, terutama bila disertai kehilangan kesadaran, nyeri kepala berat, atau defisit neurologis lain.

Diplopia berat yang progresif dalam beberapa hari atau tidak sesuai pola khas paralisis saraf IV harus.

Keterlibatan saraf kranialis lain (III, VI, atau V1) .

Disertai nyeri orbital hebat atau nyeri kepala baru .

Paralisis yang tidak membaik dalam 3–6 bulan.

Kasus kongenital dengan postur kepala miring kronik.²-⁴,¹²,¹³


✏️ Kasih pendapatmu mengenai artikel ini! Yuk, klik disini