Oftalmia Neonatorum [3B]

Oftalmia Neonatorum [3B]


Definisi

Oftalmia neonatorum adalah konjungtivitis akut yang terjadi dalam 28 hari pertama kehidupan, ditandai dengan inflamasi konjungtiva akibat infeksi bakteri, virus, atau iritasi kimia. Kondisi ini merupakan infeksi mata tersering pada neonatus dan dapat menyebabkan kerusakan kornea cepat hingga kebutaan, terutama pada infeksi Neisseria gonorrhoeae.¹,²,³


Epidemiologi

Prevalensi oftalmia neonatorum secara global adalah 1–12%, dengan angka lebih tinggi di negara berkembang.

Chlamydia trachomatis adalah penyebab tersering, sedangkan Neisseria gonorrhoeae lebih jarang tetapi paling berbahaya karena dapat menyebabkan ulkus kornea dengan cepat.

Insiden dipengaruhi oleh prevalensi IMS maternal dan cakupan profilaksis mata neonatal.

Profilaksis dan skrining antenatal terbukti menurunkan infeksi gonokokal neonatal secara signifikan.¹,²,³


Faktor Risiko

Infeksi menular seksual (IMS) maternal, terutama Neisseria gonorrhoeae dan Chlamydia trachomatis, merupakan faktor risiko utama karena transmisi terjadi saat bayi melewati jalan lahir.

Ketuban pecah dini atau lama meningkatkan risiko kolonisasi bakteri pada neonatus.

Persalinan pervaginam tanpa skrining antenatal, terutama pada populasi dengan prevalensi IMS tinggi, meningkatkan risiko paparan patogen.

Tidak mendapat profilaksis mata neonatal, seperti salep eritromisin atau tetrasiklin, meningkatkan risiko infeksi gonokokal.

Perawatan antenatal yang tidak adekuat, termasuk tidak dilakukannya pemeriksaan dan penatalaksanaan IMS selama kehamilan.¹,²,³


Etiologi dan Klasifikasi

Klasifikasi berdasarkan etiologi yang mendasarinya :



Anamnesis

Onset munculnya sekret dan kemerahan. Membantu membedakan etiologi: onset 2–5 hari mengarah pada N. gonorrhoeae, sedangkan onset 5–14 hari mengarah pada C. trachomatis.

Jenis sekret (serosa, mukopurulen, purulen). Menilai kemungkinan etiologi: sekret purulen masif khas infeksi gonokokus, sedangkan sekret mukopurulen lebih sering pada klamidia.

Pembengkakan kelopak, mata lengket saat bangun, dan kesulitan membuka mata penting untuk menilai derajat inflamasi dan kemungkinan infeksi berat.

Riwayat maternal, termasuk infeksi menular seksual (gonore, klamidia, HSV), ketuban pecah lama, dan tidak mendapat perawatan antenatal, menjadi kunci karena transmisi terjadi saat persalinan.

Riwayat pemberian profilaksis mata neonatal, misalnya eritromisin atau tetrasiklin, membantu menilai risiko infeksi gonokokal karena tidak adanya profilaksis meningkatkan peluang infeksi.

Gejala sistemik pada bayi, seperti demam, letargi, atau batuk, ditanyakan untuk menilai kemungkinan komplikasi seperti pneumonia klamidia atau sepsis gonokokus.¹,²,³


Pemeriksaan Fisik


Pemeriksaan Tambahan


Diagnosis Banding¹,²,³

Diagnosis BandingPerbedaan Dengan Oftalmia Neonatorum
Konjungtivitis bakteri non-spesifikSekret mukopurulen ringan dengan inflamasi tidak berat; tidak menimbulkan ulkus kornea seperti infeksi gonokokus.
Dacryostenosis (sumbatan duktus lakrimal)Epifora kronik dengan sedikit sekret, tanpa hiperemia konjungtiva; sekret meningkat saat bayi menangis.
Iritasi kimia neonatalOnset <24 jam setelah lahir, hiperemia ringan, membaik cepat dalam 24–48 jam, tanpa sekret purulen masif.
Konjungtivitis viral / HSVAdanya vesikel kulit, sekret serosa, kemungkinan keratitis dendritik pada fluorescein.
Konjungtivitis alergi neonatalSangat jarang; dominan gatal, edema ringan, tanpa sekret purulen atau onset khas infeksi neonatal.

Penatalaksanaan

Non Farmakologis

Membersihkan sekret mata dengan larutan saline steril untuk menurunkan beban bakteri dan meningkatkan efektivitas terapi topikal. Tindakan ini dapat diulang beberapa kali per hari, terutama pada sekret purulen masif.

Menghindari tekanan pada kelopak dan tidak mengompres mata untuk mencegah penyebaran infeksi dan mengurangi risiko kerusakan kornea, terutama pada infeksi gonokokus yang bersifat agresif.

Isolasi kontak dekat bila dicurigai infeksi gonokokus atau HSV karena kedua patogen sangat menular dan berisiko menyebabkan komplikasi sistemik pada neonatus.

Rawat inap direkomendasikan pada kasus dengan sekret purulen masif, edema palpebra berat, dugaan gonokokus/HSV, atau temuan ulkus kornea. Kondisi ini membutuhkan terapi sistemik dan monitoring intensif.¹,²,³


Farmakologis

Prinsip Umum

IInfeksi gonokokus dan HSV merupakan kegawatdaruratan yang selalu memerlukan terapi sistemik.

Infeksi klamidia membutuhkan terapi oral karena sering bersifat sistemik—terapi topikal saja tidak efektif.

Antibiotik topikal digunakan sebagai terapi tambahan untuk mengurangi beban (load) mikroorganisme pada konjungtiva.¹,²,³


Terapi Farmakologis

Obat & SediaanDosis & FrekuensiFarmakokinetik
Ceftriaxone injeksi25–50 mg/kg IM/IV sekali (untuk gonokokus).Distribusi cepat; sangat efektif terhadap N. gonorrhoeae; ekskresi melalui ginjal & empedu.
Erythromycin oral50 mg/kg/hari ÷ 4 dosis selama 14 hari (untuk klamidia).Penetrasi jaringan baik; efektif untuk infeksi mukosa; mencegah pneumonia klamidia.
Azithromycin oral20 mg/kg sekali per hari selama 3 hari (alternatif klamidia).Waktu paruh panjang; konsentrasi jaringan tinggi; mempermudah kepatuhan.
Topikal erythromycin 0.5%4×/hari sebagai terapi tambahan.Absorpsi lokal; menurunkan kolonisasi bakteri permukaan.
Topikal tetracycline 1%3–4×/hari (bila tersedia).Efektif terhadap klamidia dan bakteri gram positif/negatif.
Acyclovir IV20 mg/kg tiap 8 jam selama 14–21 hari (untuk HSV).Penetrasi baik ke CNS; ekskresi renal; dosis harus disesuaikan fungsi ginjal bayi.
Saline sterilDigunakan untuk irigasi sekret.Tanpa efek sistemik; mengurangi debris dan membantu efektivitas antibiotik.

Tindakan Operatif

Debridement pseudomembran dilakukan bila terbentuk membran atau pseudomembran pada konjungtiva, terutama pada infeksi bakteri berat atau gonokokus. Tujuannya untuk mengurangi peradangan, meningkatkan penetrasi obat topikal, dan mencegah jaringan parut.¹


Komplikasi


Prognosis


Edukasi untuk Orang Tua


Kriteria Rujukan

Dugaan infeksi Neisseria gonorrhoeae

Dugaan infeksi herpes simpleks (HSV).

Adanya ulkus atau defek epitel kornea positif pada fluorescein.

Tidak ada perbaikan dalam 24–48 jam setelah penatalaksanaan awal, terutama bila sekret bertambah banyak atau inflamasi makin berat.

Ditemukan tanda sistemik yang berpotensi mengancam nyawa.

Keterbatasan fasilitas FKTP.

Kasus berulang atau persisten.¹,²,³


✏️ Kasih pendapatmu mengenai artikel ini! Yuk, klik disini