Paralisis Saraf Abdusen (6) [2]

Paralisis Saraf Abdusen (6) [2]


Definisi

Paralisis saraf abdusen adalah gangguan fungsi nervus kranialis VI yang menyebabkan kelemahan atau hilangnya kemampuan otot rektus lateral dalam melakukan abduksi bola mata, sehingga timbul deviasi esotropia dan diplopia horizontal yang memburuk saat melihat ke arah sisi lesi.¹⁻³



Epidemiologi

Paralisis saraf abdusen adalah palsi saraf okulomotorik paling sering pada dewasa.

Pada usia lanjut, penyebab utamanya adalah gangguan mikrovaskular terkait diabetes dan hipertensi.

Pada usia muda, lebih sering disebabkan oleh trauma kepala atau lesi intrakranial.

Kasus bilateral biasanya berhubungan dengan peningkatan tekanan intrakranial.¹-⁵


Etiologi


Klasifikasi Paralisis Saraf Abdusen


Patofisiologi


Anamnesis



Pemeriksaan Fisik


Pemeriksaan Penunjang


Diagnosis Banding¹-⁴,⁶

Diagnosis BandingPerbedaan dengan Paralisis Saraf Abdusen
Duane Retraction Syndrome tipe ITerdapat retraksi bola mata dan penyempitan celah kelopak saat aduksi, berbeda dengan paralisis VI yang tidak menunjukkan retraksi.
Restriksi mekanik (fraktur blow-out, fibrosis orbita, TED)Gerakan terbatas pada active dan passive movement, dan forced duction test positif, tidak seperti paralisis VI yang pasifnya normal.
Myasthenia gravis okularDiplopia fluktuatif, fatigable, dan pola keterlibatan otot berubah-ubah, tidak konsisten dengan pola saraf VI.
Internuclear ophthalmoplegia (INO)Keterbatasan terdapat pada adduksi, bukan abduksi, serta ada nistagmus pada mata kontralateral.
Palsi saraf III dengan pupil sparingTampak esotropia, tetapi terdapat defisit aduksi, elevasi, atau depresi, bukan kelumpuhan abduksi murni.

Penatalaksanaan

Non-Farmakologis

Observasi pada palsi mikrovaskular yang khas, karena sebagian besar membaik dalam 6–12 minggu.

Penutupan mata (occlusion therapy) untuk mengurangi diplopia sementara pada fase akut.

Kontrol faktor risiko seperti kadar glukosa dan tekanan darah pada kasus mikrovaskular.

Rehabilitasi penglihatan binokular bila terjadi diplopia kronik atau setelah defisit stabil.¹,²,⁴


Terapi Farmakolohgis

Terapi sesusai dengan etiologi yg mendasarainya.¹-⁴,⁶

Obat / TerapiIndikasiDosis / Catatan Klinis
Kontrol glikemik (OAD/insulin)Palsi VI mikrovaskular terkait diabetes mellitusMengontrol gula darah mempercepat perbaikan karena palsi mikrovaskular umumnya pulih dalam 6–12 minggu.
AntihipertensiPalsi mikrovaskular akibat hipertensiMenormalkan tekanan darah mencegah iskemia berulang pada vasa nervorum.
Kortikosteroid sistemikKasus inflamasi atau demielinisasi dengan temuan MRIMetilprednisolon IV / prednison oral sesuai protokol neuro-oftalmologi; tidak diberikan pada palsi VI mikrovaskular.
Antibiotik / antimikrobaInfeksi sinus kavernosus, meningitis, atau infeksi kranialDisesuaikan patogen; diberikan sebagai bagian terapi neuroinfeksi.
AnalgesikNyeri retroorbital pada palsi mikrovaskularMeredakan nyeri, tidak mempengaruhi proses perbaikan saraf.

Komplikasi

Diplopia kronik

Terjadi bila paralisis tidak pulih dalam waktu lama, menyebabkan gangguan fusi permanen dan kesulitan dalam aktivitas sehari-hari.

Esotropia menetap

Kelumpuhan rektus lateral yang persisten menyebabkan deviasi esotropik permanen, mengganggu posisi primer dan menyebabkan postur kepala abnormal.

Kontraktur rektus medialis

Bila paralisis berlangsung lama, rektus medialis mengalami pemendekan dan peningkatan tonus, sehingga koreksi pembedahan menjadi lebih kompleks.

Postur kepala kompensatorik (chronic head turn)

Penurunan kualitas hidup.¹-⁴,⁶


Prognosis

Ad vitam — Bonam

Paralisis saraf abdusen tidak mengancam nyawa pada kasus mikrovaskular atau idiopatik karena hanya memengaruhi nervus VI secara lokal tanpa dampak sistemik.

Ad functionam — Dubia ad Bonam

Fungsi visual umumnya pulih baik pada palsi mikrovaskular dalam 6–12 minggu. Namun, prognosis menjadi dubia bila disebabkan lesi pons, tumor sinus kavernosus, atau peningkatan TIK yang menetap.

Ad sanationam — Dubia

Kesembuhan lengkap bergantung pada etiologi. Kasus mikrovaskular memiliki peluang pulih tinggi. Sebaliknya, palsi akibat trauma berat, lesi intrakranial, atau kompresi jangka panjang sering pulih sebagian atau memerlukan pembedahan.¹-⁴,⁶


Edukasi

Paralisis saraf abdusen menyebabkan kesulitan menggerakkan mata ke arah luar dan penglihatan ganda horizontal, terutama saat melihat ke sisi yang terkena.

Pada kasus mikrovaskular (DM/HT), kondisi biasanya membaik dalam 6–12 minggu dengan kontrol penyakit yang baik.

Pasien dianjurkan mengontrol gula darah, tekanan darah, dan kolesterol untuk mempercepat pemulihan.

Untuk mengurangi diplopia, dapat digunakan penutup mata sementara atau kacamata prisma Fresnel sesuai rekomendasi dokter.

Pasien harus segera kembali bila mengalami sakit kepala hebat, muntah, kelemahan, atau perburukan gejala, karena dapat menandakan lesi intrakranial.


Kriteria Rujukan

Palsi VI disertai gejala neurologis (sakit kepala hebat, muntah, kelemahan, atau penurunan kesadaran).

Palsi bilateral atau kecurigaan peningkatan tekanan intrakranial.

Gejala progresif atau memburuk dalam beberapa hari hingga minggu.

Tidak membaik setelah 6–12 minggu pada kasus mikrovaskular.

Riwayat trauma kepala sedang hingga berat.

Kecurigaan infeksi sinus kavernosus atau proses intrakranial lainnya.

Semua kasus pada anak, karena risiko tumor fossa posterior lebih tinggi.


✏️ Kasih pendapatmu mengenai artikel ini! Yuk, klik disini