
Papilledema [2]
Definisi dan Batasan
Papilledema adalah pembengkakan diskus optikus akibat peningkatan tekanan intrakranial (TIK) yang ditransmisikan melalui ruang subaraknoid menuju selubung saraf optik.
Hampir selalu bersifat bilateral, meskipun derajatnya dapat asimetris tergantung pada resistensi selubung saraf optik.
Edema papil (optic disc edema): istilah umum untuk semua bentuk pembengkakan diskus optikus, termasuk akibat inflamasi, iskemik, toksik, atau infiltratif.¹,²,⁴,⁵,⁷

Etiologi
Klasifikasi / Stadium
Klasifikasi Klinis
Modified Frisén Scale (stadium 0–4)
Stadium 0 (Normal/suspicious): diskus normal atau hanya sedikit kabur di margin nasal.
Stadium 1 (Early): pembengkakan ringan pada tepi atas dan bawah diskus; SVP hilang.
Stadium 2 (Moderate): seluruh batas diskus kabur, diskus menonjol, vena melebar.
Stadium 3 (Marked): edema masif disertai perdarahan peripapiler dan eksudat kapas; cup diskus menghilang.
Stadium 4 (Severe/chronic): gliosis diskus, kolateral vena muncul, diskus pucat; dapat terjadi atrofi optik sekunder.²,⁵
Anamnesis
Pemeriksaan Fisik
Visus → Baik pada stadium awal, menurun progresif pada stadium kronis atau setelah terjadi atrofi optik.²-⁵
Pemeriksaan Tambahan 🟨
Dasar Diagnosis
Diagnosis ditegakkan dengan funduskopi khas papilledema disertai bukti peningkatan TIK.
Imaging otak wajib dilakukan sebelum pungsi lumbal untuk mengeksklusi massa otak.²,⁵
Diagnosis Banding
Penatalaksanaan
Tujuan utama terapi papilledema :
Menurunkan tekanan intrakranial (TIK)
Mencegah kerusakan saraf optik
Mengatasi penyebab yang mendasari
1. Non-Farmakologis
Penurunan berat badan: efektif pada pasien dengan IIH; penurunan 5–10% berat badan dapat memperbaiki gejala dan fundus.
Edukasi pasien: mengenai tanda bahaya (penurunan visus mendadak, diplopia).
Pemantauan serial: dengan visus, lapang pandang (HVF), dan OCT untuk memantau progresivitas.
Konsultasi neurologi/bedah saraf: bila dicurigai tumor otak, CVST, atau TIK meningkat signifikan.²,³
3. Operatif 🟨
Komplikasi
Atrofi optik sekunder → akibat edema saraf optik kronis yang menyebabkan degenerasi serabut saraf dan gliosis → kehilangan penglihatan permanen.
Kehilangan penglihatan permanen → terjadi bila edema menetap sehingga menimbulkan kerusakan aksonal irreversibel.
Penyempitan lapang pandang progresif → dimulai dengan pembesaran blind spot, kemudian berlanjut menjadi defek lapang pandang sentral atau perifer.
Penurunan kualitas hidup → akibat gangguan penglihatan kronis dan gejala peningkatan TIK seperti sakit kepala refrakter.¹-⁶
Prognosis
Edukasi Pasien
Segera mencari pertolongan medis bila muncul gejala perburukan seperti penurunan visus mendadak, diplopia, atau nyeri kepala berat.
Kepatuhan terhadap terapi sangat penting, terutama penggunaan acetazolamide/topiramate sesuai dosis yang dianjurkan.
Kontrol berat badan dianjurkan bagi pasien obesitas, khususnya pada idiopathic intracranial hypertension (IIH).
Hindari penggunaan obat-obatan pemicu seperti retinoid, tetrasiklin, atau steroid tanpa indikasi medis.
Kontrol berkala dengan pemeriksaan visus, lapang pandang (HVF), dan OCT RNFL untuk memantau progresivitas edema diskus.¹-⁵
Kriteria Rujukan
Ditemukan papilledema pada pemeriksaan funduskopi, terutama bila disertai gejala peningkatan TIK (sakit kepala berat, mual muntah, diplopia, TVO).
Terdapat penurunan visus cepat atau progresif yang mengindikasikan kerusakan saraf optik akut.
Dicurigai adanya lesi intrakranial, CVST, atau tumor otak pada imaging.
Papilledema persisten meskipun sudah diberikan terapi medikamentosa optimal.
Dibutuhkan intervensi bedah saraf (shunt, stenting, atau optic nerve sheath fenestration).¹-⁴